Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Terjadinya Kericuhan?


__ADS_3

...『⇒Bab 37⇐』...


Kepala dekan menjadi heran dengan kedatangan kedua pasangan yang tak di kenalnya lantaran ia memang tidak begitu ingat oleh para orangtua mahasiswa/i yang berada di dalam fakultasnya sehingga ia sampai kaget ketika seorang perempuan berkata keras padanya apalagi meminta dirinya untuk memanggil Grace.


Tentu saja bapak kepala dekan langsung memerintahkan bawahannya untuk pergi ke ruang belajar Grace namun dalam beberapa saat orang yang memanggil Grace tersebut kembali lagi serta tampak membisikkan sesuatu di telinga dekan tersebut.


"Maaf Grace tidak hadir karena dia sudah izin tidak masuk beberapa hari ini ibu," tutur ramah dari dekan itupula walaupun wanita tersebut tampak tak senang ketika mendengar ucapan yang di sampaikan oleh dekan tadi.


"Halah, alasan dia saja itu! aku tahu pasti dia malu untuk datang ke kampus ini," sanggahnya dengan berkata mencibir pula.


"Apa kau tidak bisa diam? mulut mu itu tak bisa di jaga sedikit pun, aku sudah bilang kita bicarakan di rumah tak perlu kau datang ke sini," bisik suaminya secara pelan supaya dekan tadi tak mendengarnya namun lontaran kedua mata suaminya begitu terlihat sangat marah sehingga dekan tersebut sedikit menyadarinya.


Kedua pasangan itu termasuk Jihan juga Daniel yang saat ini sedang berbicara pada dekan kepala kampus sebut saja namanya Utomo dan kedatangan Jihan memang ingin berniat untuk mempermalukan Grace di kampusnya makanya dia sampai datang ke fakultas tempat Laras juga berkuliah tetapi sedari rumah Daniel telah mencegahnya namun Jihan tetap bersikeras sehingga Daniel terpaksa mengikuti Jihan supaya ia bisa menghentikan perilaku buruk Jihan walaupun ia harus sedikit berusaha.


"Kau yang diam! untuk apa kau ikut? mau membela si jala*g itu! dasar bapak anak sama saja!" bentaknya pula sehingga Utomo langsung menautkan kedua alis mata ketika mendengarnya.


Kasar sekali perkataannya. Batin Utomo berbicara dalam benaknya tetapi kedua matanya menatap tegas ke arah Jihan pula.


"Kalau kau masih bertindak sesuka hatimu, ingat! kau akan aku ceraikan Jihan," bisik Daniel lagi secara tegas ia memberikan penekanan pada istrinya.


"Diam kau, tutup mulut mu! tidak usah banyak berbicara," berbalik menekankan pula sehingga kedua mata Jihan melotot menatap ke arah suaminya.


"Mohon maaf bapak dan ibu ini adalah kampus, saya minta tolong untuk urusan keluarga jangan di bawa ke kampus!" tegas Utomo sebab ia mulai jengah dengan ocehan keduanya yang tepat berada di hadapannya sekarang.


"Maaf pak saya akan membawa istri saya," turut Daniel pula sebab ia juga sudah malu di buat oleh istrinya sendiri.


"Kalau saya boleh tahu ada hubungan apa bapak dan ibu pada mahasiswi saya, Grace?" tanya Utomo karena ia belum sempat bertanya hal itu pada mereka.


"Saya ayah kandungnya pak," cakap Daniel seadanya.


"Lalu apa berarti ini ibunya?" tanya Utomo lagi menoleh pada Jihan.


"Bukan! tidak sudi aku punya anak seperti dia, cuih!" cecarnya dengan sangat berani ia melakukan hal tersebut di depan kepala dekan.


Utomo hanya terdiam setelah mendengar cercaan yang tertuju pada Grace namun ia tetap membalas dengan senyuman supaya tak terlihat jika dirinya sudah begitu jengkel mendengar omongan Jihan sedari tadi.


"Tapi setahu saya Grace tak memiliki ayah dalam riwayatnya hanya saja dia mencantumkan nama ibunya di data riwayatnya itu," ungkap Utomo membuat Daniel kaget di saat ia mengetahuinya.


"Apa benar begitu?" tanya Daniel serasa tak percaya dengan yang di katakan oleh Utomo barusan.


"Tidak usah kau berharap! dia hanya mengingat wanita yang sudah mati itu," dengusnya dengan menunjukkan senyuman seringai di wajahnya namun Daniel tampak mengepalkan kedua tangan serta raut wajah yang berkerut.


"Tutup mulutmu!" teriak Daniel seketika ia berdiri dari duduknya dan membuat Utomo menjadi kaget namun Jihan hanya meresponnya secara santai pula.


"Aku tak punya banyak waktu sekarang," kini Jihan pun ikut berdiri namun ia tak menoleh pada Daniel sama sekali lalu sejenak ia mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas sandang yang ia bawa dari rumah.


Takk


Ponsel genggam miliknya ia letakkan tepat di atas meja dengan kondisi layar sudah hidup bahkan sebuah foto terpampang jelas di balik ponselnya.


"Lihat saja kelakuan mahasiswi mu itu! tidak ada yang patut di contoh dari dia," ketusnya secara lantang serta ia melipat kedua tangannya di dada sehingga tampak wajahnya yang begitu sinis melirik ke arah Utomo.


Ketika ponsel itu berada di depan Utomo ia pun meraihnya dan melihat foto tersebut sehingga berkerutlah dahi Utomo saat ini.

__ADS_1


"Ini bukannya Laras?" tanya Utomo tampak tak menduganya.


Zraapp


Ponsel yang di pegang oleh Utomo langsung di rampas oleh Jihan secara kasar.


"Sudah jelas yang kau lihat? Laras anakku, beraninya dia membuat anakku terbaring di tempat tidur begitu, aku tak akan tinggal diam!" dengusnya lagi.


"Memangnya apa yang di lakukan oleh Grace? saya harus tahu dengan jelas masalah mereka berdua dan tidak bisa mengambil tindakan secara sepihak," perjelas Utomo secara tegas pula.


"Anak ku sudah menjadi korban dan sekarang kau berani bilang tidak bisa mengambil tindakan?" berangnya secara membentak. "Apa kau ingin kampus ini di tutup?" melanjutkan secara menekankan.


Utomo hanya terdiam ketika mendengar semua yang keluar dari mulut Jihan sementara Daniel hanya menatap Jihan dari samping dengan tampang rasa kesalnya.


"Aku ingin kau mengeluarkan anak tidak tahu diri itu dari kampus ini," negonya pula secara menantang.


"Anda tidak bisa semudah itu meminta hal yang tidak masuk akal seperti ini," tegas Utomo lagi berbalik menantang Jihan.


"Oh, baik! kau lihat saja," cakap Jihan secara singkat namun ia sudah berjalan ke arah pintu keluar dari ruangan dekan tersebut.


Jihan kini berlalu pergi namun Daniel masih berdiri di ruangan itu bersama Utomo.


"Maaf pak, saya sudah membuat keributan maaf sekali lagi," tutur Daniel berulang kali ia bungkukan badan setelah itu ia pergi dengan rasa malu yang ia bawa.


Utomo bergeleng kepala melihat kepergian mereka sebab untuk pertama kali ia menghadapi seorang wanita seperti Jihan.


Jihan berjalan dengan wajah begitu di ambang kebencian dan di tengah lorong kampus ia melihat seorang dosen wanita membawa laptop serta buku materi hendak ingin berjalan ke arahnya pula lalu ia menghentikan dosen wanita tersebut sehingga dosen itu berhenti sejenak.


"Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya sopan dari dosen wanita tadi.


"Ada apa ibu mencari Grace? sepertinya ruangan itu sedang dalam sesi belajar," imbuhnya menjawab secara sopan.


"Tidak usah banyak bertanya, kau katakan saja!" hardiknya sehingga dosen itu menjadi bingung dengan sikap brutal dari Jihan.


Dosen wanita itu menjadi terdiam dan hanya menatap wajah Jihan saja sebab ia belum pernah bertemu dengan Jihan sebelumnya.


"Cepat! malah diam," hardiknya lagi.


"Ibu lurus saja nanti ada jalan di depan belok kiri tidak jauh dari situ akan keliatan ruangan Grace," perjelasnya secara rinci.


Dosen itu terpaksa mengatakannya karena ia tak ingin Jihan menjadi ribut dan menghentikan jalannya yang sedang terburu-buru.


Ketika dosen itu menunjukkan jalannya Jihan pergi begitu saja tanpa berkata apapun.


"Dasar tidak tahu sopan," gumam dosen tadi bergeleng kepala pula serta menghembus nafas kasar dari mulutnya.


Tampak Daniel sedang mengejar Jihan dari belakang serta terus mengikuti ke mana arah Jihan pula dan ternyata Jihan sudah menemukan ruangan Grace namun saat ini masih tertutup bahkan terdengar suara seorang lelaki tampak membahas materi yang di bawa oleh dosen tersebut.


Brakkkk


Jihan seketika mendobrak keras pintu itu dengan kakinya sehingga semua yang berada di dalam ruangan menjadi begitu kaget.


Zrapp

__ADS_1


Daniel meraih lengan Jihan dengan keras supaya ia bisa menariknya secepat mungkin.


"Memang kau sudah gila Jihan," sarkas Daniel tepat berada di depan pintu berkata demikian.


"Lepas!" kini ia menampik pegangan dari Daniel dengan begitu keras. "Diam saja kau, jangan ikut campur urusan ku!" dengusnya berkata demikian sehingga wajahnya tampak menantang.


Was


Wess


Woss


Terdengar suara yang saling berbisik dari para mahasiswa/i lainnya ketika kedatangan Jihan saat ini tepat di hadapan mereka semua.


"Wanita itu..." Gibran menautkan kedua alis matanya menatap ke arah depan.


"Mau apa dia ke sini? benar-benar tidak waras!" gumam Ocha terlihat jengkel ketika Jihan berada di depannya.


Baik Bram juga Boy tidak mengetahui siapa Jihan sehingga mereka berdua hanya melihat secara serius pula.


"Kalian harus mendengar apa yang akan aku katakan pada kalian," teriaknya pula secara keras.


Dosen yang berada di dalam ruangan langsung bergerak dan mendekati Jihan pula.


"Maaf ibu sudah mengganggu ketenangan mahasiswa lainnya jadi jangan membuat keributan ibu," imbuhnya terdengar menegur secara tegas namun di saat dia sedang berbicara Jihan malah tidak menggubrisnya.


Jihan mengeluarkan kembali ponsel miliknya dan membuka foto Laras yang sebelumnya ia tunjukkan pada Utomo.


"Lihatlah teman kalian, Grace! dia sudah membuat anakku terbaring seperti ini jadi aku hanya minta kalian harus bisa kompak untuk mengeluarkan dia dari kampus ini karena dia sudah berlaku keras pada anak perempuan ku!" ocehnya pula sehingga yang melihat menjadi ricuh sebab Laras dalam keadaan kepala sudah di perban serta terlihat juga selang infus di dekatnya.


"Wah, aku tidak menduga Grace wanita yang cerdas bisa melakukan hal itu," gumam dari salah seorang mahasiswa lelaki saat berkata di dekat temannya.


"Ya, aku juga tak menduga dia melakukan hal sekeji itu!" sambung mahasiswi lainnya.


Ocha sungguh di ambang kekesalan ketika ia mendengar ocehan mereka semua yang menilai Grace seperti itu.


Gibran hanya mengepalkan tangannya dan menatap tegas ke arah mahasiswa yang berkata demikian sebelumnya.


BLAAMMMM


Ocha memukul mejanya sendiri dengan begitu keras.


"Busuk banget mulut lo nenek lampir!" teriak Ocha seketika menunjuk ke arah Jihan membuat mata tertuju padanya.


"Ternyata anak pecundang ada di sini," santainya Jihan ketika membalas kemarahan Ocha.


"Lo yang pecundang, cuih! najis gue liat wajah lo yang sok suci itu," teriaknya lagi dengan kemarahan yang membludak.


"Gue yang tau gimana watak temen gue, tak usah kalian menilainya hanya karena melihat foto setingan itu, jelas gue lebih paham temen gue daripada nenek lampir ini yang tak punya hati nurani hatinya busuk layaknya SAMPAH!" suara yang lantang itu membuat yang lainnya terdiam dan hanya melihat Ocha berbicara demikian namun Jihan hanya menaikkan sebelah alis matanya serta tersenyum simpul seolah merasa biasa saja.


^^^To be continued^^^


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^

__ADS_1


...Kutipan :...


Bahasa persahabatan tidak tercermin dari kata-kata namun melainkan dengan arti yang di ucapkan olehnya. ~ Grace Eloise.


__ADS_2