Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Butik Brand Fashion


__ADS_3

...『⇒Bab 39⇐』...


BLAAAMMM


Jihan membanting pintu rumahnya ketika usai memasuki rumah setelah Daniel membawanya pulang.


"Kurang ajar dia, beraninya mengusir ku dengan cara begitu!" kelakarnya secara mendengus ia sembari duduk melipat kedua tangan di dadanya.


"Bagaimana rasanya kau di perlakukan begitu terhadap orang lain? cukup sudah Jihan, sudah cukup kau membenci Grace selama ini, aku juga tak bisa mengabaikan anakku karena mengikuti mu," kerasnya Daniel berkata demikian sehingga Jihan tersenyum seringai di balik bibirnya lalu sejenak ia berdiri dari duduknya melangkah kecil ke arah Daniel.


"Apa kau sudah lupa? kalau bukan karena harta dari keluarga ku mungkin kau sudah hancur berkeping Daniel, kau itu tak lebih hanya se-ekor serangga bagiku sekarang!" cakapnya secara menekankan bahkan kedua matanya begitu sinis menatap Daniel. "Yeaah, ku akui dulu aku memang mencintai mu tapi setelah kematian istrimu kau bawa kembali anak yang aku benci karena aku sangat membenci anak mu, paham kau!" lanjutnya lagi terdengar masih memberi penekanan pada suaminya tak berapa lama ia membalikkan badannya serta melenggang perlahan ke arah lain terlihat sangat angkuh.


"Aku sadar dengan segala perbuatan ku sekarang, bahkan aku tak pernah sepeser pun memberikan uang pada Grace malah aku yang meminta padanya karena aku harus membayar hutang ku padamu Jihan tapi apa nyatanya? Grace tidak pernah berkata kasar padaku tidak seperti anak mu itu!" timpalnya berucap demikian sehingga Jihan terlihat tidak senang makanya saat ini ia menoleh pada Daniel dengan mengerutkan wajahnya.


"Hei kau!" tunjuk istrinya secara lantang. "Jangan pernah bandingkan si jal*ng itu dengan anakku! dia sama seperti mu hanya se-ekor serangga," tandasnya pula secara menghina.


Tentu saja Daniel saat ini begitu geram terhadap Jihan seolah ia ingin memberi pelajaran pada Jihan namun karena mengingat hutangnya yang menumpuk membuat dirinya tak bisa berkutik walau hanya membela dirinya sendiri makanya ia hanya bisa menahan rasa amarahnya dengan mengepalkan kedua tangan begitu kuatnya sembari menatap ke arah Jihan yang bereaksi biasa saja setelah menghina dirinya.


"Kenapa tatapan mu itu? ingin menceraikan ku? silahkan selesaikan urusan mu padaku setelah itu kau ku lepaskan Daniel," ucapnya dengan santai pula. "Sebelum itu, kau harus bisa mengikuti aturan dalam permainan ku jadi cukup diam dan tunduk tak usah banyak protes!" lontar Jihan terdengar memberi peringatan pula.


Lagi-lagi Daniel diam mendengarkan tanpa bisa membalas ucapan tersebut sementara harga dirinya sudah tak ada lagi di mata Jihan sehingga ia hanya membuang nafas kasar beberapa kali.


"Terserah kau saja! aku tak ingin berdebat dengan mu karena percuma, membuang energi ku!" cakap sang suami setelah itu ia pergi begitu saja mengarah ke pintu dan keluar tanpa pamitan pada Jihan serta membanting keras pintu tersebut.


Jihan menyeringai merasa puas sebab ia berhasil membuat Daniel tak bisa membalas perkataanya itu kemudian ia melenggang ke arah kamar Laras usai beradu mulut dengan suaminya.


Sesampainya Jihan di depan pintu kamar Laras.


KLAAKK


Gagang pintu kamar di pegang oleh Jihan serta ia membukanya pula.


Tampak dari jauh Laras sedang menonton film melalui ponsel genggamnya sembari menikmati cemilan snack dan minuman botol colacola sungguh ia begitu santainya saat berada di dalam kamar.


"Baby, apa kau sudah tidak pusing lagi?" tegur ibunya pula sambil melenggang masuk ke dalam kamar Laras.


"Tadinya masih pusing ma, ini sudah tidak lagi."


Cakap Laras namun matanya fokus ke arah film yang ia tonton.


"Ohya ma, bagaimana rencana kita? apa mama berhasil membuat si benalu itu keluar dari kampus?" tanya serius dari Laras sehingga ia menatap ibunya setelah film tersebut ia pause.


"Entah lah, kita tunggu saja yang penting mama sudah lakukan apapun yang kau minta asal hati mu membaik," cakap ibunya lagi.


"Tenkyu mam," ia pun bergerak dari kasurnya dengan begitu girang serta merangkul ibunya dengan perasaan senangnya.


"Baby, temani mama ke butik langganan mama yuk! sudah lama mama tidak ke sana lagian kebetulan kau di rumah, mama juga ingin membelikan mu beberapa set pakaian jadi sekarang kau bersiap diri dan mama akan tunggu di luar," ajaknya pula.


"Waahh, mam baik banget sih..."


Laras merangkulnya kembali dengan kegirangan.

__ADS_1


"Sudah cepat," ucap ibunya sembari memukul perlahan tangan Laras yang merangkul dirinya.


"Eh tapi ma, bukannya aku berpura-pura sakit nanti kalau ada yang mengenali ku di luar sana bagaimana ma?" rangkulan itupun terlepas ketika ia berfikir demikian.


"Tidak akan ada, lagian untuk apa mereka mengawasi mu sampai ke sini? lagipula kita tidak lama hanya membeli baju setelah itu pulang dan kalau memang mereka ingin menjenguk mu sudah pasti memberi kabar lebih dulu padamu," perjelas ibunya secara panjang lebar.


"Ya, mama benar juga!" manggut Laras pula membenarkan penjelasan yang di berikan ibunya.


"Sudah cepatlah, mama keluar dulu dan jangan buat mama menunggu terlalu lama!" titahnya secara tegas lalu ia membalikkan badannya melenggang ke arah pintu hendak keluar dari kamar Laras.


"Okeh ma, aku tak akan lama!" seru Laras berbicara dari jauh sementara ibunya sudah keluar sambil menutup pintu kamarnya.


.


.


.


"Tante kenapa tidak bilang mau ke sini? seharusnya tante bilang biar aku bisa menjemput tante di bawah," imbuh Grace setelah ia di panggil oleh Sekar karena Elya datang ke apartemen tanpa menghubunginya terlebih dulu.


"Seorang pasien kok mau jemput orang yang sehat?" paparnya sembari ia tertawa kecil melihat sikap Grace ketika melihat kehadiran dirinya apalagi ia juga membawa keranjang berisi buah untuk di makan oleh Grace nantinya.


Bagaimana Grace tidak kaget ketika Elya datang dirinya sedang berbincang dengan Gibran lewat ponsel genggam miliknya namun Gibran tak membahas peristiwa yang terjadi saat di kampus sebab ia tak ingin Grace menjadi terbebani oleh kejadian tersebut apalagi Ocha dan yang lainnya juga sudah sepakat untuk tidak membahas masalah yang telah berlalu.


Baik Bram dan Boy sudah mengetahui kalau Jihan termasuk ibu tiri Grace makanya mereka terkejut ketika mengetahui cerita sebenarnya dari mulut Ocha sendiri.


.


.


.


Jihan dan Laras sudah berada tepat di depan sebuah gedung berlantai dua setelah mereka turun dari taksi.


"Ma, ini tempatnya?" tanya Laras pula dan seketika matanya tertuju pada gedung yang terbuat dari kaca tersebut sehingga semua baju begitu tampak jelas terlihat walau dari luar saja.


"Ya, ini tempat langganan biasa mama beli baju!" turutnya dengan mengiyakan.


"Bajunya bagus-bagus ma, pantes baju mama dengan baju ku berbeda ternyata mama beli di sini," cerocosnya pula namun matanya masih fokus menatap ke arah depan.


"Sudah jangan bawel! ayo ikut mama masuk," cakapnya sembari menarik tangan Laras dan membawanya berjalan di sampingnya.


Pintu butik pun di buka oleh Jihan pertama kali sementara Laras berada tepat di belakangnya.


Jihan menahan pintu tersebut supaya Laras bisa masuk bersamanya pula.


Namun tiba-tiba...


SYUUUUNGGGGG


BRUKKK

__ADS_1


BRAKKK


"Mama..." Teriak histeris dari Laras ketika ia melihat ibunya sudah terjungkal dan tertimpa patung yang berada tepat di sebelah pintu.


"Agh, punggung ku! punggung ku sakit sekali," rintihan tersebut keluar dari mulut Jihan bahkan ia masih belum bisa bergerak di sebabkan panggulnya terhempas ke lantai.


"Nyonya, kenapa di lewati palangnya? saya sudah memberi tanda untuk tidak melewatinya," cakap si karyawan secara sigap ia mengangkat patung yang menimpa tubuh Jihan.


"Diam kau! enak saja kau menyalahkan ku, kau yang tak becus kerja! dasar sial*n, aaaghh punggung ku! Laras bantu mama berdiri," lirihnya serta menahan sakit sehingga tangannya ia arahkan ke anaknya.


"Sebentar ma, akan aku bantu."


Laras bersusah payah untuk membantu ibunya namun karena tak sebanding dengan tubuhnya ia pun gagal membangkitkan ibunya.


"Saya akan bantu nyonya maafkan saya sekali lagi," turutnya pula dengan bernada rendah.


"Tidak usah kau bantu! tak sudi aku di pegang oleh babu seperti mu," kelakarnya dengan menampik tangan karyawan tadi. "Cepat Laras bantu mama bangun," pintanya lagi namun kesekian kali Laras berusaha nyatanya Jihan belum juga bisa berdiri.


"Kau panggil bos mu ke sini, cepat! supaya kau di pecatnya untuk apa punya babu yang tak becus seperti mu!" berangnya dengan melebarkan mata ke arah si karyawan tersebut.


"Jangan nyonya, saya mohon jangan laporkan pada bos saya..."


Turutnya dengan bungkuk berulang kali sehingga terlihat wajah penyesalan dari karyawan itu.


"Pftt, ck ck! gue fikir siapa yang mengoceh sampai suaranya nyaring di telinga gue tak taunya keluarga penuh drama!" ucap dari seorang wanita yang bersandar di tembok bahkan suaranya tak asing bagi Laras maupun Jihan.


"Ocha?" kagetnya Laras ketika ia melihat Ocha berada di dalam butik langganan ibunya.


"Nona maafkan saya, saya sudah membuat kesalahan..."


Karyawan tersebut menoleh pada Ocha dan berulang kali bungkukkan badan.


Ocha melirik sejenak ada sebuah palang tampak terlihat jelas bahwa tertulis "jalan sedang licin" makanya Ocha melenggang perlahan mendekat ke arah mereka.


"Weni, kau tidak salah jadi pergilah selesaikan pekerjaan mu yang lain!" titah Ocha demikian serta ia melirik Jihan sudah terlihat tak senang.


"Terima kasih nona, maafkan saya!" tuturnya kembali dengan bungkukan badan lagi.


"Sudahlah, ini bukan salahmu jadi kau bisa lanjutkan yang lain," cakap Ocha lagi memberi senyuman tipis pada Weni.


"Baik nona, saya permisi..." Pamitnya pula.


"Hei kau, panggil bos mu cepat! enak saja lepas dari kesalahan dan mendengarkan si pecundang ini," kelakarnya dengan berteriak.


Ocha hanya menggerakkan telapak tangannya supaya Weni tak usah mendengarkan Jihan makanya Weni melanjutkan langkahnya setelah melihat isyarat yang di berikan oleh Ocha.


^^^To be continued^^^


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^


...Kutipan :...

__ADS_1


Hidup itu sulit untuk di jalani dan akan menjadi lebih sulit ketika kamu adalah orang yang bodoh. ~ Grace Eloise.


__ADS_2