
“Lo gak menarik! Lo tepos!” Leon mengulang kata-katanya sambil memukul mulutnya kasar. Leon kerutuki dirinya yang membayangkan Anna sama seperti Princess-nya, Princess-nya hanya ada satu tidak dua, hanya Nana bukan Anna.
Leon mengambil celana panjangnya lalu memakainya. Leon mengambil ponselnya, Leon memandang Anna sebentar, berlama-lama di sini membuatnya hampir melupakan Princess-nya, Leon tidak mau itu terjadi.
“Tempat ini emang terkutuk buat gue!” Leon berlari keluar dari kamar Anna sambil menggerutu tak jelas.
Di kamar. Anna menggeliat pelan, otot-otot tubuhnya terasa linu saat digerakkan apalagi kepalanya masih berdenyut nyeri. Anna melihat sekeliling kamarnya yang berantakan, piyamanya tergeletak di lantai dan juga ada kaos Leon di sana.
Anna terdiam sesaat, kamudian membuka selimutnya. Anna terkejut saat dirinya hanya memakai bra dan celana pendek saja. Apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya? Apakah Leon? Anna mencoba mengingatnya, ingatan Anna berputar pada semalam saat ia memeluk Leon dan setelah itu ia tidak ingat lagi.
“Apa yang terjadi? Apa Leon melakukan itu?” monolog Anna sambil menatap lama kaos Leon yang tergeletak di sana.
Anna melilitkan selimut pada tubuhnya. Anna berjalan perlahan, sejenak dia terdiam. Menurut artikel yang dibacanya, jika sudah melakukan malam pertama maka bagian tubuh kita akan terasa sakit dan perih saat melangkah, tapi Anna tidak merasakan itu semua.
__ADS_1
Anna bernafas lega, kemudian Anna memunguti pakainnya dan Leon lalu dia masukan ke dalam keranjang kotor. Anna menatap pantulan dirinya di cermin, matanya memicing saat melihat warna merah keunguan di atas dadanya.
“Jangan-jangan ...,” Anna menutup mulutnya. Leon benar-benar berlaku aneh pada tubuhnya semalam. Anna lega karena Leon tidak bertindak lebih pada tubuhnya, Anna bisa saja menyerahkan kesuciannya pada Leon, tapi Anna memiliki harapan jika waktu itu tiba berharap Leon sudah mencintainya.
Maki Leon yang sudah mengatakan Anna tepos, pada akhirnya dia menikmati sendiri. Leon itu definisi manusia gengsi tapi mau!
Anna menyentuh tanda itu, sedikit perih saat menyentuhnya. Anna tak ambil pusing, toh Leon adalah suaminya jadi Anna santai saja meskipun ada rasa aneh di hatinya.
Anna keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Anna menggosok rambutnya sambil mengambil pakaiannya di lemari.
Mengingat kalimat itu membuat Anna sedih. Rasanya begitu singkat pertemuannya dengan Mamanya, Anna menunduk sedih mengingat mimpinya semalam.
“Mama ....”
__ADS_1
Anna menghentikan pergerakannya, kemudian dia membuka laci meja riasnya lalu mengambil kotak dari dalam sana. Kemarin, Lyssa Ibu mertuanya memberikan kotak ini. Anna membukanya dan isinya adalah flashdisk, Anna mengambil laptop miliknya lalu memasangkannya.
“Ahh ... Kenzolio.”
Sedangkan di kamar Leon. Leon tengah menggeser layar ponselnya memandang foto dirinya dan Anna semalam, Leon sengaja memotretnya untuk dijadikan sebagai bahan pengancam jika suatu saat nanti Anna berulah. Leon tersenyum sinis, matanya masih setia memandang Anna di sana.
“Lo ... Gak! Lo cewek genit! Gue gak selera sama lo!” Leon memukul kepalanya yang berpikir jauh.
“Gimana keadaannya sekarang?” Leon menaruh ponselnya lalu berjalan menuju kamar Anna.
Leon hanya penasaran dengan kondisinya bukan sebuah perhatian padanya, garis bawahi itu.
“Ahh ... Kenzolio.”
__ADS_1
Leon mengepalkan tangannya kuat, dia capek-capek membantu Anna semalaman tapi dia. Rasanya tidak bisa dijabarkan oleh Leon. Leon mendobrak kasar pintu kamar Anna, alangkah terkejutnya saat ia melihat Anna yang hanya memakai handuk sambil memangku laptopnya, melihat itu membuat pikiran Leon berkelana kemana-mana.
“Sialan lo! Gue bantu lo semalaman, setelah sembuh lo berlaku ****** seoerti ini? Hebat lo. Berani-beraninya lo lakuin *** video sama cowok cowok.