Iparku MANTAN Kekasihku

Iparku MANTAN Kekasihku
Terbangunnya Singa?


__ADS_3

...『⇒Bab 40⇐』...


Laras tampak begitu gelisah ketika ia melihat Ocha berada di depan matanya saat ini sehingga Ocha sudah mengerti reaksi takut yang terukir di wajah Laras namun Ocha hanya menyimpulkan senyum seringai di balik bibirnya.


"A -apa yang lo liat?" ia berusaha tetap tenang walau ternyata dirinya sudah kelabakan.


"Baby, bantu mama berdiri cepat! kaki mama sudah terasa kram," sungut ibunya pula sembari memegang erat tangan Laras.


Ocha hanya menutup mulutnya dan menahan tawanya supaya tak lepas kendali.


Sementara Laras dengan begitu bersusah payahnya ia membantu sang ibu walau ia harus menggunakan seluruh tenaganya sehingga tak berapa lama kemudian ibunya pun bisa berdiri berkat bantuan dirinya tersebut.


PROKK


PROKK


"Bener-bener ikatan yang sweet banget, waw ini lah sosok ibu dan anak yang patut di contoh! pfffttt, ahahahha!" pada akhirnya Ocha tak bisa menahan tawanya ketika ia berkata demikian sambil bertepuk tangan pula apalagi ia melihat Jihan berdiri sembari memegang panggulnya sedangkan Laras menyeka keringat yang keluar dari wajahnya.


Ocha masih tertawa dengan kelucuannya sendiri bahkan ia menyeka air mata yang keluar di pinggiran pelipis matanya.


"Dasar sinti*g," cercaan tersebut keluar dari mulut Jihan sebab ia merasa jengkel dengan gelak tawa yang ia dengar.


"Bisa diem enggak, lo berisik tau enggak? lagian ngapain sih lo di sini? tempat begini enggak cocok buat elo, pigi sana!" lantangnya Laras berucap demikian dengan wajahnya yang sok hebat. "Baju lo enggak sebanding dengan gue, jadi lo enyah dari sini muak gue liatnya," lanjutnya lagi secara berani ia mengusir Ocha.


"Hadeh, tebal amat wajah lo sampai berani ngusir gue di tempat umum! lagian yang seharusnya di pertanyakan itu tertuju buat lo, ngapain lo di sini sementara nyokap lo udah buat satu kampus heboh!" timpalnya secara membalikkan perkataan Laras yang di ucapkannya sendiri.


"Suka-suka gue dong! enggak ada urusannya sama lo, hidup lo aja urus gausah urusan gue!" kelakarnya pula berusaha tetap tenang.


"Jelas gue harus menghentikan akal bulus kalian berdua karena menyangkut nama baik bestie gue dan selama ada gue, OCHA! tak akan tinggal diam! so, berhati-hatilah jika ingin menjatuhkan reputasi temen gue, ngerti kalian?" kini Ocha terdengar memberi penekanan pada keduanya sehingga dalam beberapa saat mereka terdiam hanya menatap keseriusan yang terlihat dari raut wajah Ocha.


"Ternyata kau berani juga memberi ku peringatan begitu, sekali pecundang tetap saja pecundang tak akan pernah berhasil melawan ku! mengurus diri saja tak becus, dasar berandalan!" segala cacian penghinaan terlontar dari mulut Jihan sembari dengan menatap sesekali secara sinis ke arah Ocha.


Setapak demi setapak Ocha melenggang berjalan santai ke arah Jihan sementara Laras bengong kenapa Ocha mendekati ibunya.


Jihan hanya bergerak mundur sementara Ocha masih bergerak maju ke arahnya.


"Mau apa kau? jangan mendekat padaku, jika kau berani menyentuhku lagi kau akan berakhir di penjara dan membusuk di sana! menjauh kau dariku," teriak Jihan dengan bersuara keras namun Ocha masih tak menggubrisnya.


Kini Ocha sudah hampir dekat dengan Jihan bahkan tatapan mengerikan dari Ocha baru pertama kali di lihat oleh Laras seperti ia merasakan aura jahat dalam diri Ocha yang sebenarnya.


Jihan sudah terhalang oleh meja kasir dan tak bisa bergerak mundur lagi sementara Ocha telah berada tepat di depan mata Jihan bahkan sangat dekat sehingga Ocha sedikit merunduk.

__ADS_1


BUKKKKKK


Sekuat tenaga Ocha memukul meja kasir berbahan dasar kayu tersebut memakai kepalan tangannya saja tanpa terlihat rasa sakit darinya.


Alangkah terkejutnya Jihan dengan suara keras yang di lakukan oleh Ocha sedangkan Laras tak menduga Ocha bisa sekuat itu makanya ia hanya melongo saja.


Walau hanya sedikit mengeluarkan darah namun Ocha hanya menyekanya menggunakan tisu yang telah tersedia di atas meja kasir.


"Meja pun gue sanggup hancurkan memakai sebelah tangan gue, sekali hantaman bibir lo akan hancur seperti meja ini, gimana? apa lo mau coba?" lontar Ocha namun matanya tertuju pada jemari tangan yang ia remuk tampak pula ia kepalkan. "Jangan lo bangunkan singa yang lagi tertidur pulas dan jangan anggap gue lemah karena enggak bisa menghancurkan lo saat di kampus! sekarang ini gue bisa bebas habisi lo dalam sekejap bukan hanya rambut lo aja tapi lo berakhir di alam baka!" santainya Ocha saat memberi peringatan pada Jihan bahkan ia mengelus rambut Jihan serta tersenyum santai melihat ke arah Jihan.


Zraapppp


Laras menarik lengan ibunya sebab ia melihat sang ibu sudah menelan ludahnya sendiri ketika Ocha menyerangnya.


"Dasar psikopat lo! manusia tak waras!" hardik Laras lantang.


"Enyah kalian." Ocha sudah mulai kehilangan kesabarannya sebab ia tak ingin merusak nama baik ibunya jika sampai ia melakukan hal buruk pada keduanya pula.


"Lo yang enyah, memangnya ini punya nenek moyang lo apa?" Laras menentang Ocha sebab ia tak ingin kalah begitu saja.


Jihan hanya mengelus pundak lehernya sesekali ia alihkan pandangan matanya sebab ia mengingat saat Ocha menyerangnya beberapa saat yang lalu.


"Baby, ayo kita pergi... Masih banyak tempat yang lebih bagus dari ini, ayo tak usah di ladeni lagi hanya membuang waktu saja!" bujuk ibunya pula secara cepat ia meraih tangan Laras supaya bisa membawanya karena Ocha sudah terlihat tak senang dan ia tak ingin mengambil resiko yang mencelakai dirinya sendiri maka dari itu ia tak lagi melihat ke arah Ocha.


"Jangan pernah menginjakkan kaki kalian di sini lagi, paham?" pesan yang penuh tekanan itu secara tegas ia ucapkan.


Keduanya pun berbalik badan tak menghiraukan perkataan Ocha barusan.


"Ah iya gue baru ingat! lo, kan mau kedatangan tamu tuh so jangan tak di jamu loh ya... Pencitraan lo rusak entar di kampus," cakap Ocha yang membingungkan itu membuat keduanya berhenti sehingga Laras menoleh ke belakang.


"Apa maksud lo?" dengus Laras terdengar keras.


"Tak perlu gue beritahu juga lo bakalan tau sendiri, well! pulang sana entar tamu lo nunggu, kasian loh!" wajah yang tenang itu membuat Laras jadi bertanya di hatinya sendiri.


"Sudah ayo, tak usah di pedulikan!" ajak ibunya lagi sehingga ia menarik paksa Laras menuju pintu butik dan mereka pun keluar dari dalam gedung tersebut.


"Harus merubah strategi ya... Awas ketahuan!" teriak Ocha dari kejauhan pula sembari ia tertawa lepas melihat keduanya berjalan secepat mungkin.


Di saat Jihan dan Laras berada di luar gedung sedari jauh tampak sosok Anggun yang baru saja tiba setelah acara arisan di rumah temannya lalu ia menautkan kedua alis matanya melihat Jihan keluar dari gedung tidak membawa belanjaan apapun.


Anggun mempercepat langkahnya berniat untuk mendekati Jihan juga Laras.

__ADS_1


"Eh, ibu kapan datangnya? apa bajunya tidak ada yang cocok?" tegur Anggun pula secara ramah namun Jihan sudah jengkel melihat Anggun yang menyapanya itu.


"Aku tak akan ke sini lagi, dasar baju sampah! minggir kau!" bentak Jihan secara keras dan ia menarik kembali tangan Laras sembari mempercepat langkahnya.


"Loh kok, ibu...-"


Anggun merasa heran karena langganannya menjadi bringas seperti itu bahkan keluar dari butiknya dengan tampang yang kesal.


"Aneh, kenapa dengannya? apa Ocha sudah membuat masalah pada mereka?" gumam Anggun pula ketika ia melihat keduanya sudah naik ke dalam taksi dari kejauhan serta ia melanjutkan langkahnya ke arah butik setelah usai mereka berlalu pergi.


Tampak dari dalam butik Ocha meregangkan ototnya ketika Anggun sudah masuk.


"Hoam, lelah gue! habis daya batrei gue melayani duo ulet keket itu," lontarnya sembari menguap pula.


"Cha, siapa ulet keket?" tegur ibunya dari balik punggung Ocha.


Mendengar suara yang menegurnya Ocha pun berbalik badan. "Lah mam, udah kembali? kirain siapa!" sambut Ocha melontarkan senyum kecil pula.


"Iya mama baru sampai," jawab ibunya lalu ia meletakkan tasnya di atas meja dan berjalan ke arah Ocha. "Chacha itu kenapa langganan mama tidak belanja? apa kau membuat masalah pada mereka?" lanjut ibunya dengan raut wajah serius.


"Ah, itu langganan mama? hahhaha, duo ratu drama itu? ahahhaha!" gelak tawa yang tiada hentinya membuat sang ibu menjadi bingung sendiri.


"Apa yang kau maksud itu?" tanya ibunya lagi.


Akan tetapi Ocha masih dalam keadaan tertawa sembari memegangi perutnya akibat tawanya itu terasa perutnya mulai kram.


"Ocha, berhenti tertawa mama jadi bingung!" tegas ibunya pula.


"Sini deh mam, yuk ikut padaku ke dalam biar aku ceritakan kejadian lucu dan aku jamin mama pasti tertawa seperti ku, ahahahah!"


Ocha merangkul ibunya sembari membawanya berjalan di sampingnya.


Anggun hanya bergeleng kepala dengan perilaku Ocha tersebut namun ia menjadi penasaran apa yang membuat Ocha jadi melepas tawanya sampai begitu.


^^^To be continued^^^


^^^🍁 aiiWa 🍁^^^


...Kutipan :...


Hanya orang yang takut yang bisa bertindak dengan berani tanpa rasa takut itu tidak ada yang bisa di sebut berani. ~ Grace Eloise.

__ADS_1


__ADS_2