Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Kekuatan Dalam Diri?


__ADS_3

...『⇒Bab 30⇐』...


"Anu... Dokter, apa saya sudah boleh pulang?" tanya Grace ketika ia selesai berbicara dengan Gibran lewat ponsel genggam miliknya bahkan Grace mencari alasan berkata kurang fit sedang beristirahat di rumah sebab ia tak ingin membuat Gibran merasa khawatir terhadap dirinya.


"Kamu sudah boleh pulang karena botol cairan infusnya juga sudah habis," jawab Elya pula dengan ramah.


"Tidak ada yang serius dengan saya, kan dokter?" tanya Grace lagi menatap lekat ke arah Elya.


"Ah, tidak ada... Hanya saja kamu kekurangan darah sebab tensi kamu terlalu rendah jadi saya sudah mentranfusikan darah ke tubuh kamu juga menyuntikkan vitamin neurobion supaya kamu tidak lemas lagi," perjelasnya pula secara rinci. "Dan ini obat kamu, jangan lupa di minum secara rutin serta makanlah tepat waktu tidak boleh telat supaya tubuhmu tidak gampang sakit," lanjutnya lagi serta memberikan senyuman simpul di wajahnya sekaligus menyerahkan beberapa obat yang telah di bungkus ke arah Grace.


"Terimakasih sekali lagi dokter sudah baik pada saya," imbuh Grace terlihat segan menerima kebaikan tersebut namun Elya hanya menatap Grace dengan tatapan seolah ingin mengenal Grace lebih jauh lagi sebab Elya sangat suka dengan cara berbicara Grace padanya. "Ohiya saya harus menebus obatnya di mana dokter?" tanya Grace pula membuat Elya melebarkan senyuman di bibirnya.


Sejenak Elya tampak merogoh sesuatu dari saku jasnya. "Tak perlu di tebus cukup kamu bayar saja dengan ini," kata Elya sembari ia menyerahkan sebuah pena juga kertas kecil di hadapan Grace namun Grace menjadi bingung kenapa dirinya di berikan benda seperti itu.


"Maksudnya apa dokter?" tanya Grace terlihat heran dengan pemberian Elya padanya.


"Nomor ponsel mu! tulis nomor ponsel kamu di kertas itu," tutur Elya berkata demikian sehingga Grace terus menatap ke arah Elya pula. "Kenapa melihat seperti itu? saya tidak akan berbuat hal aneh padamu karena saya ingin memantau kondisi mu saja jadi jangan cemas sebab seorang dokter sudah pasti akan terus mengantisipasi pasiennya, bukankah begitu calon dokter?" lanjutnya lagi terdengar ada benarnya bagi Grace makanya Elya hanya tersenyum tipis melihat Grace yang menggaruk kepalanya sendiri.


Grace membuang nafas panjang dari mulutnya lalu ia menggerakkan pena di tangannya itu dengan menuliskan nomor ponselnya sendiri kemudian usai ia menuliskannya ia pun menyerahkan kembali pada Elya.


"Kalau begitu saya izin pamit pulang ya dokter," ucap Grace pula kemudian ia bergerak turun dari kasurnya dan menyandang tasnya setelah ia memasukkan buku juga obat ke dalam tas.


"Apa kamu bisa pulang sendiri?" tanya Elya sedikit merasa khawatir terdengar dari ucapannya barusan.


"Bisa dokter, saya akan pulang naik taksi." Grace merasa senang ada yang perduli dengan dirinya walaupun seorang dokter tetapi membuat dirinya merasa di perhatikan makanya ia memberikan senyuman hangat di wajahnya ke arah Elya.


"Baiklah jika begitu kamu berhati-hati di jalan," pesan Elya pula serta ia membuang nafas lega ketika melihat Grace sudah tampak jauh lebih baik dari sebelumnya.


Grace hanya membalas anggukkan kepala serta senyuman kecil di wajahnya membuat Elya seakan ingin lebih lama mengobrol pada Grace sebab untuk pertama kalinya Elya merasa sedikit nyaman berbicara dengan orang yang baru di kenalnya bukan karena Grace seorang pasien tetapi seolah ia ingin memberikan perhatian terhadap Grace layaknya seperti anak kandungnya sendiri.


Ketika Grace telah berlalu pergi dari hadapan Elya kini dirinya sedang melihat tulisan di atas kertas yang di berikan oleh Grace padanya sehingga terlontar lah senyuman kecil di bibir Elya saat ini.


"Grace, hmm... Nama yang indah," gumam Elya pula berkata sambil terus memperlihatkan senyum di wajahnya kemudian ia memasukkan kertas tersebut dalam saku jasnya sembari melangkah hendak keluar dari ruangan.


.


.

__ADS_1


.


Sesampainya Grace di halaman rumahnya setelah ia turun dari taksi dan berjalan perlahan ke arah rumahnya pula namun sejenak kakinya terhenti melihat ada beberapa orang lelaki tepat di depan pintu rumahnya bersama Jihan tampak sedang berbicara.


"Apa yang terjadi di sana?" gumam Grace sembari melangkah kembali menuju pintu rumahnya.


•••


"Aku tidak mau tahu sekarang kau panggilkan Daniel ke sini, cepat!" teriakan dari salah seorang lelaki berkata keras di depan Jihan.


Tap


Tapp


Grace pun mempercepat langkahnya itu.


"Ada apa ini? kenapa sampai ribut begini?" tanya Grace ketika dirinya sudah berada di tengah mereka.


"Nah ini dia, ini anak si Danie! kalian bisa bertanya padanya," timpal Jihan berkata demikian lalu ia mengatupkan kedua tangan di dadanya sembari menyeringai ke arah Grace yang tak tahu menahu apa yang telah terjadi.


"Oh, kau anaknya?" lontaran dari lelaki tersebut melihat sinis ke arah Grace.


Kedua lelaki itu tampak berpakaian seperti preman namun Grace tak perduli dengan tampilan mereka yang di katakan sekilas begitu seram.


"Bagus, kalau kau memang anaknya akan lebih mudah untuk menyelesaikan masalah si Daniel itu!" katanya pula terdengar geram terlihat di balik wajahnya.


"Apa yang sudah ayah ku perbuat pada kalian?" tanya Grace secara tegas melontarkan tatapan mata penuh keberaniannya itu.


"Dia lari dari hutangnya sudah satu bulan tidak ada kepastian sampai kami mendapatkan alamat rumahnya, dasar penipu!" racaunya pula dengan penuh kemarahan.


"Tolong ucapan anda di jaga, ayah ku bukan seorang penipu!" tangkas Grace dengan bernada tinggi sebab ia merasa tak terima orang lain menilai ayahnya buruk.


"Dia itu penjudi, pemabuk dan penipu! sekarang dia sudah melarikan uang kami tak ada niat membayar jadi kau tidak perlu membela si bangs*t itu!" sarkasnya pula membuat Grace terlihat geram namun ia hanya mengepalkan kedua tangannya serta membuang nafas kasar.


"Cukup! katakan berapa hutang ayah pada kalian?" tegas Grace lagi masih menahan gejolak emosinya sebab akan menjadi masalah jika ia melawan kedua preman itu.


"50 juta," jawab lelaki itu secara meringis.

__ADS_1


"Haaahh...."


Jihan terkaget ketika mendengarnya sebab ia tak pernah tahu suaminya memiliki hutang sebanyak itu.


"Sampai sebanyak itu?" tanya Grace terdengar tak mempercayainya.


"Ya, dia meminjam uang bos kami dan sekarang ingin melarikan diri? tak akan kami lepaskan si penipu itu," katanya lagi dengan mendengus sembari melihat Grace yang tampak tertunduk lesu.


Lelaki tersebut memperhatikan Grace dari ujung kaki sampai wajahnya pula dengan tatapan jahatnya dan ia membasahi bibirnya dengan lidahnya itu ketika menatap Grace.


Tap


Tapp


Lelaki itu merunduk sedikit ketika ia sudah berada di dekat Grace dan mendekatkan wajahnya ke arah telinga Grace pula.


"Jika kau tak mampu membayarnya aku bisa membantumu asal kau bayar menggunakan tubuh mu yang indah ini, bagaimana cantik?" bisikan dari lelaki itu tepat di telinga Grace serta senyuman jahat terlukis jelas di wajahnya.


Kepalan tangan Grace semakin kuat ketika ia mendengar ucapan yang terlontar dari mulut lelaki tersebut bahkan kedua mata Grace begitu terlihat di ambang penuh kemarahan.


Bughhhh


Sebuah tinjuan mengenai wajah lelaki tersebut hingga bibirnya mengeluarkan darah pula.


"Ahhhgh, dasar sial*n kau! akan ku bunuh kau bangs*t."


Di saat tangan lelaki itu ingin melayang ke arah Grace seketika mereka di kagetkan oleh sosok yang datang di tengah mereka.


"Singkirkan tangan mu!"


Jihan sampai terpelongo melihat sosok yang baru datang itu sedangkan Grace terlihat menautkan kedua alis matanya.


^^^To be continued^^^


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^


...Kutipan :...

__ADS_1


Terkadang kita di uji bukan untuk menunjukkan kelemahan kita tetapi untuk menemukan kekuatan kita. ~ Grace Eloise.


__ADS_2