Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Pernyataan Gibran?


__ADS_3

...『⇒Bab 8⇐』...


Cha, aku sedang menuju rumah mu jadi kau sisakan kasur yang empuk karena tamu adalah raja :')


Pesan terkirim...


Grace memasukkan kembali ponsel genggam miliknya ke dalam tas lalu ia sekejap memejamkan kedua matanya sebab ia merasa hari ini benar-benar sangat melelahkan makanya ia terhanyut dalam keheningan malam itu.


"Nona, kita sudah sampai."


Teguran dari pak sopir secara sopan dengan membangunkan Grace yang sudah terlelap walau sebentar ia merasa sedikit bisa menyalurkan rasa lelahnya tersebut.


"Oh iya pak," jawab Grace setelah tersadar dari tidurnya lalu sejenak ia membuka tasnya dan meraih dompet miliknya serta mengambil uang selembar. "Ini pak di ambil saja kembaliannya," kata Grace memberikan senyum ramah ke arah pak sopir itu.


Pak sopir merasa sangat segan menerimanya namun ia hanya bisa membalas senyuman Grace dengan senyuman hangat di wajahnya.


"Terimakasih nona," ucap pak sopir masih terlihat senyuman hangat di wajahnya itu.


"Sama-sama pak," turut Grace membalas senyuman itupula lalu ia keluar dari pintu taksi dan menutupnya kembali.


Setelah Grace keluar dari taksi tersebut barulah taksi tadi berlalu pergi.


Yap begitulah, dirinya berujung naik taksi karena kedua lelaki yang menjemputnya itu bersikeras untuk mengantar dirinya pulang apalagi mereka membawa motor masing-masing makanya Grace menjadi bingung pada akhirnya mengambil jalan tengah supaya tak mengecewakan keduanya sebab jika ia memilih salah satu di antara mereka sudah pasti memicu keributan dengan begitu mereka berdua tak dapat berkutik lagi pada keputusan yang di ambil oleh Grace.


Tap


Tap

__ADS_1


Tampak Grace sedang berjalan menuju halaman rumah Ocha.


GREEPP


Sebuah telapak tangan seketika memegang pergelangan tangannya pula sehingga Grace sedikit kaget dengan kehadiran sosok tangan tersebut lalu matanya langsung menoleh ke arah sosok wajah itu serta ia menautkan kedua alisnya merasa tak menduga saja bahwa Gibran menyusul dirinya sampai ke rumah Ocha apalagi Grace merasakan kehangatan dari balik telapak tangan Gibran yang masih memeganginya.


"Gibran, ada apa kau sampai menyusulku ke si-"


Zraappp


Sebelum Grace menyelesaikan perkataannya itu tiba-tiba Gibran sudah menangkap tubuh Grace masuk ke dalam pelukannya sehingga Grace bisa merasakan tubuh kekar milik Gibran bahkan pelukan itu sangat erat dia rasakan di tambah pula debaran jantung Grace semakin menjadi berdetak lebih hebat dari biasanya begitu juga pada Gibran merasakan hal yang sama seperti Grace.


Keduanya tenggelam seakan terhanyut dalam pelukan tersebut apalagi suasananya juga teramat mendukung sebab mereka di temani oleh adanya lampu yang menempel di tembok sebelah gerbang rumah Ocha namun beberapa saat kemudian Grace menjadi sadar bahwa jantungnya sudah tak bisa di ajak kompromi lagi makanya ia berusaha ingin melepaskan pelukan itu tetapi Gibran enggan membiarkannya sehingga Gibran semakin erat memeluk tubuh Grace.


"Sebentar saja, aku mohon biarkan pelukan ini memberi kehangatan untukmu hanya sebentar saja... Aku mohon!" ucap Gibran terdengar lirih dan hembusan nafas Gibran terasa panas masuk ke dalam telinga Grace.


Kedua tangan Gibran mendekap tubuh Grace semakin kuat serasa dirinya tak ingin melepaskannya lalu Grace hanya terdiam membisu dengan merasakan debaran jantung Gibran yang tiada hentinya bahkan ia merasakan jantungnya sendiri yang seakan mau meledak.


Pelukan itu di paksa lepas oleh Grace walau dia harus sedikit memberontak karena dirinya sudah tidak kuat lagi untuk mengendalikan debaran jantungnya sendiri.


"Kenapa Grace? apa kau merasa tak nyaman dengan ku?" tanya Gibran yang tampak memasang raut wajah sedihnya itu menatap ke arah Grace.


"Bu -bukan begitu Gibran, aku merasa tak enak saja jika sampai orang lain melihat kita berdua di sini," kegugupan Grace membuat dirinya tertunduk seakan tak sanggup membalas pertanyaan dari Gibran sebab dirinya merasa aneh kenapa Gibran sangat mendadak melakukan hal tersebut.


"Hei cantik angkat kepala mu jangan kau menunduk begitu, sekarang kau dengarkan perkataan ku baik-baik karena aku tak akan mengulanginya lagi," kata Gibran serta ia menyentuh dagu Grace dengan sangat lembut bahkan tatapan matanya seakan masuk ke dalam lubuk hati Grace.


Dag

__ADS_1


Dig


Dug


Di saat Gibran berkata demikian seolah Grace sudah merasa gelisah dengan dirinya sendiri sebab ia takut jika Gibran sampai mengetahui yang di rasakannya makanya Grace mengalihkan wajah untuk bisa menghindari tatapan mata yang di berikan Gibran padanya.


Lagi-lagi Gibran memegang dagu Grace dan mengarahkan ke tatapan matanya dalam sejenak ia meraih kedua tangan Grace lalu dengan hati yang mantap ia mencium punggung tangan Grace begitu lembutnya hingga tersenyum hangat melihat ke arah Grace yang sudah tampak di buat kaget kembali oleh Gibran.


"Aku mencintaimu Grace, aku sungguh-sungguh mencintai dirimu!" lontar Gibran dengan berkata tanpa jeda namun Grace melebarkan matanya ketika mendengar ucapan yang keluar langsung dari mulut Gibran.


Tentu saja Grace menjadi begitu canggung hingga kedua pipinya merona tak dapat membuka suara sedangkan Gibran dengan tersenyum bahagia sebab sudah mengutarakan isi hatinya yang selama ini dia tutup rapat tanpa Grace ketahui.


Begitupula sebaliknya Grace juga sudah lama mendambakan Gibran namun dirinya enggan untuk mengatakan semuanya pada Gibran karena ia tak ingin pertemanan mereka menjadi rusak akan tetapi ia menjadi tak menduga bahwa Gibran juga menantikan dirinya padahal mereka sudah berteman cukup lama sungguh hebat mereka bisa menyembunyikan semuanya dalam kurun waktu yang sudah berlalu.


"A -apa kau lagi bercanda?" tanya Grace mulai kelabakan hingga ia melepas pegangan tangan dari Gibran sebab ia sudah merasa di ambang malu.


"Hei, apa aku terlihat bercanda? dalam kamus ku tak ada namanya perasaan di bawa bercanda karena hati tak bisa aku bohongi lagi jadi apa kau mau menerima ku untuk menemani keseharian mu?" ia memegang kedua pundak bahu Grace dan merunduk sedikit menatap ke arah Grace yang tak berani menatap dirinya sehingga Gibran mulai memahami kalau Grace sedang malu pada dirinya.


Grace masih terdiam tak dapat berbicara seolah mulutnya terkunci karena dia juga tak ingin menjadi wanita munafik sebab memang dirinya sangat senang jika Gibran membuka hati untuknya makanya dia hanya terdiam bukan berarti menolak perasaan Gibran terhadapnya cuma saja dirinya masih tidak tahu harus mengatakan apa kalau dia mengatakan "iya" sudah pasti Gibran akan langsung mengetahui kalau selama ini dirinya juga suka pada Gibran dan jika dia katakan "tidak" pastinya dia akan kehilangan Gibran dan mungkin tidak akan ada kesempatan kedua kalinya untuk bisa barengan dengan Gibran.


"Baiklah, aku akan beri waktu untukmu cantik... Wajahmu jangan tegang begitu santai saja jangan kau jadikan beban, okey?" imbuh Gibran menyentuh hangat kepala Grace.


Lontaran tersebut memberi kenyamanan tersendiri untuk Grace sebab ia merasa Gibran seorang lelaki yang begitu penyayang apalagi dia tak memaksakan kehendaknya sendiri dan memikirkan perasaan Grace juga.


^^^To be continued^^^


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^

__ADS_1


...Kutipan :...


Merupakan kebijakan yang sempurna ketika kita mampu mempraktikkan lima hal dalam keadaan yang bagaimana pun : tidak bergeming, kemurahan jiwa, ketulusan, kesungguhan hati dan kebaikan. ~ Grace Eloise.


__ADS_2