
“Kamu dimana sayang?”
“ ........... ”
“Ini misi pertamamu jadi, berhati-hatilah!” peringat wanita itu dari sebrang telepon. Wanita tersenyum penuh arti mendengar penjelasan dia, tangannya asyik menggilir layar tab miliknya.
“ .......... ”
“Mama percaya padamu, berhati-hatilah dalam melancarkan rencana mu, hubungi Mama jika kamu butuh bantuan. Mama akan memantau kamu dari sini, jangan pernah merasa sendirian.”
“ .......... ”
Wanita itu tersenyum hangat. “Ya, dan lokasinya berada di hutan Pinus sebelah selatan, jaraknya sekitar 5 km dari kamu berada,” ujar wanita itu sambil mengamati layar tab-nya.
“ .......... ”
“Berjanjilah pada Mama kalau kau akan membawa kabar keberhasilan mu bukan kabar dirimu terluka, Mama menunggu kabar itu sayang.” Senyumnya terukir membentuk kelicikan di sana.
Setelah menutup telponnya, wanita itu kembali mengecek berkas-berkas yang belum dia periksa. Tangannya aktif menekan keyboard dengan mata yang fokus pada laptopnya, senyumnya seketika terukir melihat deretan kata yang membuatnya senang.
“Kau salah besar Tuan. Kau terlalu bodoh untuk menyembunyikan rahasia, sehebat apapun bangkai tersembunyi pasti akan tercium juga. Tunggulah kehancuran mu sebentar lagi, beberapa bulan lagi aku memiliki kejutan untukmu.”
Sedangkan di lain tempat. Seseorang berhoodie hitam itu tersenyum miring melihat aksi di depan sana, tangannya sibuk menyalakan korek api sambil melumuri tanah dengan bensin. Orang itu juga mengunci setiap pintu lalu mulai melempar korek tersebut pada Gubuk di depannya, dan---
Dar!
---meledaklah Gubuk tersebut diiringi teriakan demi teriakan dari dalam sana, orang itu menurunkan kupluk hoodienya untuk menutupi kepalanya, kemudian melepas sarung tangannya dan memasukkannya pada kantung celananya. Orang itu tersenyum penuh kemenangan melihat kehancuran di depannya, ini belum seberapa dari beberapa kejutan lainnya. Bibirnya terangkat sinis melihat puing-puing Gubuk itu beterbangan, sebentar lagi akan ada berita menggemparkan.
“Kau bahkan lebih kejam dariku Tuan, kau berani meledakkan kapal mereka saat aku sendiri memergokimu tengah meletakkan bom di sana. Kau salah besar dengan meremehkanku, lihatlah gadis kecil ini sudah pandai menghancurkan mu.”
__ADS_1
Dia meniup telapak tangannya seolah membersihkan debu yang menempel di sana. Misinya telah selesai, dia harus menjalankan beberapa misi lagi untuk mencapai tujuannya. Ini tidaklah mudah, dia harus mengorbankan dirinya untuk melaksanakan misi ini, tapi tidak apa-apa karena ini adalah tujuannya.
“Tunggu aku datang, Tuan Rexton.”
\*\*\*
Penolakan, kata itu sering menjadi bumerang saat kita akan melaksanakan tujuan bukan? Terkadang kata itu yang membuat kita putus asa untuk mencapainya, apalagi saat kata itu diucapkan oleh orang terpenting dalam hidup kita.
Penolakan untuk dihargai, penolakan untuk diakui, penolakan untuk dipercayai, dan penolakan untuk dicintai. Setiap kalimat itu begitu menyakitkan saat didengar, itu tidaklah sepele, kalimat itu akan menjadi rasa sakit yang teramat sakit dalam hati. Terkadang sebagian orang berucap tanpa berpikir timbal baliknya, mereka menolak dengan tidak manusiawi membuat sebagian orang memilki dendam tersendiri.
Apa Kenzo harus seperti itu juga? Apa Kenzo harus membenci Anna yang telah menolaknya? Kenzo tidak tega melakukan itu, Kenzo sangatlah mencintai Anna melebihi dirinya sendiri. Penolakan Anna membuat hatinya sakit, tapi penolakan Anna sangat tidak berdasar, dia menolaknya dengan tidak disertai keseriusan. Lebih tepatnya Leon lah yang menolaknya, laki-laki berkedok sepupu Anna itu ternyata suami gadis yang dicintainya. Kenzo kasih tak percaya dengan kenyataan itu, entah itu benar atau tidak. Tapi tetap saja kenyataan itu begitu pahit baginya, jika itu benar adanya pasti hatinya jauh lebih hancur saat mendengar perkataan Leon tadi.
“Apa takdir yang tidak membiarkan kita bersatu? Apa karena dia yang lebih dulu mendapatkanmu, karena itu kau menolak ku. Aku tidak percaya jika memang itu alasannya, sebenarnya apa hubungan diantara kalian?” gumam Kenzo bertanya-tanya.
“Apa benar kalian suami istri? Jika memang benar, aku sungguh jauh dari harapanku. Aku tahu jika keinginanku bertentangan dengan misi Ayah, tapi perasaan ini sulit untuk terhapuskan, aku tidak bisa hidup tanpanya.” Kenzo menunduk sedih, apa benar sesungguhnya dia harus mengalami apa yang ditakutkaannya, tolong! Kenzo tidak sanggup untuk menghadapinya.
Kepalanya terangkat menatap keindahan di atas sana. Kecerahan langit di atas tidak secerah hatinya, kehangatan matahari di atas sana tidak sehangat hatinya yang dingin, keterangan cahaya di atas tidak seterang kehidupannya yang gelap. Seisi dunia ini sangat berbanding dengannya, dunia ini tidak mendukungnya, dunia ini terus mengambil kebahagiaannya termasuk kehidupan Ibunya.
Kenzo mengepalkan tangannya, dia merasa menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia ini. Kenzo merasa dirinya pecundang yang tidak bisa mendapatkan cintanya, Kenzo merasa dirinya tidak berguna untuk sekedar mengungkap cinta yang telah lama ia pendam.
“Apa ini jalan kalau gue harus fokus sama misi gue? Ya, gue emang harus fokus sama tujuan gue yang sebenarnya. Buat dia menderita, buat dia terluka dengan perasannya, dan buat dia mati secara perlahan.” Kenzo tersenyum bak setan, kelicikan Kenzo kembali tumbuh seiring perasaan yang tidak terkendali.
Jangan terlalu berlebihan Ken, ingat! Orang licik selalu kalah di akhir peperangan.
Karena tujuannya lebih penting dari perasannya. Tujuan ini tentang Bundanya, sang malaikat tercintanya. Kenzo akan berusaha mencapainya sampai dimana dia bertemu dengan Bundanya yang telah damai, penderitaan Bundanya harus terbalaskan, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan hidupnya untuk mementingkan perasannya saja, mereka juga membutuhkannya.
“Let's go honey!”
\*\*\*
__ADS_1
“Satu botol lagi!”
“Cukup Leon!”
“Satu botol lagi!”
“Cukup Leon! Jangan berikan dia minuman lagi, dia sudah menderita dengan meminum 5 botol saja!” peringat Isha pada pelayan Bar di depannya.
Leon menatap tajam Isha. Oh ayolah, dia hanya mencari ketenangan saja tidak lebih. Hatinya sedang kalut untuk mencerna kenyataan yang dia hadapi, Leon butuh ketenangan sesaat tanpa merusak dirinya sendiri apalagi menyakiti Princess-nya.
“Gue minta satu botol lagi! Lo budeg?!” teriak Leon membuat Pelayan itu teelonjak kaget.
“Jangan!”
Pelayan itu menatap bergantian Isha dan Leon, dia dilanda kebingungan untuk memilih. Disisi lain dia takut dengan pria yang bermakna singa itu, dan disisi lain dia takut dengan wanita di sebelahnya yang merupakan anak dari pemilik Bar ini.
“B E R I K A N!” Leon menekankan kata-katanya membuat Pelayan itu bergidik takut.
Isha menatap tajam pelayan itu. “Jika kau memberikannya, tidak ada kesempatan lagi untuk bekerja di sini,” ancam Isha sambil terus menatap pelayan itu tajam.
Leon tertawa, dia memandang wajah Isha dengan mata merahnya. “Lo mirip Princess gue Sha, tapi sayang dia udah gak ada.”
“Berhenti memikirkan dia Leon! Telingaku panas saat kau menyebut namanya, dia sudah mati! Kau tidak perlu memikirkannya lagi,” ujar Isha yang membuat Leon mencengkram pipinya.
Urat-urat tangannya terlihat begitu kentara memenuhi setiap jengkal di sana. Kemarahan Leon jelas terlihat, Leon paling benci pada orang yang menganggap Princess-nya sudah mati meskipun itu kenyataannya. Princess-nya itu hanya tertidur dan marah padanya, dia masih hidup dalam hatinya, Princess-nya tidak akan mati sekalipun mereka mengatakannya, karena Princess-nya selalu hidup dalam dirinya.
“Gue bisa berlaku lebih sama lo Sha, gue harap setelah peringatan kecil ini lo gak akan pernah lagi menyinggung Princess gue!” tegas Leon melepas cengkeramannya.
“Kamu menyakitiku Leon, kamu jahat!” lirih Isha sambil memegang kedua pipinya. Pujilah dia, dia memang aktris terkenal di setiap drama filmnya.
__ADS_1
“Lo lebih menyakiti gue, Sha!” Leon mengambil paksa botol minuman yang akan disembunyikan si pelayan, Leon terkekeh sinis melihat pelayan itu menunduk takut akan tatapan tajamnya.
Isha memberenggut sebal, ternyata ini tidak sesuai yang dia harapkan. Isha pikir Leon akan meminta maaf padanya, tapi diluar dugaan Leon malah membalas ucapannya. Isha.