
“Kemudian gadis licik itu datang menyembuhkan luka Leon, dia memberikan semangat dan membantu Leon bangkit kembali. Mama tidak tahu mantra apa yang dia gunakan sampai membuat Leon patuh padanya, setiap hari dia selalu datang menemui Leon ke sini. Setelah beberapa bulan, Leon dinyatakan sembuh dari depresinya, Mama senang mendengarnya tapi yang membuat Mama sedih. Leon menjadi berbeda, dia bukan Leon beberapa tahun lalu, dia seperti orang asing yang menempati tubuh Leon.”
Anna mengerutkan keningnya, sepertinya ada sesuatu yang terjadi tapi dia tidak bisa menyimpulkannya. “Apakah dia Isha?”
“Ya, dia sepupu jauh Leon, Ayahnya adalah kakak tiri dari Papanya Leon. Gadis bernama Aqisha itu telah berhasil mencuci otak Leon, dia sering membangkang Mama bahkan sampai membentak Mama, tapi yang membuat Mama curiga adalah Leon yang sering mengeluh kepalanya sakit dan terkadang dia tidak mengingat apapun yang terjadi di kemarin hari. Kejadian itu terus terjadi setiap dia bersama gadis itu, saat itulah Mama mulai curiga padanya. Dia licik sama seperti Ibunya!”
Sekarang Anna paham, kenapa Leon tidak mengingat apa yang dilakukannya bersama Isha waktu itu, ternyata Isha juga ingin bermain-main dengannya. Anna tersenyum miring, sekarang mereka akan bersaing di Medan perang.
“Sembuhkanlah dia Anna, obati Leon seperti saat mengobatinya dulu. Mama percaya dengan ketulusan kamu Leon akan luluh, Mama tidak ingin Leon semakin menjauh dari hubungan sebenarnya gara-gara gadis licik itu. Percayalah, Leon masih sangat mencintaimu sampai sekarang. Dia hanya perlu dipahami bukan dikasihani sayang,” ujar Lyssa menjelaskan.
“Baik, Anna akan mengobati Leon dengan cara Anna sendiri.”
***
“Lio, kamu kenapa?” tanya Rexton--- ayahnya Lio.
Lio menggelengkan kepalanya tanpa menatap sang Ayah, entah kenapa rasanya seperti geli mendengar suara manis Ayahnya itu. “Luka kecil---”
“Tapi, kau terlihat babak belur son!”
“---tidak besar seperti yang dirasakan Bunda!” lanjut Lio menekan kata-katanya.
Rexton terdiam sesaat, ada yang aneh dengan Putranya tapi dia segera menepis perasaannya.
“Ayo kita ke rumah sakit,” ajak Rexton sembari membantu Lio berdiri.
Lio menepis tangan Ayahnya, dia tidak ingin dipandang lemah hanya dengan luka kecil saja. “Aku tida apa-apa Ayah, ini hanya luka kecil sebentar lagi juga sembuh.”
Rexton menatap putranya bertanya-tanya, Rexton kenghela nafas kasar, mungkin putranya itu lelah makannya dia tidak respect padanya. “Tapi, hidung ku bahkan berdarah son! Ayah takut kamu terluka parah.”
__ADS_1
“Kau tenanglah, aku tidak akan mati sebelum membalas penderitaan Bundaku. Kau pernah bilang bukan, balaslah perbuatan dia dan bunuh dia secara perlahan.” Lio menatap sepenuhnya sang Ayah, namun dalam tatapan itu seolah ada rasa yang sulit diartikan.
“Ya! Bunuh mereka secara perlahan, jangan biarkan mereka bahagia di atas penderitaan Bundamu son!” Rexton menepuk pelan bahu Lio.
“Ya, aku akan membalasnya sampai dia mati bertekuk lutut di bawah kaki ku. Aku akan menghabisinya sampai tiada seorang pun yang menolongnya, bahkan aku akan membiarkan dia layaknya anjing menjijikan!” Lio menatap tajam Ayahnya dibalik kacamatanya, sungguh rasa ini begitu tabu dalam hatinya.
‘Dia tumbuh di bawah kendaliku Ashala, sekarang sumpahku tidak berguna lagi.’ Rexton tersenyum penuh kemenangan.
“Bagus! Kau memang putraku!” ujarnya sembari meninggalkan ruang gelap yang minim cahaya itu.
Lio menatap kepergian sang Ayah sambil mencengkram kuat sudut meja. Lio tak mampu untuk mengendalikan emosinya, Lio memegang hidungnya yang berdarah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis di sana.
“Aku akan memenuhi sumpah mu Bunda!”
“Lio,” panggil Jack dari belakang.
“Bertaruh untuk cinta sejatiku! Butuh perjuangan bukan untuk mendapatkannya.” Lio mendesis pelan saat Jack menekan lukanya.
“Sok jagoan! Berhentilah bertingkah, kamu akan tetap kalah dari singa muda itu. Dia bahkan masa lalu dari gadis itu,” ujar Jack mendengus.
“Darimana kau mengetahuinya?” tanya Lio penasaran.
“Kau tidak perlu tahu!”
“Aku penasaran, apa kau juga tahu siapa yang menyiksa Bundaku?” tanya Lio membuat kegiatan Jack terhenti.
Lio tersenyum sinis. “Jangan terkejut, aku sudah tahu semuanya.”
***
__ADS_1
“Sshh ...,” Anna mengobati tangan Leon yang berdarah. Anna meringis melihat Leon yang gelisah disela-sela tidurnya, dengan hati-hati Anna mengobati lukanya tanpa membangunkan Leon.
“Kamu pasti terluka karena diriku, 'kan?” tanya Anna disela-sela aktivitasnya, Anna tahu asal darimana luka ini. Leon itu tempramen, dia akan melampiaskan terhadap apapun yang menghalangi penglihatannya.
Dengan telaten Anna membalut luka di tangan Leon, Anna meniupnya pelan untuk sekedar pengalihan saja. Ini kebiasaannya saat mengobati luka Al dulu, Anna tersenyum tipis mengingat kenangannya dulu bersama Al.
“Princess ...,” Leon memegang tangan Anna gelisah, bahkan Leon semakin mengencangkan genggamannya di tangan Anna.
Mungkin Leon mimpi buruk, pikir Anna. Anna duduk di samping Leon sambil mengusap rambut Leon sayang, Anna bingung dengan bagaimana hubungan mereka kedepannya. Anna ingin hubungan ini berlanjut mengingat kebenaran diantara mereka sudah terbongkar, tapi di satu sisi ada kontrak yang memisahkan mereka. Hubungan mereka tersisa kurang dari sebelas bulan lagi, Anna belum memutuskan pilihannya.
“Aku tidak ingin kamu ikut terluka dalam masalahku Leon, melihatmu menderita aku tidak ingin menambah penderitaan mu lagi.” Mengingat cerita Lyssa membuat Anna turut sedih.
“Jangan tinggalin gue Annabeth ....”
“Aku tidak berjanji Leon, aku belum memutuskan pilihanku.”
“Jangan tinggalin gue Nana ....”
“Aku di sini Leon, tapi entah dengan suatu saat nanti.”
“Gue gak bisa hidup tanpa lo Princess ....”
“Meskipun sulit, aku akan berusaha hidup tanpa kamu Leon. Sekeras apapun kita berusaha untuk bersatu, tetap saja takdir menjadi perantara diantara kita. Aku berharap kamu bahagia walaupun tidak adanya aku disisi kamu.”
“Princess ....”
“Aku di sini Leon, sayang. Aku akan berusaha berada disisi kamu, membuatmu bahagia, mengisi kekosongan dalam hubungan kita disingkat ya waktu yang kita dapatkan.”
Anna memejamkan matanya sembari tangannya mengelus sayang rambut Leon. Anna memeluk Leon erat, menyalurkan rasa dari segala rasa yang selama ini ia pendam.
__ADS_1