
...『⇒Bab 27⇐』...
Tepat pukul sebelas malam di apartemen.
TING TONG
TING TONG
Terdengar beberapa kali bunyi bel dari luar apartemen milik Boy sehingga ia pun beranjak dari tempatnya seusai bermain game untuk melepas kejenuhan dirinya ketika Bram tidak ada di rumah.
Boy berjalan hingga ke pintu apartemen miliknya itu lalu ia melihat dari sebuah layar monitor kecil dan bertautan pula kedua alis matanya kemudian dengan cepat ia membuka pintu apartemennya.
KLAKK
"Loh kok..."
Boy di buat bingung oleh seseorang yang saat ini ada di depannya.
"Sorry bang jadi ganggu aku karena aku lihat abang ini tergeletak di depan parkiran motor bawah! kebetulan aku juga baru pulang bang makanya aku bantu lah bawa ke atas," ungkap salah seorang pria muda asal sumatera utara yang sekarang menetap di jakarta bahkan seumuran dengan Boy apalagi pria itu juga tinggal satu gedung apartemen dengan Boy.
"Oh iya, makasih banyak bro! maaf sudah merepotkan," turut Boy secara ramah lalu ia menyambut tubuh Bram dari tangan pria tersebut bahkan pria itu juga membantu sampai Bram sudah aman di rangkulan Boy.
"Tidak apa bang, santai aja! kalau gitu aku balek ya bang," pamit pria itu pula memberi senyuman ramah di wajahnya.
"Iya bro thanks!" tutur Boy lagi sehingga pria tadi membalasnya dengan anggukkan kepala sembari ia melangkah pergi.
Usai pria itu berlalu dari Boy kini Bram sudah di papah perlahan oleh Boy sementara Bram tak sadarkan diri.
"Hadoh ini anak! apa lah lagi masalahnya?" gumam Boy dengan ngedumel sendiri.
Seketika hidung Boy terasa mencium aroma yang berbeda dari mulut Bram sebab aroma itu terasa menyengat sehingga ia mengendus mulai dari mulut, wajah, baju Bram pula.
"Astaga, bau alkohol!" kagetnya Boy berkata demikian lalu secara cepat pula ia langsung memapah Bram untuk masuk ke dalam dengan penuh rasa empatinya sebagai teman ia pun membawa Bram tanpa ngedumel lagi.
PLUKKK
__ADS_1
Sebuah kotak kecil terjatuh dari dalam jaket Bram di saat Boy merebahkan Bram di sofa lalu ia meraih kotak tersebut serta membukanya perlahan.
"Cincin?" gumam Boy berbicara sembari menatap Bram yang tertidur di atas sofa namun sekilas ia melihat air mata menetes di pinggir mata Bram.
Boy terus memperhatikan Bram lalu berulang kali ia melihat cincin berlian yang ada di tangannya itu bahkan Boy langsung mengetahui cincin tersebut merupakan sebuah berlian karena kilauannya terlihat jelas ketika terkena pantulan cahaya tak seperti emas pada umumnya.
Akhirnya Boy mengerti kenapa tubuh Bram tercium bau alkohol sampai tak sadarkan diri dan sekarang kondisinya terbilang sangat memprihatinkan apalagi ada sebuah cincin di tangannya.
"Apa cintanya di tolak?" gumam Boy lagi-lagi masih menatap Bram dengan serius. "Sudah pasti dugaan ku benar! tak akan mungkin dia melakukan semua ini kalau tidak karena di tolak," lanjutnya pula lalu ia memasukkan cincin itu kembali ke dalam kotak tadi dan meletakkannya di atas meja.
Boy berjalan ke arah bagian dapur untuk mengambil segelas air putih lalu ia kembali lagi ke ruang tamu sembari membawa gelas berisi air di tangannya.
Boy perlahan menarik kedua tangan Bram sebab ia tak bisa hanya membiarkan temannya itu dalam keadaan berantakan begitu.
Berkat bantuan Boy kini Bram pun sudah terduduk namun matanya masih terpejam.
"Nah minum lah, jangan kau begini hanya karena wanita!" omel Boy namun ia berusaha membuka mulut Bram supaya air itu masuk ke dalam tenggorokan dengan bantuannya.
Glugg
Glug
Tak berapa lama Boy mengarah ke kamarnya serta kembali lagi dengan membawa selimut untuk Bram juga untuk dirinya karena sudah pasti Bram akan menolak kalau ia harus memapahnya ke kamar milik Bram sendiri lagipula Boy merasa tak tega harus mengganggu Bram jika kondisinya sudah seperti ini.
Akhirnya Boy menemani Bram tidur di sofa setelah ia menutup tubuh Bram dengan selimut tebal.
.
.
.
Matahari pagi sudah terbit sehingga sinarnya langsung tampak jelas namun Bram masih terduduk dengan mengelus pundak lehernya berulang kali.
__ADS_1
"Kau tak ke kampus?" tanya Boy yang saat ini sudah terlihat rapi hendak ingin berangkat kuliah.
"Hari ini aku ingin di rumah karena kepalaku sedikit pusing, nanti aku bisa kirim pesan lewat DM izin tak masuk!" jawab Bram pula namun matanya terpejam tetapi satu tangannya mengelus pundak leher satu tangan lagi memijat dahinya.
"Tak usah kau DM biar aku saja yang izinkan, kau di rumah banyak istirahat lah jangan kau terbawa dengan suasana hati mu! hidup itu di nikmati bro, bukan di jadikan beban! cukup kau berjuang tak perlu lagi kau banyak berfikir, jalani hidupmu percayalah orang baik pasti akan mendapat jalan yang terbaik! have fun bro," lontaran Boy membuat Bram kaget seketika sebab ia masih belum mengerti maksud ucapannya barusan kemudian ia menatap Boy sambil menaikkan sebelah alis matanya.
"Apa yang ingin kau katakan sebenarnya?" tanya Bram pula merasa tidak memahami ucapan Boy tadi padahal ia masih belum membahas masalahnya itu.
"Kau bertanya padaku? apa kau benar tak ingat tadi malam pulang dengan keadaan bagaimana?" balas Boy sehingga Bram makin serius menatap ke arah Boy.
"Memangnya kenapa dengan ku?" tanya Bram lagi yang terdengar masih bingung pada ucapan Boy tadinya.
"Kau ingat saja lah sendiri, aku mau pergi ke kampus nanti aku bisa telat kalau menceritakan semuanya padamu!" balas Boy yang terlihat sedang memakai sepatu boothnya namun mulutnya terus mengoceh tanpa melihat ke arah Bram yang sedang memperhatikan dirinya.
Bram pun terdiam namun kedua alis matanya saling bertautan setelah mendengar semua ocehan dari Boy sedari tadi.
"Aku pergi dulu, kau istirahat saja!" pamitnya pula lalu ia bergerak ke arah pintu apartemen tanpa menoleh ke arah Bram lagi.
Boy pun berlalu pergi dari hadapan Bram dan kini dirinya sedang di ambang keresahan mengingat maksud ucapan yang terlontar dari mulut Boy sendiri.
"Apa yang ku lakukan tadi malam?" gumam Bram pula sembari menekan kedua pelipis matanya terasa dirinya begitu lelah untuk mengingat kejadian sebelumnya.
Beberapa menit kemudian Bram melirik sebuah kotak kecil yang berada di atas meja tepat di dekatnya namun kotak tersebut baru terlihat oleh kedua matanya sehingga ia meraih kotak itu dan membukanya ternyata sebuah cincin yang dia beli dari toko cincin berlian bahkan sebelumnya sudah ia tempah khusus untuk Grace.
Kotak itu ia genggam kuat setelah ia tutup kembali lalu ia ketuk-ketuk di dahinya karena barulah ia mengingat kejadian sebelumnya makanya Boy sampai mengatakan itu terhadap dirinya.
"Ya tuhan, kenapa aku sampai melakukan ini? memalukan kau Bram," gumam Bram ngedumel sendiri sebab ia sangat menyesali perbuatannya yang sudah di luar batas karena dirinya tak pernah berbuat hal demikian sesulit apapun masalahnya pasti ia tak terfikir untuk meminum alkohol tetapi nyatanya ia sudah melakukan kesalahan hanya seorang wanita bernama Grace.
Bram sungguh menyedihkan di kala dirinya sudah mulai nyaman dengan Grace namun tuhan berkata lain makanya dia hanya bisa meneteskan air mata untuk sesaat ia berharap wanita yang dia cintai layak mendapatkan kebahagiaan itulah benaknya sedari ia mulai berbicara dengan Grace sampai pagi hari ini.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...Kutipan :...
__ADS_1
Masalah adalah cara tuhan tuk membuatmu dewasa jadi jangan pernah lari darinya tetapi hadapilah sebab hanya mereka yang membuatmu bijaksana. ~ Grace Eloise.