Isteri Kontrak Tuan Kejam

Isteri Kontrak Tuan Kejam
Bab 8


__ADS_3

Anna membulatkan matanya, kemudian memukul lengan Kenzo. “Mesum!”


“Mesum sama lo mah gak papa.” Kenzo menarik pelan kupluk hoodie Anna.


Anna mengerucutkan bibirnya. “Lepasin Ken!”


Mereka berjalan sambil mengamati berbagai permainan di setiap tempat, sesekali Anna menujuk permainan di sekitarnya saat Kenzo mengajaknya, Anna hanya menggelengkan kepalanya.


“Kita cuman jalan-jalan gitu?” tanya Kenzo, padahal dia ke sini untuk bersenang-senang dengan Anna.


“Terus ngapain?”


Kenzo berdecak kesal, lalu dia menghampiri stand yang menyediakan permainan botol. Kenzo mengambil enam gelang plastik lalu melemparkannya pada botol di sana. Anna menatap takjub Kenzo yang berhasil memasukan gelang tersebut dalam satu kali lemparan.


“Lo pilih,” Kenzo menujuk berbagai hadiah yang menggantung di atasnya.


Anna tertawa senang lalu menunjuk boneka katak di samping Kenzo. Kenzo segera mengambil boneka tersebut, dia terkekeh pelan memandang Anna yang antusias dengan hadiah darinya.


“Padahal ada yang lebih bagus,” saran Kenzo sembari menunjuk berbagai hadiah lainnya.


Anna menggelengkan kepalanya sembari memeluk erat bonekanya. Memang boneka tersebut tidak menarik, tapi benda tersebut sangatlah lucu dimata Anna apalagi tas yang di pakai boneka katak itu.


“Oke, terserah ratu.”


***


Anna memarkirkan sepedanya asal. Setelah mendapat pesan dari Leon bahwa mertuanya datang, Anna buru-buru pulang walau sebenarnya masih ingin di sana.

__ADS_1


“Darimana saja Anna?” tanya Lyssa ibu mertuanya.


Anna segera meraih tangan ibu mertuanya lalu mengecupnya. “Anna keluar sebentar. Maaf, Anna tidak tahu kalau Ibu akan datang.”


Lyssa menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa, Mama cuman sebentar mampir ke sini. Bagaimana kabar kamu sayang?”


“Anna baik Ma,” jawab Anna dengan senyum hangatnya.


Lyssa tersenyum lalu memeluk Anna. “Jangan lupa dengan misi kamu Anna, jangan gegabah, mereka berbahaya.”


Anna menganggukkan kepalanya pelan. Perlahan Lyssa mengurai pelukannya, kemudian mengusap pelan pipi Anna. “Jaga Leon, Mama yakin kamu bisa merubahnya, Mama pulang dulu.”


Anna menganggukkan kepalanya. Setelah kepergian Lyssa, Leon datang dari arah dapur sembari membawa segelah jus.


“Puas lo?! Lo enak-enakan jalan-jalan, sedangkan gue diinterogasi mati-matian sama Mama. Puas lo!” pekik Leon sembari mendudukkan bokongnya di sofa tunggal.


“Bisu ya? Gue udah ingetin buat hati-hati, lo malah seenak jidat aja jalan sama tuh cowok.” Leon melempar kasar beberapa lembar foto pada Anna.


Anna mengambil foto-foto tersebut. Ini adalah foto dirinya dan Kenzo saat di pasar malam dan di belakang sekolah, siapa yang lancang mengambil fotonya dan mengirimkannya pada Leon.


“Mama tahu?” tanya Anna penasaran.


“Idiot! Ya tahu lah, jelas tuh foto dari Mama. Lo buat posisi gue gak aman Anna, lo memang pencari masalah di hidup gue. Lo beban tahu gak!”


Anna memejamkan matanya, lagi-lagi dia harus mendengar hinaan itu. Dada Anna sesak mendengarnya, dia ternyata hanya beban hidup Leon. “Aku gak pernah minta untuk jadi istri kamu Leon. Jika aku beban, kenapa kamu menerima pernikahan ini.”


Leon mencengkram kuat gelas di tangannya. “Lo berani sekarang, pasti ini hasutan cowok gila itu, kan? Wah, cinta memang merusak pikiran manusia yang sialnya gue harus mengalaminya.”

__ADS_1


“Anna, lo sadar diri lo itu siapa. Semua ini gara-gara lo kalau aja lo gak muncul waktu itu, semuanya gak bakalan terjadi cewek genit, dan lo salahin gue dengan semua ini. Woi ******! Lo ngaca! Lo sendiri berpura-pura nolongin nyokap gue biar lo bisa masuk ke sini, kan?”


Leon mencengkram pipi Anna kuat. “Lo penipu Anna, suatu saat gue akan bongkar sifat busuk lo! Cih, bahkan pengemis pun gak sudi sentuh tangan lo.”


“Cewek rendahan dan penipu kayak lo gak pantes dicintai. Beruntung lo bisa di sayangi sama cowok gila pelanggan lo, gue ragu apa lo masih suci atau kotor?”


Air mata Anna luruh tanpa diminta. Hati Anna sakit mendengarnya, hati Anna tarluka melihatnya. Anna rendah bahkan lebih rendah dari pengemis, itu tanggapan Leon padanya. Anna ingin melawan, Anna ingin menyangkal semua itu, Anna ingin membuktikan jika ucapan Leon salah, tapi Anna tidak bisa apa-apa. Tugas Anna adalah berjuang, melahirkan anak dan pergi selamanya.


Anna sadar dirinya lemah, lemah dengan setiap perkataan yang Leon lontarkan. Anna terluka mendengarnya, Anna ingin pangeran nya kembali, tapi tidak bisa dia sudah hidup tenang di surga.


“Jika aku rendah maka kamu juga lebih rendah daripada aku Leon, lelaki arogan sepertimu juga tidak pantas dicintai. Leon, kamu tidak ingat jika perbuatanmu dengan Isha bisa aku laporkan? Kamu bodoh Leon, kamu orang bodoh yang terjerat cinta buta dengan penjilat seperti Isha!”


Plak!


Prang!


Anna memegangi pipinya, lagi-lagi dia harus merasakan panasnya sebuah tamparan untuk yang kedua kalinya. Anna memejamkan matanya menahan rasa sakit dan air mata yang luruh membasahi pipinya.


“Jangan pernah bawa-bawa dia, atau lo dan keluarga lo habis di tangan gue. Gue gak pernah main-main Annabeth.”


Leon pergi sembari menginjak pecahan gelas di lantai. Leon tak memperdulikan dengan darah yang terus mengalir dari kakinya. Dari setiap anak tangga sudah dikotori dengan darah kebencian Leon. Leon pergi dengan amarah dan kekesalannya.


Anna mencabut pecahan gelas di kakinya. Anna menatap luka di kakinya, luka ini tidak sebanding dengan luka di hatinya, rasa sakit ini masih dibawah luka di lubuk hatinya, dan tangis ini belum seberapa dengan kesedihan yang sebenarnya.


Bersambung.


Satu kata untuk Anna?

__ADS_1


__ADS_2