
Leon tersenyum melihat Anna yang tertidur dalam pelukannya. Leon bahagia Anna berada disisinya, Leon bahagia mengetahui Princess-nya adalah Anna dengan begitu dia bisa memperbaiki hubungan mereka. Leon berharap Anna memaafkannya, Leon berharap Anna masih mau menerimanya setelah semua sikapnya yang selalu menyakitinya.
“Gue mau lo tetep ada di samping gue, Na. Gue mau bangun kebahagiaan bersama lo dan anak-anak kita nanti, gue harap hubungan kita gak akan renggang lagi.” Leon mengelus sayang rambut panjang Anna.
“Gue juga merasakan penderitaan lo, Na. Gue juga tahu rasanya ditinggalkan, sekali lagi gue minta maaf sama lo. Gue bener-bener cinta sama lo Princess, gue mau kita bahagia lagi seperti dulu.” Leon mengusap sudut matanya yang berair.
“Ayo kita pergi Na, gue akan bawa lo ke tempat dimana hanya ada kebahagiaan. Gue bosen liat lo nangis terus tiap hari, gue mau tebus semua kesalahan gue selama ini.”
“Gue kau kita bahagia sampai takdir memisahkan kita oleh kematian. Ayo kita bahagia bersama, menua bersama sampai kita punya cucu-cucu lucu. Gue udah nunggu moment itu dari lama, gue cuman mau lo bahagia Princess ....”
Leon terus berbicara sambil memeluk Anna erat, Leon seolah tidak ingin melepaskan Anna. Leon seolah tidak membiarkan Anna pergi selangkah pun darinya, Leon seolah menjadi egois setelah mengetahui Anna adalah Princess-nya.
“Mmhh ... Leon?” lenguh Anna yang menggeliat dalam pelukan Leon.
Leon menepuk-nepuk pelan punggung Anna. Leon masih nyaman dengan posisi ini, Leon akan membiarkan kembali Anna tertidur tanpa bergeser dari tubuhnya. “Tidur lagi Na,”
Anna tidak memejamkan matanya kembali, dia malah menatap wajah Leon intens. Tangan Anna terdorong untuk menelusuri wajah itu dengan jari telunjuknya, sampai pada bibir Leon Anna menjauhkan tangannya.
“Kenapa?” tanya Leon sambil menarik tangan Anna kembali. “Gak papa terusin aja, cium pun juga gak papa.” Leon terkekeh melihat wajah Anna yang memerah.
“Mesum!”
“Mesum sama istri sendiri gak papa, 'kan?” Leon menaik-turunkan kedua alisnya menggoda.
Anna memukul bahu Leon pelan. “Ini masih pagi Leon.”
“Berarti kalo malam baru boleh?” tanya Leon semakin menggoda Anna.
Melihat Anna tertawa membuat hati Leon menghangat, dari yang semula dingin sekarang hangat sehangat sinar matahari, dan dialah Annabeth mataharinya.
“Gak gitu juga Leon,” Anna menyingkirkan tangan Leon yang masuk ke dalam gaun tidurnya.
“Nolak suami itu dosa! Semua ini milik gue!” Leon menyingkap gaun tidur Anna ke atas, kemudian membuka kaitan bra-nya di belakang.
“Leon!” sentak Anna sambil menyingkirkan tangan Leon di punggungnya.
“Biasa aja, lagian gue udah liat semuanya,” ujar Leon santai membuat Anna mendengus kesal.
Leon melancarkan aksinya di pagi buta ini. Anna tak habis pikir dengan Leon, tapi Anna bahagia sekarang kesalahpahaman diantara mereka sudah selesai.
“Kwamu pwasti udah tahu ya dwari Mama?” tanya Leon yang masih asyik dengan kegiatannya.
__ADS_1
Anna melenguh pelan, Anna berusaha untuk menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. “Sshh ... Ya, aku tahu dari Mama.”
“Maaf Leon, maaf karena tidak aku tidak mau dengar penjelasan mu. Sshh ... Aku terbawa emosi waktu itu, aku harap kamu mau memaafkanku.” Anna mengigit bibir bawahnya menahan rasa geli di dadanya.
“Gue udah mwaafin lo dwari kemwarin.” Leon sedikit bermain di sana yang membuat Anna melenguh meresponnya.
“Udah Leon nanti kamu kesiangan, sebentar lagi gerbang sekolah ditutup.” Anna berusaha untuk menyingkirkan kepala Leon, tapi pria itu malah memeluknya erat.
Anna hanya bisa pasrah, mungkin dia akan kesiangan hari ini.
Setelah beberapa menit Leon menyudahi aktivitasnya, Leon tersenyum senang melihat Anna yang kesal padanya. “Masih kurang ya? Janji deh, nanti malam gue kelonin lagi. Gue juga masih kurang, padahal asyik mainnya ada suara-suara gitu.”
Anna baru sadar ternyata Leon semesum itu. Anna menggeplak lengan Leon kuat membuat Leon meringis dibuatnya. Anna memakai kembali gaun tidurnya, kemudian mengambil seragamnya.
“Bra lo gak dibawa?” tanya Leon sembari mengangkat tinggi-tinggi bra Anna di tangannya.
Wajah Anna semakin memerah melihat tingkah Leon, lantas Anna cepat mengambil benda privasinya dari tangan Leon. “Kembalikan Leon!”
“Gak sebelum lo cium gue!”
“Please Leon, ini udah siang.”
“Kembalikan Leon, jangan bercanda.” Bukan apanya, Anna tidak ingin benda privasinya itu dijadikan bahan ejekan oleh Leon. Anna sudah tahu setengil apa sikap Leon saat diluar.
“Gak! Sebelum lo cium gue!”
Anna mendesah pasrah, daripada masalahnya lebih panjang dan memakan waktu, lebih baik Anna menuruti keinginan Leon itu. Anna mencium pipi Leon sebentar, kemudian tangannya berusaha mengambil bra-nya di tangan Leon tetapi dia malah menjauhkannya.
“Udah, 'kan?” tanya Anna mengernyit heran.
Leon mengerucutkan bibirnya, lalu tangannya menunjuk bibirnya. “Maunya di sini sayang!”
“Sama saja Leon! Berhentilah bertingkah, dan berikan itu padaku.” Leon menyembunyikan benda itu ke belakang tubuhnya.
“Cium dulu sayang.”
“Tadi udah Leon.”
“Bukan di sana sayang, tapi di sini.” Leon menyentuh bibirnya sendiri.
Dengan malas Anna mendekatkan wajahnya. Bibir mereka menempel, saat Anna akan menjauhkan wajahnya Leon malah menahan tengkuknya.
__ADS_1
“Sshh ... Sudah Leon,”
Leon semakin menahan kepala Anna, tangannya meraba-raba punggung Anna. Anna melenguh pelan, rasanya seperti aneh tapi ... Menyenangkan.
***
Dua bulan sudah berlalu. Pernikahan mereka sudah mulai memiliki kemajuan, dimulai dari sikap Leon yang mulai berubah pada Anna. Mereka mulai menjalani pernikahan ini dengan ikhlas, mungkin ini adalah yang direncanakan takdir untuk hubungan mereka berdua.
Hidup bahagia bersama Princess-nya itu adalah tujuan Leon dulu, sekarang tujuan itu sedang Leon jalani untuk mencapai puncak kebahagiaan mereka. Leon bahagia karena Anna sudah memaafkannya, dan Leon senang karena menerima segala kekurangannya.
Berbeda dengan Anna. Gadis bermata biru itu semakin kesini semakin gelisah, mengenai misinya untuk merebut segitiga biru itu harus tertunda pasalnya Anna tidak mau Leon curiga. Anna belum menceritakan tujuannya, Anna juga belum menceritakan tentang pembantaian terhadap keluarganya beberapa tahun lalu. Anna memiliki alasan kenapa ia belum memberitahukannya pada Leon, Anna juga masih memiliki misi untuk mencaritahu apa yang terjadi pada Leon beberapa tahun lalu. Menurut penjelasan Lyssa ibu mertuanya, kecelakaan Leon itu seperti disengaja, dan Anna tengah mencaritahu masalah itu.
“Bintangnya indah, tapi lebih indah wajah lo!”
Leon dan Anna tengah berbaring di taman belakang sambil melihat bintang. Tidak ada angin ataupun hujan, Leon tiba-tiba meminta Anna untuk melihat bintang bersamanya malam ini. Anna hanya menuruti keinginan Leon tanpa alasan.
“Dulu hati gue segelap ini, tapi sekarang hati gue udah secerah rembulan itu.” Leon menunjuk bulan yang bersinar di atasnya.
Anna hanya tersenyum sambil mendengarkan setiap cerita Leon, untuk sesaat Anna terdiam sedih. Apa dia akan selamanya bersama Leon seperti sekarang? Anna tidak tahu misi ini kapan selesai, yang pasti misi ini sangat mempertaruhkan nyawanya. Anna belum siap untuk meninggalkan Leon lagi.
“Leon?”
“Hmm?”
“Kalau aku pergi, kamu jangan sedih ya?”
Sekarang atensi Leon tertuju sepenuhnya pada Anna. “Kenapa lo tiba-tiba ngomong kayak gitu? Lo mau tinggalin gue gitu?”
“Bukan begitu, tapi kita tidak tahu rencana takdir seperti apa. Bisa jadi kita dipisahkan oleh kematian dan kita tidak bisa menolaknya Leon.”
“Gampang! Lo mati, gue pun ikut mati. Lo pergi, gue pun ikut pergi. Gue akan tetap ikutin lo kemanapun lo pergi, gue gak akan pernah tinggalin lo, gue akan terus ada disisi lo sampai kapanpun.” Leon menggenggam tangan Anna erat.
Mereka tidak tahu rencana takdir, takdir itu unik. Takdir bisa membuat siapapun terdiam, takdir mampu membuat seseorang berubah, takdir mampu membuat siapa saja berhenti untuk memikirkan apa itu kehidupan.
“Tapi, jika itu terjadi. Aku ingin kamu melanjutkan hidupmu Leon, aku ingin melihatmu bahagia.”
“Gue bahagia kalo hidup bersama lo. Lo ngomong apa sih? Kita lagi nikmatin moment langka, lo jangan rusak moment kita dong. Kapan-kapan lagi kita liat beginian?!” Leon membawa Anna ke dalam pelukannya.
Anna mengusap sudut matanya yang berair. Anna tidak bisa membayangkan bagaimana Leon hidup tanpa dirinya, Anna berharap misi ini cepat selesai dan dia bisa bahagia bersama cintanya.
“Maaf Leon, aku akan tetap pergi, jika tidak kau akan mati Leon.”
__ADS_1