
“Dia membeli Ashala dari pasar gelap, kemudian dia jadikan istri untuk membuatnya hamil karena dia membutuhkan keturunan. Ashala disiksa untuk melancarkan rencanya dalam menjebak Alden, hingga saat waktu itu tiba Rexton membunuh Ashala kemudian membuangnya tepat di hutan tempat Shyna disekap. Sidik jari yang ditemukan dalam mayat Ashala tertuju pada Alden, sehingga polisi menyimpulkan bahwa Alden lah pelaku pembunuhan tersebut, bahkan Alden dituduh sudah menyekap Ashala dan menyiksanya karena bukti menunjukkan beberapa memar dan bekas cambukan ditubuh Ashala.”
“Jadi, dia ibunya Lio?”
Lyssa mengangguk sebagai jawaban. “Dan yang berada di kapal itu adalah Ibumu, dia menggantikan Ayahmu untuk melindungi keselamatan kamu Anna. Mereka merencanakan untuk menculikmu dan membawamu pergi, sidik jari kamu bisa mengalihkan proyek segitiga biru itu karena sidik jari kamu yang Alden gunakan untuk akses masuk dan ruang rahasia dalam proyek itu. Sebelum Shyna pergi, dia sempat mencari alat pembantu untuk menghentikan detik waktu bom itu, tapi takdir berkata lain. Bom itu meledak sebelum dia memutus kabel terakhir.”
Anna meneteskan air matanya. Dia benar-benar tidak sanggup lagi untuk mendengarnya, ternyata cerita Mamanya begitu pedih dan menyakitkan. Anna merasa bersalah telah lahir diantara mereka, jika saja Papanya tidak menggunakan sidik jarinya mungkin mereka bisa hidup bersama sampai sekarang.
“Dan Papa?” tanya Anna dengan suara bergetar.
Lyssa tersenyum, kemudian menarik Anna ke dalam pelukannya. “Alden masih hidup, dia sedang melakukan perawatan untuk menyembuhkan luka tembakan pada jantungnya. Ayahmu masih koma meskipun sudah bertahun-tahun lamanya, setiap Dokter menyatakan Ayahmu telah meninggal selalu ada keajaiban yang terjadi padanya, tepat pada saat itu detak jantung Ayahmu kembari normal namun dalam beberapa saat.”
“Aku ingin bertemu dengannya, aku sangat merindukannya Ma. Tolong bawa aku pada Papa, aku ingin memeluknya, aku ingin mendengar suaranya Ma.” Begitulah suara hati seorang anak, karena bagaimanapun Ayahnya adalah pelindung untuknya sekaligus sosok pahlawan yang selalu setia mendampinginya.
__ADS_1
“Nanti, setelah Harsel membawa kabar baik untuk kita. Ayah tirimu itu sangat baik dalam merawat Papamu sayang.” Lyssa tersenyum pelan.
“Itu waktu yang lama, aku ingin menemuinya sekarang Mama.” Anna terus menangis sembari memeluk erat Lyssa.
“Bersabarlah Anna, jangan terburu-buru atau mereka akan mencurigai rencana kita.”
“Kapan misi ini selesai? Kapan masalah ini berakhir dan kapan semua penderitaan Anna berkurang? Anna ingin bahagia Ma, Anna ingin bersama Mama, Papa, dan semuanya yang menyayangi Anna. Anna hanya ingin bahagia tanpa adanya masalah, kenapa mereka harus hadir diantara kita? Kenapa Ma?!” teriak Anna pilu. Sudah lama Anna ingin mengungkapkan kekesalan itu, Anna sudah lelah dengan semuanya, Anna butuh istirahat yang panjang sampai dia merasakan apa itu damai.
Lyssa keneteskan air matanya, dia sungguh sedih mendengar perkataan Anna. Lyssa tahu ini berat untuk Anna, tapi Lyssa percaya bahwa rencana takdir pasti yang terbaik untuk kita.
“Anna lelah Ma ... Anna ingin semuanya cepat selesai agar Anna bisa bahagia, Anna ingin seperti dulu lagi dimana hanya ada kebahagiaan diantara kami,” lirih Anna.
“Itu akan terjadi sayang, tapi setelah waktunya tepat.” Lyssa semakin mempererat pelukannya.
__ADS_1
Anna hanya mampu diam memendam semua rasa yang sulit diartikan dalam dirinya, rasa yang tercampur antara sedih, pilu, marah, dan kepastian Anna sulit untuk mengekspresikan rasa itu seperti apa.
“Dan tentang Leon?” tanya Anna menagih penjelasan pada Lyssa.
“Leon mengalami kecelakaan di Bandara saat akan pergi ke Barcelona. Leon koma selama lima bulan, Leon dinyatakan hilang ingatan dalam waktu yang tidak dipastikan untuk itu dia tidak kembali padamu. Tapi, Mama selalu memantau mu dari sini untuk kenjaga oerasaan Leon, sebelum Papamu kembali dia menceritakan semuanya tentang kalian kepada Mama.”
“Mama berterimakasih padamu karena telah menolong Leon, jujur saat Mama putus asa untuk mencari Leon yang tidak tahu dimana dia berada. Terimakasih sudah merawat Leon, terimakasih sudah berteman dengannya, Leon jadi memiliki teman setelah mengenal dirimu,” lanjut Lyssa menjelaskan.
“Apa Leon tidak sedikitpun mengingatku?” tanya Anna yang seolah penasaran dengan kondisi Leon.
“Saat dia berumur 17 tahun setelah ingatannya pulih, dia datang ke Barcelona untuk menemuimu. Tapi, dia tidak mendapatkan apa-apa selain kesedihan dan tatapan kosong yang selalu Leon lancarkan setiap malam. Leon mengalami depresi berat setelah mengetahui dirimu telah tiada, Leon bahkan berhenti makan dan terus berbicara sendiri seperti orang gila. Setiap malam Leon selalu memeluk foto masa kecilmu sambil berdoa agar bermimpi dan bisa bertemu denganmu.”
Anna tidak menyangka dengan keadaan Leon waktu itu. Anna dapat merasakan bagaimana sakitnya menunggu harapan, kemudian dijatuhkan dengan kenyataan pahit. Anna sempat tidak percaya jika kondisi Leon sampai separah itu, ternyata bukan hanya dirinya yang menderita, tapi Leon juga sama. “Lalu?”
__ADS_1
“Kemudian gadis licik itu datang menyembuhkan luka Leon, dia memberikan semangat dan membantu Leon bangkit kembali. Mama tidak tahu mantra apa yang dia gunakan sampai membuat Leon patuh padanya, setiap hari dia selalu datang menemui Leon ke sini. Setelah beberapa bulan, Leon dinyatakan sembuh dari depresinya, Mama senang mendengarnya tapi yang membuat Mama sedih. Leon menjadi berbeda, dia bukan Leon beberapa tahun lalu, dia seperti orang asing yang menempati tubuh Leon.”
Anna mengerutkan keningnya, sepertinya ada sesuatu yang terjadi tapi dia tidak bisa menyimpulkannya. “Apakah dia Isha?”