
“Tuan,”
“Iya, kamu membawa kabar baik Jack? Saya tidak sabar untuk mendengarnya.” Pria paruh baya yang berusia hampir berkepala empat itu memainkan bolpoin di tangannya. Ekspresinya terlihat seperti menunggu pertujukan di next part selanjutnya.
Jack menggelengkan kepalanya takut, kemudian menyodorkan map kepada Tuannya. “Saya hanya mendapatkan itu Tuan, dari pengamatan saya selama satu tahun terakhir ini, saya hanya mendapatkan informasi itu Tuan.
Pria itu menggenggam bolpoin dengan kuat hingga memperlihatkan kubu jarinya. Dia melempar kasar map tersebut kehadapan Jack. “Tidak becus!”
“Maaf Tuan, saya akan berusaha lagi.” Jack memohon maaf sembari membungkukkan badannya.
Pria paruh baya itu menyeringai tipis. “Sepertinya sekarang dia seumuran dengan Putraku.”
“Ya, Tuan, bahkan dia satu Sekolah bersama Tuan muda Lio.” Jack menyodorkan ponselnya.
Tangan Pria itu terulur mengambil ponsel asistennya. Perlahan senyum miring itu terlihat jelas di wajah bengisnya. “Beritahu Putraku jika Ayahnya ingin menemuinya. Sepertinya aku harus menggunakan Putraku sendiri.”
Jack menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan Tuannya.
“Semuanya harus menjadi milikku.”
***
“Jangan Leon, aku mohon ....” Anna menggeleng kuat sembari berusaha melepas cengkeraman Leon. Anna rela saja jika harus menyerahkan hak Leon, tapi bukan dengan cara seperti ini.
Leon semakin gencar mempermainkan Anna bahkan dia sudah melepas rompi seragam Anna. “Gue udah bilang, lo punya dua pilihan, opsi satu atau opsi dua?” Leon memainkan helaian rambut Anna sesekali menggulungnya.
Anna tidak henti-hentinya menangis, Anna lemah, Anna tidak berdaya dengan kungkungan Leon. Anna tidak tahu harus melakukan Apa, Anna berharap ada seseorang yang menolongnya.
“Jangan nangis Anna, lo harus sadar diri, ini memang kewajiban lo untuk layanin gue.” Leon mulai membuka kancing baju Anna.
Anna menggelengkan kepalanya memohon. Tolong, Anna belum siap jika harus kehilangan sesuatu yang berharga dalam dirinya. “Jangan!”
“Kenapa? Bukannya itu yang tertulis dalam kontrak kita Anna, lo harus patuhi perintah dan keinginan gue dan itu mutlak. Lo, gue nikahi cuman buat ngandung anak gue cewek genit, lo jangan ngarep gue berlaku lembut sama lo.” Leon menelusuri leher Anna dengan jari telunjuknya.
Anna meremang seketika, seluruh tubuhnya seolah terkena sengatan listrik. Anna sangat tidak asing dengan sentuhan ini, Anna seperti mengenalnya. “Leon ....”
Leon menyeringai sembari menghirup aroma tubuh Anna, wangi lavender menyeruak ke Indra penciumannya. “Mau lo memohon sampai mati pun, gue gak akan lepasin lo.”
“Sshh ....” Anna mendesis saat lehernya digigit oleh Leon, Anna memejamkan matanya pasrah, ingin memberontak tapi tenaganya tidak sebanding dengan Leon.
Leon menatap bangga karyanya di leher Anna, lalu dia menatap intens bibir Anna. “Nikmatilah Anna, gue yakin lo belum puas dengan cowok sialan itu.”
“Jangan Leon.” Anna menggerakkan kepalanya mencoba menghindar dari tatapan lapar Leon.
Plak!
Anna merasakan panas yang menjalar di pipinya. Seumur hidup baru kali ini Anna merasakan tamparan, dan pelakunya itu suaminya sendiri.
“Gue gak suka penolakan, Annabeth.”
Anna diam, lidahnya kelu untuk mengucapkan kata, hatinya sakit untuk menerima, matanya perih untuk melihat semuanya, tubuhnya kaku untuk bergerak, Anna tidak bisa apa-apa.
__ADS_1
Leon mendekatkan wajahnya, ditatapnya bibir merah alami Anna yang membuat gairahnya naik. Sedikit lagi hingga bibir keduanya menempel.
“Leon, Anna!”
Sontak Leon menoleh ke asal suara tersebut. Leon langsung melepaskan cengkeramannya pada Anna lalu menghalanginya. “Isha! Lo ngapain di sini?”
Isha mengepalkan tangannya, manik matanya menatap Anna yang berada di belakang Leon. “Kamu yang ngapain di sini Leon?”
Leon nampak gelagapan untuk menjawab. “Gue ada urusan sama Anna.”
“Urusan? Urusan sampai harus berduaan di gudang?” tanya Isha tidak percaya.
Di belakang Leon, Anna hanya diam membisu tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Penting, lo gak perlu tahu.” Leon membalikan badannya menghadap Anna lalu mengancingkan kembali baju Anna.
“Penting? Sepenting apa sampai posisi kalian intim seperti tadi? Ingat Leon, kalian itu sepupuan.” Isha menghampiri Leon dan Anna.
Isha menatap rompi Anna yang tergeletak di lantai, Isha yakin ada yang tidak beres dengan semua ini. “Lo itu memang ****** berkedok sepupu, bisa-bisanya godain sepupu sendiri.”
Anna memalingkan wajahnya menatap Isha. “Lantas kamu siapa? Orang penting berkedok penjilat, begitu?” Anna menyeringai tipis.
“Lo!”
“Cukup Isha, lo mending pergi. Udara di gudang gak baik buat lo, lo bisa sesak nafas gue gak mau lo kenapa-napa.” Leon mencekal lengan Isha yang hendak menampar Anna.
Anna menatap lurus Leon. Sebegitu perhatiannya Leon kepada Isha, Anna iri dengan Isha yang diperhatikan seperti itu sedangkan dirinya, jangankan diperhatikan menanyakan kabar pun tidak pernah. Anna sadar, dia hanya istri kontrak pasti akan kalah dengan orang penting di hidup Leon.
Anna siapa? Dia hanya orang asing yang singgah di hidup Leon, tidak lebih dari itu.
“Ikut aku Leon.” Isha menarik tangan Leon keluar dari gudang tersebut.
Anna melihat Kenzo yang menunggunya di depan gerbang sekolah. Anna langsung menghampiri Kenzo sembari memakai rompinya kembali.
“Lo darimana Anna? Lo gak diapa-apain, kan sama si Leon? Gue udah cari lo kemana-mana tadi tapi gak ketemu, jadi gue nunggu lo di sini.” Kenzo turun dari motornya lalu menghampiri Anna.
“Aku dari toilet tadi. Leon gak ngapa-ngapain aku, dia cuman tanya soal perlombaan bulan depan, katanya dia penasaran.” Anna terpaksa berbohong.
Sebenarnya Kenzo agak aneh dengan jawaban Anna, tapi dia tidak ingin bertanya terlalu jauh takut Anna risih. Mata Kenzo memicing menatap bekas merah keunguan di leher Anna.
“Leher lo kenapa Na?” tanya Kenzo sembari menunjuk leher Anna.
Anna segera menutupi lehernya dengan rambutnya, dia lupa untuk menutupinya. Pasti ini ulah Leon tadi. “Ini-- ini tadi kebentur pinggir westafel pas cuci tangan, kepeleset.”
“Lo gak bohong, kan?” tanya Kenzo memastikan.
“Nggak, beneran tadi aku jatuh makannya lama.”
Mata Kenzo memicing. “Itu bukan kissmark, kan?”
Anna menggeleng cepat. “Apaan sih kamu, gak mungkinlah, udahlah mending pulang ayo.”
__ADS_1
Kenzo semakin bertanya-tanya ia ragu untuk mempercayai Anna. Tapi sudahlah, Kenzo akan mengetahuinya sendiri.
***
Anna dan Kenzo tengah duduk di bawah pohon sembari menikmati bekal yang dibawa Anna. Mereka sedang berada di belakang Sekolah, Anna sengaja mengajak Kenzo ke sini mengingat ini adalah waktu istirahat.
“Kenapa lo suka warna hijau?” tanya Kenzo sambil mengunyah makanannya.
Anna mengangkat kepalanya menatap Kenzo. “Maaf, aku gak bisa ngasih tahu kamu. Intinya warna hijau itu warna hidup, aku selalu merasa tenang saat melihatnya.”
Kenzo mengerutkan keningnya sambil membuka mulutnya menerima suapan Anna. “Lo kayak peri hutan aja, menurut gue sih warna hijau itu terlalu mencolok tapi bagus juga.”
Diam-diam Anna tersenyum sambil mengaduk makanannya. Anna mengingat kata-kata itu, dimana katanya dan irama suaranya mengenalkan apa itu warna hijau.
_“Nana, kenapa kamu tidak suka warna hijau?” tanyanya sembari mengambil daun dari atas pohon.
_“Warnanya jelek, warnanya sama seperti boneka kodok milik Luli, itu menjijikan.” Gadis berusia tujuh tahun itu bergidik ngeri. Sejak kecil dirinya memang tidak menyukai hewan yang hidup di dua alam itu.
Bocah laki-laki itu meledakan tawanya. “Kenapa? Itu sangat lucu, warnanya menenangkan Nana. Awalnya aku tidak menyukainya juga, tapi melihat Mommy menyukainya akupun mengikutinya.”
_“Terserah kamu, aku tetap tidak menyukainya apalagi boneka katak itu.” Gadis itu melempar daun yang di berikan bocah laki-laki tadi.
_“Kata Mommy, warna hijau warna ketenangan, warnanya membawa kita pada kehidupan. Warna hijau adalah warna alam, sayuran yang kau makan pun warna hijau.” Bocah itu merentangkan tangannya seolah menjelaskan kata-katanya.
Gadis kecil itu tetap menggelengkan kepalanya. “Aku tidak menyukainya, pergilah kau menggangguku!” Gadis itu mendorong lagi daun di tangannya.
_“Aku tidak memaksa, tapi satu hal yang harus kau tahu, Nana. Kamu sangat cantik saat memakai baju warna hijau itu sangat kontras dengan mata birumu.” Bocah lelaki itu mengusap mata gadis itu pelan.
_“Aku menyukai matamu.”
“Anna?” Kenzo melambaikan tangannya. Alis Kenzo terangkat melihat Anna yang tidak bereaksi.
Mata Anna mengedip berkali-kali, dia langsung menatap Kenzo yang tengah menatapnya bingung. “Maaf, aku ngelamun ya?”
“Gue kira lo ketempelan penunggu Sekolah, jangan bengong Na lo bisa gila.” Kenzo terkekeh pelan melihat ekspresi cembarut Anna.
Anna memukul pelan bahu Kenzo. “Kamu doain aku gila? Jahat!”
“Baperan lo!” Kenzo kembali membuka mulutnya menerima suapan Anna.
“Nanti malem lo mau ikut gue gak?” tanya Kenzo disela-sela mengunyahnya.
“Kemana?”
“Pasar malam.”
Anna berpikir sebentar, Anna ingin pergi tapi harus izin kepada Leon, tapi Anna masih kecewa dengan kejadian tadi rasanya sulit untuk melupakannya. Anna masih ingat betul saat Leon menamparnya bahkan membentaknya, tapi jika dia tidak izin pasti Leon akan marah besar padanya. Sudahlah, Anna tidak peduli.
“Ya, aku ikut.”
Setelah mengiyakan ajakan Kenzo. Kini mereka tengah berada di area pasar malam. Anna tidak pulang terlibah dahulu, dia juga tidak meminta izin kepada Leon bahkan sekarang Anna memakai baju Eliza. Saking tidak inginnya Anna bertemu Leon, sampai-sampai dia membohongi maid di mansion saat menanyakan dirinya tadi.
__ADS_1
“Lo mau main apa? Roller coaster? Bianglala? Kuda-kudaan di kamar mau?” Kenzo terkekeh usil.
Anna membulatkan matanya, kemudian memukul lengan Kenzo. “Mesum!”