
...『⇒Bab 11⇐』...
Meja makan
"Huuu, enak nih! perfect, ada nasi uduk plus soto betawi kesukaan gue," riuh Ocha pula ketika ia melihat ke arah udang yang sudah di goreng oleh tepung terlihat yummy di mata Ocha.
Plakk
Tangan Ocha langsung di pukul oleh ibunya sebab Ocha di anggap tidak sopan karena ingin menyantap makanan dengan cara berdiri.
"Dasar kau ini," sembur ibunya pula melotot ke arah Ocha.
"Heheh, maaf ma! perut ku sudah lapar makanya melihat makanan langsung bereaksi," kilahnya dengan memberikan lontaran senyuman polos di wajahnya itu.
"Hmmm, anak zaman sekarang sudah susah di banguni saat merias diri pun lama! kalian berdua kenapa lama sekali di kamar? sudah hampir setengah jam mama nunggu di sini," omel ibunya sehingga Ocha seketika melirik ke arah Grace.
"Ini ma, yang ada di sebelah ku nih lama banget! kehilangan sesuatu katanya, tuh lihat wajahnya juga sedang berseri karena mau pergi berke-"
Haapp
Grace sigapnya membungkam mulut Ocha yang hampir membuat dirinya harus menanggung malu.
"Ber apa?" tanya ibunya serta naik lah sebelah alis matanya melihat ke arah mereka apalagi Grace juga tersenyum kaku padanya.
"Hihih, tidak ada tante! Ocha sedang bergurau saja," timpal Grace namun tangannya masih membungkam mulut Ocha.
Sreett
Bungkaman itu di lepas secara paksa oleh Ocha karena ia mulai merasa sesak dan setelah lepas ia pun menggeser kursinya kemudian duduk dengan santai sembari meraih gelas yang sudah berisi susu putih tepat di atas meja.
Gluug
Glug
Beberapa kali Ocha meneguk susu putih itu dan setelah ia habiskan hampir setengah ia letak kembali di atas meja lalu ia menoleh ke arah Grace yang masih berdiri di sampingnya sembari menatap seperti ingin menerkam dirinya, begitulah istilahnya kira-kira.
"Bergurau apa sih? lagian buat apa juga lo malu dengan nyokap gue? kita ini sesama perempuan Grace, so have fun bestie jangan tegang begitu dong!" cerocos Ocha tiada henti hingga membuat Grace sudah tak berani menatap ke arah Anggun yang tersenyum tipis ke arah dirinya.
"Cha..." Grace mulai jengah dengan ocehan Ocha sedari tadi terhadap dirinya.
__ADS_1
Prok
Prok
"Sudah sudah!" kini Anggun menjadi penengah antara keduanya pula. "Ayo Grace duduklah jangan hanya berdiri saja," pinta Anggun secara ramah tersenyum simpul menatap Grace yang tampak ragu melihat ke arah dirinya namun Grace secara tenang membalas senyuman tersebut.
"Iya tante terimakasih," jawab ramah dari Grace pula kemudian ia duduk tepat di sebelah Ocha bahkan saat ini Ocha tampak sesekali mengalihkan wajah sebab ia tak ingin sampai Grace menyadari bahwa dirinya sedang tertawa mengenai sikap Grace yang terlihat malu itu.
"Di makan Grace ayoo jangan cuma bengong," sambung Anggun lagi ketika ia melihat Grace sedang tertunduk tampak terdiam kaku.
Bagaimana Grace tidak merasa malu sebab itulah untuk pertama kalinya Grace di ajak berkencan oleh seorang pria namun belum ada satupun yang tahu kalau dirinya memang tidak pernah menjalin hubungan khusus pada siapapun juga.
"Oi, kok lo malah melamun sih? apa yang lo pikirin Grace?" tanya Ocha setelah ia menyenggol siku tangan Grace.
"Tidak ada kok," jawab Grace secara sigap kemudian ia berpura-pura tenang dan menyendok nasi untuk mengisi piringnya yang masih kosong.
Anggun pun terlihat senyuman kecil di wajahnya ketika melihat reaksi tenang dari Grace sebab ia sudah merasa bahwa Grace hanya berpura supaya orang lain tak menyadari reaksinya tersebut padahal itu bukan keahlian Grace.
Nyam
Nyaamm
//serentak semuanya sedang menikmati makanan yang tersedia di atas meja.
"Hmm, itu tante... Sebuah kalung putih ada liontin berbentuk hati." Grace pun menjawab sembari membalas menatap ke arah Anggun.
"Ohh kalung itu milikmu?" kata Anggun sembari merogoh saku kantong roknya tempat ia meletakkan kalung tersebut sebelumnya. "Apa kalung yang kau maksud adalah ini?" lanjut Anggun lagi serta menunjukkan langsung di hadapan ke duanya.
"Huuu, silau banget! amazing the necklace, enggak nyangka gue ada kalung berkilau begitu, ck! salahnya gue tak pernah suka yang namanya kalung," celoteh Ocha pula terdengar sangat riuh ketika ia melihat barang Grace yang hilang tadinya berada di tangan ibunya.
"Ya benar tante itu punyaku, ternyata ada sama tante! makasih tante," ia pun menyambut kalung itu dari tangan Anggun bahkan terlihat wajah yang lesu tadi menjadi ceria kembali sebab barang yang ingin ia cari kini telah ada di tangannya makanya ia menjadi sangat lega.
"Sebelumnya tante melihat isi dalam liontin itu ada tertulis G.G apa itu artinya?" tanya Anggun pula sebab ia merasa penasaran sedari melihatnya.
"G.G? aku juga tidak tahu kalau ada tulisan seperti itu di dalam liontin ini tante," balas Grace yang memang tidak tahu apapun makanya ia membuka liontin tersebut dan ternyata memang benar ada tulisannya.
"Khem, boleh gue tebak enggak?" lontar Ocha dengan berdehem lalu sengaja menyenggol sebelah bahu Grace dengan bahunya pula kemudian Grace pun melihat Ocha yang sudah tersenyum nyengir tampak pula kedua alisnya ia mainkan dengan naik turun.
"Memangnya apa?" tanya Grace ikut menjadi penasaran karena Ocha.
__ADS_1
"Gibran dan Grace! nah cakep, so itu sudah pasti benar! apalagi coba? yang berikan kalung ini juga Gibran enggak mungkin dia ukir nama orang lain di kalung yang dia beri ke lo Grace, masa lo gitu aja enggak paham sih?" timpal Ocha terdengar ada benarnya makanya Grace menjadi tampak merona pula mendengar ocehan Ocha barusan.
"Gibran? apa itu orang yang memberikan mu kalung Grace?" sambung Anggun lagi semakin membuat Grace jadi bertambah malu.
"I- itu tante..." Grace jadi kelabakan seolah mulutnya susah untuk menjawab pertanyaan dari Anggun.
Tak
Jemari tangan Ocha ia bunyikan pula sebab ia menjadi begitu bersemangat untuk menjawab yang di pertanyakan oleh ibunya.
"Yap! Gibran Lais, itu namanya ma! apalagi dia juga yang akan ngajak Grace berkencan hari ini, seneng enggak? seneng lah ya..." Ledek Ocha setelah ia mengoceh dengan sengaja terus menyenggol bahu Grace berulang kali.
"Cha... diem dong aku malu tau!" Grace berbicara seolah berbisik pula karena sedari tadi Ocha terus menerus membuatnya tak bisa berkutik.
"Kalau tidak salah Gibran yang pernah ke sini, kan? kalian waktu itu sedang mengerjakan tugas kelompok apalagi tante sempat tegur sapa padanya," kata Anggun setelah berhasil mengingat wajah Gibran.
"Benar sekali ma, mama emang pinter ngenali wajah orang!" antusias Ocha membenarkan sembari memberikan kedua jempolnya bahkan tersenyum lebar.
"Waaw, orangnya tampan! apalagi kau juga cantik Grace memang kalian pasangan serasi the best, tante dukung!" riuh Anggun terdengar heboh sendiri.
Tosss
Baik ibu dan anak itu saling mengetoskan tangan mereka tampak mendorong Grace supaya tidak kaku itulah maksud mereka awalnya.
"Harus ma! tak boleh lepas, ya enggak ma?" timpal Ocha masih terlihat senyuman nyengir bahkan ibunya juga membalas senyuman anaknya itu.
Betapa malunya Grace mendengar ocehan keduanya namun ia menjadi sangat bahagia karena ada orang di dekatnya yang selalu mensuport dirinya.
"Tapi, kau harus ingat Grace jangan mencampur adukkan antara hubungan pribadi mu dengan kuliahmu itu, ingat pesan tante!" lontar Anggun sejenak ia tampak serius menatap ke arah Grace yang usai memakai kalungnya tersebut di leher.
"Baik tante, aku akan selalu ingat pesan tante!" turut Grace memberikan senyum hangatnya pula.
"Kau juga Cha! jika ada hubungan spesial tidak boleh di sama ratakan karena kalian juga tak lama akan lulus jadi tante mau kalian benar-benar fokus dan tidak hanya terfokus masalah percintaan saja," pungkasnya sehingga ia menatap ke arah mereka bahkan Ocha menjadi heran dengan ucapan tersebut mengarah pada dirinya.
"Kenapa jadi aku sih ma? siapa juga yang ingin menjalin percintaan," gerutu Ocha namun ibunya tak percaya Ocha yang berusaha berkilah padanya.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
__ADS_1
...Kutipan :...
Belajar adalah harta karun yang akan mengikuti pemiliknya ke mana pun. ~ Grace Eloise.