
“Lepas atau aku benar-benar akan meninggalkan dirimu! Aku butuh waktu Leon, biarkan aku sendiri untuk saat ini.” Perlahan tautan Leon mengendur, Anna bernafas lega.
Leon menatap intens mata biru itu, Leon masih ingin memeluk Princess-nya tapi, keadaan lah yang membuat mereka harus membendung rasa rindu mereka. Leon masih ingin memperpanjang waktu, Leon seolah ingin mengulang kembali waktu saat pertemuan dan perpisahan mereka, Leon ingin memperbaiki setiap celah dalam hubungan mereka, Leon ingin membangun kembali rasa itu hingga tidak pupus seperti sekarang.
“Jangan pergi ...,” Leon mengelus kedua pipi Anna bergantian, rasa lembutnya masih terasa sampai sekarang membuat Leon tersenyum mengingatnya.
Hujan ini menjadi saksi akan rasa rindu Leon pada Princess-nya. Hujan seolah berkata padanya untuk tetap berdiri di sana dan melanjutkan aktivitas mereka. Hujan seolah turut andil pada situasi mereka, diantara pikiran mereka yang panas akan keegoisan ada hujan yang turun mendinginkan isi hati pikiran mereka.
“Jangan cegah aku Leon.” Anna berbalik, kemudian melangkahkan kakinya dengan berat hati. Anna butuh waktu berpikir untuk menjernihkan semuanya, Anna butuh waktu untuk sendiri disituasinya yang begitu buruk ini.
“Kali ini gue biarin lo pergi, tapi setelah kembali nanti jangan harap gue biarin lo pergi lagi.”
***
“Good morning my wife.” Vano meletakkan tasnya di atas meja sambil mengambil beberapa potong roti di sana.
Eliza menatap malas Vano, Eliza hendak pergi tapi Vano mencekal lengannya cepat. Eliza mendengus kesal dibuatnya, pagi-pagi buta begini sudah disuguhkan dengan orang gila seperti Vano.
“Maaf Pak, toko ini belum buka jadi, silahkan anda angkat kaki dari sini.” Eliza membungkuk hormat dengan tang yang menunjuk pintu keluar.
Vano terkekeh mendengarnya. “Maaf Tante, di depan gak ada tulisan toko tutup jadi, saya berhak untuk datang ke toko ini sebagai pelanggan.” Vano tertawa pelan sambil melihat ekspresi Eliza yang kesal padanya. Entah kenapa, semenjak dia bertemu Eliza dunianya seperti berputar untuk terus mengusik kehidupan gadis berambut pirang itu.
Eliza mendesah pasrah, semenjak Eliza mengurus toko rotinya dari satu Minggu yang lalu, dia terus bertemu dengan Vano yang notabennya adalah pelanggan setia toko rotinya. Eliza tidak akan rugi jika kehilangan satu pelanggan saja, masih banyak pelanggan setia lainnya yang sering datang dan memesan roti dari tokonya.
“Lo mending pergi deh, gue mau sekolah!” usir Eliza pada Vano.
Pria berkulit putih pucat itu tersenyum miring saat menemukan ide berlian di otaknya. “Gue anterin mau?” tanya Vano sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
“Gak sudi!” pekik Eliza sambil melepas arpon abunya.
Vano memberenggut kesal mendengarnya. Vano berusaha mencari cara agar Eliza mau berangkat bersamanya. Seutas ide terlintas dibenaknya, kemudian Vano mengambil tasnya dan pergi begitu saja membuat Eliza melongo melihatnya.
__ADS_1
“Gila!” gumam Eliza mengumpati Vano.
Setelah membereskan tokonya, Eliza pergi ke parkiran untuk memanaskan mobilnya. Semalam Eliza menginap di toko roti karena tadi malam toko rotinya ramai pelanggan, apalagi Mamanya yang pergi ke luar kota membuatnya sibuk akan urusan toko rotinya.
“Lah?” Eliza bertanya-tanya melihat ban mobilnya yang tiba-tiba kempes, seingatnya tadi malam mobilnya masih baik-baik saja, kenapa tiba-tiba kempes seperti ini? Apa bocil kematian yang mengerjainya.
“Ayo sayang, berangkat bareng gue.” Vano sudah siap dengan motor besarnya, dia melambai ria ke arah Eliza.
Sekarang Eliza menduga jika Vano lah yang mengempeskan ban mobilnya. Eliza menggulung lengan jas almamaternya, kemudian menghampiri Vano yang tersenyum sumringah saat dirinya mendekat.
Bugh!
Timpukan tas kecilnya mendarat manis di punggung Vano. Vano meringis dibuatnya, dia menatap lirih Eliza dengan sudut mata yang berair. “Lo tega banget sih sama gue, gue salah apa sama lo?” lirih Vano.
Eliza memutar bola matanya malas. “Jangan pura-pura bego sialan! Gue tahu lo, 'kan yang kempesin ban mobil gue?!”
“Jangan asal tuduh lo!” Vano berusaha mengelak.
“Apa buktinya?” tantang Vano, walau sebenarnya hatinya gelisah takut perbuatannya terbongkar.
Eliza menunjuk CCTV yang menempel di tokonya, kebetulan CCTV itu mengarah ke parkiran dan jalan di depannya. Eliza tersenyum sinis melihat Vano yang panas dingin melihatnya.
“Iya gue yang kempesin. Tapi, gue cuman mau lo berangkat bareng gue.” Dengan watadosnya Vano berkata.
“Gue udah bilang, gue gak mau.”
“Tapi gue maksa!”
“Gue tetep gak mau!” kekeuh Eliza.
“Oke! Kencan buta sama gue mau?”
__ADS_1
Plak!
***
“Tempatnya indah!” Anna merentangkan tangannya menikmati angin yang menerpa tubuhnya.
Anna dan Kenzo tengah berada di pantai. Sepulang sekolah tadi Kenzo mengajak Anna ke pantai untuk melihat sunset, jarang-jarang mereka pergi ke pantai terakhir mereka pergi saat olimpiade di luar kota.
“Di mata gue, lo lebih indah. Tapi sayang, lo milik orang lain. Kenapa lo gak bilang kalau lo udah nikah Na? Berarti saat gue anterin lo waktu itu, itu rumahnya Leon?” Kenzo menatap serius Anna.
Anna hanya mengangguk, percuma dia mengelak karena Leon sendiri yang membongkar rahasia mereka. Anna merasa kasihan pada Kenzo, Anna tahu kalau Kenzo sudah lama menaruh rasa padanya untuk itu Anna selalu menghindar. Anna tidak ingin merasakan sakit seperti dirinya yang mencintai tanpa dicintai, karena Anna menganggap Kenzo sebagai sahabat saja. Dulu Anna pernah membuka hatinya untuk Kenzo, tapi tetap saja tidak ada rasa apapun selain sahabat.
“Jadi itu alasan lo selalu nolak gue, Na?” tanya Kenzo lirih.
Anna hanya mampu diam, dia bingung harus menjelaskannya bagaimana. “Pernikahan kami juga atas dasar keterpaksaan,” ujar Anna membuat Kenzo menatapnya serius.
“Tapi, lo udah cinta, 'kan sama dia?” tanya Kenzo yang lagi-lagi membuat Anna terdiam.
Jujur, Anna juga masih bingung dengan perasaannya. Anna seperti sulit untuk membuat keputusan, setiap Anna mengambil langkah selalu saja ada halangannya.
Tiba-tiba Kenzo menangkup pipi Anna. Mata tajamnya menatap intens mata hijau Anna, mata hijau yang selalu membuat dirinya hidup kini dia harus merelakan mata itu menjadi milik orang lain.
“Lo gak bahagia, 'kan sama dia?” tanya Kenzo menatap intens Anna. “Jangan khawatir, gue akan bantu lo lepas dari cengkraman pria sialan itu!” Kenzo mendekatkan wajahnya pada Anna.
Anna memejamkan matanya, tubuhnya seolah kaku untuk bergerak. Apakah ini petunjuk dari jalan yang harus dia ambil? Apa takdir membiarkan dirinya untuk bahagia bersama Kenzo, tapi itu tidak mungkin karena Anna tahu Kenzo itu siapa.
“Gue ...,” Kenzo memejamkan matanya.
“Jangan sentuh milik gue!”
Gue tekenkan sekali lagi jangan pernah berani lo sentuh milik gue!".
__ADS_1