Isteri Kontrak Tuan Kejam

Isteri Kontrak Tuan Kejam
Bab 30


__ADS_3

“Akibat ledakan itu, senjata yang seharusnya kita jual sudah disita polisi. Gadis itu benar-benar ingin bermain denganku, lihat saja aku pasti akan membalas perbuatan nakal gadis bermata biru itu.”


Seringainya muncul seiring dia menatap layar televisi di depannya. Netra matanya terus menatap intens penayangan peledakan itu di sana, manik matanya menangkap sosok hitam yang bersembunyi dibalik pohon. Dia menyeringai tipis, bodoh sekali gadis itu sampai meninggalkan jejak meskipun para peliput tidak menyadarinya.


“Kau mempermudah ku untuk menemukanmu sayang, tunggulah kedatanganku gadis kecil.”


Pistol di tangannya senantiasa berputar memutari jari telunjuknya, peluru di genggamannya masih utuh dan suap masuk untuk menembak siapa saja. Pria dengan luka di bawah telinga itu tersenyum miring, tujuannya semakin dekat, sebentar lagi semuanya akan berhasil dan tujuannya akan segera tercapai.


Obsesi dan cinta itu beda tipis, kedua makna itu sama, sama-sama menuju pada keinginan akan cinta, hanya saja setiap orang terlalu berlebihan untuk menggunakan kedua rasa itu. Cinta bisa menjadi obsesi, dan obsesi bisa menjadi cinta.


“Aku sangat mencintaimu tapi, aku lebih terobsesi pada segitiga biru itu. Kau tenang saja, cinta ini akan terus hidup sampai kau dan aku kembali bersama di surga.” Senyumnya memancar akan kerinduan yang tabu, tetapi dalam semua itu tersimpan rasa tersembunyi yang membuat dirinya tidak dikenali siapapun termasuk putranya.


“I'm sorry Asha, kau terlalu bodoh sampai rela melakukan apapun demi diriku. Kau sangat mirip dengan putra kita sayang,” ujarnya sambil menatap tajam foto yang menggantung di sudut lemari.


Terkadang cinta terlalu bodoh sampai melupakan diri kita sendiri. Rela berkorban demi cinta, rela menyerahkan diri demi cinta, rela bertaruh nyawa demi cinta. Lantas cinta itu seperti apa? Cinta adalah sebuah rasa yang mampu membunuh siapa saja, membunuh secara perlahan sampai rasa itu menguasai diri dan pergi tanpa permisi.


“Bahkan aku masih mengingat saat kau memohon padaku sayang, sebenarnya aku tidak tega mengorbankan dirimu tapi, apa dayaku yang terlalu mencintainya.” Ingatannya kembali pada masa lalu, dimana dirinya menyaksikan sendiri istrinya yang disiksa di bawah kendalinya.


_“Aku bodoh! Aku rela disiksa seperti ini hanya demi kau Rexton! Kau menyiksaku hanya untuk memenuhi obsesimu yang tak berujung itu!”

__ADS_1


Plak!


Untuk yang kesekian kalinya wanita itu menjerit, punggungnya terasa panas akibat cambukan yang terus bertubi-tubi mengenai tubuhnya. Darah segar mengalir lewat bajunya yang sudah tak terbentuk, lebam berada dimana-mana dan luka yang seolah menghiasi tubuh indahnya. Dia Ashala, istri lelang Tuan Arrexton.


_“Aku mengambil mu dari pasar gelap untuk menuntaskan dendamku. Aku membutuhkan keturunan untuk meneruskan seluruh hartaku yang masih kurang, sebentar lagi segitiga biru itu akan menjadi milikku.” Pria bernama Rexton itu tersenyum penuh kemenangan, mengorbankan satu nyawa saja itu cukup untuknya.


Ashala tersenyum pedih, hidupnya sangat penuh penderitaan dimulai dari saat dia dilelang di pasar gelap dan sampai dibeli oleh suaminya itu. Ashala pikir setelah dirinya dibeli, hidupnya akan berubah setidaknya tidak seburuk saat di pasar gelap yang mempekerjakan dirinya secara tidak manusiawi, tapi dugaannya salah. Hidupnya menjadi lebih buruk setelah dinikahi oleh Tuan barunya, bahkan hidupnya sangat direndahkan melebihi hewan.


_“Ingat Rexton! Putramu sendirilah yang akan membunuhmu! Dia akan membalas semua perbuatan mu padaku, aku bersumpah! Hingga ajal memjemputmu tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaan dan kematian mu, bahkan putramu sendiri akan membiarkanmu layaknya bangkai anjing!” pekik wanita itu sembari menahan cambukan yang mendera punggungnya lagi. Ashala menangis dalam diam, dia hanya berdoa semoga kematian cepat menjemputnya, dan dia tidak akan merasakan penderitaan ini lagi.


Dor!


_“Jalankan sesuai rencana, Alden harus melihat mayat wanita bodoh ini. Jangan lupa bawa putraku juga ke tempat itu.” Rexton menyeringai bak iblis, obsesinya begitu menguasai dirinya sampai tega melakukan hal keji kepada istrinya.


Para bawahan hanya mengangguk sambil bergidik melihat kekejian di depan mereka. Sungguh gila pria itu hingga tega menghabisi istrinya sendiri demi tujuannya, dia benar-benar definisi suami setan.


“Semoga jiwamu diterima disisi Tuhan, aku turut sedih atas kematian mu waktu itu. Tapi aku senang karena setelah kematian mu, tujuanku semakin dekat.”


“Tapi, karena ulah bodoh mu mereka membatalkan kontrak itu. Kau selalu menyusahkan diriku meskipun kau sudah mati!”

__ADS_1


Dia tidak sadar jika dibalik dinding itu ada telinga yang mendengarnya. Tangannya terkepal kuat diiringi rasa marah yang membara dalam hatinya, matanya yang berkaca-kaca seolah mewakili betapa hancunya dia saat mendengar ucapan pria itu.


“Sialan!”


Di malam yang sunyi ini, Anna duduk di ayunan sambil mendongak ke atas. Hawa dingin yang menerpa kulitnya seolah tidak mengganggunya yang sibuk dengan pikirannya, kenyataan ini cukup membuat Anna bingung, rasanya seperti didapatkan dengan sebuah kebetulan.


Anak laki-laki yang selama ini ia tunggu ternyata dia yang selalu berada di sisinya. Sebenarnya Anna senang, tapi mengingat akan janji itu membuatnya membenci dia. Anna sangat membenci orang yang menyepelekan janji, bagi Anna janji itu penting! tidak hanya sekedar omongan, tapi janji adalah bukti dari kesungguhan seseorang.


“Lagi-lagi kau kembali membawa luka, kau pergi pun sama dengan membawa luka. Ternyata memahami dirimu sama saja membuka luka ini, kau terlalu misterius untuk aku pahami sampai aku tidak sadar kalau kau selalu berada di sisiku.”


“Alasanmu tidak akan pernah aku terima, janjimu membuatku putus asa untuk percaya lagi padamu. Kau sama seperti mereka yang meninggalkanku, aku membencimu! Tapi, aku mencintaimu.”


Di hawa sunyi ini Anna terus berbicara di bawah hitamnya langit malam. Suasana ini begitu mendominasi suasana hatinya, Anna menangis pilu sambil memegangi kalung berliontin bunga matahari itu. Masa lalu adalah kenangan lama, dan Anna tidak ingin mengingatnya lagi apalagi menjalaninya kembali dan itu bersama Leon.


“Mama ... Syhna ingin bersama Mama, Syhna ingin kita hidup bersama di sana dengan Papa. Papa pasti merindukan ku juga, kan? Aku ingin bersama kalian.” Anna memejamkan matanya ketika rintik hujan mulai menerpa wajahnya.


Sesaat Anna menikmati rintikan itu, tetapi saat merasa tidak sesuatu apapun dia membuka matanya. Manik mata birunya bertemu dengan tatapan tajam Leon, tatapan tajam itu masih tetap sama seperti beberapa tahun lalu. Hati Anna berdebar melihatnya, objek ini adalah salah dari sekian objek yang dia rindukan. Anna ingin sekali menciumnya, Anna ingin menyentuhnya, Anna ingin membelai mata itu dengan jari telunjuknya, Anna ingin menjadi pemilik mata itu besarta hati sang pemilik, Anna menginginkan semuanya.


Perlahan Leon mendekatkan wajahnya dan ... Cup! Dia mengecup kedua mata biru itu bergantian, rasanya masih seperti dulu saat pertama kali mencium kedua mata itu. Leon tersenyum melihat pipi gadisnya yang memerah, dia merindukan semburat merah itu, biasanya warna itu selalu muncul saat ia membawa satu kotak buah peach dan bunga lavender untuknya. Leon begitu rindu akan warna itu yang selalu menjadi objek lukisan di setiap langkahnya, warna itu selalu Leon kenang di setiap warna yang selalu ia gunakan.

__ADS_1


“Gue gak akan biarin lo pergi dari sisi gue lagi Princess, lo akan tetap berada disisi gue sampai kapanpun. Gue akan jadi egois menyangkut kepemilikan atas lo, gue pemilik hati lo, gue pemilik seluruh objek dalam diri lo.” Leon kian mendekatkan wajahnya kepada Anna.


__ADS_2