Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Penghinaan Berbalik Di Hina?


__ADS_3

...『⇒Bab 15⇐』...


TOK


TOK


Ocha kini sudah berada di depan pintu rumah Grace namun sudah beberapa kali ia memanggil namun belum ada sahutan dari dalam.


Akan tetapi ia tetap mengetuk pintu tersebut sehingga suaranya begitu terdengar lebih keras dari pertama ia memanggil sebelumnya.


TOKK


TOK


CEKLEK


"Siapa sih berisik banget!" gerutu Laras setelah ia membuka pintu rumahnya sehingga berubah lah raut wajah Laras ketika melihat Ocha ada di hadapannya sekarang. "Ternyata lo! mau apa ke sini?berisik banget lo di depan rumah orang," hardik Laras pula sehingga Jihan sang ibu langsung berjalan ke arah anaknya itu.


"Ada apa sayang? suara mu sampai terdengar ke dalam," kata ibunya yang saat ini sudah berada di sebelah anaknya lalu ia sejenak menoleh ke arah Ocha namun wajah Ocha tidak sedikitpun tersenyum pada mereka berdua malah matanya terus melihat ke dalam rumah dan sesekali Ocha memasang wajah datar ketika matanya tanpa sengaja melihat mereka.


"Kau siapa?" lanjut Jihan yang tampak mengatupkan kedua tangan di dadanya karena ia sempat melihat Ocha sibuk memperhatikan ke arah dalam rumahnya.


Ocha tak mendengar pertanyaan tersebut yang memang mengarah padanya seolah ia tak merespon sedikitpun.


"Tak usah mama tanya lagi, ini orang yang kemarin aku ceritakan! fix ini orang yang selalu ngehina aku ma di kampus," imbuhnya pula sehingga Jihan langsung menunjukkan wajah tidak sukanya terhadap Ocha.

__ADS_1


"Ini orang yang menghina kamu? tidak salah? dari tampangnya saja berandalan begini, apa bagusnya coba?" cemooh Jihan sehingga Ocha tertunduk dan terlihat pula ia menyimpulkan senyum di bibirnya.


Lalu Ocha menaikan kembali wajahnya menatap ke arah mereka berdua.


Ternyata memang benar kata Grace, ibu dan anak tidak ada bedanya! tuhan memang maha adil jika ini orangtua menjadi ibu gue sudah lama gue jahit mulutnya! batin Ocha pula yang terus menatap tajam ke arah mereka sebelum ia membuka suaranya.


"Napa lo diam? takut dengan mama gue? hah, cocok lah elo berteman sama si benalu itu enggak ada bedanya! sama-sama rakyat jelata," serangnya hingga terus menghina Ocha sehingga hampir saja Ocha terpancing dengan omongan Laras barusan karena memang niat Ocha bukan untuk ribut di rumah orang sebab ia hanya ingin memastikan keberadaan Grace saja dan hanya itulah tujuan Ocha sebenarnya.


"Gue ke sini bukan untuk mendengar ocehan lo ataupun mendengar semua yang lo katakan tentang gue! tujuan gue datang untuk bertemu dengan teman gue Grace, bisa panggilkan dia ke sini," lontar Ocha sehingga keduanya menjadi semakin emosi ketika mendengar perkataan Ocha tersebut.


"Lo kira gue babu di sini? enak aja lo nyuruh-nyuruh gue manggil si benalu itu," kelakarnya dengan keras namun Ocha hanya menghembus kedua telinganya dan menatap Laras secara santai.


"Gue hanya ingin tau keberadaan dia, kalau gitu izinkan gue masuk dan mastikan sendiri," pinta Ocha masih menahan rasa egonya hanya demi Grace.


"Sialan lo, mulai enggk sopan ya elo di rumah orang! tak ada di suruh masuk menawarkan diri, malu dong sedikit!" bentak si Laras dengan mendengus pula bahkan wajahnya dia alihkan dari Ocha namun seketika Ocha berniat untuk menghancurkan mulut Laras saat ini akan tetapi ia masih mengingat bahwa tujuannya hanya ingin bertemu pada Grace.


"Kurang aj*r lo ya! berani banget lo ngoceh di depan rumah gue," tunjuk Laras pula tepat di depan Ocha dengan suara yang tinggi namun reaksi Ocha terlihat biasa saja.


"Sudah sayang, jangan ribut nanti malu di dengar tetangga anak semanis dirimu tak boleh mengeluarkan suara yang keras," bujuk ibunya sebab ia merasa Laras bukan tandingan Ocha karena terlihat di mata Jihan kalau Ocha itu merupakan orang yang tak pernah takut pada siapapun begitulah penglihatan Jihan terhadap Ocha.


Holllll.... Anak yang lembut? mata ibunya benar-benar katarak apa gimana? batin Ocha pula hingga ia melihat sendiri drama yang sesungguhnya makanya Grace tak pernah ingin teman-temannya datang ke rumahnya itu ternyata inilah alasan Grace yang sebenarnya sudah di saksikan oleh Ocha secara langsung.


"Kau ingin mencari anak itu dia tak ada di rumah, jadi percuma kau ke sini."


Jihan berkata demikian sehingga Ocha pun bertambah cemas pula.

__ADS_1


"Lalu kemana perginya Grace?" tanya Ocha tanpa ia berfikir apa yang di tanyakan olehnya barusan tak akan ada gunanya.


"Aku tidak tahu dia pergi kemana dan juga bukan urusan ku kemana dia pergi, kami di sini bukan baby sitter dia jadi kau cari saja sendiri," serang Jihan dan seketika menyadarkan Ocha memang Grace tidak memiliki siapapun kecuali ayahnya maka dari itu Ocha tersenyum tipis di saat Jihan melontarkan perkataan tadi padanya.


"Hah, yasudahlah! ternyata gue hanya membuang waktu berlama di sini tidak ada gunanya juga!" berbalik nyerang pula sebab Ocha mulai jengkel pada keduanya. "Kalau begitu saya pamit, maaf mengganggu dan selamat malam!" lanjut Ocha lagi walaupun kesan kedatangannya sudah tidak baik namun dia tetap menjaga kode etik yang selalu di ajarkan oleh ibunya makanya dia hanya merunduk sedikit lalu berbalik mengarah ingin melangkah pergi dari keduanya.


Baru saja beberapa langkah Ocha meninggalkan mereka kemudian ia sejenak berhenti serta membalikkan tubuhnya menatap ke arah mereka yang masih berdiri membalas tatapannya itu.


"Oh iya, tadi anda mengatakan kalau anda bukan baby sitternya Grace? hmm... setahu saya ibunya Grace sudah lama tiada, lalu anda siapa dong? pembantu? atau kupu-kupu malam? ups, pelakor ya? haduh, buruk amat ya kelakuan... Hati-hati loh nanti anaknya yang kena imbas buruk kelakuan orangtua, maap nih ya.. memang saya ceplos tapi saya tak suka orang menganggap dirinya bersih ternyata dalamnya busuk!" kali ini ucapan Ocha membuat kemarahan Jihan ingin meledak karena setiap omongan Ocha barusan memang untuk dirinya. "Udah ah, capek ternyata! kembali istirahat nyonya Jihan yang terhormat... saya harap ini terakhir kita bertemu, bye!" lambaian tangan Ocha terlihat santai sehingga senyuman di wajahnya itu terasa puas karena dia bisa sedikit memberi pelajaran untuk kedua mulut yang telah menilai dirinya buruk.


"Sini kau anak tidak tahu malu! dasar anak berandalan kalau sampai ketemu denganmu akan ku cabik mulut mu itu! si*l kau!" teriak Jihan membabi buta memaki Ocha ketika dirinya sibuk memarahi Ocha namun anaknya tampak menggeram dengan mengepalkan kedua tangan menatap sadis ke arah Ocha yang tak lagi menggubris ibunya itu.


Grace, lo di mana sih? gue khawatir, oh tuhan harus di cari ke mana lagi sekarang? batin Ocha pula namun ia terus berjalan ke arah motornya hingga ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mencoba hubungi Grace kembali akan tetapi tetap saja tak ada jawaban.


Dari jarak yang terbilang sedikit jauh ternyata sedari awal Ocha mengetuk pintu semua pembicaraan Ocha, Laras, juga Jihan di ketahui oleh Gibran.


Saat ini Gibran bersandar di belakang pohon dan ia tak ingin Ocha menyadari keberadaannya namun matanya mendongak melihat ke atas langit mengingat wajah Grace pula.


"Sekejam itukah keluarga mu Grace? bahkan kau bertahan sampai sekarang dengan keluarga yang tak pernah anggap dirimu, apa ini dunia yang kau inginkan Grace? aku berjanji akan menjauhkan mu dengan keluarga mu itu, kau tak akan aku lepaskan Grace dan kau akan ku buat keluar dari rumah itu!" gumam Gibran sehingga tampak ia kepalkan tangannya hingga menetes pula air mata di pipinya entah apa yang ia rasakan sekarang makanya air mata itu jatuh secara tiba-tiba.


^^^To be continued^^^


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^


...Kutipan :...

__ADS_1


Dia yang mengalahkan orang lain adalah kuat dan dia yang menaklukkan dirinya sendiri adalah perkasa. ~ Grace Eloise.


__ADS_2