Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Cinta Lebih Dari Apapun...


__ADS_3

...『⇒Bab 26⇐』...


KRASAK


KRUSUKK


SRAKKK


SRAKK


Grepp


Sebuah tangan menangkap jemari lentik Grace ketika dirinya sedang sibuk mencari sesuatu yang tak tampak lagi olehnya.


"Kau sedang mencari apa? dari kantin kau langsung berlari tak mengatakan apapun dan membongkar isi tas mu begini, apa kau kehilangan sesuatu?" tanya Gibran saat ini menautkan kedua alis matanya sementara Grace sudah terlihat panik sendiri.


"Aku yakin tadi pagi masih ku pakai dan sekarang cincin yang kau berikan itu tidak tahu kemana?" cakapnya pula sehingga ia perlahan melepas pegangan dari Gibran lalu ia kembali obrak-abrik isi tasnya.


"Tenangkan dirimu jangan terlalu panik aku akan membantu mu mencarinya," kata Gibran menawarkan dirinya pula sembari menepuk kedua bahu Grace terlihat ia juga sedang memberi ketenangan untuk Grace. "Tarik nafas mu lalu buang perlahan biar kau rileks," lanjut Gibran dengan menggerakkan gestur tubuhnya sesuai yang di ucapkannya pula.


Grace pun mengikuti pergerakan yang di lakukan oleh Gibran padanya dan dalam beberapa saat raut wajah Grace menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


"Sekarang biar aku yang mencari di kelas ini dan tugasmu hanya mengingat kembali terakhir kali kau pakai lalu ingatlah mungkin kau sudah melepasnya atau tertinggal di rumah," lontar Gibran sembari ia bergerak dengan membungkuk berjalan ke setiap sudut bawah lantai sementara Grace memejam matanya berusaha untuk mengingat semampunya.


Berjalannya waktu beberapa saat membuat Grace benar-benar mengingat bahwa dirinya sudah memakai cincin tersebut sedari rumah sementara ia merapikan kembali isi tasnya sedangkan Gibran tidak menemukan keberadaan cincin milik Grace.


"Bukannya tadi sebelum ujian osce kita harus mencuci tangan?" tanya Gibran lagi seketika Grace melebarkan matanya lalu ia bergerak dari tempatnya serta berlari begitu saja tanpa mengajak Gibran terlebih dulu.

__ADS_1


Lagi-lagi Gibran tertinggal di belakang dan hanya bisa menyusul sebab ia sangat tahu persis kalau kecerobohan Grace sedari dulu sering terjadi bahkan itu memang suatu hal yang tak dapat di pungkiri lagi apalagi bukan hal baru untuk Gibran makanya ia hanya berusaha membantu sebisanya pula.


Sepanjang Grace berlari ia pun di susul oleh Gibran dan sesampainya mereka berdua di tempat wastafel mencuci tangan ternyata memang sudah tak terlihat lagi betapa lesunya Grace ketika barang yang sangat berharga untuknya hilang begitu saja.


"Hikss," air mata pun keluar dari bola mata indahnya itu sehingga Gibran merasa kasihan pada Grace apalagi sempat ia ingin mendekap tubuh Grace namun tak mungkin ia lakukan karena masih berada di fakultas akan menjadi bahan omongan jika ia melakukan hal tersebut.


"Sudah, kok malah mewek sih? jelek tau," sengaja Gibran berkata demikian supaya Grace tak terbawa suasana sedangkan kedua tangan Gibran menyeka air mata yang jatuh di kedua pipi Grace.


"Maaf, aku memang tidak bisa menjaga apapun... Apalagi itu cincin yang kau berikan padaku sungguh aku minta maaf tak bisa menjaganya dengan baik," lirih Grace yang nada suaranya sudah terdengar serak.


"Tidak apa Grace berarti cincin itu bukan milik mu lagi, nanti kita akan beli bersama menggantinya dengan yang lebih bagus dari sebelumnya! okey cantik?" bujuk Gibran pula dengan memberikan senyuman tampan di wajahnya itu sambil mencubit pipi Grace secara lembut. "Cincin itu hilang bukan salahmu karena tidak ada seorangpun yang mau kehilangan barangnya kecuali tanpa di sengaja," imbuhnya lagi dengan terus memberi bujukan pada Grace supaya tak menyalahkan diri.


"Makasih Gibran karena kau orang yang paling mengerti aku," cakapnya pula bahkan wajah Grace terlihat merasa bersalah pada Gibran namun ia hanya bisa membalas senyuman lembut yang di berikan Gibran padanya serta dirinya bertambah yakin kalau Gibran memang begitu menyukai dirinya.


KUTIPAN :


"Nah gitu donk... Aura kecantikan seorang miss universe kembali memukau," guraunya seakan menghangatkan suasana hati Grace saat ini makanya sejenak Grace menjadi tertawa kecil mendengar candaan Gibran barusan.


Ketika hati Grace sudah lebih baik Gibran pun membawa Grace kembali ke kantin dan berkumpul dengan teman mereka yang sempat tertinggal namun Grace tetap berharap akan ada seseorang yang menemukan cincinnya dan memberikan ke bagian informasi khusus tersedia di fakultasnya itu.


.


.


.


Tinn

__ADS_1


TiiNN


Bunyi klakson motor milik Bram yang jarang ia pakai kini sudah berada tepat di depan cafe latte tempat Grace bekerja dan saat ini Grace terlihat memang kian menunggu kedatangan Bram karena ia juga telah menerima permintaan Bram sebelumnya yang mengatakan ingin berbicara hal penting padanya lagipula kebetulan Grace sedang tidak lembur makanya menjadi sedikit lebih santai.


Tampilan Bram tampak berbeda dari biasanya sebab itulah menjadi bahan perhatian dari penglihatan mata Grace karena Bram sungguh sangat rapi mulai dari rambut yang tertata, memakai baju kemeja lengan pendek berwarna mocha, celana jeans, sepatu boot, di balut jaket kulit hitam jadi ketika mata menilainya kalau Bram akan pergi berkencan.


Grace menjadi canggung ketika Bram berpenampilan seperti itu lagipula dirinya belum pernah duduk di atas satu motor dengan Bram sebelumnya akan tetapi rasa deguban jantung Grace tak seperti dirinya jika bersama Gibran itulah yang di rasakan oleh Grace sebab ia hanya merasa belum terbiasa saja jika berbarengan satu motor dengan Bram selebihnya ia tak merasakan apapun kecuali perasaan sebatas teman kampus untuknya.


"Apa kau sudah menunggu lama?" tegur Bram pula ia berbicara di atas motornya yang terlihat sudah kian membuka kaca helm di kepalanya itu.


"Tidak kok baru berapa menit saja," balas Grace secara ramah pula lalu ia memakai jaketnya sendiri padahal Bram berniat ingin membuka jaket yang terpasang di tubuhnya namun Grace sudah mengeluarkan jaket tersebut dari dalam tasnya.


"Naiklah," pinta Bram membalas dengan tersenyum hangat pula.


Grace anggukkan kepala lalu ia memegang bagian body motor tanpa bantuan bahu Bram sebab ia tak ingin Bram jadi salah paham jika ia memegang tubuh Bram.


Pada akhirnya Grace pun sudah duduk di atas motor ninja milik Bram kemudian ia menahan kedua tangannya di antara lutut kakinya namun Bram hanya membuang nafas kecil lalu Bram menoleh ke arah samping.


"Pegangan yang kuat," pesan Bram pula dan di balas oleh Grace dengan mengiyakan.


Lajuan motor pun mengarah ke cafe yang di bawa oleh Boy sebelumnya sebab Bram merasa tempat tersebut sangat nyaman di saat ia akan berbicara dengan Grace nantinya.


^^^To be continued^^^


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^


Next...

__ADS_1


...~Grace Eloise~...


__ADS_2