
“Apa kau berhasil?” tanya seorang wanita yang tengah duduk di kursi kebesarannya, tangan putihnya senantiasa memutar-mutar bolpoin di atas mejanya.
Orang berbaju hitam itu mengangguk, tangannya terulur menyodorkan ponsel miliknya. Seulas senyum licik tercetak di bibir wanita itu, tangannya kian aktif memutar bolpoin tersebut.
“Bagus! Tidak sia-sia aku memperkerjakan dirimu, kinerja mu sangat memuaskan!” puji wanita itu sembari melempar sebuah amplop kepadanya.
Orang berpostur tubuh kekar itu mengambil antusias amplop tersebut, tangannya tergerak membuka topeng di wajahnya. “Thanks, Nyonya!”
“Ya! Aku ingin kau terus mencaritahu tentang gadis itu, aku tidak ingin Leon sampai terjebak dengan gadis licik itu.” Wanita itu memutar kursi kebesarannya membelakangi orang itu.
Orang itu terkekeh sinis. “Tanpa kau minta sekalipun, saya akan mencaritahu tentang gadis menyebalkan itu, saya sendiripun tidak menyukai sikap gadis licik itu.” Orang itu mendudukkan bokongnya di sofa dekat jendela, matanya terus menatap gerak-gerik si wanita.
“Dia seperti Ibunya yang gila harta, aku tahu tujuan dia mendekati Leon, selain karena obsesi dia juga sangat menggilai kekuasaan terutama harta itu.”
Lagi-lagi orang itu terkekeh sinis. “Dari sikapnya pun sudah jelas dia memang seperti itu, putramu terlalu bodoh untuk diperingati. Dia sudah dibutakan akan cinta sesaat dari perempuan gila itu, dia melupakan pada siapa cintanya harus diberikan.” Orang itu mengambil Vodka di atas meja, kemudian meminumnya.
“Karena kejadian itu membuat putraku melupakan siapa dia sebenarnya. Gadis itu sudah berhasil meracuni pikiran putraku hingga membuat semuanya kacau.” Ya, wanita itu adalah Lyssa Ibunya Leon.
\*\*\*
Anna menendang-nendang kasar udara. Kini Anna tengah berada di pinggir halte bus, setelah melihat perbuatan menjijikan tadi, Anna memutuskan untuk pulang sendiri. Anna masih tidak percaya jika Leon dan Isha berani berbuat lebih saat di toilet tadi, sudah sejauh itukah hubungan mereka? Ini yang kesekian kalinya Anna melihat perbuatan mesum mereka.
“Kau pergi meninggalkanku, mereka semua mengincar diriku, dan dia juga mengkhianati diriku, aku membenci dunia ini!” Anna melempar high heels miliknya ke tengah jalan, Anna tidak memperdulikan pandangan orang lain yang memandangnya tidak suka.
Kesialan apa yang menimpa hidupnya sampai Anna harus dihadapkan dengan cobaan seberat ini. Tidak cukupkah Tuhan mengambil kedua orangtuanya, Tidak cukupkah mereka yang selalu menyakitinya, Tidak cukupkah Leon terus melukai hati kecilnya. Luka yang digoreskan Leon sangatlah perih di hati Anna, setiap perbuatan dia selalu membuat Anna terluka. Ternyata, pernikahan ini bukan tentang kebahagiaan saja, tapi tentang penderitaannya juga.
Bruk!
Anna memegang bokongnya yang mencium aspal, Anna sangat merutuki orang itu yang menabrak dirinya. Anna membersihkan tangannya kasar, kemudian menatap laki-laki yang tergeletak di depannya.
“Leon?” kaget Anna saat melihat laki-laki itu adalah Leon. Anna dibuat bingung dengan keberadaan Leon di sini, bukannya tadi saat di toilet itu adalah Leon? Tapi mengapa dia berada di sini?
Anna menepis pikiran bingungnya, Anna menghampiri Leon lalu membawanya duduk di halte. “Kamu kenapa Leon?” tanya Anna.
Dengan rambut acak-acakan dan matanya yang memerah, Leon menatap Anna intens. Tangan kekarnya terulur mengelus pipi mulus Anna, Leon tersenyum miring melihat Anna yang menjauh dari sentuhannya.
“Kamu kenapa Leon? Apa kamu mabuk, tapi tidak ada bau alkohol sedikitpun.” Anna bertanya-tanya dengan kondisi Leon, Leon seperti orang mabuk tapi tidak tercium apapun dari badannya.
Leon menyandarkan kepalanya di bahu Anna, tangannya menggenggam erat tangan Anna. Tubuh Leon terasa aneh dan panas, saat menyentuh kulit Anna, dalam dirinya seolah ada sesuatu yang bergejolak. Leon berusaha untuk mempertahankan kesadarannya, Leon terlalu gengsi untuk mengatakan masalahnya pada Anna.
__ADS_1
“Gue butuh lo sekarang.” Leon kian mempererat genggamannya pada tangan Anna, nafasnya memburu seiring rasa panas mendominasi tubuhnya.
Anna kembali dibuat bingung dengan penuturan Leon, Anna sedikit menjauhkan tubuhnya guna menghindari reaksi Leon. “Apa yang kamu butuhkan dariku Leon? Apa kamu membutuhkan bantuan ku?”
Leon terkekeh geli. “Lo cantik, tapi sayang lo begitu bodoh untuk membaca situasi seseorang disekitar lo. Gue butuh lo Annabeth.” Leon meletakkan kepalanya di ceruk leher Anna.
Anna bergerak geli, dari nafas Leon membuat tubuhnya meremang. “Ya, aku memang bodoh. Aku sangat bodoh sampai dengan teganya kalian mempermainkan ku.”
“Gue gak ngerti maksud lo, yang pasti gue butuh bantuan lo sekarang.” Leon menangkap pipi Anna, kemudian mendekatkan wajahnya pada Anna.
Tubuh Anna seakan kaku mendapat perlakuan dari Leon. Anna memejamkan matanya, tangannya meremas kuat jaket milik Kenzo yang masih terlilit di pinggangnya. Anna sudah menduga apa yang akan terjadi selanjutnya, Anna hanya berharap semoga ini bukan moment manis yang berakhir menyakitkan seperti satu bulan yang lalu.
Leon mengigit bibir bawah Anna, tangannya mencengkram erat tengkuk Anna. Rasanya berbeda saat merasakan rasa aneh ini, rasa ini seperti rasa yang dirindukannya, dan aroma ini persis seperti Princess-nya si penyuka lavender.
“Sshh ... Leon berhenti,” Anna mencoba mendorong dada Leon, tapi tidak bisa. Anna hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Leon mengusap bibir bawah Anna, Leon tersenyum tipis sambil mengelus kedua pipi Anna. “Lo persis seperti dia, andai dia itu lo.” Tanpa sadar Leon memeluk Anna, sudut matanya berair mengingat betapa rindunya dia pada Princess-nya.
Anna terdiam menerima pelukan Leon, sekarang Anna dapat merasakan pelukan Leon tanpa adanya drama skenario dalam adegan ini. Anna bahagia meskipun harus menahan rasa sakit yang membelenggu dalam hatinya. Bagi Anna, Leon adalah sesuatu yang misteri, Anna terkadang berpikir jika Leon berhati hatu dan terkadang pula Leon berhati lembut layaknya anak kecil.
“Na ... Gue kangen, maafin gue.” Air mata Leon membasahi punggung mulus Anna, Leon seolah terenggut oleh kesadarannya, tanpa sadar dia memberitahukan hal yang seharusnya dia jaga.
“Aku gak tahu kamu kenapa Leon, daripada kita duduk di sini lebih baik kita pulang. Kamu harus istirahat, kondisimu sedang tidak baik-baik saja.”
\*\*\*
“Sshh ... Panas, Na.” Leon berguling-guling di atas kasur sembari membuka bajunya.
Anna mencegah tangan Leon yang hendak membuka baju itu. “Jangan di sini Leon, mending di kamar mandi sekalian kamu membersihkan diri.”
Leon terdiam mendengar ucapan Anna, sedetik kemudian dia tersenyum miring. Leon menarik tangan Anna hingga dia jatuh di ata tubuhnya.
“Ayo mandi bareng,” bisik Leon di telinga Anna.
Anna merinding seketika mendengar ajakan sensual Leon, Anna sedikit memberontak tapi Leon semakin menahan tubhnya untuk bangun. “Lepas Leon!”
Leon kian mengeratkan pelukannya, tangannya terulur menyelipkan rambut Anna ke belakang telinganya. “Hukumnya dosa menolak ajakan suami, sebagai istri yang baik lo harus mau dengan ajakan gue.”
“Gue akan buat lo terbang di awan sampai lupa caranya turun, gua akan buat lo mencapai angkasa saat pelepasan itu datang, gue akan buat lo ... Sshh ...,” Leon mendesis pelan saat Anna menyentuh dada bidangnya, rasanya seperti ada yang bangkit dari tubuhnya.
__ADS_1
Anna semakin takut melihat Leon, Anna berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Leon. Saat ini Leon seperti singa kelaparan, dia terlihat sangat menakutkan. “Leon besok sekolah, aku harus mengerjakan tugas, jadi lepaskan aku.”
Bukannya melepas pelukannya, Leon malah semakin memperat pelukannya di oinggang Anna. “Gue gak mau!”
“Please Leon,” Anna tahu maksud Leon apa, untuk itu dia menghindarinya. Anna tidak ingin kegiatan selanjutnya terjadi sebelum hubungan Leon dan Isha jelas.
“Gak ada penolakan!”
Anna menghela nafasnya kasar. “Aku sedang datang bulan Leon, percuma kau memintanya,” bohong Anna.
Dengan lancangnya Leon meraba bokong Anna, seketika senyumnya mengembang. “Gue bukan lo yang gampang dibohongi Annabeth, tidak ada pembalut yang menempel di sini.”
Anna menunduk malu, kebohongannya terbongkar apalagi Leon mengatakannya begitu frontal. “Aku butuh waktu Leon.”
“Sshh ... Gue butuh lo sekarang, please tolongin gue. Tuntaskan kewajiban lo sebagai istri gue, kontrak kita akan cepat selesai kalo perjanjian diantara kita sudah terlaksana.”
“Pernikahan kita terjadi untuk menghadirkan seorang anak, lo lupa dengan perjanjian kita?” lanjut Leon yang semakin merapatkan tubuhnya pada Anna.
“Aku selalu mengingatnya Leon, tapi tidak sekarang.” Anna mencoba menolaknya karena memang dirinya belum siap, waktu masih tersisa sepuluh bulan lebih lagi untuk kontrak mereka berakhir, dan Anna ingin mendapatkan waktu itu.
“Lebih cepat lebih baik!”
“Lo lupa dengan isi kontrak kita? Tercatat dalam kontrak nomor 15. Jika pihak kedua mutlak mengikuti perintah dan keinginan pihak pertama, lo gak berhak nolak keinginan gue Anna.”
“Dan nomor 23. Tertulis bahwa pihak kedua tidak memilki wewenang untuk menolak pihak pertama, baik dalam urusan rumah tangga maupun urusan lainnya.”
“Nomor 19. Pihak kedua adalah bawahan yang wajib mematuhi perintah pihak pertama, dan pihak kedua tidak diberi hak untuk menolak pihak pertama.”
“Yang terakhir, keinginan pihak pertama adalah perintah untuk pihak kedua. Jelas?” ujar Leon menjelaskan isi dalam kontrak mereka.
Anna dibuat tak berkutik dengan semua penjelasan Leon. Anna hanya diam tanpa berpikir untuk menyangkal setiap aturan dalam kontrak itu.
“Jadi, apa lo akan tetap menolak keinginan gue?” tanya Leon lagi sembari tersenyum miring melihat kekalahan Anna.
“Aku bersedia!”
Leon tersenyum menang mendengar jawaban Anna. “Gue akan buat lo terbang Annabeth, gue akan buat lo terus mengingat kejadian ini, moment ini akan menjadi moment yang bersejarah dalam hidup lo.”
Anna hanya mampu terdiam saat Leon menurunkan reselting dress miliknya, mungkin setelah ini hidupnya akan berubah, dan masalah dalam hidupnya semakin bertambah. Tidak masalah, ini adalah tujuan dari pernikahannya, jika perjanjian diantara mereka terlaksana setidaknya penderitaan Anna akan berakhir.
__ADS_1
“Let's play Mio Amore?”