
Karena rasa sakit ini sangat menyakiti batin Leon, perpisahan itu sangat meninggalkan luka besar di hatinya, karena perpisahan itu membuatnya buntu untuk berpikir jernih.
Keinginan Leon adalah menyusul gadis kecilnya, bahagia bersamanya, dan hidup bersama dalam suka maupun duka, dalam cerita maupun nyata, dalam dunia maupun surga. Karena keinginan Leon hanyalah gadis kecilnya, selamanya.
Kisah masa lalunya dengan gadis kecilnya bukan sekedar cerita, cerita itu sangat berarti untuk Leon. Tidak ada cerita gadis kecilnya yang tidak menolong dirinya, tidak ada cerita tentang Peri kecil si Malaikat cantik penolong. Kisah mereka bukan tentang kisah manis saja, tapi tentang luka, bahagia, derita, senang, dan tawa. Semua itu menjadi satu membentuk janji yang dia ingkari.
“You are my life. Mio Amore!”
Leon mengambil sebuah pil dari dalam laci, kemudian Leon memakannya tiga pil sekaligus tanpa minum sama sekali. Leon hanya ingin hati dan pikirannya damai, serta Princess-nya akan selalu ada saat matanya tertutup damai. Hingga pada akhirnya keinginan Leon terjadi, matanya tertutup damai menuju ruang mimpi.
Tidak terasa, sepuluh jam lamanya Leon tertidur damai di alam mimpinya. Suara deringan ponsel mengharuskannya untuk membuka matanya, Leon melenguh pelan sambil meregangkan otot kedua tangannya. Leon melirik jam sekilas, kemudian mengambilnya ponselnya yang berdering menandakan panggilan masuk.
Dengan malas Leon mengangkat panggilan tersebut. “Apaan?!” tanya Leon tak santai.
“.................”
Leon membulatkan matanya, sudah tidurnya diganggu dan dia harus dikagetkan dengan permintaan orang di seberang sana. “Gue gak punya!”
“................”
__ADS_1
Leon berdecak kesal. “Gue bukan pengguna barang sialan itu! Apa susahnya tinggal lo beli, susah amat hidup lo!”
“...............”
“Gue sama Isha gak ada hubungan apa-apa, dan gue gak produksi pengaman! Lo punya tangan, lo punya duit, apa susahnya beli! Miskin amat hidup lo. Masih mending Tuhan anugrahi lo kehidupan sempurna, gunakan kesempurnaan lo bodoh!”
“.................”
“Gue gak peduli! Gue doakan lo cacat beneran!” kesal Leon yang kemudian menutup teleponnya sepihak.
Leon mendungus kesal sambil menyumpahi Vano di seberang sana. Leon harus dibangunkan dari mimpi indahnya hanya karena telepon dari Vano, sungguh Leon sangat mengutuk laki-laki itu yang membangunkan dirinya apalagi hanya sekedar menanyakan pengaman. Vano memang gila!
“Belum pulang?” gumam Leon bertanya-tanya pasalnya tidak terlihat sepeda Anna yang terparkir di garasi.
Leon meminum segelas air untuk menuntaskan dahaganya. Melihat dapur ini membuat Leon mengingat pertengkarannya dengan Anna, Anna yang terlihat emosi, dan ... terluka. Jujur, Leon baru sekali melihat Anna yang marah seperti tadi, itu cukup membuktikan kalau dirinya keterlaluan.
Leon pergi ke kamar Anna, sebenarnya Leon iseng saja siapa tahu dia bisa mencaritahu kemana Anna pergi dan mencaritahu tentang hubungan Anna dengan laki-laki bernama Kenzo itu.
“Kotak?” Leon mengangkat satu alisnya saat melihat kotak yang tidak asing menurutnya, karena penasaran Leon membuka kotak tersebut.
__ADS_1
“Ini ...,” Leon menutup mulutnya yang terbuka. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, benda ini persis seperti miliknya yang diberikan kepada Princess-nya beberapa tahun lalu, lantas kenapa Anna memilikinya?
Leon semakin meneliti bentuk kalung tersebut, kalau tidak salah di bawah liontin itu ada ukiran huruf L jika benar itu adalah miliknya. Mata Leon membulat sempurna melihat kenyataan di sana, Leon semakin dibuat tak percaya dengan kebenaran ini. Mungkinkah selama ini Anna adalah Princess-nya? Leon butuh bukti.
“Gak mungkin!” Leon menggelengkan kepalanya tak percaya, bisa saja Anna memilki kalung yang sama seperti miliknya dulu atau dia membelinya di toko perhiasan. Tapi yang membuat Leon bingung, kalung ini sangatlah terbatas apalagi kalung miliknya adalah hasil ukiran pekerja Neneknya sendiri.
Isi kotak tersebut adalah kalung, kalung yang sangat mirip dengan kalung milik Leon. Kalung itu sangatlah langka di jaman sekarang, apalagi ukirannya yang membuat para pembuat perhiasan kesulitan. Di tengah-tengah kelopak bunga tersebut ada butiran-butiran berlian yang mengelilingi lingkaran bunga, di tambah lagi ada mutiara kecil di tengah lingkaran kelopak. Hal itulah yang membuat Leon ragu untuk mempercayainya, supaya dugaannya benar Leon harus menanyakannya pada Anna.
“Gue harus buktikan kalo semua ini salah!”
***
“Kalau saja keluargamu tidak menghancurkan keluargaku, mungkin perasaan ini tidak akan menjadi debu. Aku tidak tahu sampai kapan perasaan ini akan hilang, seandainya kau mengaku kalah dalam pertarungan ini, aku yakin kita pasti akan hidup bahagia bersama buah hati kita nanti.”
Kenzolio Arrexton Hedrey seorang laki-laki misterius dengan seribu topeng yang menempel di wajahnya. Tidak ada yang tahu kehidupan seorang Kenzo seperti apa, yang mereka tahu kehidupan Kenzo itu harmonis, realistis, praktis, dan humoris. Tidak! Semua itu salah. Kenzo adalah seseorang yang penuh luka, saat usianya lima tahun dia harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa Ibunya mati terbunuh, Ayahnya depresi berat hingga menelantarkan dirinya.
Kenzo dibesarkan oleh Asisten Ayahnya bernama Jack. Bagi Kenzo Jack bukan hanya sekedar Asisten, tapi dia juga Ayah seksligus Ibu untuknya. Jack selalu ada di sisinya saat teman-temannya mengejek dirinya, Jack selalu melindunginya dari orang-orang yang ingin menyakitinya. Bagi Kenzo, Jack adalah pelindung, Jack adalah labirin yang selalu menjadi penghalang dari kejahatan di luar sana.
“Ini sangat berat untukku baby girl.” Bagaimana jika kita memliki perasaan yang mengharuskan kita untuk membuangnya, pasti sakit bukan? Rasa cinta muncul seiring berjalan waktu, entah itu dari waktu kebersamaan ataupun ikatan. Singkatnya rasa cinta itu sulit untuk hilang, apalagi cinta pertama seseorang.
__ADS_1
Kenzo tiada henti mengusap foto dirinya bersama gadis yang disukainya. Sedari tadi Kenzo terus tersenyum sembari memandangi foto di tangannya. Gadis ini adalah cinta pertamanya, mata hazelnya sangat menghipnotis dirinya untuk setia padanya, suaranya yang bagai melodi pengalun lagu untuknya, dan senyumannya bagai lukisan indah untuk dia kenang selamanya.