Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Kelegaan Hati?


__ADS_3

...『⇒Bab 16⇐』...


Jembatan gantung jaksel



Saat ini Ocha sedang berhenti serta membuka helmnya dengan melihat sekitaran tempatnya yang masih ramai orang-orang sedang berlalu lalang bahkan ada juga yang berjalan kaki di pinggiran sebab tak menggunakan transportasi.


"Aduh Grace, lo kenapa sih? gue cemas lo enggak ada kabar gini, plis dong angkat telfon gue..." gumam Ocha yang sedang berbicara sendiri sehingga ia terus berulang kali menghubungi namun tetap saja tak ada satupun panggilannya yang terjawab.


Gibran yang tepat berada di belakang Ocha pun melihat dengan jelas keresahan hati Ocha sekarang sebab ia sedari tadi menatap Ocha yang sibuk mengotak-atik ponsel genggamnya itu bahkan Gibran sempat berfikir bahwa Ocha lah satu-satunya teman baik Grace selama ini apalagi pertemanan mereka cukup lumayan lama tapi perlakuan Ocha terhadap Grace tak pernah berubah sama sekali makanya Gibran sekilas tersenyum tipis karena ia merasa lega kalau Grace telah mendapatkan teman sebaik Ocha, itulah fikirnya saat ini sedang memandang ke arah Ocha.


Di karenakan Grace belum juga ada kabar Ocha pun tak menyerah sama sekali makanya ia langsung memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana lalu menghidupkan motornya hingga melanjutkan perjalanannya dan begitu pula pada Gibran yang masih terus mengikuti pergerakan Ocha.


Di atas motor Ocha pun tak hentinya celingukan ke arah ruas jalan yang dia lewati sembari tetap fokus saat dirinya mengendarai lalu sampai lah ia di sebuah jembatan yang baru saja di resmikan sehingga jembatan tersebut nampak indah karena di kelilingi oleh lampu berwarna-warni apalagi di bawah jembatan tersebut terdapat sungai yang memiliki kedalaman hingga ber-meter pula kedalamannya.


CKIIIITTTTT


Yeap, Ocha langsung mengerem secara mendadak saat ia sudah mengambil arah pinggir jalan dan tak berapa lama Gibran juga berhenti tak jauh dari Ocha bahkan keduanya turun dari motor mereka masing-masing serta tak lupa pula melepas helm dari kepala mereka sehingga dalam sekejap keduanya melebarkan mata dan berlari sekencang mungkin dengan langkah yang serentak tanpa saling mengetahui satu sama lain.


"Grace...."


Teriak keduanya secara keras lalu mereka masing-masing memegang tubuh Grace pula sehingga sepasang mata itupun saling melihat dan tak menduga bisa saling kebetulan ada di jembatan tersebut.

__ADS_1


"Hei, kalian kenapa memeluk tubuhku begini? ayo lepas!" gerutu Grace yang terasa jengah karena mereka memegang panggulnya dengan erat.


"Tidak! kalau aku lepaskan kau akan nekat lompat ke bawah," lontar Gibran masih erat pula memegang Grace.


"Yes, lo bener Gibran! gue juga tak ingin lepaskan, lagian lo enggak punya jalan lain apa sampai lo mau akhiri hidup lo di sini? perjalanan lo masih panjang Grace," celoteh Ocha pula sehingga ia juga ikut erat memegang tubuh Grace.


Grace pun saat ini sedang membuang nafas kasar lalu ia memijat dahinya sembari memejam mata sekejap dan kembali membuka matanya pula melihat mereka berdua secara bergantian.


"Kau fikir aku mau bunuh diri Cha?" tanya Grace seketika keduanya mendongak secara serentak.


"So, ngapain lo manjat begini? kalau bukan mau akhiri hidup lo," tuduh Ocha yang belum percaya dengan ucapan Grace barusan.


"Hmm, aku tak sebodoh itu untuk melakukan hal konyol Cha! lagipula buat apa juga aku bunuh diri di tempat begini? tak mungkin aku berbuat hal yang bisa merugikan masa depan ku," perjelas Grace pula sehingga keduanya pun secara serentak melepas perlahan pegangan itu dari tubuh Grace.


Grace pun turun dengan di bantu oleh mereka berdua lalu Ocha juga Gibran saling melihat bersamaan.


"Aku mengikuti mu dari belakang sedari cafe aku terus ada di belakang mu Cha," jawab Gibran apa adanya pula karena ia memang tak ada niat berbohong.


"Hah? lo ikuti gue? jangan bilang lo juga ada di rumah Grace sewaktu gue cek ke sana?" tanya Ocha lagi dengan perasaan kaget sebab ia tak menduga Gibran senekat itu sampai mengikutinya.


"Kau untuk apa ke rumah ku Cha?" potong Grace sebelum Gibran menjawab pertanyaan dari Ocha.


"Ya, gue cek lo di sana lah! apalagi yang mau gue lakuin sementara lo lost contack dari gue, gimana gue enggak cemas dengan lo?" ungkap Ocha terdengar sesal di raut wajahnya ketika ia sempat mengingat kejadian saat dirinya berada di rumah Grace. "Handphone lo kemana? kenapa lo enggak ada jawab panggilan dari gue?" lanjut Ocha lagi masih terasa kesal dirinya telah di abaikan.

__ADS_1


"Maaf Cha aku tak ingat membawa ponsel sepertinya tertinggal di kamar," kata Grace sembari merogoh kantong cardigan yang di pakainya saat ini.


"Kebiasaan ya lo, ah suka bener buat gue cemas! kejadian ini tak boleh terulang lagi, gue bener-bener takut terjadi sesuatu dengan lo," celoteh Ocha mengomel sambil mencubit kedua pipi Grace secara geram.


"Iya, iya! sakit Cha kau cubit gitu," rengek Grace dengan sengaja supaya Ocha berhenti mencubit pipinya dan pada akhirnya cubitan itupun terlepas juga.


Kemudian Ocha melirik ke arah Gibran yang menatap Grace terlihat lega dari raut wajahnya itu karena Ocha juga merasa kalau Gibran sudah mengetahui pembicaraannya terhadap Laras juga Jihan makanya ia tak ingin mempertanyakannya lagi sebab pastinya Gibran akan menyinggung hal tersebut pada Grace.


"Sekarang gue udah tenang! so, gue harus pulang karena nyokap gue mungkin lagi sibuk nyariin gue enggak ada kasih kabar pula," kata Ocha terdengar ingin pamit karena ia juga memahami kondisinya saat ini sebab Grace maupun Gibran pasti membutuhkan waktu untuk berdua. "Lo harus jagain bestie gue ya! jangan sampai dia ke tempat ini lagi, serem gue ngeliatnya!" lanjut Ocha sambil menatap serius ke arah GIbran.


"Itu pasti Cha, kau tenang saja!" turut Gibran mengiyakan sembari anggukan kepala dan menyimpulkan senyum di bibirnya.


Tampak Grace menghembus nafas kecil karena ia tak menyangka masih ada orang-orang yang khawatir pada dirinya sampai cemas sehingga mencari keberadaannya.


"Cha terima kasih atas semua yang kau lakukan untuk ku dan berhati-hati lah di jalan juga titip salam dari ku buat tante," pesan Grace sembari memegang pergelangan tangan Ocha lalu ia tersenyum kecil ke arah Ocha.


"Lo bestie gue, so apapun gue lakuin buat lo! jangan ada yang lo simpen dari gue dan akan gue tunggu cerita dari lo nanti kelarin dulu di sini. Okey! gue balik dulu," pesannya pula menyambut sentuhan tangan dari Grace serta membalas senyuman yang begitu tulus ke arah Grace. "Gue titip Grace ke elo ya, harus lo jaga!" lanjutnya masih mengulang perkataan yang sama pada Gibran.


Hanya anggukan kepala yang tunjukkan oleh Gibran lalu karena Ocha sudah merasa puas dalam hatinya perlahan pegangan itu terlepas kemudian langkah Ocha sedikit menjauh dari mereka berdua setelah Ocha naik ke atas motornya ia memakai helm serta melambaikan tangan ke arah Grace sebab rasa cemasnya telah memudar.


^^^To be continued^^^


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^

__ADS_1


...Kutipan :...


Terkadang hal-hal mungkin tidak berjalan seperti yang kita inginkan dan terkadang apa yang tampak negatif bisa saja berubah menjadi hal positif. ~ Grace Eloise.


__ADS_2