Isteri Kontrak Tuan Kejam

Isteri Kontrak Tuan Kejam
Bab 12


__ADS_3

Dua belas tahun silam.


“Mama ...,” Anna menggelengkan kepalanya disertai pegangan kuat pada tangan Mamanya.


Tangan besar itu perlahan melepas tangan kecil yang menggenggamnya. “Lepaskan Mama Shyna, pergilah! Mama akan segera kembali.”


Lagi-lagi Anna menggelengkan kepalanya kuat, dia tidak ingin ditinggalkan apalagi di kondisi yang tidak memungkinkan seperti sekarang. Di luasnya laut biru, Anna terduduk lesu sembari menatap langkah kaki yang kian menjauh darinya. Mata birunya berlinang air mata seiring meledaknya kapal besar di depannya. Matanya tertutup rapat tak ingin menyaksikan kejadian menyakitkan di depannya, hati kecilnya sakit mendengar teriakan di seberang sana.


“Mama!!” teriakan Anna seakan tidak terdengar siapapun, suaranya mengandung luka yang dalam, nafasnya memburu bagai tanda akhir waktu untuknya. Anna menangis sejadinya, ini adalah mimpi buruk si gadis kecil Nana, dia sudah kehilangan semuanya.


“Mama tidak akan kembali, Mama berbohong! Mama tinggalin Shyna. Papa ... Papa juga pergi tinggalin Shyna juga, Shyna membenci semuanya! Shyna benci!” kepalan tangan kecilnya seolah menyalurkan rasa kecewa di hatinya. Anna kecil yang rapuh, Anna kecil yang malang.


“Nona ...,” panggil seseorang di belakangnya. Anna menoleh, kemudian matanya kembali melihat ledakan di depannya lagi.


“Pergilah Mara! Aku benci padamu, kamu telah membohongiku!” Anna menepis kasar tangan Mara di pundaknya.


Hamara Lusyna seorang asisten pribadi Anna sejak kecil, Mara seperti Ibu kedua bagi Anna hanya saja dia berbeda dengan Ibunya Syhna, begitu menurut Anna. Hamara wanita berusia dua puluh tahun itu hanya bisa menatap lirih ledakan di laut sana. Mara berjanji akan menjaga Anna seperti putrinya sendiri, janjinya harus ditepati. Pengorbanan Nyonya besarnya tidak boleh sia-sia, dia harus membalas semua kebaikan Nyonya besarnya.


“Jaga Putriku, awasi dia sampai berumur delapan belas tahun. Dia harus seperti ilusi, jangan perlihatkan jati dirinya, rubah dia pada kebohongan yang mampu menipu semua orang. Aku percaya padamu Mara, jagalah Putriku, ingat! Mereka masih mengincar dirinya, dan jangan pernah memperlihatkan mata biru miliknya.”


“Dia harus menjadi seperti Ayahnya yang tangguh. Berjanjilah Mara! Kau akan selalu berada disisinya meskipun diambang luka. Jagalah rahasia ini, beritahukanlah saat dia berumur delapan belas tahun, jaga dia baik-baik, dia adalah permata biru kesayangan kami.”


“Setiap langkahnya kau harus awasi. Dia berada dimana-mana, dia adalah api untuk dirinya, jangan membiarkannya pergi sendiri. Aku akan selalu ada di hati kalian, buka peti itu untuk menanggung hidup kalian nanti.”


“Luka itu adalah jawaban dari semuanya.”

__ADS_1


Mara memejamkan matanya mengingat setiap perkataan yang dilontarkan Nyonya besarnya sebelum kejadian tragis ini terjadi. Mara menatap luasnya laut di depannya, ini adalah awal dari perjuangan yang sebenarnya. Mara memandang Nona kecilnya yang terdiam sembari melihat puing-puing benda yang berhamburan memenuhi laut, mata birunya masih setia mengeluarkan air mata. Mara mendesah lirih, melihat Nona kecilnya seperti ini membuat hatinya sedih. Mata itu yang biasanya bersinar terang kini meredup diisi dengan kesedihan, senyum itu yang biasa mengembang kini melengkung membentuk kekecewaan, rambut itu yang melambai kesenangan kini terapung diiringi angin kesediahan, dialah Anna si Nona kecil yang malang.


“Nona kecil, ayo kita pulang.” Mara memangku tubuh mungil Anna ke dalam gendongannya. Tubuh ini seperti rapuh untuk disentuh, rasa dinginnya semakin terasa seiring tatapan kosong miliknya.


“Papa dan Mamaku di sini Mara, aku tidak akan meninggalkan mereka. Mereka akan merindukan ku jika aku pergi, aku akan tetap di sini menunggu mereka kembali.”


Mara menahan air matanya mendengar penuturan Anna. Takdir sangat tidak adil untuk kehidupan Nona kecilnya, usianya masih sangat muda untuk menghadapi kepahitan hidupnya. Ini sungguh tidak adil, mereka merenggut kehidupan Nona kecilnya yang sempurna.


“Aku akan tetap di sini menunggu Mama, Papa, dan Al. Al berjanji akan menjemputku di bawah pohon itu, dia akan membawaku ke laut itu mencari harta karun di sana.”


“Mereka semua berjanji, tapi tidak ada satupun yang mereka tepati, aku kecewa Mara.”


\*\*\*


“Tuan,” panggil Jack membuat pria itu menatapnya tajam, pria itu paling tidak suka jika waktunya terganggu apalagi saat ia bersama wanitanya.


“Katakan!”


Dengan tangan gemetar, Jack menyodorkan map besar di tangannya ke atas meja. Jack meneguk salivanya susah, dirinya seperti tidak bernafas saat mendengar suara Tuannya tadi.


Pria dengan luka di bawah telinga itu mengambil map biru di hadapannya. Senyumnya terukir licik saat membaca deretan kata di sana. Tangan terkepal erat memegang sisi map tersebut.


“Hamara, bukannya dia asisten wanita itu? Jadi, gadis kecil itu tinggal bersama Hamara? Aku senang kau membawa informasi penting Jack!”


Jack hanya menganggukkan kepalanya, dia cukup lega mendengar jawaban Tuannya meskipun jantungnya berdetak tidak karuan. “Saya ikut senang dengan kebahagiaan anda Tuan.”

__ADS_1


“Cari tahu lebih lanjut, aku ingin dia berada di hadapanku. Aku membutuhkan sidik jari dia secepatnya, gadis itu adalah kunci kemenangan ku.”


“Baik Tuan, tapi alangkah baiknya jika Tuan muda Lio juga ikut andil dalam mencari alamat gadis itu. Saya dengar kedekatan mereka di sekolah Tuan, mungkin dengan begitu kita akan lebih mudah mendapatkan alamat rumah gadis itu.” Jack menundukkan kepalanya takut perkataannya salah.


“Lio? Ya, putraku harus aku gunakan dengan benar. Mengingat dia membuatku kesal karena telah mengkhianati wanitaku, dan menikah dengan wanita buruk rupa itu.”


Jack hanya mengelus dada mendengarnya. Tuan besarnya benar-benar definisi suami gila, istri sendiri dibilang buruk rupa padahal kecantikannya melebihi istri dia. Kasihan sekali mendiang istri Tuannya itu, semoga beliau beristirahat dengan tenang di sana.


“Come on baby.”


\*\*\*


“Gue capek-capek temenin lo semaleman dan ini balasan lo. Sialan lo! Berani-beraninya lo lakuin *** video di rumah gue, emang ****** lo!”


Anna segera menutup laptopnya, dengan cepat Anna melepas flashdisk itu lalu menaruhnya di bawah bantal tanpa sepengetahuan Leon.


Anna menahan sakit di hatinya sembari menunduk menatap laptop di pangkuannya. Lagi-lagi dia harus mendengar penghinaan itu, rasanya begitu perih saat mendengarnya, rasanya sulit untuk di ungkapkan bagaimana perasaannya saat mendengar kata menjijikan itu.


“Tidak Leon! Aku tidak melakukan apapun.” Anna mencoba mengelak, karena sebenarnya dirinya memang tidak salah, tuduhan itu jelas salah.


“Halah alesan! Buktinya lo pakek handuk apalagi ngangkang begitu, lo gak usah munafik! Gue tahu sifat busuk lo Anna!” Leon sengaja menambahkan tuduhannya agar Anna tersudutkan, Leon berharap Anna jujur dengan begitu perceraian mereka semakin cepat.


“Tidak Leon! Tuduhanmu tidak benar, aku sedang membuka file penting dari kepala sekolah. Sungguh aku tidak berbohong Leon!” Anna mencoba untuk mengelak lagi, Anna tidak terima jika dirinya dituduh seperti itu oleh Leon.


“Penipu!” Leon mengambil laptop Anna, kemudian membantingnya kasar. Leon tersenyum miring melihat laptop Anna yang rusak, ada kesenangan tersendiri di hatinya melihat Anna menderita. Namun, di sisi lain ada rasa tersembunyi yang membuatnya seolah sedih melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2