Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Serangkai Perubahan...


__ADS_3

...『⇒Bab 36⇐』...


Usai Grace makan dan minum obat ia berniat untuk membereskan semua yang ada di atas meja hendak membawanya ke dapur namun Sekar menghentikannya sebelum Grace melakukan hal tersebut hingga pada akhirnya Grace di suruh kembali ke kamar untuk beristirahat tanpa melakukan apapun.


Grace saat ini sudah berada di dalam kamarnya dan membersihkan diri pula bahkan semuanya sudah tersedia di dalam lemari ketika ia membukanya seketika tampak beberapa baju sudah di gantung memakai hanger hingga perlengkapan lainnya.


"Apa ini semua memang di sediakan untukku?" gumam Grace bertanya pada dirinya sendiri serta ia meraih sebuah baju kemeja tunik berlengan panjang berbahan katun tampak bermerek pula. "Apa aku boleh menikmati ini semua? sementara aku masih belum terbiasa dengan hal baru ini." gumamnya lagi lalu sejenak ia duduk di sebuah kursi sofa sambil memegang baju tersebut di tangannya.


Grace terdiam dan melamun serta dalam seketika ia mengingat tempat tinggal sebelumya.


Apa ayah baik-baik saja tanpa ku? apakah wanita itu mengurusnya dengan baik? ya tuhan, aku sudah tak kuat lagi berada di dalam rumah itu... Apa yang seharusnya ku perbuat sekarang? batin Grace berbicara di benaknya dengan tampang menyedihkan sehingga ia menumpukan kepalanya di lipatan kedua tangan yang ia letakkan di bagian kedua lutut kakinya sembari mengingat sang ayah dalam fikirannya.


Ting


Suara bunyi singkat dari balik ponsel Grace menandakan adanya pesan masuk kemudian ia melihat ke arah ponsel genggamnya yang berada di atas meja kecil tepat di sebelah buku materinya.


Sebelumnya Grace memakai baju yang ia ambil dari dalam lemari dan setelah ia bersiap diri kemudian ia melenggang ke arah ponselnya tersebut serta meraihnya pula.


Begitu banyak pesan yang ia terima baik dari Ocha, Gibran, ayahnya, dan pesan yang baru saja masuk dengan nomor tak di kenal.


Grace membuka pesan dari ayahnya pertama kali lalu ia tampak berwajah datar setelah membacanya sebab isi pesan tersebut mengatakan "jaga dirimu" yap, begitulah isi pesan dari ayahnya yang sama sekali memang tidak mencemaskan dirinya karena seorang anak gadis berada di luaran rumah pada malam hari namun tak menanyakan keadaannya seperti apa akan tetapi Grace hanya membuang nafas panjang supaya tidak terhanyut dalam kesedihannya lagi.


Setelah usai membaca pesan dari ayahnya ia berlanjut ke pesan Gibran serta ia pun membukanya namun dalam sekejap terukir senyuman simpul di wajahnya sebab isi pesan Gibran membuat Grace mengingat kejadian yang telah lewat saat mereka berada di taman sebelumnya sehingga kedua pipi Grace tampak berwarna merah muda karena sedang menahan rasa malunya kemudian ia menepuk-nepuk kedua pipinya secara berulang kali supaya ia cepat melupakan kejadian memalukan tersebut.


Kini berlanjut ke pesan Ocha yang berisikan rasa kekesalannya terhadap Grace sehingga Grace hanya menahan tawanya itu sebab Ocha kalau sudah kesal apapun akan terucap dalam mulutnya itu walaupun sekedar lewat pesan.


Hingga yang terakhir ia membuka pesan dari nomor tak di kenal tersebut lalu ia pun membacanya pula.


0812xxxx


Jangan lupa di save, Elya Vata... Teman 😉


Grace menunjukkan senyum lebar di wajahnya di saat ia membaca pesan dari Elya sehingga bermainlah jemari kedua jempol tangannya untuk membalas pesan tersebut.


Pesan terkirim...


.


.


.


Rumah keluarga Lais.


Ruang kamar Elya.


Bip


Bip


Terdengar bunyi dering ponsel Elya di saat ia sedang menyisir rambutnya sehingga ia langsung meraih ponsel pintarnya kemudian ia melihat sebuah pesan masuk dari Grace serta sigapnya ia membuka layar terkunci dalam ponselnya dan membaca dengan raut wajah yang tampak senang.

__ADS_1


Grace


Tante 😄


Tama menjadi sedikit curiga pada istrinya yang melihat ponsel dengan raut wajah yang seperti itu sebab tak pernah Elya menerima pesan sambil tersenyum begitu sudah pasti bukan pasiennya, itulah fikir Tama ketika melihat istrinya masih fokus terhadap ponselnya saja sampai tak sadar Tama sedang memperhatikan dirinya.


"Khem, jam berapa kau pulang semalam?" tanya sang suami membuka suara pula sengaja berdehem supaya Elya sadar bahwa suaminya sedang melihat ke arahnya


"Ah iya aku belum menceritakannya padamu soal tadi malam," sahut istrinya sejenak ia meletakkan ponsel pintarnya tepat di atas kasur namun ia mengalihkan pertanyaan yang terlontar dari suaminya tadi.


"Mau cerita apa?" tanya suaminya lagi sembari terlihat memilih dasi untuk ia pakai hari ini.


"Aku bertemu dengan seorang gadis saat aku mengarah ke rumah sakit dan aku lihat orang-orang mengelilinginya ternyata gadis itu sudah tak sadarkan diri makanya aku membawa dia ke rumah sakit lalu memeriksa kondisinya," ungkap istrinya pula secara jelas sehingga sang suami pun mendengarkan sambil memasang dasi di balik kerah kemejanya.


"Lalu gadis itu apa sudah pulih kembali?" tanya suaminya lagi.


"Awalnya aku memeriksa dia hanya kekurangan darah saja dan aku memberikan beberapa vitamin untuknya juga tapi setelah aku pulang dari rumah sakit bertemu lagi dengannya di jembatan," cakapnya pula.


"Sedang apa dia di situ?" bertanya kembali sembari memakai jas untuk melapisi kemeja dalamnya.


"Awalnya aku tidak mengerti kenapa dia bisa berada di pinggir jembatan itu tapi ketika aku ingin mengantarnya pulang dia begitu keras berteriak padaku setelahnya dia bercerita padaku tentang masalah yang terjadi padanya," katanya lagi.


"Lalu di mana gadis itu?" karena dari cerita yang di dengarnya barusan sang suami menjadi penasaran pula.


"Aku membawanya ke apartemen yang sudah ku beli untuk hari spesial Gibran nanti hanya saja aku sudah memberikan gadis itu tumpangan tinggal sementara di sana karena aku merasa tidak tega meninggalkannya di jembatan sendiri, tapi gadis itu menunjukkan gejala aneh saat aku sampai di basman!" cakapnya masih berlanjut lagi.


"Gejala bagaimana?" tanya suaminya sembari menoleh ke arah istrinya setelah ia selesai memakai atributnya.


"Kalau mendengar dari yang kau ceritakan itu menunjukkan gejala serangan panik," perjelas suaminya sehingga bertautan lah kedua alis mata sang istri.


"Serangan panik?" beo istrinya mengulang ucapan suaminya.


"Ya, itu biasa terjadi pada pasien ku! gejala itu tidak boleh sering terjadi karena bisa membuat dia harus di rawat lebih lama di rumah sakit," perjelasnya lagi sehingga sang istri tampak tak menduga Grace mengalami hal semacam itu.


"Lalu bagaimana mencegahnya?" tanya sang istri tampak pula kegelisahan di raut wajahnya.


"Apa dia bisa di pertemukan dengan ku? supaya aku bisa sedikit berbincang dengannya," imbuhnya menawarkan diri karena kondisi tersebut tidak bisa di bicarakan oleh orang lain melainkan yang mengalaminya sendiri.


"Baik, aku akan menjemputnya nanti."


Setelah Elya mengiyakan permintaan sang suami mereka pun serentak bergerak dari kamar lalu menuju ruang makan dan ternyata Gibran sudah lebih dulu pergi ke kampus dengan berpamitan pada neneknya saja karena ia melihat orangtuanya masih berada di dalam kamar.


.


.


.


Kampus FK UI.


Drap

__ADS_1


Drapp


Ruang Dekan.


"Apa kau sudah tidak waras? mau apa kau ke kampus ini, hah?" lontaran itu terdengar sedang penuh kemarahan tepat di depan pintu ruang dekan kampus.


"Akan kuberi dia pelajaran jadi kau jangan mencegahku urus saja masalah mu sendiri," sarkasnya pula membalas dengan rasa gejolak amarah keluar dari mulutnya.


Seorang dosen lelaki seketika berhenti karena sempat mendengar perdebatan dari kedua orang yang sedang berseteru di depan pintu ruang dekan.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya dosen lelaki itu pula setelah ia mendekat ke arah mereka.


"Aku ingin bertemu dengan kepala kampus ini," jawabnya terdengar begitu lantang.


"Baik tunggu sebentar saya akan sampaikan," turutnya secara sopan pula lalu ia langsung mengetuk pintu ruang dekan.


Tokk


Tok


"Masuk," sahut dekan tersebut dari dalam.


"Maaf pak, ada yang ingin bertemu dengan bapak."


"Iya, suruh saja masuk."


Dosen itupun melangkah sedikit ke arah mereka.


"Silahkan ibu dan bapak masuk saja," tuturnya dengan ramah.


"Makasih," sahutnya secara singkat serasa enggan mengatakannya namun dosen itu hanya tersenyum simpul saja.


Dosen lelaki tadi kembali lagi setelah berpamitan dan berlalu pergi dari ruang dekan.


"Silahkan duduk ibu dan bapak," ucapnya pula sehingga ia bangkit dari tempatnya dan mengarah pada sofa yang sudah tersedia lengkap dengan mejanya.


Mereka berdua pun duduk setelah dekan tersebut berkata demikian.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya dekan itupula tersenyum ramah.


"Panggil Grace Eloise sekarang! manusia tidak tahu diri itu," sungutnya secara dengus tampak penuh rasa kebencian ketika menyebut nama Grace.


Tentu saja dekan itu merasa heran kenapa ada pasangan suami istri mencari Grace dengan ucapan yang tidak ada etikanya di depan seorang dekan seperti itu.


^^^To be continued^^^


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^


...Kutipan :...


Kehidupan adalah serangkaian perubahan yang alami dan spontan, jadi jangan tolak mereka karena itu hanya membuat penyesalan serta duka. Biarkan realita menjadi realita dan biarkan sesuatu mengalir dengan alami ke manapun mereka suka. ~ Grace Eloise.

__ADS_1


__ADS_2