Isteri Kontrak Tuan Kejam

Isteri Kontrak Tuan Kejam
Bab 15


__ADS_3

“Hidup bersamaku jika ingin anak dan suamimu hidup, pikirkanlah kamu hanya memilik waktu lima menit untuk memutuskan pilihanmu.”


Shyna wanita berusia tiga puluh tahun itu menunduk lesu, air matanya terus mengalir seiring detik waktu terus berjalan. Ini adalah pilihan yang sulit, dimana hidup orang yang dicintainya harus dipertaruhkan. Shyna meremas bajunya kuat, dia tidak bisa memutuskan pilihannya, Shyna tidak peduli jika dirinya mati asalkan Putrinya tetap hidup dan menjalani waktunya dengan bahagia.


“Jika aku memilih opsi pertama bagaimana?” Shyna mendongakkan kepalanya sambil menggenggam sesuatu di belakang punggungnya.


Pria itu tersenyum miring, senyumnya seolah menyiratkan pilihan Shyna adalah sebuah candaan untuknya. “Jadi, kau memilih suamimu mati bersama putrimu?”


“Pikirkan baik-baik pilihanmu Shyna, nyawa mereka taruhannya. Dengan Shyna, aku bisa menyayangi putrimu setulus Alden menyayanginya,” lanjut pria itu sambil tertawa sinis.


Shyna terkekeh pelan. “Menyayangi putriku atau hartaku? Aku tahu semua akal bulus mu, kau tidak pandai untuk membodohi ku.”


Pria itu mencengkram dagu Shyna kuat, tangannya terkepal hingga memperlihatkan kubu jarinya yang memutih. Matanya menatap tajam Shyna yang bergetar di depannya, bibirnya terangkat mengikut senyum kematian seolah menikmati penderitaan wanita di depannya. “Aku lebih mencintaimu sayang, kau adalah segalanya untukku, tanpamu aku bagai hamparan debu yang tak berarti apa-apa. Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri Shyna.”


Shyna menepis kasar tangan pria itu yang membelai pipinya, Shyna merasa jijik akan sentuhan itu, rasanya seperti sentuhan lelaki brengsek yang hidup di planet ini. “Berhentilah atau kau akan menerima akibatnya!”


“Ancaman sampah mu tidak berarti apa-apa untukku honey. Marilah membina pernikahan bersamaku, aku berjanji akan membahagiakanmu dan aku berjanji akan menceraikan dia.”


Shyna berdecih di depan pria itu. Dia adalah pria terkejam di dunia, demi obsesinya dia rela mengorbankan keluarganya untuk kesenangan sendiri. Shyna sangat membenci pria di depannya, tampang luarnya sangat berbeda dengan isinya. Black mask!


“Sampai matipun aku tidak sudi hidup bersamamu! Aku membencimu dan akan selamanya seperti itu!”

__ADS_1


Plak!


Wajah cantik Shyna tertoleh, pipinya terasa panas dan ada rasa perih di sana. Seumur hidupnya dirinya tidak pernah ditampar oleh siapapun bahkan Alden suaminya tidak pernah sekalipun bertindak kasar padanya. “Biadab!”


“Gracias, aku memang seperti itu. Jadi, menurut lah padaku Mio amor!” tekan pria itu sambil menyudutkan Shyna ke dinding.


Di belakang punggungnya Shyna menggenggam belati kecil dan siap untuk melukai pria itu, dengan penuh keberanian Shyna menghantam wajah pria itu dengan belati miliknya. Alhasil, luka itu terlihat dari bawah telinganya yang mengeluarkan darah. Shyna tersenyum senang, Shyna tahu mungkin setelah ini dirinya akan mati, tapi dia senang karena telah menggores tubuh pria brengsek itu.


“Aku simpulkan ini sebagai jawabanmu Senora, aku bersumpah akan menghancurkan keluargamu tanpa sisa, aku akan membalas luka yang kau ciptakan ini. Luka ini menjadi bukti penolakan mu, luka ini akan terus ada sampai semua kebahagiaan dirimu aku hancurkan.”


“Dia akan selalu ada di sisiku.”


Tangan pria itu beralih mencekik leher Shyna. Shyna hanya bisa menahan sakit sambil memukuli lengan kekar pria itu, Shyna tersenyum simpul sambil mengingat kenangannya bersama keluarga kecilnya. Waktunya mungkin cukup sampai di sini, setelah ini tidak ada kebahagiaan lagi baginya, setidaknya dengan mengorbankan hidupnya maka kehidupan putrinya akan terus berjalan, Shyna rela melakukan itu selagi dirinya mampu.


“Aku mencintaimu, aku tidak ingin mengakhiri nyawamu dengan tanganku sendiri. Tunggulah dimana penderitaan mu akan membunuh dirimu sendiri.”


“Ayah,”


Pria paruh baya itu terlonjak kaget sembari membalikan bingkai foto di tangannya, matanya memandang hangat putranya yang berdiri di sampingnya. “Lio, ada apa son?”


Lio menggelengkan kepalanya sambil duduk di samping Ayahnya. Lio merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. “Aku hanya mendapatkan ini.”

__ADS_1


Pria paruh baya itu mengambil kotak kecil di tangan Lio, bibir tersenyum smirk sembari membayangkan rencananya yang berjalan mulus. “Ini sudah cukup untukku, Ayah bangga padamu son, dengan ini kita tahu dimana gadis itu tinggal.”


Lio menghembuskan nafasnya kasar. “Aku pernah mengantarnya, tapi itu bukan rumahnya meskipun dia bilang itu adalah rumah bibinya. Aku kenal rumah itu adalah komplek milik musuh besarku.”


Mata pria itu menatap lurus ke depan, dirinya seolah menerawang masa depan dimana dirinya dapat menemukan setetes cahaya keberuntungan untuknya. “Cari tahu tempat itu, Ayah yakin dia tahu sesuatu tentang tempat itu.”


“Baik Ayah, aku ingin masalah ini cepat selesai dan Ibu bisa tenang di atas sana. Aku akan membalas semua penderitaan ibuku, aku berjanji Ayah!” Lio mengepalkan tangannya penuh kebencian.


Lagi-lagi pria itu tersenyum miring. Benar kata orang, jika kata-kata manis mampu mempengaruhi kehidupan. Mereka tidak tahu jika kata-kata tersebut mampu mematikan cahaya pelindung dalam diri kita, dan mereka tidak tahu jika kata-kata tersebut hanyalah sampingan untuk pencapaian tujuan pihak pertama. Terkadang manusia menjadi bodoh hanya dengan mendengar kata-kata manis, mereka akan terbuai sampai mereka tertampar oleh kenyataan yang sebaliknya.


“Bagus! Balaslah semua perbuatan mereka, penderitaan Ibumu tidak sebanding dengan nyawa mereka, Ayah akan selalu ada di sisimu.” Seutas senyum licik terukir di bibirnya.


“Terimakasih Ayah, aku pergi dulu.”


Setelah kepergian Lio, pria itu kembali membuka bingkai foto yang sempat ia tutup. Tangannya terangkat mengusap wajah yang tercetak dalam kertas bermakna itu, senyumnya mengembang seiring dia membuka lembar baru di sana. “Dia telah mengganggu waktu kita sayang, anak itu sama seperti Ibunya yang mengganggu hubungan kita. Aku mencintaimu, aku akan menyusul dirimu sebentar lagi.”


“Kau memilih pilihan yang salah dengan menolak hidup bersamaku dan lebih melih dia. Aku membencinya Shyna!”


\*\*\*


“Tersisa sebelas bulan lagi.” Tangan Anna bergerak untuk menyilang setiap tanggal di kalender kamarnya. Tiga puluh hari sudah Anna lalui, tepatnya sudah satu bulan usia pernikahannya dengan Leon, Anna selalu menandai tanggal, hari, dan waktu yang ia lewati dimana di setiapnya Anna selalu mendapat sakit dari sana.

__ADS_1


Terkadang waktu ini membuat Anna sedih, saat Anna harus menghitung hari yang dimana hubungannya berakhir. Satu tahun itu lama bagi siapa yang menunggu, tapi bagi Anna satu tahun itu singkat namun berarti. Menunggu adalah aktivitas yang tidak asing untuk Anna, satu tahun itu singkat, sesingkat waktu saat bertemu dengan dia si laki-laki kecil masa lalunya.


“Meskipun aku selalu mengharapkan kedatangan mu, tapi aku sudah ikhlas menerima takdir kita.


__ADS_2