
“Telah terjadi peledakan hebat di sebelah Selatan hutan Pinus. Peledakan itu mengakibatkan lima orang tewas dan sebagiannya luka berat, peledakan itu belum diketahui apa penyebabnya. Tim kepolisian tengah mengidentifikasi setiap puing-puing bukti dari pembakaran Gubuk tersebut. Diketahui, Gubuk tersebut merupakan tempat persembunyian senjata ilegal yang diperjualbelikan di pasar gelap, berita ini terkuak saat tim kepolisian membuka peti besar yang berisi senjata di ruang bawah tanah---”
Pria paruh baya itu mematikan televisi besarnya. Dia menghela nafas kasar, matanya terus menatap istrinya yang sibuk dengan benda persegi itu. Untuk sesaat dia cemburu pada benda itu yang lebih diperhatikan oleh wanitanya, jika tidak ada resiko pria itu ingin sekali menghancurkan benda yang mengambil perhatian wanitanya.
“Sudahlah honey, mereka semua sudah ditangkap polisi lagipula indentitas pria itu akan segera terbongkar,” ujarnya lesu sembari mengambil tab di tangan istrinya.
Wanita itu mendelik kesal, kemudian ia mengambil lagi tab miliknya. “Berhentilah kekanakan Ken, kau sudah tua, kau tidak perlu cemburu pada benda pintar ini.” Wanita itu kembali pada aktivitasnya.
Pria itu menghela nafas sabar, mempunyai istri seorang Detektif tidaklah senang. Waktunya terus terbagi untuk menyelidiki kasus demi kasus di setiap harinya, apalagi kasus yang menyangkut peledakan beberapa tahun lalu.
“Kau cukup membagi waktu untukku honey, melihatmu terus bersama benda itu membuatku iri padanya,” ujarnya mendramatisir.
Wanita itu mengangkat tab miliknya, kemudian membantingnya ke lantai. Pria itu terlonjak kaget melihat tingkah istrinya, apa dia salah bicara? Senyumnya terukir saat wanitanya merentangkan tangan padanya lantas pria itu langsung masuk pada pelukan wanitanya.
“Maaf, aku terlalu sibuk sampai melupakanmu!” bagaimanapun dia adalah suaminya, ia memiliki kewajiban untuk berbakti padanya. Kasus-kasus itu tidak sepenting suaminya, dia yang selalu ada untuknya, dan dia yang selalu menjadi pelindung baginya.
Dengan senyum sumringah pria itu memeluk wanitanya erat, sudah terhitung satu Minggu mereka tidak bertemu. Rindu diantara mereka begitu mendominasi, pelukan itu seolah menyalurkan setiap rindu dari perasaan mereka.
“Tidak masalah, aku senang kau masih mengingat diriku. Terkadang aku berpikir kau melupakanku dan berpaling pada benda persegi menyebalkan itu, aku sungguh cemburu melihatmu terus bersamanya,” adu pria itu sambil mengerucutkan bibirnya.
Wanita itu tersenyum hangat, diusia yang akan memasuki kepala empat itu suaminya masih bersikap manja padanya, tapi tidak apa-apa karena itu adalah bumbu keharmonisan hubungan mereka. “Kau sudah tua! Sangat tidak layak jika cemburu pada benda mati, kau seperti anak kecil saja.”
“Jika bersamamu aku akan terlihat berbeda, kau tidak tahu diriku yang diluar. Lihatlah putra kita, begitulah cerminan diriku saat diluar, bahkan lebih dari dia.” Ya, putranya bahkan tidak sebanding dengan kebrengsekannya dulu, tapi sekarang dirinya sudah menjadi pribadi yang lebih baik.
“Kau bahkan tega meniduri wanita lain di depan mataku!”
__ADS_1
“Berhentilah untuk mengingatnya honey! Perkataan mu membuatku merasa bersalah padamu, dulu aku sangat tidak pantas untuk dipanggil suami oleh wanita setulus dirimu.” Masa lalunya adalah cerita kelam dalam hidupnya.
Ingatan itu begitu tabu di pikirannya, selalu saja terlintas kala mengingat kejadian yang menyangkut masalah itu. “Aku akan melupakannya tenanglah, kau tidak perlu khawatir.”
“See, Mio Amore!”
\*\*\*
“Tentang penculikan anak dua belas tahun lalu, gue yakin lo tahu sesuatu tentang kejadian itu.”
Anna menggelengkan kepalanya cepat, Anna tidak ingin mengingatnya lagi sekalipun Leon mendesak dirinya. “Aku tidak tahu Leon!”
“Lo bohong, lo orang asli Barcelona, sangat tidak masuk akal kalau lo gak tahu kejadian itu.” Leon kian mendesak Anna untuk menjawab pertanyaannya.
Anna harus berbuat apa sekarang, dan kenapa juga tiba-tiba menanyakan hal itu. Apa Leon juga korban dari penculikan itu?
Leon memicingkan matanya, dari gelagat Anna saja sudah membuat Leon curiga. Leon hanya ingin membuktikan dugaannya saja, Leon ingin tahu apa benar Anna memang Princess-nya. “Lo gak bohong, kan?”
Anna menundukkan kepalanya, kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak Leon, aku berani bersumpah!”
“Jangan bersumpah Annabeth jika sumpah itu kau langgar sendiri, gue tahu tentang kalung milik lo itu. Kalung itu bukan milik ibu tiri lo, kan? tapi milik lo?” tanya Leon yang membuat Anna tersudutkan.
“Ibu tiri?”
“Ya, Ibu Hamara itu Ibu tiri lo, kan? Gue udah tahu semuanya Anna. Sekarang gue minta lo jujur sama gue, dari siapa lo dapet kalung itu?” tanya Leon.
__ADS_1
“Kenapa kamu begitu penasaran dengan kalung itu Leon?” tanya Anna. “Siapa pemberi dan pemilik kalung itu, itu bukan urusanmu.”
Leon mengepalkan tangannya, kalung itu sangat berarti untuknya. Kalung itu adalah tanda cinta pada Princess-nya, kalung itu sangat berharga bagi Leon apalagi benda itu pemberian Neneknya.
“Jelas itu urusan gue! gue perlu tahu siapa pemilik dan pemberi kalung lo itu!” tekan Leon pada Anna membuat Anna memundurkan tubuhnya.
“Berhentilah berdebat Leon, kamu sedang sakit, kamu butuh istirahat.” Anna sengaja mengalihkan arah pembicaraan mereka. Anna tidak ingin semuanya terbongkar apalagi Leon hanya ... orang asing bagi Anna, Leon itu orang baru dalam hidup Anna yang dengan sialnya mampu memainkan hati kecilnya yang rapuh.
Leon tersenyum sinis, Leon sangat tahu maksud Anna, dan itu semakin membuatnya penasaran. “Rasa sakit fisik gue gak sebanding dengan hati gue, Annabeth. Gue butuh penjelasan lo atas kalung itu, gue mohon.”
Anna sungguh tidak mengerti dengan maksud Leon, Anna tidak tahu mengapa Leon bagitu penasaran dengan kalung miliknya. Apakah Leon mempunyai masa lalu yang berkaitan dengan kalung ini? Anna semakin dibuat bingung, kalung miliknya adalah sepenggal kisah masa lalunya. Anna tidak ingin mengungkitnya lagi, apalagi kembali mengingat semua kenangan tentang mereka di setiap tempat.
“Kalung itu memang milikku, Mama sendiri yang memberikannya padaku sebelum beliau meninggal beberapa tahun lalu. Aku menyimpannya untuk mengobati rasa rinduku pada Mama,” jelas Anna berbohong. Ribuan maaf Anna ucapkan dalam hati, Anna sungguh minta maaf telah berbohong apalagi membawa nama Mamanya.
Leon seolah dijatuhkan oleh harapannya, ternyata itu tidak sesuai dugaannya, Leon bernafas lega mendengar penjelasan Anna, setidaknya dia tidak penasaran lagi tentang kalung itu. “Gue turut berdukacita atas kepergian Mama lo.”
Anna hanya mengangguk sebagai jawaban. Satu sisi yang membuat Leon curiga adalah gelagat Anna, reaksi tubuh Anna seolah berbeda dengan kenyataan dari perkataannya. Apa ini hanya perasaan Leon saja? tapi, Leon yakin betul jika firasatnya tidak pernah salah. Kenapa masalah ini begitu misteri? Leon hanya ingin mengetahui kebenaran Princess-nya, jika benar Princess-nya masih hidup maka Leon akan bersujud di bawah kakinya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kesalahannya tidak sebanding dengan ketulusan gadis kecilnya, dia adalah Dokter sekaligus obat yang menyembuhkan luka hati maupun fisiknya.
“Mama lo meninggal karena apa?” tanya Leon penasaran, entah kenapa dia jadi penasaran dengan keluarga Anna.
Anna menunduk sedih, lagi-lagi Anna harus mengingat kejadian itu lagi. Kejadian itu adalah sebuah sejarah yang paling menyakitkan baginya, teriakan Mamanya memanggil namanya masih teringat sampai sekarang. Perkataan Mamanya dan setiap harapan yang diucapkannya masih tersimpan rapi di dalam otaknya. “Kecelakaan!”
Kecelakaan tapi, bukan kecelakaan biasa. Sebuah kecelakaan yang menewaskan ribuan nyawa.
Leon mengelus tangan Anna, kemudian dia menarik Anna pada pelukannya. “Sorry, gara-gara rasa penasaran gue, lo jadi sedih.”
__ADS_1
Anna mengangguk sambil menghapus air matanya, rasanya begitu sakit melihat bencana itu terjadi di depan matanya sendiri.