
“Jaga ucapan lo! Anna itu segalanya buat gue, lo gak usah jelek-jelekin Anna, dia beda jauh sama lo.” Leon berdiri dan hendak pergi, tetapi tangannya dicekal oleh Isha.
“Wah, kamu sudah mencintainya? Ternyata tipu daya wanita itu sangat manjur, ya. Buka matamu lebar-lebar Leon, dia hanyalah wanita rendahan yang mengaku-ngaku gadis kecilmu.” Isha tidak terima, Isha tidak terima jika dirinya dicampakkan begitu saja oleh Leon. Isha ingin selamanya bersama Leon dan tentunya membuat Leon menjadi miliknya seutuhnya.
“Lepas! Anna itu spesial! Berhenti rendahin dia jalau lo sendiri lebih rendah dari dia!” Leon menghempaskan tangan Isha yang berpaut di lengannya.
“Kamu hina aku, Leon?” Isha tetawa sumbang.
Semenjak tahu niat bulus Isha daei Anna beberapa hari lalu membuat Leon jijik padanya. Cara Isha untuk mendapatkannya begitu kotor, dia rela membuat rendah dirinya dengan melecehkannya saat tidak sadar. Leon tahu ketika Isha menambahkan obat penghilang ingatan ke minumannya setiap hari, dan Leon juga tahu apa yang dilakukan Isha saat dirinya tidak sadar.
“Kenapa? Emang gitu kenyatannya 'kan? Gue udah tahu semuanya Sha, gue tahu semua akal busuk lo untuk dapetin gue dan rendahin Anna.”
“Lo harus ingat, jangan pernah sekalipun lo sakiti Anna. Anna milik gue, dan gak ada siapapun yang akan pisahin kita lagi. Berani lo sakitin Anna, maka nyawa lo bayarannya!” ancam Leon sembari pergi meninggalkan Isha yang terdiam sambil menahan kemarahannya.
“Gue akan bales semuanya Leon!”
***
“Jangan ditarik!” Anna mendengus kesal saat kepangan rambutnya ditarik oleh Leon.
Leon terkekeh melihat wajah cemberut Anna. “Makannya lo dengerin gue ngomong!”
__ADS_1
Anna mendengus mendengarnya, kemudian dia menyeruput es teh miliknya. “Pengen deh makan itu?” tunjuk Anna pada salah satu angkringan di pinggir jembatan.
“Gak sehat!” tolak Leon yang seakan tahu keinginan Anna.
“Yang kamu minum juga belum tentu sehat 'kan?” tanya Anna membalikan perkataan Leon.
Leon mencibir kesal. Wanitanya ini selalu mencari celah untuk menuruti permintaannya, Leon dibuat bungkam olehnya. “Gak sehat sayang, yang lain aja.”
Anna menunduk, tidak terasa air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya. Tangan kecilnya mengusap perutnya yang rata. “Padahal itu sangat murah Leon, permintaanku susah untuk kamu penuhi ya?”
Penuturan Anna membuat Leon serba salah. Leon ingin menuruti permintaan wanitanya, tapi Leon juga takut makanan itu tidak higienis dan berakhir membahayakan kesehatannya. Sekarang ini sedang marak orang-orang keracunan makanan, bisa diakibatkan dari mengkonsumsi makanan yang tidak sehat atau pola makan tidak teratur kadar gizinya. Itu membuat Leon was-was akan kesehatan Anna, apalagi mengingat penyakit yang dideritanya itu.
Setelah pulang sekolah tadi, Anna mengajak Leon untuk mampir ke supermarket dulu untuk membeli beberapa kebutuhan rumah tangga. Mereka berhenti di sebuah kedai kopi dengan dalih menuntaskan dahaga mereka.
“Hati-hati, pegang tangan gue.” Leon mengeratkan genggamannya saat mereka akan menyebrang. Letak angkringan itu berada di sebrang kedai kopi.
“Iya,”
Tanpa disadari, dari arah berlawan ada minibus yang melaju kencang ke arah mereka. Anna yang melihat ada bahaya langsung saja dia mendorong Leon hingga dia tersungkur ke depan. Anna memejamkan matanya saat dia tidak sempat untuk menghindar dan ....
Bruk!
__ADS_1
“Anna!”
Tubuh Anna terpental kuat. Seluruh tubuhnya seolah kaku untuk bergerak, mulutnya seakan mati rasa untuk berucap, matanya kian mengabur seiring darah mulai mengalir dari kepalanya.
“Leon ....” Tubuh Anna terkapar tak berdaya dengan darah yang membasahi wajahnya. Rupa Anna seakan menghilang saking banyaknya darah yang keluar.
Leon berlari menghampiri Anna, kemudian dia memangku kepala Anna. Leon menangis melihat kondisi wanitanya yang terluka, Leon mengusap setiap darah yang membasahi wajah Anna.
“Bertahan sayang, gue akan lo ke rumah sakit.” Air mata Leon ikut andil dalam kejadian mengerikan ini, air matanya terus mengalir membasahi wajahnya yang sedih.
“Leon ... se--la--mat--kan dia ....”
Leon menggelengkan kepalanya. Leon tidak mengerti dengan ucapan Anna, yang Leon pikirkan adalah keselamatan Anna sekarang.
“Maaf ... aku---”
Belum sempat Anna menyelesaikan ucapannya, dia sudah menutup matanya dengan tangan yang mulai mendingin. Leon berteriak histeris saat Anna tidak safarkin diri, nyawa Leon seakan menghilang melihat kondisi wanitanya ini.
Ini terlalu cepat untuk Anna pergi. Mereka baru saja menyelesaikan masalah terberah dalam hubungan mereka, mereka baru saja memulai wakal baru dalam hubungannya. Waktu ini terlalu cepat untuk memisahkan kembali pasangan menyedihkan itu.
“Bangun sayang ....”
__ADS_1