
...『⇒Bab 28⇐』...
Ruang belajar kampus FK UI
"Lah, kok lo sendirian? mana teman perangko lo itu?" tanya Ocha saat dirinya melihat Boy masuk seorang diri ke dalam ruang belajar mereka.
Grace maupun Gibran langsung melihat ke arah Boy setelah mereka mendengar perkataan Ocha barusan.
"Lagi pusing katanya, mual, kembung, anemia!" jawab Boy pula secara asalan sembari ia duduk di bangkunya sendiri.
"Wakakak, lengkap amat itu penyakit! nggak sekalian lahiran? pffttt," kekehan Ocha membuat yang lainnya jadi ikut tertawa juga kecuali Grace dan Gibran.
Grace menatap ke arah meja belajar tempat biasa Bram duduk sementara Gibran melihat Grace pula namun Grace tak menyadari kalau dirinya sedang di perhatikan oleh Gibran bahkan gelagat dari wajah Grace yang tampak sedih itupun Gibran tahu persis bahwa Grace mengalami keresahan dalam hatinya.
Apa dia benar sedang sakit? aku harap dia baik-baik saja dan tak membenciku. Batin Grace berkata demikian namun matanya masih tertuju pada meja belajar Bram.
Drrtt..
1 pesan masuk
Getaran dari balik ponsel Grace menyadarkan dirinya seketika lalu ia pun merogoh tasnya dan meraih ponsel genggam miliknya serta membuka layar terkunci dari ponsel pintarnya itu.
"Gibran?" gumam Grace setelah layar ponselnya terbuka kemudian ia membuka isi pesan itupula.
*Gibran
Hei cantik, ada apa dengan mu? wajah mu sedikit murung, apa terjadi sesuatu di rumah?
Grace secara santai membaca pesan tersebut dalam hatinya dan menyimpulkan senyuman di balik pinggir bibirnya.
Bermainlah jemari lentik tangannya itu untuk membalas pesan singkat yang di kirim oleh Gibran padanya.
Berbalik pula sekarang Gibran yang membuka pesan dari Grace seketika ia pun tersenyum tipis melihat balasan tersebut.
*Grace
Tidak, aku sangat bahagia selama ada dirimu :)
Gibran hanya membaca saja tanpa membalasnya lagi karena ia tahu kalau Grace merupakan wanita yang tidak mudah untuk bercerita pada siapapun jika itu bukan dari keinginannya sendiri.
Di balik senyuman yang terlontar dari bibir Gibran tersadar olehnya bahwa Boy sedang mengarah padanya namun ketika dirinya menatap Boy malah Boy mengalihkan wajahnya pula tetapi Gibran jadi merasa aneh dengan tatapan tersebut.
Tidak biasanya dia melihatku seperti itu, ada apa sebenarnya? batin Gibran pula sementara matanya masih mengarah pada Boy yang tampak sengaja menyibukkan dirinya.
.
.
.
Jam istirahat pun berlangsung setelah usai menyelesaikan materi yang di berikan oleh dosen mereka.
"Apa kalian tak ke kantin?" tanya Ocha pula yang terlihat sedang bersiap untuk bergerak sembari merapikan seluruh perlengkapannya ke dalam tas.
"Aku mau ke perpus ada buku yang ingin ku cari," jawab Grace setelah ia bersiap dan kini sudah berdiri di samping Ocha.
__ADS_1
"Boy, lo ke kantin nggak?" tanyanya lagi setelah ia berberes pula.
"Gua lagi nggak doyan makan, lo aja sana!" jawab singkat dari Boy namun ia langsung bergerak pergi begitu saja dari hadapan mereka.
"Idih! jutek banget itu anak, nggak biasanya dia nolak kalau gue ajak ke kantin! ada apa sih? tumbenan sikap dia jadi sok cool begitu!" celoteh Ocha tiada henti namun Grace hanya memperhatikan Boy yang sudah berlalu pergi sementara Gibran terlihat menyusul Boy yang keluar dari ruangan.
Gibran mempercepat langkahnya supaya bisa menyusul ketertinggalannya di belakang Boy.
Grepp
Akhirnya siku tangan Boy berhasil di raih oleh Gibran pula.
"Ada apa? kenapa kau sampai menyusul ku?" tanya Boy bernada datar setelah ia menoleh ke arah Gibran.
"Harusnya aku yang bertanya padamu, kau kenapa? sikapmu berubah sedari pertama kau masuk ke ruangan, apa ada yang salah?" lontar Gibran secara serius.
"Tidak ada, itu hanya perasaan mu saja!" singkat Boy menjawabnya lalu ia pergi begitu saja tanpa berbicara lagi.
Gibran mengikuti langkah tersebut walau Boy bersikap demikian padanya.
"Kau bohong Boy, pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku!" tuduh Gibran terdengar sedikit memaksa Boy untuk berbicara jujur padanya.
Langkah kaki Boy sejenak berhenti begitupula dengan Gibran yang ikut berhenti seketika.
"Aku tak pandai menyembunyikan sesuatu dari teman-temanku! tapi mungkin kau bisa melakukannya," timpal Boy pula membuat Gibran mengerutkan dahinya mendengar ucapan Boy barusan.
"Apa maksudnya?" tanya Gibran lagi.
"Kau sudah bertunangan dengan Grace, kan? sampai sekarang kau sangat pintar menyembunyikan hubungan mu dengan Grace," ungkap Boy terlihat tidak senang di balik sorot matanya sementara Gibran terdiam. "Kenapa? apa kau sedang berfikir dari mana aku tahu semuanya? baik, akan ku jawab! aku tahu dari Bram setelah dia ungkapkan kegelisahan hatinya padaku," lanjutnya lagi.
"Ck, sungguh cinta yang rumit!" imbuh Boy pula namun terdengar membuang nafas kasar. "Apa kau tahu Gibran? Bram tidak pernah mabuk dan untuk pertama kalinya aku melihat dia sangat berantakan hanya karena seorang wanita," kata Boy membuka masalah yang terjadi pada Bram sebelumnya.
"Mabuk?" kagetnya Gibran setelah mendengar pengakuan dari Boy barusan.
"Ya, mabuk! minuman beralkohol dan itu tak pernah dia lakukan sebelumnya!" jawab Boy mengiyakan ucapan Gibran.
"Astaga Bram! se-dangkal itu kah pikirannya?" sesal Gibran setelah ia tahu kebenarannya hingga ia pun bersandar di tembok dan menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu berulang kali membuang nafas kasar.
"Entahlah aku belum pernah menjalin hubungan dengan wanita jadi aku tak begitu tahu kenapa dia bisa sampai melakukan hal itu," seru Boy pula terllihat mengangkat kedua bahunya.
Gibran masih terdiam dan memijat dahinya sendiri sebab ia juga tak menduga Bram nekat melakukan hal demikian yang bisa merugikan diri sendiri.
"Aku cabut dulu! hubungi saja dia jika kau cemas," ujar Boy namun langkahnya sudah tampak sedikit jauh dari Gibran.
Sungguh Gibran menjadi merasa tidak enak dengan kejadian yang menimpa pada Bram namun dirinya memang tidak ada sedikitpun niat untuk membuat Bram jadi kehilangan akal seperti itu sebab Gibran hanya memberikan sebuah dorongan supaya Bram tidak terjebak dengan perasaannya sendiri apalagi dia sempat berfikir jika Grace menerima Bram maka ia akan merelakan Bram pada Grace asalkan Grace bahagia dengan pilihannya, itulah yang terfikirkan oleh Gibran setelah ia mengetahui pertemuan antara Grace dengan Bram.
.
.
.
Mini market alfa
Pada malam hari ketika Gibran ingin menjemput Grace ia berhenti di sebuah mini market di jalan menuju cafe tempat Grace bekerja.
__ADS_1
Tiba-tiba ia melihat wajah yang di kenal olehnya.
"Bram?" tegur Gibran di saat ia masuk ke dalam mini market tersebut.
Tampak Bram sedang memegang beberapa minuman kaleng juga mie instan hendak ingin ke kasir membayarkan belanjaannya.
Bram hanya membalas dengan senyuman kecil sapaan Gibran barusan lalu ia meletakkan barangnya di atas meja kasir.
STAN ALFA DRINK
"Bram apa kau baik-baik saja?" tanya Gibran membuka suara lebih dulu setelah mereka memilih untuk duduk di sebuah stan minuman depan mini market.
"Memangnya kenapa denganku?" berbalik tanya pula.
"Hmm... Aku minta maaf jika membuatmu jadi sangat kacau," imbuh Gibran terdengar merendah sehingga ia menepuk perlahan bahu kanan Bram.
"Maaf untuk apa? kau tidak ada salah apapun padaku," kata Bram yang tidak mengerti padahal Gibran sudah mengetahui semuanya.
"Aku bersalah padamu, aku juga berharap kau tak membenciku Bram!" tutur Gibran lagi-lagi masih terdengar merendah.
Bertautanlah kedua alis mata Bram ketika ia mendengar sedari tadi Gibran mengatakan maaf padanya.
"Apa kau sudah tahu yang terjadi padaku?" tanya Bram menebak pula sembari menatap serius ke arah Gibran.
Gibran hanya anggukan kepala menjawabnya.
Bram membuang nafas panjang setelah melihat reaksi Gibran padanya.
Dasar Boy, tak bisa menyimpan rahasia! batin Bram terlihat kesal namun mau bagaimana lagi semuanya sudah di ketahui oleh Gibran.
"Sudah lah, aku tak ingin membahasnya lagi." Bram mengalihkan wajahnya sembari meneguk minuman yang sebelumnya di sediakan oleh pemilik stan.
"Aku sangat tahu betul kenapa kau melakukan semua itu tapi aku tidak ada niat untuk membuatmu terpuruk," ucap Gibran pula.
"Bukan salahmu, semua yang terjadi sudah jalannya lagian aku tak terpuruk! aku hanya membuang sedikit rasa kecewa ku saja dan sekarang aku hanya minta padamu bahagiakan dia jangan sampai kau menyakiti perasaannya," lontaran tersebut begitu tegas di katakan oleh Bram sehingga ia menoleh ke arah Gibran yang sedari tadi melihatnya.
"Kau tak perlu cemaskan itu, sudah pasti aku akan bahagiakan orang yang sudah jelas aku cintai dan begitupula dengan mu Bram! aku yakin akan ada wanita yang bisa menerima mu sebab kau lelaki yang baik," ucapan yang terdengar memuji itu membuat Bram tersenyum kecil.
"Thanks pujiannya tapi walaupun ada wanita yang menerima ku belum tentu aku membuka hati untuknya karena susah membuka hati jika saat ini aku sudah menutupnya dengan rapat, baiklah aku mau pulang dulu! jemputlah Grace ini juga sudah larut malam kasihan dia harus menunggumu terlalu lama," kini Bram berdiri pula serta melangkahkan kakinya ingin pergi dari hadapan Gibran.
Setapak langkah Bram berhenti dan menoleh ke samping sembari melirik pula.
"Jika kau menyakiti Grace, ingatlah aku akan merebutnya kembali," timpal Bram demikian membuat Gibran terdiam tak berkutik mendengarnya lalu Bram melanjutkan kembali langkahnya begitu saja.
Bram pergi menggunakan motornya sementara Gibran masih melihat kepergian Bram sedari jauh.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...Kutipan :...
Dalam cinta, ketika kamu tak ada alasan lagi tuk bertahan itu adalah alasan yang baik tuk melepaskan. ~ Grace Eloise.
__ADS_1