Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Sebelah Mata...


__ADS_3

...『⇒Bab 42⇐』...


...~ II ~...


Beberapa tahun silam saat Grace masih duduk di bangku SMP dirinya sudah sering menyaksikan kedua orangtuanya cek cok tiada kedamaian di dalam rumahnya itu.


PRAAANGGG


GEDUBRRAAKK


BRAAKKK


Dalam kondisi ibunya Grace sedang sakit pun sang ayah masih berbuat kasar serta mendorong istrinya sendiri secara bringas tak ada belas kasihan yang terlihat dari matanya sebab ia telah di butakan oleh seorang wanita yang di singgung oleh istrinya yang tak lain ialah Jihan.


Ibunya Grace ingin meminta bercerai ketika ia mengetahui hubungan yang terjalin oleh suaminya dengan wanita lain namun sang suami enggan menceraikan dirinya dan entah mengapa rumah tangga mereka masih di pertahankan sementara kebahagiaan sudah tak tampak lagi di keluarga mereka semenjak hubungan tersebut di ketahui oleh ibunya Grace.


Grace benar-benar tersiksa melihat ibunya di perlakukan semena-mena oleh ayahnya sendiri namun ketika Grace bertanya apa yang telah terjadi pada keluarga mereka malah sang ibu hanya berkata masalah kecil jelas sang ibu menutupi semuanya dari Grace sebab akan menjadi dampak yang besar untuk Grace nantinya.


Ketika Grace berada di dapur ia mendengar suara pecahan gelas serta piring kaca yang terdengar dari arah ruang tamu dan di saat itu Grace sedang memasak air panas untuk membuatkan ibunya teh sebelum dirinya berangkat sekolah namun hampir tiap saat ia mendengar keributan mulai pagi hari sampai waktunya malam hari pun rumah Grace tidak ada ketenangan.


Tepat hari ini keributan terdengar olehnya dan ia pun mengintip dari balik tembok sembari mendengarkan keributan dari kedua orangtuanya bahkan ia melihat sang ibu sudah tampak berantakan sementara pecahan kaca berserakan di lantai.


Betapa down Grace melihat sang ibu menangis terisak akibat ayahnya yang tak memiliki belas kasihan sehingga ia merasa tak sanggup untuk melihatnya lagi maka dari itu ia berlari ke arah kolong meja dan menutup telinganya secara kuat serta air mata yang tak berhenti keluar begitu saja membasahi wajahnya terlihat pula bibirnya gemetaran hebat sebab ia hanya bisa mendengarkan tak dapat berbuat apapun untuk membela ibunya karena dirinya belum punya cukup keberanian dalam melerai pertikaian tersebut.


Beberapa saat kemudian suasana menjadi hening tak ada sedikitpun suara yang terdengar oleh Grace pula lalu ia bergerak dari tempatnya sembari menyeka air mata dari wajahnya.


Grace berjalan ke arah lemari kaca serta meraih sebuah gelas yang berada di dalamnya kemudian ia memanaskan kembali air yang telah ia masak beberapa menit lalu.

__ADS_1


Setelah Grace membuatkan teh ia pun berniat membawanya langsung ke kamar sang ibu dan tak lupa ia juga meninggalkan sebuah gelas berisi teh untuk ayahnya.


Grace tampak sedang memegang gelas menggunakan kedua tangannya sambil celingukan melihat situasi sehingga ia sedikit tak memperhatikan jalannya yang berada di depan bahkan kedua bola matanya tertuju pada suatu tempat yang terbilang adanya pecahan kaca namun saat ini begitu bersih tak ada bersisa serpihannya sedikitpun mungkin saja ibu Grace tak ingin anaknya sampai menyaksikan kejadian tersebut padahal sedari lama Grace sudah mengetahui kedua orangtuanya selalu ribut akan tetapi Grace tak pernah menunjukkan bahwa dirinya mengetahui semua yang telah terjadi oleh sebab itu dia hanya menelan kepahitan tersebut seorang diri dan bersikap baik-baik saja.


BRAAAKKK


BYUURRR


DEBUGHH


"Sshhhh, agh..." rintihan perih keluar dari mulut Grace saat ini.


"Anak siala*! gunakan matamu untuk melihat jalan, percuma kau di sekolahkan otak mu tak kau pakai, si*l kau! bajuku jadi basah begini kau buat," berang ayahnya yang terus melontarkan kata-kata kasar terhadap Grace.


"Maaf yah, aku tak sengaja... Sekali lagi maaf yah, aku tak melihat ayah berjalan ke arah ku."


Grace meringis kesakitan berkata demikian sebab air panas yang ia bawa tadinya mengenai kedua telapak tangannya barulah gelas itu jatuh ke lantai.


Drap


Sang ibu tampak berlari secara sigap setelah ia mendengar suara jatuhan gelas dari luar kamarnya dan ternyata anaknya sudah terlihat menangis sembari menghembuskan nafas yang keluar dari mulutnya mengarah ke luka bakar di tangannya tersebut.


"Mas, jangan kau bentak dia! kau lihat dia masih sangat kecil untuk kau marahi sampai begitu, tak kau lihat dia sudah gemetaran?" lontar istrinya yang baru saja datang dan melihat reaksi Grace sudah ketakutan ketika ayahnya membentak dirinya.


"Kau urus anak mu! jangan kau ceramahi aku," hardiknya pula dengan melotot sembari menggerakkan jari telunjuknya ke arah sang istri.


Grace hanya merengkuh sambil mengikiskan kedua telapak tangannya menggunakan jempol kukunya saja padahal telapak tangannya tersebut dalam keadaan masih terluka namun di karenakan ayahnya sedang terlihat begitu marah ia pun menjadi panik serta tampak ketakutan sendiri.

__ADS_1


"Mas, dia ini anak mu juga! tak pantas kau berkata begitu di depannya," balas istrinya pula terlihat sedikit kesal dari nada bicaranya.


"Dia anak mu, bukan anakku! karena aku tak menginginkan anak sial*n begini, mengerti kau!" sarkasnya dengan lantang lalu ia melangkah pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.


"Mas!" teriak istrinya pula sambil mengejar suaminya dari belakang.


Grace menangis tanpa mengeluarkan suara namun kulitnya sudah terkelupas akibat ia kikis menggunakan kuku jempolnya bahkan rasa sakit tak sebanding dengan ucapan yang di lontarkan ayahnya barusan, itulah yang di rasakan oleh Grace dari ia masih usia remaja sampai dewasa sekarang tak pernah posisi ayahnya berada di pihaknya namun ia tetap menjadi orang yang berbesar hati menerima keberadaan ayahnya walau ia harus berjuang untuk membela dirinya sendiri meskipun rasa sakit selalu menghampiri dirinya.


Sudah lama Grace menanggung kepahitan semenjak dari ibunya ada bahkan telah tiada pun tak pernah Grace merasa bahagia makanya Grace juga tak menyadari kalau dirinya telah mengalami penyakit yang di dasarkan dari kesedihan dirinya tersebut.


Dari penjelasan yang di ceritakan oleh Grace beberapa waktu lalu membuat Tama menjadi mengerti asal usul bekas yang di dapati oleh Grace sekarang hingga tangannya begitu kasar karena ia bekerja keras untuk membiayai sekolahnya sendiri tanpa ada yang membantunya.


Grace wanita yang hebat seperti istrinya yang terbilang menghandle semua urusan tanpa bantuan keluarga, padahal Elya merupakan anak yang terbilang elit tapi dia mampu memperjuangkan semua dengan usahanya sendiri sebab itu sudah merupakan keinginan dari Elya supaya dia bisa memberikan contoh pada anaknya kemudian hari agar tak mengandalkan harta orangtua lebih tepatnya dalam istilah "pergunakan masa muda mu untuk berkerja lebih keras dan nikmati semua hasilnya setelah kau menua" begitulah maknanya.


Setelah konsultasi selesai Grace pun di berikan support oleh Tama supaya Grace jangan lagi merasa sedih sebab Tama juga sudah menjelaskan bahwa serangan panik dari Grace kapan saja bisa terjadi jika dirinya dalam keterpurukan maka dari itu Tama memberi resepnya kalau Grace harus memperbanyak kegiatan dan jangan lagi kembali ke rumahnya lebih tepatnya Grace harus berada di bawah pengawasan Elya juga Tama untuk itu Grace tak bisa menolak karena Tama meyakinkan dirinya bahwa ia bisa sembuh jika mereka berdua berada di sampingnya.


Grace tidak di cegah melakukan kegiatan sehari-harinya termasuk bekerja akan tetapi dirinya di larang keras untuk kembali lagi ke rumah asalnya walau ayahnya sekalipun yang memintanya sebab Tama tak akan pernah mengizinkan Grace untuk tinggal satu rumah dengan sekitaran orang-orang yang berbuat kejam padanya.


Tama juga mengusulkan ketika suatu saat ayahnya ingin Grace pulang maka Grace bisa membawa ayahnya untuk tinggal bersamanya di apartemen dan jika ayahnya bersikeras untuk menolak maka Tama yang akan berdiri di baris depan supaya menentang kembalinya Grace ke rumahnya tersebut, begitulah tekad Tama di saat ia mulai bisa berkomunikasi dengan baik pada Grace walau masih pertama kali berbicara dengannya.


Tama melakukan hal tersebut karena ia sudah mendengar semua cerita dari mulut Grace sendiri makanya perasaan Tama campur aduk antara kesal, jengkel, sedih, bahkan kagumnya Tama selaras dengan ia kagum pada istrinya namun bedanya Grace harus menghadapi orang-orang yang membenci dirinya maka dari itu ia mengusulkan bahwa dirinya beserta istri siap untuk menjadi pengganti orangtua bagi Grace serta memberikan kasih sayang mereka layaknya anak sendiri.


Tak terbendung lagi rasa haru yang meliputi Grace sekarang ini sehingga air matanya terus mengalir di dalam dekapan tubuh Elya bahkan Tama yang melihatnya saja sudah tampak kedua bola matanya berkaca-kaca.


Grace tak mengerti masih ada orang-orang hebat yang tak memandang sebelah mata terhadap dirinya bahkan keduanya begitu banyak membantunya sampai detik ini ia merasa tidak sendiri lagi sehingga benar-benar ia rasakan kehangatan dalam suatu keluarga yang ia impikan sejak dulu hadirnya sepasang orangtua yang menerima keberadaan dirinya.


^^^To be continued^^^

__ADS_1


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^


...Nantikan.......


__ADS_2