
Tapi, saat berjalan ke sana tiba-tiba Eliza terjatuh karena ada seseorang yang menabraknya.
“Anj*ng! Kalo jalan pakek mata! Ahh ... Perih setan!” umpatnya sembari memegangi sikunya yang tergores.
Eliza melotot seketika, apa-apaan! Dia sendiri yang menabrak dirinya, tapi dirinyalah yang disalahkan. “Jalan itu pakek kaki bodoh!”
Orang itu melotot melihat Eliza yang mengatainya bodoh. Orang itu berdecak kesal, dirinya sangatlah tampan, tidak elit sekali dia dipanggil bodoh apalagi parasnya yang mampu membuat kaum wanita terpesona. “Sialan nih cewek, cantik-cantik mulutnya pedas! Dasar cabe lo!”
Eliza menggeram marah, darahnya dibuat naik dengan pria gila di depannya. “Apa kata lo? Gue cabe? Sadar lo! Lo sendiri yang nabrak gue, lo buta sampek gak liat ada orang di depan lo?”
“Wah, cari mati nih cewek!”
“Ngapain mati dicari, toh dia juga datang sendiri. Bisa aja lo nabrak gue terus mati!” kata Eliza tidak nyambung.
Pria itu dibuat naik pitam dengan perkataan Eliza. “Siapa lo berani-beraninya nyumpahin gue mati?”
“Gak liat, gue manusia bukan setan!” sewot Eliza sembari mengambil paper bag miliknya.
“Lama-lama lo ngeselin juga!” geram pria itu sembari menarik kasar tangan Eliza.
Eliza menepis kasar tangan pria itu. Matanya menatap tajam sosok gila di depannya, lidahnya terjulur mengejek lelaki jangkung itu. “Idiot!”
__ADS_1
Setelah mengantar pesanan pelanggannya, Eliza mengambil tas ranselnya lalu berpamitan kepada Mamanya. Pagi ini Eliza sengaja mampir ke toko roti untuk membantu Mamanya sebentar sebelum berangkat sekolah.
Sesampainya di sekolah, Eliza melihat Anna yang berjalan menunduk tidak seperti biasanya. Kening Eliza mengkerut melihat Anna yang seolah menyembunyikan lehernya.
“Anna!” panggil Eliza, Eliza berlari menghampiri Anna yang diam tanpa menolehnya.
“Tumben agak siang biasanya lo dateng pagi banget, ada masalah di rumah lo?” tanya Eliza khawatir pasalnya Anna memeliki ketegangan dalam keluarganya.
Anna hanya menunduk sambil menutupi wajahnya dengan rambut coklatnya. Anna mengusap tengkuknya pelan, Anna ragu untuk memperlihatkan wajahnya pada Eliza.
“Na?” panggil Eliza lagi.
Anna mendongak menatap Eliza. Wajahnya yang memerah dan banyak sekali tanda di lehernya yang Eliza lihat. Eliza membulatkan matanya terkejut, Anna itu gadis baik-baik tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu. Eliza tahu betul apa arti merah-merah yang ada pada leher Anna.
Anna menggelengkan kepalanya cepat. “Nggak El, ini bukan ulah dia tapi ini alergi.”
“Jangan bohong! Gue tahu lo bohong Na.”
Tanda di leher Anna adalah ulah perbuatan Leon tadi pagi. Tingkah Anna benar-benar memancing sisi Leon yang lain hingga membuatnya kewalahan sampai lehernya seperti ini, jika saja Lina tidak datang maka bisa dipastikan dirinya tidak bisa sekolah hari ini.
“Tadi pagi aku gak sengaja makan udang El, sampai akhirnya ada bintik-bintik seperti ini.” Anna mencoba meyakinkan Eliza.
__ADS_1
“Gue gak bodoh Na, lo jangan bohongin gue.” Eliza terus memaksa Anna untuk menjelaskan.
“Lain kali aku ceritain, aku janji.”
***
Sore ini Anna pergi menemani Eliza gym di dekat toko rotinya. Sebenarnya Anna menolak ajakan Eliza karena memang Anna tidak pernah datang ke tempat seperti itu. Bagi Eliza itu hal biasa, karena gadis seperti Eliza sangat mengutamakan penampilannya.
“El, aku pulang aja ya.” Anna memegang tangan Eliza memohon, Anna tidak nyaman dengan suasana seperti ini apalagi ada beberapa orang yang memperhatikannya.
“No! Lo gak boleh pergi sebelum gue selesai, Lo udah janji tadi.”
Anna mendesah pasrah mendengarnya. Anna mendudukan bokongnya di sofa sembari melepas cardigan miliknya. Anna melihat berbagai alat-alat olahraga di sana sesekali Anna mengerutkan keningnya melihat alat yang begitu aneh menurutnya.
Manik mata hijaunya menatap nanar dua sosok di depan sana. Anna meremas bajunya kuat menahan rasa sakit yang menghantam hatinya. Pemandangan itu begitu panas di mata Anna, Anna memalingkan wajahnya tak tahan melihat pemandangan menggerogoti hatinya.
“Sakit Leon ....”
Di sana ada Leon yang sedang melakukan sit up dengan Isa yang duduk di atas pahanya, tak lupa tangan Isha setia mengusap-usap perut kotak-kotak milik Leon. Leon seperti milik Isha, Isha adalah pemilik tubuh itu. Anna hanya orang asing yang singgah dalam hubungan mereka.
Melihat Isha tertawa membuat Anna sedih, setiap tawa dia mengandung kesenangan sedangkan dirinya hanya tertawa meratapi kepedihan hidupnya.
__ADS_1
“Hati kecil ini terluka Leon ....”
Untuk yang kesekian kalinya hati Anna terluka melihat penghinaan Leon.