Isteri Kontrak Tuan Kejam

Isteri Kontrak Tuan Kejam
Bab 6


__ADS_3

Anna dan Kenzo membungkuk pamit. Mereka memasuki sekolah tersebut, lingkungannya nampak sepi mungkin pembelajaran sudah dimulai. Anna berjalan pelan di samping Kenzo, hati Anna berdebar kuat, bagaimana jika nanti dia bertemu dengan Leon pasti Leon bertanya-tanya pada dirinya dengan sikap tadi di rumah.


“Ruang kepala sekolahnya dimana?” Anna merutuki dirinya yang tidak sempat bertanya pada satpam tadi.


“Cari aja dulu, siapa tahu ketemu kalo nggak ya, tanya sama orang-orang di sini,” ujar Kenzo memberi solusi.


Anna hanya menganggukkan kepalanya.


Bel istirahat telah berbunyi, semua murid berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing.


Anna sedikit berjalan ke pinggir, banyaknya murid yang melewatinya membuat Anna kesulitan. Tiba-tiba tangannya di genggam oleh Kenzo, Anna menatap Kenzo yang dibalas senyuman hangat olehnya.


“Ada gue.” Kenzo menarik Anna untuk berjalan ke pinggir karidor.


Desas-desus mulai terdengar di Indra pendengaran Anna. Anna tahu mereka tengah membicarakannya, Anna berusaha bersikap biasa saja saat melewati mereka.


_“Itukan murid SMA Garuda, ngapain mereka dateng ke sini? Yang di samping cewek itu, kan Kenzo?” pekik cewek itu histeris.


_“Iya Kenzo. Dilihat dari deket ternyata ganteng Kenzo gak kalah sama Leon. Aaa ... Demi apa ketemu Kenzo!”


“Ternyata gue populer juga Na,” bisik Kenzo di telinga Anna.


Anna memutar bola matanya jengah. “Narsis!”


_“Mau tanding basket kali sama Leon, makannya Kenzo dateng ke sini. Gak sabar pengen liat mereka tanding berdua pasti seru.”


_“Weh, yang di sampingnya cakep juga anjir!” pekik salah satu cowok di pinggir karidor.


Kenzo langsung melingkarkan tangannya posesif di pinggang Anna. Anna melihat tangan kekar Kenzo di pinggangnya, jujur Anna merasa canggung dengan Kenzo yang menyentuhnya.


“Milik gue!”


_“Ternyata pacarnya Kenzo, habis lo di gaplok sama dia. Lo sih kegatelan jadi cowok!”


_“Tuh cewek cakepnya gak main-main, pengen gue karungin dan kurung di kamar.”


Kenzo menatap tajam cowok itu, tatapannya bak elang yang tengah mengincar mangsanya.


_“Tatapannya nembus jantung anjir! Kabur woy kabur, gue gak mau mati muda.”


_“Aaa ... Mau dong di posesifin.”


_“Kak Kenzo tatapan mu nembus hati kecil aku, Kakak harus tanggungjawab.”


Anna tersenyum tipis. “Kamu harus tanggung jawab katanya.”


“Malesin, masih bocil juga!” Kenzo menggeleng pelan sambil melihat gadis kecil di pojokan sana.


Anna dan Kenzo sudah sampai di ruangan kepala sekolah, mereka segera masuk dan langsung di suguhkan dengan Leon yang duduk di sana bersama Isha. Ini yang Anna hindari, tapi kenapa harus terjadi juga.

__ADS_1


“Kalian telah melakukan hal yang tidak senonoh di lingkungan Sekolah Leon, Isha. Perbuatan kalian sangat tidak baik, kalian bisa kena skorsing.” Pak kepala sekolah itu berdiri di hadapan Leon dan Isha.


“Tapi itu tidak sengaja Pak,” jelas Isha dengan nada memelas.


“Berciuman di bekakang sekolah itu tidak sengaja?” tanya pak kepala sekolah.


Berciuman? Anna dibuat kaget lagi, ternyata kebiasaan mereka begitu kotor pikir Anna. Tidak di rumah, di sekolahpun jadi. Pikiran Anna sudah kotor dengan kegiatan Leon bersama Isha semalam, Anna semakin berpikir negatif tentang hubungan Leon dengan Isha.


“Tapi--”


“Permisi, mohon maaf mengganggu waktunya Pak. Saya dari SMA Garuda mendapat perintah untuk memberikan berjmkas ini kepada Bapak.” Anna memberikan berkas itu kepada Kepala sekolah. Anna tidak memperdulikan Leon yang terus menatapnya.


“Kamu Annabeth ketua OSIS itu?” tanya kepala sekolah.


Anna mengangguk sopan. “Iya Pak.”


“Sebelum kamu datang ke sini, kepala kesiswaan sekolah kamu menelpon saya memberitahu kamu yang datang ke sini. Sebentar saya cek dulu berkasnya.” Pak kepala sekolah itu mulai membuka lembar demi lembar berkas tersebut.


Leon terus menatap lekat, lalu matanya menatap sosok di belakang Anna yang tengah menyunggingkan senyumnya kepada dirinya. Leon berdecih pelan, ternyata lawannya ada di sini untuk bermain-main.


“Jangan pergi Leon, saya belum selesai.” Leon berdecak kesal lalu mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan panas ini.


Anna melirik Leon sebentar, Anna masih tidak menyangka dengan kelakuan Leon yang luar. Sepertinya Anna harus berhati-hati padanya, Anna tidak ingin mempersulit hidupnya lagi.


“Tahun ini kamu ikut Olimpiade lagi Annabeth?” tanya pak kepala sekolah.


“Iya Pak.”


Anna tersenyum canggung. “Ini berkat teman saya juga.” Anna menunjuk Kenzo di belakangnya.


“Ya, kalian berdua sangat pintar. Contohlah mereka Leon, Isha jangan hanya menebarkan hal kotor di sekolah ini.” Jelas pak kepala sekolah.


“Cih! Lebih baik saya menjadi orang bodoh daripada harus mencontoh mereka, tidak sudi!” sinis Leon sambil menatap Anna.


“Jaga sikap kamu Leon! Kamu tidak sadar, jika kamu tengah mempermalukan nama baik sekolah kita!”


Leon melipat tangannya di dada. “Saya tidak peduli!”


Kepala sekolah itu hanya bisa menghela nafas sabar. Menghadapi murid seperti Leon harus mempunyai stok sabar, selain pembangkang Leon juga selalu membuat onar.


“Ini,” Pak kepala sekolah menyodorkan berkas yang sudah ia tandatangani kepada Anna. Anna segera mengambil lalu pamit untuk keluar.


“Ini, berikan kepada orangtua kalian.” Beliau menyodorkan dua surat kepada Leon dan Isha.


Dengan malas Leon mengambilnya, kemudian pergi dari sana di susul Isha di belakangnya.


“Jadi ini pacar lo? Lumayan juga, ternyata selera cewek murah kayak lo tinggi juga!” Isha menghadang jalan Anna dan Kenzo.


“Lo mau-maunya sih pacaran sama dia, penampilannya cupu kayak gini, lo lagi cari ****** gratisan?” lanjut Isha sambil terus menghina Anna.

__ADS_1


“Lo!” Kenzo hendak menampar Isha, namun Anna menahannya.


“Jangan Ken. Isha, kita tidak saling mengenal tapi kamu seolah tahu sentang kehidupan aku, apa jangan-jangan kamu sendiri yang menjadi ****** gratisan?” Anna meniru kata-kata Isha. Anna tersenyum miring melihat Isha yang menahan kesal padanya.


Isha mengepalkan tangannya. Perkataan Anna sangat menohok dirinya, atau mungkin Anna sengaja menjelaskan kegiatan semalam dengan Leon. “Lo!”


“Jangan sentuh milik gue!” Kenzo mencekal tangan Isha yang akan menampar Anna.


Isha menepis kasar tangan Kenzo. “Lo dibayar berapa sama dia, bela-belain lo bela ****** ini, apa setiap hari dia serahin tubuhnya sama lo?” Isha tersenyum mengejek.


“Bukannya kamu sendiri? Kamu iri sama aku? Kasihan, kamu pasti kurang belaian dari pacar kamu?” perkataan Anna berhasil memancing amarah Isha.


“Ikut gue.” Leon menarik tangan Anna dan membawanya ke gudang sekolah.


Leon mengunci pintu itu lalu mendorong Anna hingga punggungnya terbentur ke dinding.


“Jadi, lo pacaran sama dia? Lo melanggar peraturan Anna dan lo harus dihukum.” Leon mencengkram kuat dagu Anna hingga membuat Anna meringis sakit.


“Lepas– Leon.” Anna memukuli tangan Leon yang mencengkram dagunya dan merambat ke pipinya.


“Lo gak ingat peraturan itu Anna, di situ tertulis bahwa pihak pertama maupun kedua dilarang berpacaran. Lo berani langgar peraturan itu, cewek genit?” Leon semakin mencengkram pipi Anna.


“A--ku gak pacaran sama Ken--zo Leon.” Air mata Anna luruh membasahi pipi mulusnya. Leon mengusap air mata itu lalu menjilatinya.


Anna semakin ketakutan melihat aksi Leon yang menyeramkan menurutnya. “Le--pas, Leon.”


Leon tersenyum miring lalu melepas cengkeramannya. “Lo munafik Anna!”


“Kamu gak sadar Leon, kamu sendiri melanggar peraturan itu.” Anna menatap Leon sinis.


Leon menaikkan satu alisnya. “Maksud lo?”


Anna terkekeh sinis. “Kamu lupa atau pura-pura lupa? Aku yakin kamu masih mengingatnya, semalam kamu berciuman bersama Isha di depan mataku sendiri.”


Leon menatap tajam Anna. “Lo nuduh gue untuk nutupin kesalahan lo?! Gue gak pernah ciuman sama Isha!”


“Jangan pura-pura Leon, itu sangat menjijikan.”


Mendengar kata menjijikan membuat amarah Leon naik. Leon kembali menyudutkan Anna, kemudian mencengkram lengan dan pinggang Anna.


“Lo keterlaluan Anna.” Leon berbisik di telinga Anna sambil menjilati lehernya.


Anna menggerakkan kepalanya menghindari perlakuan Leon padanya. Leon mencengkram tengkuk Anna lalu tangan sebelahnya mengusap paha Anna pelan.


“Leon ....” Anna berusaha menyingkirkan tangan Leon di pahanya, namun tidak bisa.


“Lo punya dua pilihan, berciuman sampai mati atau gue perkosa lo di sini, dengan senang hati gue akan melakukannya.” Leon berbisik pelan sambil membuka rompi seragam Anna.


Bersambung.

__ADS_1


Satu kata untuk Isha?


__ADS_2