
“Gak sudi!” jawab Eliza malas.
“Oke! Gue akan sebarin data ini tanpa terkecuali, siap-siap aja lo bajakan malu,” ancam pria itu menekan Eliza.
Eliza mendengus kesal, matanya menatap tajam pria di hadapannya. Siapa dia? Berani-beraninya melawan seorang Eliza Sea, dia sudah bosan hidup atau apa? Eliza tidak akan rugi jika menenggelamkan pria ini ke dasar laut. Sungguh, pria ini sangat menyebalkan di matanya.
“Gue laporin lo ke polisi!” ancam Eliza sambil tersenyum miring melihat pria itu terdiam.
Sedetik kemudian pria itu tertawa yang membuat Eliza bingung. “Atas dasar apa? Pencemaran nama baik? Lo gak bisa laporin gue, secarakan data lo udah terperinci di sini jadi gak ada namanya pencemaran.”
Eliza dibuat tak berkutik oleh pria ini, Eliza semakin mengerahkan pikirannya untuk mengalahkan pria gila ini dan mengusir dia dari tokonya. “Pergi lo!”
“Ya atau tidak? Baru gue pergi.”
Eliza mendesah pasrah, dihadapkan dengan pria sepertinya membuat kesabarannya menipis. “Ya!”
Pria itu bersorak ria sambil mengepalkan tangannya ke atas. “Gue tunggu lo jam delapan malam.”
“Ya!” Eliza memandang kesal punggung pria itu, nasib sial apa yang menimpa dirinya sampai dihadapkan dengan pria menyebalkan sepertinya.
Sore ini Anna pergi ke rumah Ibunya. Anna membawa berbagai roti dan dessert kesukaan ibunya yang sempat ia buat bersama Eliza tadi. Anna memasuki pekarangan rumahnya yang nampak sepi, terlihat dari lampu rumah yang tidak menyala.
__ADS_1
“Anna,” panggil seseorang dari belakang.
Anna menoleh, seketika senyum Anna mengembang sembari berlari memeluk wanita yang dirindukannya. “Ibu, apa kabar?”
Mara memeluk Anna erat seolah menyalurkan rasa cinta dan rindunya di sana. Mara meringis pelan saat mengingat gadis yang di peluknya ini adalah gadis kecil yang rapuh dan penuh luka. “Ibu baik sayang, bagaimana dengan kabarmu? Apa Leon tidak menyakitimu?”
Anna terdiam mendengar perkataan Ibunya. “Leon baik Bu, hanya saja dia sedikit cuek.”
Mara terkekeh pelan. “Itu biasa, namanya juga perjodohan pasti ada lika-likunya.”
Anna dan Mara tengah duduk di ruang tengah ditemani secangkir teh hangat. Mara sangat senang dengan kedatangan Nona kecilnya yang sudah berpisah selama satu bulan lamanya, Mara hanya berharap Nona kecilnya bahagia bersama kehidupan barunya meskipun dirinya ragu untuk percaya kepada Leon.
“Melihat tempat wisata indah itu membuat aku mengingat mereka, ibu.” Anna menatap layar televisi yang menayangkan keindahan wisata lautan. Melihat tempat itu membuat otak Anna berputar pada masa lalu, dimana tempat itu adalah tempat yang paling dia benci.
Mara mengelus hangat rambut Anna, Mara sudah menganggap Anna sebagai putrinya sendiri. Bagi Mara, Anna adalah permata biru yang harus dia jaga, Anna adalah kekuatannya, Anna adalah pengobat rindunya terhadap Nyonya besar yang menolong hidupnya. Selain memilki tanggungjawab untuk menjaga Anna, Mara juga memiliki tanggungjawab untuk menunjuk jalan dalam misi Anna.
“Aku merindukan mereka Bu. Dia jahat! Aku membenci dia, dia yang meledakkan kapal itu. Kapan aku membalas mereka Ibu? Aku ingin Mama dan Papaku tenang di sana.”
“Tunggulah sampai waktunya tiba sayang.”
***
__ADS_1
Setelah mampir ke rumah Ibunya tadi sore. Anna kembali ke mansion Leon meskipun ada keraguan di hatinya, mengingat insiden tadi pagi membuatnya sedikit bersalah karena bertingkah kekanakan menurutnya. Seharusnya Anna sadar, dia hanya istri kontra tidak lebih. Seharusnya Anna tahu posisinya seperti apa meskipun dirinya menentang posisi itu, Anna memilih mengalah untuk menyelesaikan semuanya, karena sampai kapanpun Leon tidak sudi untuk mengakuinya bahkan menganggap dirinya istri yang utuh.
Anna membuka pintu perlahan, manik matanya menatap ruang gelap disekitarnya. Tumben Leon mematikan lampunya, biasanya selalu menyala walaupun sudah larut malam karena lampu di ruang tengah jarang dimatikan.
“Berhenti!” Anna langsung menghentikan langkahnya.
Suara derap langkah kian mendekatinya dalam suasana gelap. Bulu kuduk Anna berdiri seiring derap langkah itu kian mendekat, Anna menutup matanya erat tak ingin melihat siapa sosok itu.
“Buka mata lo!” titah Leon sedikit keras.
Sontak Anna langsung membuka matanya, matanya mengedip pelan menatap ruang bercahaya, kemudian dirinya melihat Leon yang berdiri tak jauh darinya. “Leon?”
Leon berjalan mendekati Anna, tangannya terkepal erat dengan tangan sebelahnya menggenggam sesuatu di sana. “Jelasin apa ini!”
Leon menyodorkan kotak berisi kalung bunga matahari milik Anna. Anna menatap kotak itu terkejut, bagaimana Leon menemukan kalung itu padahal Anna sudah menyembunyikannya, lagipula buat apa Leon mengambilnya.
“Kalung,” ujar Anna sambil menunduk.
“Ya ini kalung! Tapi lo dapet darimana kalung ini?” tanya Leon mendesak Anna. Bukan apanya Leon bertanya, tapi kalung ini sangatlah langka untuk dibeli dan hanya beberapa orang memilikinya termasuk Princess-nya.
“Lo siapa?” tanya Leon.
__ADS_1
“Gak mungkin--” melihat gaya bicara Anna waktu itu membuat Leon menduga bahwa dia ... tidak mungkin.