Isteri Kontrak Tuan Kejam

Isteri Kontrak Tuan Kejam
Bab 29


__ADS_3

Anna mengangguk sambil menghapus air matanya, rasanya begitu sakit melihat bencana itu terjadi di depan matanya sendiri.


“Gue benar-benar penasaran dengan kalung milik lo, kalung itu mirip dengan kalung yang gue berikan pada Princess. Kalung itu berarti banget buat gue, Na, gue selalu berharap dimanapun pemilik kalung itu berada semoga dia tetap bahagia.” Leon semakin mengeratkan pelukannya.


Princess? Apakah itu Isha, tapi dari kata yang Leon ucapkan sepertinya bukan Isha melainkan orang lain. Apakah itu salah satu pemilik hati Leon?


“Gue harap dia selalu bahagia. Gue pengen banget ketemu dia, Na, pasti dia sangat cantik sekarang apalagi mata birunya. Gue harap, mata biru itu selalu terang sejernih laut dan isinya.” Perkataan Leon berhasil membuat Anna terdiam, Anna bungkam dengan tatapan kosongnya. Apalagi ini? Ini sebuah kebetulan atau memang rencana Leon? Mata biru, kalung berliontin matahari, dan penculikan itu? Kenapa semuanya seperti berkaitan dengan masa lalunya. Apakah Leon sudah tahu mengenai masa lalunya, dan dia sengaja menyinggungnya.


“Siapa dia?” tanya Anna penasaran, apakah itu Isha? Orang lain atau dirinya? pertanyaan itu seketika muncul dibenaknya.


“Seseorang yang berharga dalam hidup gue. Mata birunya yang memancar kebinaran, dan rambut pirangnya yang lembut selembut sikapnya. Dia istimewa Na, tapi keistimewaan itu harus berakhir tertekan warna kebenciannya.” Tanpa sadar Leon menitihkan air matanya, mengingat semua itu membuat dia merasa bersalah. Gadisnya tidak akan lenyap jika dia menempati janjinya, Leon tidak akan dihantui rasa bersalah jika saja dia menuruti keinginan gadisnya dulu.


Langsung saja Anna melepas pelukan mereka. Cerita Leon seperti kisahnya, dan oenjelasan Leon tentang orang itu seperti dirinya. Ini misteri, ini fakta, apakah ini cahaya yang datang membawa kebenaran? Apakah lelaki kecilnya adalah Leon? Apakah Leon itu Al?


“Al?” panggil Anna pelan, Anna hanya memastikan kalau dugaannya salah. Lelaki kecilnya yang berjanji palsu padanya ternyata dia ada bersamanya, lelaki kecilnya yang begitu dia rindukan ternyata ada disisinya. Apakah ini maksud dari perkataan Mamanya saat dalam mimpinya?


“Pahamilah dia, dia seperti ilusi yang selalu menutupi jalanmu. Ketahuilah kalau dia selalu berada di sisimu meskipun kau sama sekali tidak menganggapnya. Dia ada, tapi takdir lah yang membuat dia ditiadakan.”


Anna masih begitu ingat sepenggal kata yang diutarakan Mamanya, apakah itu Leon? Leon itu ada dan selalu berada disisinya, tapi keadaan lah yang membuat mereka tidak saling mengenal. Leon itu ada, tapi sikapnya lah yang membuat Anna menganggapnya telah mati. Mata tajam itu mengingatkan dirinya akan mata tajam anak itu, senyum tipisnya selalu menghiasi setiap pahatan wajahnya yang selalu ada pada wajah Leon.

__ADS_1


Al--bert Leonard Cenze. Anna mencoba memahami nama itu, kemudian Anna mengerti ternyata nama depannya Leon adalah sepenggal nama dari anak laki-laki itu. Kenapa Anna tidak memahaminya? Kenapa Anna begitu bodoh untuk mencernanya? Anna sangat tidak berguna, dia melupakan siapa pewarna hidupnya.


“Al, apakah itu kamu Leon?” tanya Anna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Sama hal nya dengan Anna. Leon juga terkejut mendapati kebenaran ini, panggilan khusus Princess-nya itu kini terucap kembali. Leon menatap lirih Anna, dia Princess-nya, dia mataharinya, dia penolongnya, dia malaikat kecil berwujud Dewi yang dia tunggu. Leon sungguh tidak menyangka dengan kenyataan ini, ternyata dugaannya benar. Disisi lain Leon senang dengan kebenaran ini, tapi di satu sisi dia juga kecewa terhadap dirinya yang tidak mengetahui keberadaan Princess-nya.


Princess-nya selalu berada di sisinya, merawatnya, membantunya, tapi berbeda dengan dirinya yang menyakiti dia dengan semua sikapnya. Leon sungguh menyesal dengan perbuatannya, Leon lalu untuk mengakui jika dialah laki-laki kecil beberapa tahun lalu. Janjinya yang ia dustakan, dan semua harapan serta kenangan mereka yang lenyap begitu saja terpisah oleh takdir. Takdir itu lucu bukan? Mereka yang selama ini dipersatukan dalam hubungan harus menelan pil pahit atas kesepakatan konyol mereka, mereka yang selama ini menahan rindu harus terbendung oleh ruang lingkup rencana takdir.


“Nana ...,” lidah Leon seolah kelu untuk mengucapkan namanya, nama itu spesial untuknya yang kini terucap kembali setelah sekian lamanya tersimpan rapi. Kini nama itu kembali hidup menghiasi langkahnya lagi, nama yang begitu tabu kini hangat kembali bersamaan dengan kedatangannya lagi.


“Pohon hijau dan laut biru adalah jawabannya.”


“Anna ... Gue ...,” secepat kilat Leon memeluk Anna kembali, rasanya pelukan ini tidaklah cukup untuk mengobati rasa rindunya. Rasa ini begitu spesial sampai tidak bisa diungkapkan hanya dengan pelukan saja, intinya Leon sangat bahagia.


Jauh dari rasa bahagia Leon, justru kebencian Anna semakin besar. Janji yang diucapkan Al dulu begitu membekas dalam ingatannya, janji itu yang semula menyemangatinya harus berubah menjadi pemadam dari semangatnya. Anna membencinya, tapi jiwa Nana bahagia bertemu dengannya. Anna tak mampu lagi menahan rasa ini, rasa ini tercampur begitu saja mempermainkan hatinya.


“Lepas!” Anna melepas kasar pelukan Leon, tatapan tajamnya begitu menghunus Leon.


“Kenapa?” tanya Leon.

__ADS_1


“Aku membencimu Al! Kau pergi bersama janji palsumu yang mempermainkan ku. Aku selalu menunggumu setiap hari, setiap waktu sampai tiga bulan lamanya aku menunggu. Aku selalu bermimpi dirimu datang menemui ku Al, tapi nyatanya itu hanyalah sebuah mimpi dan kau sama sekali tidak kembali. Aku membencimu! Kau memintaku menunggumu di bawah pohon itu sampai pohon itu berguguran pun kau tidak datang, kau penipu! Aku bukan malaikat penolong mu lagi.”


“Kau bahkan tidak datang saat kecelakaan itu menimpaku Al, kau bahkan tidak peduli dengan kondisiku waktu itu saat kau pergi. Aku selalu berharap kau datang lalu membawaku pergi kepada orang-orang yang mencintaimu, mereka mengincar ku Al, kau bahkan begitu bodoh dengan tidak memahami maksudku waktu itu.”


“Mereka pergi sama seperti dirimu, mereka meninggalkanku sama seperti kau membodohi ku. Aku membencimu! Aku membenci mereka! Kau sama seperti mereka hanya datang untuk menipu! Kau sialan Al!” tangan Anna terulur melepas lensa hijaunya, terlihatlah mata birunya yang berair dengan sebening kesedihan di sana.


Leon hanya mampu menatap mata biru itu. Dulu mata itu selalu berbinar bahagia, mata itu selalu dipenuhi cahaya bukan air mata seperti sekarang. Mata biru itu adalah cahaya kehidupan Al, tapi mata biru itu adalah keredupan hidup untuk Leon.


“Maaf ... Gue minta maaf---”


“Maaf?” Anna terkekeh sinis. “Bahkan seribu kata itu terlontar dari mulutmu pun tidak cukup untuk mengobati luka yang kau berikan Al, luka ini cukup dalam dan rasanya teramat sakit.” Anna menunjuk hati kecilnya berada, bahkan hatinya masih terasa sakit bila mengingat janji itu.


“Sebenarnya gue pengen---”


“Apa? Diamlah! Aku tidak ingin mendengar suaramu lagi, aku sangat membencimu!” Anna membantu pintu kamarnya kasar.


Leon hanya menatap nanar kepergian Anna. Ya, ini memang salahnya, dia berjanji tapi tidak menepatinya. Leon juga membenci dirinya sendiri, Leon juga marah pada dirinya yang begitu lemah dan bodoh, lihatlah akibat dari kebodohannya. Tapi, Leon juga memiliki alasan kenapa ia tidak kembali pada gadis kecilnya, dia juga memiliki alasan mengapa dia baru kembali setelah beberapa tahun lamanya.


“Seandainya lo tahu penyebab gue gak kembali Na ....”

__ADS_1


“Gue terluka Princess ....”


__ADS_2