
“Ini sangat indah!” kalung berliontin bunga matahari itu terpasang indah di leher gadis kecil itu, mata birunya mengedip pelan sembari memegangi antusias kalung tersebut.
Al memandang hangat pemandangan itu, baginya gadis kecil di depannya ini sangatlah cantik, Al senang jika kalung pemberiannya sangat disukai gadis kecilnya. “Syukurlah kalau kau menyukainya, aku turut bahagia.”
Dengan mata berbinar, gadis kecil itu menciumi kalung tersebut berkali-kali, rasa senangnya sangat tercetak jelas di wajahnya. “Terimakasih!”
Al hanya menganggukkan kepalanya, melihat gadis kecil ini senang itu cukup untuknya. Hadiah ini tidak sebanding dengan pertolongan gadis kecil ini, baginya apapun yang dilakukan gadis kecilnya adalah berharga. “Ya!”
“Darimana kau mendapatkannya?” tanya gadis kecil itu dengan tatapan penasaran.
Lagi-lagi mata biru itu menghipnotis penglihatan Al, mata bersinar itu sangat candu untuk Al lewati, baginya itu adalah ciri khas gadisnya yang berparas indah. Mata biru itu selalu menjadi atensi Al saat mereka bersama, mata biru itu sangatlah indah untuk dijadikan objek lukisan, Al berjanji akan memiliki gadis bermata biru itu.
“Itu milik Nenekku, dia memberikannya sebelum Tuhan memanggil dia ke surga.” Ya, kalung itu memang pemberian Nenek Al sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Al pun tidak tahu menahu dengan alasan Neneknya memberi dirinya kalung itu, sudah jelas dirinya laki-laki dan tidak mungkin untuk memakainya.
Setiap perbuatan pastilah memiliki alasan!
__ADS_1
Gadis bermata biru itu menunduk sedih sambil memegang kalung tersebut. “Kalau begitu, aku kembalikan lagi kalung ini, aku tidak ingin Abuela mu kecewa.”
Al mengangkat dagu gadis kecil itu, bibirnya melengkung tipis membentuk senyuman singkat. “Dia tidak akan kecewa jika aku memberikannya pada orang yang telah menolongku. Terimalah, aku yakin Nenekku pasti senang di atas sana.”
Mata biru itu kembali berbinar setelah mendengar penuturan Al. Inilah yang Al sukai darinya, saat mata biru itu berbinar ceria dia akan tersenyum melihatnya. Senyum ini khusus untuk gadis kecil bermata birunya, karena tidak ada satupun yang tahu jika seorang Al adalah luka berbanding duka. Hanya gadis kecil ini yang mengerti arti senyumannya, dan hanya gadis kecil ini yang selalu membuatnya tersenyum saat binar mata birunya mengedip ceria.
“Aku akan memakainya sampai kapanpun!” gadis kecil itu masih memegang erat liontin bunga matahari di kalungnya.
La Barceloneta atau lebih tepatnya Pelabuhan tua. Tempat ini menjadi saksi kebahagiaan kedua insan itu. Di Pelabuhan ini Al berjanji akan membalas semua kebaikan gadis kecil ini, dan di Pelabuhan ini Al berjanji akan membahagiakan gadis kecil ini apapun caranya. Jika Al sudah besar dan sudah menemukan keluarganya, Al berjanji akan melindungi gadis kecil ini sekuat yang dia mampu, Al akan melindunginya dari bahaya ataupun orang-orang jahat yang ingin menyakiti gadis kecilnya, itulah adalah janji seorang Albert.
\*\*\*
Setelah kepergian Anna dengan kata-kata mengejutkannya. Leon masih terduduk lesu sambil memegangi kepalanya, tiba-tiba saja rasa sakit itu kembali setelah bertahun-tahun lamanya, Leon sangat dilemahkan dengan rasa sakit ini. Rasa sakit ini selalu datang saat ia terlalu mengingat masa lalunya. Tidak ada sesuatu yang dia ingat selain Princess-nya, dia Princess si gadis kecil bermata biru.
“Lo penghancur semuanya Annabeth!” Leon menyumpahi Anna, tangannya terkepal kuat hingga memperlihatkan kubu jarinya yang memutih. Leon meringis pelan merasakan sakit di kepala yang kian menderanya, dengan langkah pelan Leon berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Tangan kekarnya terulur membuka kenop pintu kamarnya. Kamar yang bernuansa hitam putih itu menjadi saksi penderitaannya. Warna itu seolah menyiratkan kisah hidupnya, dimana warna putih sebagai kisah manis masa lalunya, dan warna hitam sebagai kegelapan hidupnya sekarang. Matahari dalam hidup Leon telah pergi, dia pergi tanpa sekalipun menunggunya, entah Leon terlalu lama ataukah dirinya yang terlalu berharap. Mengingat kenangan itu membuat Leon terluka, dimana semua kenangan itu selalu membuatnya dihantui dengan rasa penyesalan.
_“Aku ingin ikut bersamamu, kau berjanji akan membawaku.” Gadis kecil bermata biru itu mengerucutkan bibirnya kesal, tangan kecilnya senantiasa menarik kasar baju lelaki jangkung di depannya.
_“Kau sedang sakit Nana, setelah aku kembali ke rumahku, aku berjanji akan datang lagi ke sini dengan membawa Molly. Bersabarlah, aku pasti kembali dan kita bisa bermain lagi.” Tangan anak laki-laki itu terulur menghapus air mata Nana.
Lelaki jangkung di depan mereka hanya menyaksikan pemandangan itu dengan hangat. Dia menghela nafas pelan sembari melepas pegangan tangan putri kecilnya di kemejanya. “Papa akan segera kembali sayang, jagalah Mama sebelum Papa kembali.”
Nana mengusap ingusnya sambil memandang kepergian mereka, entah kenapa rasanya begitu sakit melihat kepergian sahabat barunya.
_“Aku akan kembali, tunggulah aku!” teriak anak laki-laki itu.
Leon berkali-kali memukuli kepalanya saat mengingat perpisahan menyakitkan itu. Perpisahan itu adalah moment yang paling menyakitkan dalam hidupnya, andai saja dia menuruti keinginan gadisnya untuk membawanya ikut, mungkin sekarang dia bisa bersama dengannya. Leon tidak menyangka jika perpisahan itu menjadi perpisahan yang nyata dan paling menyakitkan, Leon sungguh tidak menduka jika perpisahan waktu itu menjadi perpisahan sebenarnya dimana mereka tidak dipertemukan kembali.
“I'm sorry Princess. I deserve law! wait for me, i will catch up with you as soon as possible there.”
__ADS_1