
“Hati-hati, telpon gue kalo ada apa-apa.” Leon menerima helm yang diberikan Anna.
Saat ini, Leon tengah mengantarkan Anna ke sekolah. Leon sudah berubah, setelah mengetahui Anna adalah Princessnya hubungan mereka semakin dekat. Leon sudah mulai mencintai Anna, begitupun dengan Anna yang sudah mulai memaafkan semua kesalahan Leon.
“Jangan genit. Gue tahu lo suka kecentilan sama murid cowok terutama si Kenzo itu, gue selalu awasin lo dari jauh.” Leon memegang tangan Anna sambil memberi beberapa petuah.
Anna memutar bola matanya jengah. Sudah dari awal berangkat Leon mengatakannya, Anna selalu mengingatnya dan Anna tidak mungkin melakukan seperti yang dituduhkan Leon. Mengenai hubungannya dengan Kenzo, mereka hanya sebatas sahabat, tidak lebih.
“Iya, kamu baru saja mengatakannya tadi pagi.”
Leon berdecak kesal, dia hanya mengingatkan saja siapa tahu Anna melupakannya. Sekarang Anna adalah miliknya, Leon akan melawan siapapun yang berani mendekati Princessnya.
“Kalo sampai semua perintah gue, lo langgar. Siap-siap nanti malam 15 ronde!” ancam Leon yang membuat Anna langsung menggeplak pundaknya.
“Iya!”
“Gak papa sih kalau lo langgar sekalipun, dengan begitu gue menikmati hukuman lo. Gak kebayang bagaimana ekspresi lo saat ada di bawah gue, ck! Gue jadi kangen squishy.” Perkataan Leon berhasil mendapat pelototan dari Anna.
“Mesum!” Anna membenarkan ranselnya. “Aku ke kelas dulu. Sampai jumpa!” Anna melambaikan tangannya sembari berjalan menjauh.
“Ingat, jangan genit! Gue cinta sama lo, istri!” Leon memberikan kiss jauh. Anna terkekeh sambil membalikan badannya.
Sesampainya di ruang OSIS. Anna langsung berkutat dengan laptopnya, sudah beberapa hari ini Anna tidak melakukan pekerjaannya. Sebentar lagi ujian, otomatis jabatannya akan segera berakhir. Anna berharap masa jabatannya ini menjadi contoh baik untuk para calon selanjutnya, Anna sudah berusaha untuk mengharumkan dan menjaga nama baik sekolah, dan Anna berharap semoga usahanya berguna untuk sekolah ini.
“Na?” panggil Kenzo sembari meletakan sekotak mochi kesukaan Anna.
__ADS_1
Anna melirik kotak itu sekilas, kemudian melanjutkan kegiatannya. “Terimakasih!”
Kenzo mengangkat satu alisnya heran, tidak biasanya Anna bercakap acuh tak acuh padanya. Kenzo duduk di samping Anna sambil memangku dagunya, Kenzo memperhatikan raut wajah Anna yang terlihat serius, sesekali gadis itu mengerutkan keningnya.
“Gue ada salah, ya?” tanya Kenzo.
Anna menggelengkan kepalanya, kacamatanya sengaja ia turunkan sehingga mata hijaunya berkedip indah. “Tidak,”
“Lalu?”
“Lalu?” tanya Anna bingung.
Kenzo berdecak kesal. “Lalu kenapa lo bersikap dingin ke gue? Gue ada salah sama lo?” Kenzo mendekat menghampiri Anna.
“Aku sedang sibuk, maaf jika sikapku menyinggung dirimu.”
Anna menatap mochi itu lama, kemasannya seperti sudah lama dibuat, dan di sana terletak ada tanda terima dari toko. Anna menatap serius Kenzo, sepertinya ada sedikit kebohongan di sini.
“Bunda? bukannya bunda kamu sudah tiada?” tanya Anna yang berhasil membuat Kenzo terdiam.
Kenzo nampak mengalihkan pandangannya dari tatapan Anna. “Bundaku masih hidup Anna, kau juga tahu seperti apa wajah Bundaku.”
“Kenapa aku tidak yakin, ya? Selama ini kau hanya menunjukkan foto bundamu, tapi tidak pernah membawaku untuk bertemu dengan bundamu.” Penjelasan Anna berhasil membuat Kenzo terdiam.
“Tidak! Bundaku masih hidup Na, dia ada di rumah sekarang. Aku akan membawamu pada Bunda sekarang,” ujar Kenzo meyakinkan.
__ADS_1
“Kenapa kau terlihat ketakutan Ken? Kau seperti menghindar dari kebohongan dan mencoba menutupi kebohonganmu dengan kebohongan lain, aku jadi ragu padamu.”
Kenzo menggelengkan kepalanya, kemudian mengambil tasnya kasar dan keluar dari ruangan Anna. Anna tersenyum miring melihat kepergian Kenzo, manik mata hijaunya menatap layar laptopnya yang menunjukkan keraguannya.
“Aku tahu rahasiamu Lio,” gumam Anna sembari membuang kotak mochi itu ke tempat sampah.
***
“Kau berubah,”
“Gue hargai semua pertolongan lo selama ini, tapi gue udah punya Anna. Gue udah anggap lo sebagai saudara gue, hubungan kita tidak seharusnya lebih dari sekedar itu.” Leon berusaha menyingkirkan tangan Isha yang bertengger di lengannya.
Isha mencibir kesal. Lagi-lagi karena wanita itu, Isha semakin dendam akan Anna, dia sudah merebut dan menghancurkan rencananya.
“Apa karena Princessmu sudah datang? Apa selama ini, aku tidak berarti untukmu Leon?” tanya Isha yang seolah-olah mengungkit masa lalu.
“Lo berarti buat gue, Sha. Tapi, sekarang situasinya beda, gue udah punya istri dan gue gak bisa nyakitin istri gue.” Leon menjauhkan tubuhnya daei Isha. Entah kenapa Leon seakan risih dengan kedekatan Isha padanya.
“Apa spesialnya dia di mata kamu Leon? Dia tidak lebih dari ja*lang gratisan!”
Leon menatap tajam Isha. Princessnya itu suci, Princessnya itu terhormat, dan dia sangat berharga di mata Leon. Anna bagai seorang ratu dengan beribu kehormatan yang ada pada dirinya.
“Jaga ucapan lo! Anna itu segalanya buat gue, lo gak usah jelek-jelekin Anna, dia beda jauh sama lo.” Leon berdiri dan hendak pergi, tetapi tangannya dicekal oleh Isha.
“Wah, kamu sudah mencintainya? Ternyata tipu daya wanita itu sangat manjur, ya. Buka matamu lebar-lebar Leon, dia hanyalah wanita rendahan yang mengaku-ngaku gadis kecilmu.” Isha tidak terima, Isha tidak terima jika dirinya dicampakkan begitu saja oleh Leon. Isha ingin selamanya bersama Leon dan tentunya membuat Leon menjadi miliknya seutuhnya.
__ADS_1
“Lepas! Anna itu spesial! Berhenti rendahin dia jalau lo sendiri lebih rendah dari dia!” Leon menghempaskan tangan Isha yang berpaut di lengannya.