
“Shyna ... Syhna ...,” saking pelannya suara itu sampai pria di sampingnya pun tidak dapat mendengarnya.
“Cepatlah sadar Tuan besar, aku tidak sabar untuk menemui istriku.” Pria itu menggulung lengan kemejanya kemudia pergi dari ruangan tersebut.
Ruang ini tampak sunyi selain suara-suara alat medis di sana. Tempat ini bagai kutukan bagi siapa saja, seseorang tidak ingin mencapai tempat ini kecuali takdir sendiri yang mendorongnya. Kekuatan takdir itu nyata, mereka yang baik-baik saja bisa masuk ke ruang ini dan berakhir di sini. Ruang ini adalah ruang dimana dilahirkan sebuah kehidupan, dan tempat akhir sebuah kehidupan.
You will experience it, if you are lucky then your life will go on, and if fate hurts you then your life will end there, that's the explanation.
***
Tangan Isha berpaut erat dengan tangan Leon. Tangan Leon merangkul mesra pinggang Isha, mereka dengan berdansa bersama para pasangan lainnya.
“Seandainya kita memilki hubungan sama seperti mereka, aku akan sangat senang menantikannya.” Isha menari mengiringi alunan musik romantis yang diputar. Tangan sebelahnya membelai pelan pipi Leon.
Anna hanya menundukkan kepalanya tak ingin melihat pemandangan itu yang membuat hatinya terluka. Anna dipaksa hadir dalam situasi ini, karena memang inilah sebenarnya posisi Anna.
“Lo belum pulang?” tanya Kenzo sembari duduk di samping Anna.
Anna terkejut dengan kehadiran Kenzo di sampingnya. Anna kira Kenzo sudah pulang dari tadi mengingat penampilannya sudah berakhir sebelum acara makan malam tadi. Anna sedikit menggeser tubhnya menjauh dari Kenzo.
“Nungguin Leon ya?” tanya Kenzo lagi.
Anna hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Kenzo. Kenzo terkekeh geli melihat sikap Anna yang feminim, tapi Kenzo menyukai topeng Anna yang sekarang. “Gugup ya? Santai aja, gue gak akan karungin lo.”
Anna sedikit menurunkan dress bawahnya agar menutupi pahanya, Anna sangat tidak nyaman apalagi Kenzo terus memandangnya. Melihat kelakuan Anna membuat Kenzo tersenyum, Kenzo melepas jaketnya lalu menutupi paha Anna yang terekspos.
“Thanks!” ujar Anna sembari membenarkan letak jaket Kenzo di pahanya.
Kenzo hanya mengangguk, lalu pandangannya mengarah pada dua sejoli yang tengah dansa di sana. Kenze tersenyum penuh kemenangan sembari menatap Leon. “Loser!”
__ADS_1
Melihat gerakan bibir Kenzo membuat darah Leon mendidih. Sedari tadi Leon terus memperhatikan Anna hingga saat ini, melihat interaksi Anna dan Kenzo membuat tangan Leon terkepal ingin meninju wajah penipu Kenzo.
“Kalau kita menikah, aku ingin nama anak kita sama seperti dirimu. Jika dia perempuan, dia harus cantik seperti diriku.” Isha terus berceloteh sembari menari, hatinya bersorak senang bisa berada diposisi ingin seperti ini bersama Leon.
Leon tak menghiraukan perkataan Isha, tatapannya masih mengunci interaksi Anna dan Kenzo yang membuat dirinya naik pitam. Di tempat terbuka seperti ini, berani-beraninya Anna berdekatan dengan Kenzo padahal jelas diantara mereka tidak boleh ada yang berhubungan.
“Aku pulang sama Leon, Ken.” Anna menolak halus akan Kenzo, sebenarnya Anna ingin pulang bersamanya karena ingin menghindari Leon, Anna sudah menduga jika Leon akan mengantarkan Isha pulang dan pasti akan satu mobil dengannya. Tapi mengingat perkataan Leon sebelum datang ke sini membuat Anna mengurungkan niatnya, apalagi mengingat isi kontraknya dengan Leon.
“Sama Leon? Sebenarnya lo sama dia ada hubungan apa?” tanya Kenzo penasaran.
Anna gelagapan mendengarnya. “Aku ... Aku sama Leon sepupuan, kami tinggal di Apartemen yang sama.” Anna meremas jaket di pahanya, Anna berdoa semoga Kenzo tidak curiga padanya.
“Berarti saat gue anterin lo waktu itu, itu rumah sepupu lo?” tanya Kenzo, memang pada waktu Anna dan Leon baru menikah Kenzo sempat mengantar Anna pulang.
Anna merutuki kebodohannya waktu itu, Anna menyesal karena kebodohannya membuat situasinya terancam. Jika Kenzo tahu itu adalah rumahnya denga Leon, bisa saja semua rahasianya terbongkar. “Iya!”
“Mau dong gue kenalan sama sepupu lo,” goda Kenzo sembari memasang mimik wajah tengil.
“Iya, tapi gue penasaran sama dia dan pengen kenal lebih jauh gitu,” jelas Kenzo yang sesekali menatap Leon di sana.
Leon semakin geram dengan Kenzo, ternyata Kenzo diluar dugaannya. Dalam waktu singkat saja Kenzo mampu mengambil atensi Anna, tadinya Leon ingin memperlihatkan kemesraannya dengan Isha agar membuktikan jika pernikahan mereka itu palsu, dan menyakitkan. Leon ingin Anna merasakan sakit saat dia terluka melihat dirinya bermesraan dengan Isha, tapi rencananya gagal akibat ulah Kenzo si buruk rupa itu.
“Apalagi kalau anak kita bermata biru.” Sekarang atensi Leon mengarah pada Isha, mendengar kata biru membuat Leon mengingat Princess-nya. Leon merasa mengkhianatinya dengan adanya hubungan pernikahannya dengan Anna. Leon merasa dia melanggar janjinya untuk tetap hidup bersamanya di Distrik yang penuh cinta.
“Kenapa Leon? Apa kau mengingatnya lagi?” Isha berpura-pura memasang ekspresi khawatir, karena sebenarnya Isha memoerhatikan Leon sedari tadi. Isha sengaja menyinggung gadis bermata biru itu untuk mengalihkan atensi Leon dari Anna.
Isha takut jika tatapan kebencian Leon mampu membongkar segalanya, karena perbedaan benci dan cinta itu sangatlah tipis.
Leon menatap lekat Isha, tangannya mempererat rangkulannya di pinggang Isha. “Tidak!”
__ADS_1
Isha tersenyum tipis, Isha tahu Leon berbohong tapi biarlah yang penting gadis itu tidak menggangu waktunya dengan Leon. “Satu!”
“Dua!”
“Kau sedang menghitung apa?” tanya Leon.
“Tiga!” Isha menyunggingkan senyumnya melihat Leon yang memegang kepalanya, recananya berhasil.
“Sshhh ....” Leon memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri, dia melonggarkan dasinya lalu mengatur nafasnya yang memburu. Leon memundurkan langkahnya, pandangannya berkunang-kunang dan seolah tempat ini berputar.
“Kamu kenapa Leon?” tanya Isha. Isha merangkul tubuh Leon dan membawanya.
Kenzo yang melihat Isha pergi membawa Leon langsung pamit kepada Anna. “Gue ke sana bentar, lo tunggu di sini.”
Anna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Alis Anna terangkat saat tidak melihat keberadaan Leon dan Isha di depan sana, Anna celingak-celinguk mencari keberadaan mereka berdua. Apakah dirinya ditinggal? Anna memutuskan untuk mencari mereka.
Anna terus mencari mereka di setiap sudut ruangan, bahkan Anna bertanya kepada para pegawai di sana. Anna mengambil kesimpulan jika dirinya memang ditinggal, sungguh tega mereka meninggalkan dirinya yang setia menunggu mereka sedari tadi.
“Tidak hanya dunia yang kejam, manusia pun juga sama sepertinya.” Anna menendang-nendang kasar udara sambil menggerutu pelan, Anna sungguh kesal dengan kesialan yang menimpa hidupnya.
Saat Anna melewati toilet, Anna seperti mendengar suara samar dari sana. Karena rasa penasarannya tinggi, perlahan Anna menempelkan telinganya di depan pintu.
“Leonhh ....”
Anna menutup mulutnya tak percaya, Anna mencoba berpikir positif jika di dalam sana bukan Leon suaminya, dengan rasa penasarannya Anna mengintip dari lubang kunci pintu.
“Pelan-pelan Leonhh ... Sshh ....”
Anna menyandarkan punggungnya lemas, dress itu sama seperti yang dikenakan Isha, kecil kemungkinan jika di dalam toilet itu bukanlah Leon. Lagi-lagi Anna harus merasakan sakit ini, Leon berhasil menyiksanya dengan hubungan mereka yang beralaskan kepalsuan.
__ADS_1
“Kamu menang Leon.”
_“Dia bukan dia.” Sosok hitam dibalik tembok itu memperhatikan Anna, tangannya memegang erat sebuah suntikan lalu membuangnya ke tempat sampah.