Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Kedatangan Utomo


__ADS_3

...『⇒Bab 44⇐』...


Zraaapp


"Ada apa ma?" tanya Laras ketika dirinya di tarik oleh sang ibu saat mereka berdua hendak ingin memasuki halaman rumah.


"Sssttt... Suara mu jangan terlalu keras! kau tak bisa lihat itu siapa yang ada di depan pintu rumah kita?" jawab sang ibu pula sembari menunjuk ke arah yang di maksud olehnya.


"Haahh? apa aku enggak salah liat ma? itu si botak ngapain datang ke rumah kita?" lontar Laras sehingga ia menautkan kedua alis matanya sembari berbisik dan juga tampak ia menggigiti sebelah jempol kuku tangannya.


"Ya mana mama tahu kenapa dia datang lagian buat apa dia ke sini coba? sedari awal dia sudah mengusir mama dari ruangannya dengan kasar!" ucapnya secara berbisik pula bahkan wajahnya terlihat begitu penuh kekesalan.


"What? mama di usir si botak itu? kurang aj*r banget dia berani berkata kasar pada mama," cakap Laras merasa kaget ketika mendengar pengakuan dari ibunya barusan. "Udah ma biarkan saja ngapain harus repot membuka pintu untuk dia," lanjutnya lagi secara emosional pula.


"Ingin sekali mama mencabik-cabik mulutnya itu karena sampai sekarang mama masih tak terima di perlakukan kasar olehnya!" cerocosnya lagi tiada henti hingga kepalan kedua tangannya begitu kuat serta semua jemari tangannya tampak ia remuk sendiri.


"Tenang saja ma, kalau ada rencana yang bagus aku akan membalaskan semuanya untuk mama!" turut Laras pula terdengar sangat meyakinkan sehingga sang ibu langsung menyimpulkan senyuman seringai di balik pinggir bibirnya.


"Hei jeng."


"Astaga!"


Keduanya pun serentak terkaget setelah kedatangan seorang wanita terlihat sebaya dengan Jihan berada di tengah persembunyian mereka.


Yeap, tentu saja Utomo juga seorang lelaki bersamanya pun jadi mendengar suara yang menegur Jihan tadinya.


"Jeng, lagi apa di sini? aku memang ingin ke rumah mu ada yang mau aku bicarakan lalu aku melihatmu berdiri di sini dengan putri mu, ada apa jeng?" begitu banyak pertanyaan yang terlontar dari mulutnya sementara Jihan sudah ingin meremas mulut temannya itu.


Ini ibu-ibu apa mulutnya enggak bisa di rem? sial! batin Laras pula tampak dari wajahnya teramat geram.


Tap


Tapp

__ADS_1


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka yeap, tentu saja orang tersebut ialah Utomo dan seorang lelaki muda kenalannya dan bisa di sebut dokter pribadi yang selama ini berdedikasi padanya.


Ketika Utomo dan temannya itu sudah berada di hadapan mereka Jihan pun memijat dahinya mengalihkan wajah sementara Laras berpura tenang padahal hatinya sedang gelisah.


"Saya sudah lama mengetuk pintu rumah kalian dan saya pikir tidak ada orang ternyata kalian ada di sini," cakap Utomo pula terlebih dulu membuka suara.


"Kami baru saja dari luar," kata Jihan membalas ucapan Utomo secara tenang.


Temannya Jihan hanya memperhatikan gelagat mereka berdua setelah kedatangan Utomo.


"Jeng aku pulang dulu saja nanti aku kembali lagi," pamitnya terdengar terburu sebab ia sudah bisa membaca situasi saat ini makanya ia mencoba untuk menghindar pula.


Dasar mulut rombeng! enyah lah kau. Batin Jihan terdengar murka sehingga umpatan keluar dari mulutnya.


Setelah berpamitan teman dari Jihan berlalu pergi begitu saja dengan berlari kecil supaya bisa lebih cepat menjauh.


"Kalian sedang apa di sini?" tanya Utomo lagi tampak memperhatikan style yang di pakai oleh mereka.


"Kan sudah aku bilang dari luar kenapa kau bertanya lagi?" celetuk Jihan secara berani pula.


"Oh, tentu saja aku membawa dia untuk di periksa kembali karena aku tak ingin kalau sampai terjadi hal yang lebih buruk lagi padanya!" balas Jihan secara lantang pula bahkan nada suaranya terdengar meninggi.


Utomo masih belum yakin dengan omongan yang di katakan oleh Jihan sebab apa yang di lihat Utomo tak sesuai dengan perkataan yang keluar dari mulut Jihan karena di balik sorotan mata Utomo ia bisa memastikan bahwa keduanya memang tidak pergi ke rumah sakit lantaran dari style yang mereka kenakan seolah begitu mencolok.


Mulai dari pakaian yang di kenakan oleh Laras terlihat sedang memakai rok span berbahan jeans di atas lutut serta baju kemeja yang tampak modies sedangkan ibunya apalagi begitu terlihat waw bagaimana Utomo tak curiga sementara penampilan mereka begitu tersohor seperti habis dari shopping, itulah pemikiran Utomo di saat ia sibuk memperhatikan keduanya.


Wajah Laras juga terlihat begitu segar seakan orang biasa saja tanpa merasakan sakit apapun, begitupula yang tampak oleh kedua bola mata Utomo.


"Begitu ya? kalau saya boleh tahu dokternya mengatakan apa? tidak ada sesuatu yang lebih serius, bukan?" tanya Utomo sengaja ia menjabarkan semua pertanyaan tersebut setelah apa yang ia lihat saat ini.


Laras berpura lesu dan bersandar di tubuh ibunya seolah tak berdaya padahal sedari awal Utomo sudah menyadari kalau semuanya telah di rencanakan namun dirinya bersikap seakan tak mengetahui apapun.


"Dokter mengatakan untuk kembali lagi besok karena kondisi Laras harus benar-benar di perhatikan makanya tak sembarangan mencari rumah sakit buat Laras," jawabnya secara santai namun Utomo mulai mencium sesuatu yang tidak benar.

__ADS_1


"Ah iya, kebetulan sekali saya juga sedang membawa dokter yang merawat saya dari dulu dan ini juga seorang dokter hebat jadi saya ingin Laras di periksa olehnya karena saya khawatir dengan kondisi mahasiswi saya," cakapnya pula sehingga ibu dan anak itu saling membalas tatapan satu sama lain bahkan mengerutkan wajah mereka.


Jihan sejenak menoleh pada Utomo dan memperlihatkan wajah yang tak senang. "Untuk apa kau membawa dokter, apa kau fikir aku tak mampu membawa berobat anakku?" semburnya dengan menuduh yang tak berdasar.


"Saya ingin mengetahui kondisinya mungkin saja dokter saya bisa memberi resep obat yang bagus untuk Laras, itu saja!" balasnya terdengar tak terima dengan tuduhan yang di lontarkan oleh Jihan.


GREPPP


Lengan tangan Laras di raih oleh ibunya dan di pegang secara kuat.


"Tak perlu, kau bisa pulang!" dengusnya pula. "Aku bisa mengurusnya tak usah ikut campur," lanjutnya lagi dengan menghardik lalu ia menarik tangan Laras dengan membawanya menuju pintu rumah.


Utomo tak lagi membalas omongan yang keluar dari mulut Jihan sebab ia sudah bisa menyimpulkan bahwa semuanya telah di rencanakan oleh keduanya.


"Tuan, apakah gadis itu yang sakit? kenapa terlihat baik-baik saja?" tanya dokter muda yang di bawa Utomo bersamanya tampak begitu heran makanya ia bertanya hal demikian.


"Sepertinya keadaan dia memang sedang sehat," balas Utomo pula sembari terus memperhatikan Jihan yang telah masuk ke dalam rumah bahkan dia membanting keras pintunya sendiri tanpa rasa hormat pada Utomo yang terlihat masih berdiri di halaman rumahnya.


"Apa anda di bohongi oleh mereka tuan?" tanya dokter itu lagi setelah ia mendengar jawaban dari Utomo barusan.


"Sudahlah, sebaiknya kita pulang karena saya masih ada urusan lain."


Utomo lebih dulu bergerak dari tempatnya tanpa berkata apapun lagi sehingga dokter muda tersebut menyusulnya dari belakang bahkan suasana hati Utomo terlihat sedikit kesal sebab untuk pertama kalinya ia bertemu dengan seseorang yang tak menaruh segan terhadap dirinya.


Tentu saja Utomo di katakan sudah berumur sebab ia juga memiliki 3 orang anak perempuan yang masing-masing telah di bawa oleh suaminya tinggal di luar negri bahkan Utomo juga mempunyai 2 orang cucu masih berusia balita namun dirinya merasa tak di hargai oleh Jihan sementara dari faktor umur saja antara ia dan Jihan sangat jauh berbeda akan tetapi Jihan tak ada rasa hormat terhadapnya.


Bagaimana Utomo tak berbuat kasar pada Jihan saat di kampus sebab Jihan sudah membuat onar hingga semua mahasiswa/i menjadi ricuh itulah sebabnya ia memberi peringatan pada Jihan supaya tak kembali lagi dan lagipula sedari awal ia telah menghormati kedatangan Jihan walaupun kesannya sudah tak memiliki kesopanan.


^^^To be continued^^^


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^


...Kutipan :...

__ADS_1


Cara terbaik untuk memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan. ~ Grace Eloise.


__ADS_2