
...『⇒Bab 43⇐』...
"Apa Grace sudah pergi?" tanya sang suami ketika ia melihat istrinya kembali masuk ke dalam ruangannya setelah mengantarkan Grace sampai mendapatkan taksi.
"Baru saja taksinya jalan dan katanya dia mau kembali ke apartemen," jawab istrinya pula lalu ia meraih tas miliknya tepat ia letakkan di sudut meja sebelumnya.
"Oh, kenapa kau tak mengantarnya sampai ke apartemen?" tanya sang suami lagi.
"Dia bilang bisa pulang sendiri lagipula aku kebetulan juga sedang terburu-buru karena ada pasien yang harus ku tangani sekarang," balasnya sembari melangkah ke arah pintu ruangan. "Aku pergi dulu," lanjut sang istri pula serta memberikan senyum tipis kemudian ia membuka pintu ruangan setelah suaminya menganggukkan kepala padanya.
Elya pun keluar dari ruangan suaminya dan kembali menutup rapat pintu ruangan tersebut sambil mempercepat langkahnya menuju ke bagian ruang operasi sebab ia harus menangani pasien yang baru saja masuk ke rumah sakit mereka.
.
.
.
Enatura Farm Cafe
Greettt
"Duduklah Grace," ucap Gibran ketika ia menggeserkan sebuah kursi untuk Grace.
"Ah iya makasih," balas Grace sembari tersenyum kecil pula kemudian ia duduk lalu celingukan melihat suasana cafe yang tak asing baginya.
Ketika usai Grace duduk di kursinya kini Gibran melangkah hendak duduk tepat berhadapan dengan Grace.
Tap
Tapp
Seorang pelayan lelaki datang dengan membawa sebuah alat tulis lengkap dengan buku kecil di tangannya namun seketika ia menatap ke arah Grace tanpa berkedip pula membuat Gibran sedikit memperhatikan Grace yang tampak sedang melihat lembaran menu kian tersedia di atas meja sebelumnya.
Indahnya ciptaan mu tuhan, seperti melihat seorang bidadari begitu cantik! batin si pelayan pula tak sadar dirinya sudah melihat Grace semenjak ia berdiri di tengah mereka.
Gibran tampak terus memperhatikan gelagat si pelayan yang sedari tadi terus menatap ke arah Grace bahkan matanya tak juga berkedip.
"Ada apa dengan dia?" gumam Gibran yang terlihat sudah tak senang dengan sikap si pelayan tersebut.
Gibran terlihat tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat Grace yang tampak masih fokus pada lembaran menu di tangannya.
Grepp
Yaps, Gibran seketika menyentuh punggung tangan Grace lalu ia menggenggam jemari lentik Grace secara hangat pula namun Grace malah bingung kenapa Gibran melakukan hal tersebut padanya.
"Khem, honey... Kau mau makan apa?" tanya Gibran bernada manja pula namun matanya berpura melihat lembaran menu di tangan satunya dan yang sebelahnya lagi masih menggenggam jemari tangan Grace.
"Ah, aku..."
__ADS_1
Grace malah tak bisa menjawab sebab Gibran terdengar begitu romantis sampai melakukan hal itu padanya kemudian ia hanya melontarkan senyuman tipis supaya rasa canggungnya tak di sadari oleh Gibran.
Honey? itu berarti mereka adalah pasangan? hmm, sungguh beruntung lelaki ini memilki wanita secantik dia. Batin si pelayan pula yang tersadar sejenak ketika Gibran menyapa Grace barusan lalu ia menghembus nafas kecil dari mulutnya.
Terlepas ia melihat Grace lalu ia menoleh ke arah Gibran pula.
Hmm, lagian lelakinya juga terlihat tampan mungkin pun dari kalangan anak orang kaya apalagi mereka tampak sangat serasi, ah yasudah lupakan saja! si pelayan membatin kembali dan lagi-lagi menghembus nafas untuk kesekian kalinya.
"Ah, kebetulan di cafe kami sedang tersedia menu couple lengkap dengan hidangan penutupnya," cakap si pelayan membuka suara terlebih dulu bahkan terdengar ramah.
"Oh ya? tepat sekali saya memang sedang mencari menu yang seperti itu," turut Gibran membalasnya pula serta tersenyum lebar. "Bagaimana honey? apa kau setuju dengan pilihan ku?" lanjut Gibran lagi sambil terus mengelus punggung tangan Grace.
Grace saat ini sudah terlihat merona di kedua pipinya menahan rasa malu sebab Gibran masih belum melepaskan genggaman tersebut dari tangannya sementara sang pelayan tepat berada di tengah mereka seolah menjadi saksi keromantisan yang di lakukan oleh Gibran.
"Mhh... Aku apa saja juga boleh karena apapun yang kau pilih aku pasti akan suka," jawab Grace membuat Gibran terpesona mendengarnya bahkan deguban jantung Gibran serasa berdetak lebih hebat.
"Khem." Gibran pun berdehem untuk menghilangkan rasa groginya. "Yasudah kalau begitu, saya pesan menu couplenya!" lanjut Gibran lagi sembari memberikan beberapa lembaran menu tersebut pada si pelayan.
"Baik akan segera saya siapkan mohon di tunggu tuan dan nona, permisi."
Si pelayan pun bergerak dari tempatnya berlalu pergi meninggalkan keduanya.
"Mata tak bisa di jaga! memangnya dia tak melihatku di sini? apa aku di anggap patung? dasar!" gumam Gibran mengomel sendiri tanpa di sadari terdengar oleh Grace walaupun samar makanya Grace langsung memahami sikap Gibran sebelumnya apalagi omelannya itu tertuju pada si pelayan barusan.
"Kenapa kau tertawa? apa kau melihat sesuatu yang lucu?" tanya Gibran pula sempat terheran.
"Ya, ada!" balas Grace lagi masih dalam suasana tertawa.
"Apa yang lucu?" tanya Gibran kembali.
"Kau!" jawab Grace lagi.
"Aku?" tunjuk Gibran ke dirinya sendiri.
Grace anggukkan kepala menjawab kebingungan yang tampak di wajah Gibran.
"Kenapa kau mengatakan aku lucu?" tanya Gibran lagi-lagi masih bingung sendiri.
"Hmm." Grace membuang nafas kecil setelah usai ia tertawa. "Sekarang aku yang bertanya padamu, apa yang membuat mu bersikap seperti tadi?" kini ia menumpukan dagunya di kedua punggung tangannya sembari tersenyum simpul ke arah Gibran.
"Bersikap yang bagaimana?" berbalik tanya pula seolah merasa tak mengetahui maksud perkataan Grace tersebut.
Grace pun mengalihkan pandangan wajahnya membuang senyuman kecil di bibirnya lalu ia menoleh kembali pada Gibran yang juga ikut mengalihkan wajah dari dirinya.
"Kenapa kau tiba-tiba memegang tangan ku dan memanggilku dengan sebutan seperti itu?" lontar Grace pula langsung ke topiknya sehingga Gibran pun menoleh pada Grace dan bersiap untuk menyiapkan jawaban yang akan ia berikan.
"Ohh, itu! ya wajar saja bagi semua pasangan melakukan hal demikian bukan?" santainya Gibran menjawab pertanyaan dari Grace sehingga ia berusaha tetap tenang dengan berkilah supaya rasa gugupnya tak begitu menonjol.
__ADS_1
"Owh begitu ya... Aku fikir karena kau sedang cemburu," ucap Grace secara blak-blakan pula serta membuat Gibran sedikit kaget setelah mendengarnya.
"Ce -cemburu?" beo Gibran terdengar kelabakan pula sebab ia sampai tak menduga bahwa Grace menyadari semuanya padahal dirinya berusaha menutupi namun Grace masih menyadari hanya dari sikapnya saja, itulah pemikiran Gibran saat ini.
"Ya!" angguk Grace sejenak.
"Hah, untuk apa aku cemburu? lagian tak ada sesuatu yang membuatku jadi cemburu kok, mungkin itu hanya perasaan mu saja lagipula aku melakukan hal barusan ya karena aku ingin," jawab Gibran masih terus berkilah dengan kebenaran yang sudah jelas di ketahui oleh Grace.
"Oke, oke! sudah lupakan saja!" pada akhirnya Grace mengalah sebab ia tak akan mungkin bisa membuat Gibran mengakui semuanya. "Btw, ini tempatnya seperti alamat yang kau berikan padaku waktu itu, kan?" tanya Grace kemudian ia celingukan sembari memperhatikan sekitaran tempatnya duduk saat ini.
"Ya, kau benar! bahkan aku terus menantikan kehadiran mu di sini," ungkap Gibran memaparkan cuplikan yang di alami olehnya saat Grace menghilang.
"Hmm aku minta maaf karena membuat mu begitu cemas," turut Grace tampak menyesali kejadian tersebut walau sudah berlalu.
"Sudahlah, tak usah di ungkit kembali dan aku pun tak menyalahkan mu jadi kau jangan mengingatnya lagi," hikmad Gibran pula sembari mengelus kepala Grace secara hangat.
Grace membuang nafas lega karena ia telah memiliki seorang pasangan yang mengerti akan dirinya.
Tap
Tapp
Tapakan kaki yang mendekat ke arah mereka merupakan seorang pelayan perempuan sekaligus membawa pesanan Gibran sebelumnya lalu ia meletakkan di atas meja beberapa menu makanan serta lengkap sajian penutupnya. "Silahkan tuan dan nona jika ada keperluan lain bisa panggil saya, permisi."
Pelayan tersebut berlalu pergi setelah tugasnya selesai sementara keduanya terfokus pada sendok dan garpu yang hanya di letakkan satu set saja.
"Ah."
Keduanya malah tak bisa berkutik karena mereka berdua tak berfikir sebelumnya kalau sudah namanya couple pasti semuanya hanya ada satu mulai dari sajian makanan, perlengkapan untuk makan pun cuma sepasang yang membedakan hanyalah gelas yang tersedia dua buah bahkan tak ada piring kosong untuk mereka makan masing-masing karena piring sudah berisi makanan pula.
Grace mengelus pundak lehernya sementara Gibran masih memegang sepasang garpu juga sendok di tangannya.
Tak berapa lama Grace melihat ada pasangan lelaki juga perempuan sedang saling menyuapi terlihat begitu menikmati sekali sementara baginya terlalu sulit sebab untuk pertama kalinya ia harus menggunakan satu sendok bersama Gibran dan tidak mungkin mereka meminta sepasang lagi karena keduanya malah membalas tatapan tanpa memberi usulan.
"Khem." Gibran hanya berdehem lalu ia memotong daging steak secara tenang sedangkan Grace terlihat begitu di ambang rasa malu.
Grace mengalihkan wajahnya membuang nafas panjang serta menepuk perlahan dadanya sendiri.
"Sini wajahnya," pinta Gibran secara pelan sebab sudah tak ada pilihan selain menyuapi Grace.
Grace menoleh ke arah Gibran yang sudah tampak mengarahkan sepotong daging tertancap di garpu tepat mengarah padanya.
Dirinya tidak ada pilihan lain juga maka dari itu ia arahkan wajahnya mendekat pada potongan daging tersebut.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...Nantikan terus......
__ADS_1