Isteri Kontrak Tuan Kejam

Isteri Kontrak Tuan Kejam
Bab 27


__ADS_3

Isha memberenggut sebal, ternyata ini tidak sesuai yang dia harapkan. Isha pikir Leon akan meminta maaf padanya, tapi diluar dugaan Leon malah membalas ucapannya. Isha akan mencari cara agar Leon melupakan gadis sialan itu, Leon hanyalah miliknya dan akan selamanya seperti itu.


“Berhenti memikirkan dia Leon, pandanglah aku yang selalu ada disekitarmu. Aku selalu ada untukmu, bahkan aku rela mengorbankan nyawaku untukmu Leon.” Tangan Isha mengelus sensual dada bidang Leon, Isha tersenyum miring melihat Leon yang memejamkan matanya.


Leon memejamkan matanya kasar, di bawah kesadarannya Leon berusaha menahan gejolak dalam dirinya. Dia tidak boleh melampiaskannya pada Isha, Leon masih berpikir jernih untuk melakukannya pada seseorang yang ... seperti Isha. Leon berusaha menyingkirkan tangan Isha dari tubuhnya, bukannya menikmati tapi Leon merasa risih akan sentuhan Isha.


“Berhenti atau gue potong tangan lo!”


Seketika Isha kangsung menghentikan gerakan tangannya, ancaman Leon tidak main-main meskipun dirinya adalah orang penting dalam hidup Leon. Isha mendengus kesal melihat Leon yang asyik dengan dunianya, Leon terlihat tengah senyum-senyum sendiri sambil menegak minuman beralkohol itu. Seutas ide terlintas dibenaknya, Isha tersenyum miring lalu meminta beberapa botol minuman lagi pada pelayan. Isha sengaja menggantikan botol minuman Leon yang sudah kosong dengan minuman yang baru dia minta, minuman yang Isha minta memilki kadar alkohol yang tinggi, dan itu mampu membuat siapa saja akan tidak sadar bahkan pingsan. Tapi ini adalah kesempatan emas untuknya, Isha tidak akan melewatkan kesempatan ini.


“Kamu akan segera menjadi milikku Leon.”


Perlahan reaksi tubuh Leon berubah, tangannya bergerak gelisah dengan pandangan yang mulai mengabur, bahkan tubuhnya pun terasa panas apalagi saat Isha menyentuh lengannya.


“Sshh ... Princess ....”


Di bawah kesadaran Leon, Isha memapah tubuh Leon dan membawanya ke sebuah kamar. Isha tersenyum penuh arti saat menerawang apa yang akan tejadi selanjutnya, malam ini akan menjadi malam yang paling menyenangkan untuknya.


“Sshh ...,” Leon mendesis pelan saat dadanya dibelai sensual.


Saat hendak membuka pintu tiba-tiba ada seseorang yang menarik Leon dari pelukan Isha. Isha menatap tajam laki-laki di depannya, tangannya terayun menarik tangan Leon kembali tapi, laki-laki itu mencegahnya.


“Gue tahu akal busuk lo ******! Lo jebak Leon buat kesenangan lo sendiri, kan? Cih menjijikan! Lo emang pantes dipanggil parasit!”


“Cewek perusak hubungan orang lain pantes disebut parasit! Lo tahu, kan hubungan Leon dan dia? Jangan pura-pura nego di depan gue ******! Kepolosan lo gak mempan untuk sekedar menipu gue!” lanjutnya sambil memapah Leon, tapi lagi-lagi Isha menahannya.


“Lo gak bisa bawa Leon gitu aja, Leon harus tetep di sini sama gue, gue gak akan biarin lo pergi bawa Leon!” pekik Isha sembari menarik tangan Leon.


Lelaki itu melepas paksa pegangan Isha di tangan Leon, dirinya cukup dibuat naik darah dengan tingkah menjijikan wanita di depannya ini. “Lo bukan siapa-siapanya Leon! Berhenti anggap diri lo penting dalam hidup Leon! Leon gak butuh cewek munafik kayak lo!”


“Tapi, rahasia Leon ada di tangan gue!”


Lelaki itu terkekeh sinis. “Rahasia? bahkan rahasia itu udah gak berguna lagi buat Leon, mau lo sebarin pun itu gak ada untungnya buat lo.”


Isha mengangkat satu alisnya, dia tersenyum miring sambil melipat kedua tangannya di dada. “Gue masih punya rahasia yang lain, bahkan gue bisa memisahkan pertemuan mereka,” ujar Isha penuh sinis.


“Cih! Ancaman sampah lo gak berguna lagi, percuma lo bocorin sama siapapun mereka gak akan percaya. Koneksi keluarga Leon gak pernah main-main, cantik.” Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan melihat Isha yang bungkam.


“Oh ya, bagaimana kalo mereka tahu kalau lo udah gak perawan lagi, Aqisha?”

__ADS_1


***


“Leon?!” Anna terkejut melihat kedatangan Leon yang tidak sadarkan diri sambil digendong oleh Vano. Anna manatap khawatir Leon yang tampak tidak baik-baik saja.


Vano membaringkan tubuh Leon di atas sofa, lalu tatapannya beralih pada Anna yang terlihat khawatir. “Sepupu lo hampir dijebak sama parasit! Untung ada gue, kalo nggak udah habis tuh si Leon.” Vano mendesah kasar sambil menatap Leon.


“Memangnya Leon darimana?” tanya Anna.


“Bar!”


Anna membulatkan matanya, untuk apa Leon pergi ke tempat seperti itu, pikir Anna. “Terimakasih!”


Vano hanya mengangguk lalu pamit pergi karena memang sudah larut malam. Anna menutup pintu, kemudian menguncinya. Jadi, ini alasan kenapa Leon tidak pulang seharian ini, pikiran Anna dibuat bertanya-tanya dengan kondisi Leon sekarang ini. Apakah Leon memilki masalah sampai harus dilampiaskan ke tempat seperti itu.


Setelah sampai di kamar. Anna membaringkan tubuh Leon, kemudian melepas sepatunya dan menyelimutinya. Sepertinya Leon mabuk berat sampai tidak sadar seperti ini, dengan telaten Anna melepas jaket Leon dan seragam Leon lalu menaruhnya pada keranjang kotor.


“Sebenarnya apa yang terjadi Leon?” tanya Anna sambil mengamati wajah Leon dari atas.


“Princess ....”


Anna hanya mampu menunduk saat mendengar gumaman Leon. Apakah itu Isha? Kalau iya, Isha begitu spesial sampai menjadi buah mimpi Leon. Ternyata menjadi benalu itu menyakitkan, Anna juga tidak ingin menempatkan dirinya pada posisi seperti sekarang.


Leon menatap bersalah Anna, dirinya meringis saat melihat pakaian Anna. “Sorry?”


Anna menggelengkan kepalanya sembari tersenyum hangat. “Gak papa, mau ke kamar mandi? Ayo aku bantu.”


Leon menganggukkan kepalanya, perutnya terus bergejolak membuat dirinya terganggu. Melihat ketulusan Anna membuat dirinya merasa bersalah padanya, Anna begitu sabar menghadapinya, dan Anna begitu pemaaf untuk memaafkan setiap perbuatan gilanya apalagi kata-katanya yang selalu menyakitinya. Leon dibuak terpaku dengan semua ketulusan Anna, apakah ini jawaban dari pertanyaannya?


“Udah mendingan?” tanya Anna yang dibalas anggukan oleh Leon.


Anna membantu Leon berbaring di ranjang, Anna juga membatu Leon memakai kaosnya atas permintaan Leon sendiri. “Kamu istirahat ya, aku mau ganti baju sebentar.”


Sebelum Anna benar-benar pergi, Leon mencekal tangan Anna. “Sorry ... maaf gue nyusahin lo.”


“Gak papa, ini juga tugas aku sebagai istri kontrak kamu.” Leon menatap kepergian Anna, entah kenapa hatinya terasa nyeri saat Anna menyebut dirinya istri kontrak. Apakah sudah tumbuh perasaan di hati Leon untuknya?


“Pohon hijau dan laut biru adalah jawabannya.”


Perkataan Ibu mertuanya terus menghantui pikiran Leon, Leon sama sekali tidak mengerti arti dari kalimat itu. Kalimat itu seperti teka-teki untuknya, Leon dibuat frustasi memikirkan hal itu. Antara Anna dan Princess-nya itu berbeda, dari segi fisik pun mereka berbeda tapi, dari gaya bicara dan sikap sederhana Anna membuat Leon mengingat Princess-nya. Mereka seperti sama, tapi berbeda. Ibaratnya air kolam dan air laut, memiliki jenis yang sama tapi maknanya berbeda.

__ADS_1


“Sebanarnya lo siapa Annabeth?” Leon menarik rambutnya frustasi, terlalu memaksa memikirkannya semakin terasa juga rasa sakit di kepalanya.


“Leon kamu kenapa?” tanya Anna khawatir.


Leon menggelengkan kepalanya, kemudian membaringkan tubuhnya membelakangi Anna. Leon tak sanggup lagi memikirkan pernyataan itu, biarlah itu menjadi teka-teki untuknya tapi, dia akan berusaha untuk memecahkan teka-teki itu.


“Aku buatkan kamu susu jahe ya?” tanpa menunggu jawaban dari Leon, Anna pergi ke dapur untuk membuat susu jahe seperti yang dikatakannya.


Selang beberapa menit Anna datang dengan nampan berisi susu jahe dan semangkuk bubur di sana. Anna menggoyangkan tubuh Leon agar bangun. “Leon bangun, aku udah buatin bubur untuk kamu.”


Leon pura-pura menguap padahal dia sama sekali belum menutup matanya, Leon hanya berpura-pura untuk tidak membuat Anna curiga. “Rasanya minum susu dari sumbernya sendiri itu kayak gimana?” tanya Leon ambigu.


Anna nampak bingung dengan pertanyaan Leon, untuk sesaat dia tidak mengerti, tapi sedetik kemudian dia mengerti arah bicara Leon kemana. Anna menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah, entah kenapa Anna menjadi malu apalagi saat mengingat malam kemarin bersama Leon.


“Gue bercanda,” Leon terkekeh pelan melihat wajah Anna yang memerah.


Anna mendongakkan kepalanya menatap kesal Leon, kemudian Anna menyodorkan semangkuk bubur kepada Leon. “Kamu pasti belum makan, aku buatin bubur untukmu, dimakan ya.”


Leon menatap bubur itu sebentar, sebenarnya Leon tidak menyukai bubur sejak kecil apalagi melihat bubur ayam yang diaduk membuatnya enek. Leon trauma melihat berbagai jenis bubur di setiap perjalanannya ke Sekolah. Tapi untuk menghargai kerja keras Anna, Leon rela memakannya apalagi melihat ketulusan Anna yang membuat hatinya tersentuh.


“Suapin,” pinta Leon sembari menyodorkan kembali bubur itu kepada Anna.


Anna hanya tersenyum, kemudian mengaduk bubur itu dan meniupnya. Anna senang melihat Leon manja seperti ini, mungkin ini akan menjadi moment manis dalam pernikahannya dengan Leon.


Leon berusaha untuk menelan makanan itu, saat menyentuh lidahnya saja serasa ingin Leon muntahkan kembali, tapi Leon ingin menghargai kerja keras Anna. “Udah, enek banget, gue gak kuat lagi.”


Anna menyodorkan susu hangat itu pada Leon, padahal Leon baru memakannya buburnya tiga siap. Anna hanya khawatir dengan kondisi Leon, Anna takut Leon sakit. “Sedikit lagi ya?”


“Cukup, gue udah enek banget!” tolak Leon sembari menjauhkan bubur dari bibirnya.


Anna mendesah pasrah, daripada masalahnya berlanjut dan menjalar kemana-mana, lebih baik dirinya diam dan menuruti keinginan Leon.


“Gue mau tanya serius sama lo.”


“Bertanya tentang apa Leon?” tanya Anna yang dibuat penasaran dengan pertanyaan Leon.


“Gue mau tanya soal penculikan anak dua belas tahun lalu di Barcelona.”


Deg! Mengingat kejadian itu membuat Anna kembali mengingat dia, Anna sedang berusaha untuk melupakannya tapi, perkataan Leon membuatnya kembali mengingat dia, kenangan mereka, dan janji palsunya.

__ADS_1


__ADS_2