
Leon itu seperti bocah lima tahun yang baru mengenal penyakit, sudah tahu panas bukannya bertindak malah bercanda.
“Gue kira lo gak pernah sakit,” maklum Leon baru sekarang melihat Anna sakit. Mungkin jika Anna tidak sakit, Leon bisa menyimpulkan kalau Anna bukan manusia biasa.
Leon menutup pelan pintu kamar Anna. Dia berjalan menuju dapur untuk mengambil air dingin.
“Lina!” panggil Leon.
Tak berapa lama datang maid yang bernama Lina sambil membungkuk hormat di depan Leon. “Ya, Tuan muda.”
“Siapin air sama baskom,” titah Leon dengan mata yang fokus menatap dessert di depannya.
“Air apa Tuan muda?” tanya Lina, pasalnya jenis air ada banyak. Ada air jus, air galon, air es, air hangat, air comberan pun juga ada.
“Air buat orang deman.” Leon tidak memperdulikan pertanyaan ambigu Lina, matanya masih fokus menatap dessert di depannya.
“Baik Tuan muda,” Lina membungkuk pamit.
Leon meneliti setiap bentuk dari dessert tersebut. Warnanya hijau, aromanya wangi matcha, dan di atas dessert itu ada hiasan bunga daisy. Leon mengambil bunga daisy itu lalu memutarnya, Leon terkekeh pelan sambil memotong dessert tersebut.
“Ini Tuan muda,” Lina menyodorkan air beserta baskom pada Leon.
“Simpan di sana. Siapa yang membuat dessert ini Lina?” tanya Leon penasaran, semoga dugaannya salah.
Lina melihat dessert di atas meja, kemudian menatap Leon yang seolah mengharap sesuatu terlihat dari pandangannya. “Nyonya muda yang membuatnya Tuan, saat Tuan muda bersama Tuan Vano dan Nona Isha saya membuat dessert ini bersama Nyonya Anna.”
Kepala Leon mengangguk sambil mendengar penjelasan maid di depannya. “Gue kira beli.”
Leon melahap dessert itu. Matanya mengedip berkali-kali saat merasakan dessert buatan Anna itu, Leon tidak munafik jika dessertnya memang enak apalagi ini rasa kesukaannya.
“Usaha lo gak sia-sia cewek genit.” Leon tersenyum tipis sembari melahap dessert di pangkuannya.
Setelah itu, Leon membawa baskom berisi air itu ke kamar Anna. Leon meletakkannya lalu mengambil handuk kecil dan membasahinya, kemudian menempelkannya di kening Anna.
“Lo tidur, tapi kayak orang mati.” Leon merapikan rambut Anna sambil mengelusnya pelan.
“Sebenarnya apa yang buat lo sakit kayak gini? Lo mikirin gue ya?” Leon terkekeh pelan. Leon begitu pede sampai menyangka sesuatu yang bohong.
Deringan ponselnya menghentikan aktivitasnya. Leon mengambil ponselnya lalu mengangkatnya.
__ADS_1
“Apaan?!” tanya Leon ngegas.
“................”
“Masih ada taksi, ojek online, taksi online, tinggal pesen apa susahnya.” Leon berdecak kesal mendengar sahutan dari sana.
“...............”
“Mau hujan, mau gempa, gue gak peduli! Yang penting lo dateng dan selesai.” Gampang sekali Leon dalam berkata.
“..............”
“Halah alesan lo! Gue potong gaji lo!” Lagi-lagi Leon mematikan telponnya sepihak. Leon mendengus kesal sambil meletakkan ponselnya kasar. Alasan apaan, itu tidak masuk akal sekali. Leon terus menggerutu sambil mengompres Anna.
Dokter pribadi yang Leon panggil tidak bisa datang karena ada kendala di jalan. Dokter itu bilang kalau mobilnya mogok, jadi dia tidak bisa datang kalaupun datang pasti dia terlambat. Leon mengira ucapan Dokter itu hanyalah alasan, seberusaha apapun Dokter itu mencari alasan Tuan muda Cenze selalu menolak apapun itu alasannya.
Jadi jangan main-main dengan Tuan muda satu ini.
“Kok makin panas?” gumam Leon saat menyentuh kening Anna kembali.
Tubuh Anna menggigil kuat. Melihat itu membuat Leon panik, Leon menyelimuti tubuh Anna lalu mulai mengompresnya lagi. “Lo kalo mau nyusahin jangan ke gue cewek genit, gue gak bisa rawat orang sakit, gue bukan Dokter.”
“Masa gue harus lakuin itu,” gumam Leon sambil menghentikan langkahnya.
“Gue juga normal.” Leon menarik rambutnya frustasi. Jika dia melakukan itu pasti dirinya tidak akan kuat, bagaimanapun dia adalah lelaki normal.
Leon menarik nafasnya pelan. “Lo bisa. Ingat Leon, lo gak tertarik sama cewek tepos kayak dia.”
“Persetan!”
Leon membuka kaosnya lalu melemparnya asal. Perlahan Leon menyibak selimut Anna, kemudian membuka setiap benang yang membalut tubuh Anna. “Lo tepos! Lo gak menarik! Lo gak usah kepedean, gue bantu lo atas dasar kemanusiaan bukan perasaan.”
Air mata Anna mengalir begitu saja, entah Anna sadar atau tidak saat mendengar perkataan Leon. Tapi perkataan Leon barusan pasti menyakiti hati kecilnya.
\*\*\*
Pria paruh baya dengan luka di bawah telinganya itu tengah duduk di kursi kebesarannya. Dengan lihai tangannya memutar bola dunia di atas mejanya. Mata tajamnya menatap intens beberapa foto yang tertempel di dinding ruangannya.
“Kau sangat cantik sama seperti Ibumu. Aku menyesal telah melakukan itu pada kalian, apa dayaku yang sangat gila kekuasaan ini.” Pria paruh baya itu tertawa sembari mengambil pistolnya.
__ADS_1
Jack yang sedari tadi berdiri di samping pria itu hanya bergidik ngeri. Jack hanya diam tanpa bersuara, membayangkan obsesi Tuannya saja membuat dia ngeri apalagi berurusan dengannya, jalan yang terbaik adalah diam.
“Lihatlah Jack, dia sangat cantik bukan? Matanya mirip seperti Ibunya.” Pria paruh baya itu mengambil foto dari laci mejanya.
Jack hanya mengangguk tanpa bersuara. Jack hanya mampu diam disaat situasi seperti ini, Jack akan terancam.
“Tapi sayang, dia bukan Putriku.” Pria paruh baya itu merobek foto lelaki hingga hancur. Mata tajamnya menatap nyalang foto wanita yang tertempel di sana.
“Jika saja kau mengulurkan tanganmu waktu itu, kau tidak akan mati Shyna.” Jack hanya begidik melihat cengkraman Tuannya pada pistol di tangannya.
“Alden ....”
“Ayah?” buru-buru pria itu menyembunyikan foto tersebut pada saku celananya. Pistol di tangannya pun sudah ia sembunyikan ke bawah meja.
“Lio, are you oke son?” tanya pria itu sambil mendekati anaknya.
Lio menghela nafasnya berat, dia seperti memilki beban yang sulit untuk diturunkan. “I'm oke Ayah.”
Pria itu mengusap punggung putranya sayang, namun dibalik semua itu ada seukir senyum licik tercetak di sana. “Apa kamu berhasil?”
Lio menoleh menatap Ayahnya. “Sedikit lagi Ayah. Dia sangat misterius, tampangnya sangat tidak sama dengan kepribadian dirinya. Aku akan berusaha, aku pasti mengalahkannya.”
“Jangan gunakan perasaanmu son.” Pria itu memeluk putranya sambil mengelus rambutnya sayang.
“Aku akan membuang perasaan ini jauh-jauh Ayah.”
“Bagus, buang perasaan itu jauh-jauh. Ingat tujuanmu Lio, dekati dia hanya untuk membalas kebencianmu. Ingat semua perlakuan mereka pada Ibumu, Ibumu akan tenang jika melihat dia menderita.” Pria itu mengepalkan tangannya.
“Baik Ayah, aku pasti akan membalasnya.”
“Gunakan ilusimu untuk membunuhnya secara perlahan. Luluhkan hatinya, kemudia hancurkan hingga dia meminta untuk mengakhiri hidupnya sendiri.” Pria itu tersenyum miring.
“Kau sangat kejam Ayah.”
\*\*\*
Leon membuka matanya perlahan. Cahanya matahari mengusik Indra penglihatannya, cahaya itu seolah mengisyaratkan padanya agar bangun dari mimpi indahnya. Leon mengucek matanya pelan sembari melihat Anna yang tidur di sampingnya. Leon tersenyum tipis mengingat kejadian semalam, Leon mengambil ponselnya lalu memotret Anna yang tengah tertidur damai itu.
Wajah Anna begitu lugu dan polos, wajah itu seperti mengingatkan Leon pada Princess-nya. Princess-nya yang tertidur di lengannya, dan Princess-nya yang selalu tidur memeluknya. Membayangkannya membuat Leon egois, Leon egois ingin memutar waktu untuk kesenangan dirinya. Moment itu tidak akan pernah Leon lupakan, Princess-nya adalah satu-satunya gadis yang selalu ada untuknya, mengobati lukanya, dan menarik dirinya dari kegelapan yang selalu mengejarnya untuk terjatuh kepada lubang itu.
__ADS_1
“Lo gak menarik! Lo tepos!” Leon mengulang kata-katanya sambil memukul mulutnya kasar. Leon kerutuki dirinya yang membayangkan Anna sama seperti Princess-nya, Princess-nya hanya ada satu tidak dua, hanya Nana bukan