Isteri Kontrak Tuan Kejam

Isteri Kontrak Tuan Kejam
Bab 23


__ADS_3

“That is why all the girls in town


Follow you all around


Just me like, they long to be


Close to you.”


Ekhem!


Atensi semua orang beralih pada Leon. Leon melonggarkan dasinya guna menghindari tatapan semua orang padanya. Anna terkekeh pelan melihat Leon yang memelototinya.


Lyssa yang sedari tadi diam memperhatikan seketika menoleh pada Leon. Lyssa tersenyum miring, Lyssa tahu kalau putranya itu cemburu pada laki-laki yang bernyanyi di sana.


“Lihatlah laki-laki itu, dia terlalu menawan untuk dipandang.” Lyssa sengaja mengatakan itu untuk menguji Leon, dan benar saja Leon langsung merubah ekspresi wajahnya.


Di atas pahanya tangan Leon terkepal kuat, mata tajamnya masih setia menatap Kenzo yang berdiri di sana. Jika dibandingkan dengannya, Kenzo tentu kalah jauh darinya. Dirinya sangatlah tampan, lihatlah Anna sendiri sampai takluk padanya.


“Cih!” Leon berdecih pelan sembari memalingkan wajahnya.


“Dia sangat tampan bukan?” lagi-lagi Lyssa menggoda Leon, putranya itu selalu kesal ketika dirinya memuji orang lain yang lebih dari dirinya.


Anna melihat kembali Kenzo, laki-laki jangkung itu masih setia memandangnya dari jauh. Sudah dia katakan, jika Anna adalah objek lukisan hidupnya. Anna itu penuh misteri, apalagi saat dirinya tersenyum seperti terlihat luka yang tertutupi.


Terkadang seseorang menyembunyikan lukanya untuk menghindari perhatian orang lain. Terkadang pula mereka diam hanya untuk tidak dicurigai, si pemilik luka selalu memendamnya ketika dia tidak memiliki seseorang yang dia percaya.


“Bahkan kemampuannya melebihi putra kita, aku sangat memuji kepintaran pemuda itu dalam bernyanyi.” Kendrick tersenyum remeh sembari mengangkat satu alisnya menantang Leon.


Leon mendengus kesal melihatnya. Leon semakin dibuat dendam akan drama Kenzo sialan itu! Menurut Leon, Kenzo hanya sekedar caper untuk mendapatkan perhatian dari Anna. Sebenarnya Leon penasaran akan hubungan mereka, apakah hubungan mereka sama seperti dirinya dan Isha?


“Pasti gadis itu beruntung mempunyai pasangan yang romantis seperti dia, dari judul lagunya saja sudah membuktikan kalau dia begitu mencintai gadis yang dimaksudnya tadi,” ujar Isha sembari menatap lekat Anna. Ini adalah suasana yang pas untuk menghancurkan hubungan Anna dan Leon, meskipun sebatas sepupu tapi hubungan mereka cukup membuat Isha iri.

__ADS_1


Gagang sendok di tangan Leon menjadi bengkok akibat cengkraman Leon yang begitu kuat, itu cukup menjadi bukti jika suasana hati Leon sedang panas. “Ya, gadis itu pasti beruntung. Tapi sayang, sebelum mereka bersatu akan ada badai yang menerjang mereka.” Leon menancapkan garpu pada steak di piringnya.


Tatapan tajam Leon sangat menghunus Anna. Anna menundukkan kepalanya, tatapan tajam itu persis seperti dia yang telah meninggalkannya. Tatapan tajam Leon membuat Anna bergidik, untuk sekarang Leon mirip seperti singa yang mengincar mangsanya.


“Tapi, setelah ada badai pasti akan ada pelangi yang bersinar.” Anna mengangkat kepalanya lalu tersenyum tipis. Anna tahu badai yang dimaksud Leon itu adalah dirinya sendiri, Anna tidak akan membiarkan badai itu menyentuhnya.


Leon semakin dibuat tertantang dengan perkataan Anna, Leon menyunggingkan senyumnya sambil memutari sendok bengkok di tangannya. “Badai tidak akan berhenti sebelum targetnya musnah!”


Tanpa disadari, pertengkaran mereka dijadikan kesempatan oleh seseorang yang tengah mengatur siasat liciknya. Tangan putih itu terulur memasukan serbuk ke dalam cangkir minuman di atas mejanya. Bibirnya terangkat membentuk senyum licik di sana, tangan kirinya memutar ke belakang memberi kode pada seseorang.


“Cukup! Kita ke sini untuk bersenang-senang bukan untuk berdebat, berhentilah bertingkah Leonard!” tegur Lyssa menengahi.


Leon tersenyum miring sembari mengangkat satu alisnya menantang, Leon tertawa dalam hati melihat Anna yang kalah di bawahnya. Berurusan dengannya sama dengan menggali kuburannya sendiri, Leon adalah pistol sekaligus peluru yang bisa memburu siapa saja.


“Iya Leon, sedari tadi kamu terus adu mulut bersama sepupumu itu. Lihatlah makanan ini sudah dingin gara-gara perdebatan kalian!” Isha mengerucutkan bibirnya menatap Leon.


Leon mencubit bibir itu lembut, tangannya terulur mengelus sayang rambut Isha. Melihat perlakuan Leon pada Isha kembuat Anna iri, Anna ingin diperhatikan seperti Isha, Anna ingin disayang seperti Isha, Anna juga ingin dijadikan prioritas yang dimana hanya dirinyalah yang terpenting. Tapi semua itu hanyalah angan belaka, keinginannya tidak akan pernah terjadi kecuali takdir sendiri yang merubah alur mereka.


Mata Isha spontan menatap Lyssa, keningnya mengkerut membuat rasa bingung di sana, kemudian tatapannya teralih menatap Leon di sampingnya. “Istri? Kamu sudah menikah?!”


Leon menatap kesal Mamanya. “Tidak! Maksud Mama, aku harus belajar memperhatikan istriku nanti.” Jawaban Leon membuat Anna tersenyum miris.


“Oh begitu, aku kira kamu beneran sudah menikah. Jika benar, kamu jahat!” diam-diam Isha tersenyum remeh pada Anna, satu poin sudah ia dapatkan.


Makan malam dengan di dominasi keheningan itu akhirnya terselesaikan, tidak ada yang spesial dalam acara itu selain drama dan siasat yang masing-masing susun dalam hati, termasuk dia.


“Leon ayo kita dansa,” ajak Isha sembari menarik tangan Leon.


Anna melihat tangan Leon yang digenggam Isha, Anna seperti membayangkan jika dirinya berada diposisi Isha pasti akan senang. Anna juga dapat merasakan bagaimana diprioritaskan oleh seorang Leon, tapi lagi-lagi itu hanyalah khayalan belaka.


“Ayo Leon,” ajak Isha lagi.

__ADS_1


Leon menatap bergantian Lyssa dan Anna. Dirinya ingin menolak, tapi tidak tega dengan keantusiasan Isha. Leon menatap mereka seolah meminta solusi. “Ini udah malam Sha, lain kali ya?”


Isha melepas pegangannya langsung, kemudian dia mengatupkan kedua tangannya. “Please!”


“Iyakan saja Leon, Mama tidak ingin melihatnya merengek pada Ibunya yang berakhir mengadu pada kita. Mama sudah bosan mendengar pengaduan mereka.” Lyssa mengambil tas kecilnya.


“Anna akan pulang bersama kami,” lanjut Lyssa sembari menggandeng tangan Anna.


Leon menggeleng melihat Lyssa yang membawa Anna. “Nggak! Anna pulang sama aku!”


Lyssa memelototi Leon, tangannya melepas kasar tangan Leon di lengan Anna. “Tidak bisa!”


Terjadilah saling tarik menarik diantara mereka. Anna dibuat pusing dengan tingkah Ibu dan anak ini, Anna menghempas tangan mereka kasar. “Sudah! Aku akan pulang bersama Leon, Mama pulang saja, aku gak papa di sini.”


Leon tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Lyssa menatap kesal putra semata wayangnya. Lyssa hanya khawatir saja dengan kondisi Anna, melihat Anna yang sabar menghadapi sikap Leon membuat Lyssa khawatir padanya. Lyssa takut jika kesabaran Anna dimanfaatkan dan berakhir membuat dirinya terluka, karena seseorang yang berhati licik mampu memanfaatkan siapapun untuk mencapai tujuannya.


“Jauhi dia, dia sangat berbahaya terutama si Burung beo peniru. Suara itu adalah ciri dirinya, kamu harus berhati-hati, jagalah dirimu, Mama akan selalu mengawasi mu dari jauh.” Lyssa membisik pelan di telinga Anna.


“Aku mengerti!”


***


Layar monitor itu terus menunjukkan garis-garis membentuk rumput. Suara ventilator terus berbunyi seiring setetes kehidupan yang dialirkan padanya. Tangan kokohnya dengan urat-urat yang menonjol membuat dirinya tak terlihat tua, rambut pirangnya kian memanjang seiring berapa lama dia menempati tempat ini. Kulit putihnya yang pucat membuat siapa saja ngilu melihatnya, matanya yang senantiasa tertutup tanpa membukanya yang masih asyik dengan dunia mimpinya.


“Kapan anda akan sadar Tuan? Lihatlah dia sudah besar, dia tumbuh persis seperti istrimu. Parasnya sangat menawan bagai Dewi laut yang anda sebutkan, lihatlah bagaimana dia tumbuh Tuan, lihatlah bagaimana dia tumbuh berjuang sendirian. Apa anda tidak kasihan melihatnya?”


Pria berjas itu terus memandang pria paruh baya yang masih setia memejamkan matanya. Nafasnya menghembus kasar seiring melihat perkembangan pria di depannya, tangannya terulur mengusap peluhnya yang membasahi keningnya.


“Sudah bertahun-tahun, tapi tidak ada perkembangan apapun.” Pria itu menghela nafas lelah. Sudah bertahun-tahun dia menetap di Rumah sakit ini, tapi tidak ada perkembangan apapun selain suara nafasnya saja.


Tanpa disadarinya, tangan pucat itu bergerak pelan, matanya memaksa untuk terbuka sehingga cahaya menerobos kelopak matanya, dan pada akhirnya kelopak itu tertutup kembali.

__ADS_1


“Shyna ... Syhna ...,” saking pelannya suara itu sampai pria di sampingnya pun tidak dapat mendengarnya.


__ADS_2