Isteri Kontrak Tuan Kejam

Isteri Kontrak Tuan Kejam
Bab 16


__ADS_3

“Meskipun aku selalu mengharapkan kedatangan mu, tapi aku sudah ikhlas menerima takdir kita yang tidak akan dipertemukan kembali.”


Laki-laki kecil sahabatnya selalu ada di hati Anna. Dia adalah teman pertamanya setelah boneka-bonekanya, anak laki-laki itu bagai pangeran boneka barbienya, dia datang membawa secarik kebahagiaan bersama senyumannya. Senyum yang selalu Anna ingat sampai sekarang, senyum yang mampu membuat Anna tertawa, dan senyum yang selalu mengandung luka.


_“Jangan terluka lagi, aku bukan Dokter yang selalu mengobati pasiennya. Pengobatanku khusus untuk Chelli dan Luly.” Gadis berpita kelinci itu mengerucutkan bibirnya sambil mengobati luka anak laki-laki di depannya.


Anak laki-laki bernama Al itu hanya tersenyum tipis. Tangan kecilnya terulur membenarkan poni gadis kecil di depannya. “Kau Dokter sekaligus obat untukku Nana, aku tidak perlu khawatir dengan adanya kau di sisiku.”


_“Kamu akan pergi Al. Papa sudah menemukan keluarga dan rumahmu, aku turut senang akhirnya kau bertemu dengan orang tuamu kembali. Aku akan merindukanmu di sini, berjanjilah untuk tidak melupakanku.” Gadis kecil itu meneteskan air matanya, tangan kecilnya bergetar sambil memegang obat anti septik agar tidak jatuh.


Al mengusap air mata itu, air mata itu seolah berharga untuk terbuang. Ya, seberharga gadis kecil di depannya, tanpa pertolongannya mungkin dirinya tidak akan di sini, mungkin saja dia akan terus di siksa dan dijadikan pengemis di setiap Distrik. Al mengklaim gadis ini berarti setelah pertolongannya, menurut Al hal yang paling berarti di hidupnya adalah saat gadis kecil ini mengulurkan tangannya menarik dirinya dari lubang penyiksaan. Bagi mereka itu pertolongan biasa, tapi bagi Al itu sangatlah berarti.


Saat musim panas di Berlin, tersebar berita penculikan anak yang terjadi di Taman kota dekat sekolah Al. Berita itu menggemparkan seisi penduduk Berlin, dimana para orang tua semakin overprotektif terhadap anaknya. Penculikan itu membuat sebagian orang tua sedih, anak-anak mereka harus menjadi korban dari penculikan tersebut. Tersisa dua anak yang lolos dari insiden menakutkan tersebut, para orang tua semakin dibuat terpukul saat mengetahui bahwa mereka tidak mengetahui penculik itu membawa anak mereka kemana.


Tidak ada yang tahu jika para penculik itu membawa semua anak ke Barcelona. Mereka di siksa dan dijadikan pengemis di setiap toko dan persimpangan, sebagian dari mereka ada yang dijual di pasar gelap, dan juga ada yang mengadopsi dari para pasangan yang tidak mempunyai anak, anak-anak itu memiliki nasib yang baik. Berbeda dengan Al yang terus di siksa sambil diperlakukan tidak manusiawi, Al dipekerjakan di setiap toko dengan upah yang tidak seberapa, hasilnya bekerjapun dia tidak menikmatinya hanya memegangnya lalu diambil. Al kecil yang periang, hari itu berubah menjadi pendiam dengan sekujur tubuh penuh luka. Al selalu menunggu penyelamat untuknya, Al selalu menunggu hari dimana dirinya terbebas dari penderitaan ini.


Tepat di musim dingin. Al berlari menghindari kejaran para penculik, Al Audah tidak lagi dengan semua rasa sakit selama sembilan bulan ini, ini sudah cukup untuknya. Al berlari kencang dengan kaki terluka, nampak paku tertancap di kaki kecilnya. Al terjatuh karena dia tersandung batu kecil, sekarang Al hanya bisa berdoa semoga ada yang menolongnya karena dirinya tak mampu lagi berlari bahkan untuk berdiri.


“Papa! Papa!” gadis kecil bermantel biru itu berteriak sambil menghampiri Al. Mulut kecilnya terus memanggil sang Papa sambil membawa tongkat kecil di tangannya.

__ADS_1


Tak lama setelah itu datang segerombolan pria, kemudia mengejar penculik yang mengejar Al tadi. Gadis kecil itu membantu Al berdiri, tangan kecilnya mengusap setiap kotoran yang menempel di bajunya, kamudian dia melepas mantelnya dan memakaikannya pada Al.


“Kamu tidak perlu takut, mereka sedang mengejar orang jahat itu. Kau tenang saja, sekarang kamu aman bersamaku.” Gadis kecil berambut pirang itu tersenyum kecil sembari menggenggam tangan Al.


Al menatap tangannya yang digenggam hangat oleh gadis kecil itu. Al tersenyum kecil, gadis kecil ini adalah penolongnya, dia adalah malaikat kecil yang menolongnya dari penderitaan. Al mengklaim gadis kecil ini adalah Peri cantik penolongnya.


_“Jangan menangis, aku akan kembali bersama Molly ke sini, aku akan menemui mu lagi di sini.” Al mengusap pipi mulus Nana.


Gadis kecil itu mengusap ingusnya. “Molly, kucing kesayanganmu itu?”


Al mengangguk. “Ya!”


_“Ya, tunggulah aku di bawah pohon ini, aku berjanji akan kembali.”


Janji itu seketika pudar setelah satu tahun lamanya Anna menunggu. Janji itu seketika menjadi tipuan palsu yang mampu memutuskan harapan Anna. Di setiap hari Anna selalu menunggu kedatangannya hingga kejadian itu terjadi, sebuah kejadian yang merenggut semua kebahagiannya termasuk semua kenangannya.


“Dimanapun kamu, aku hanya berharap kamu bahagia di sana meskipun tanpa diriku. Aku berharap kamu tidak lupa dengan kenangan kita walaupun itu hanya kenangan kosong untukmu.”


Anna menghela nafasnya kasar. Waktu terus berlalu perpisahannya dan Leon pun semakin dekat. Tidak ada hal manis yang terlewati selama satu bulan ini, hanya ada kepahitan yang menyelimuti mereka. Entah kapan kebahagiaan itu datang, setidaknya datanglah dalam waktu singkat ini dan berikanlah kesan manis sebelum perpisahan kedua insan itu.

__ADS_1


Harapan Anna semakin jauh untuk mendapatkan cinta Leon. Terkadang perasaan itu dekat, dan terkadang pula jauh. Anna dibuat bingung untuk menyimpulkan isi hatinya, di sisi lain ada seseorang yang harus Anna perjuangkan, dan di sisi lain ada seseorang yang selalu Anna harapkan kedatangannya. Hati kecilnya sulit untuk memilih, raganya seolah kaku untuk mendapat tujuan, dirinya tidak mempunyai kesimpulan untuk memutuskan, Anna seolah menggantung dirinya untuk berada di tengah-tengah pengorbanan.


“Dia dekat, rasakan keberadaannya, dia ilusi maka pahami ketidakhadiran dirinya, dia penghancur maka buktikan jika dirinya bukan penghapus dari kebahagiaanmu. Dia dekat denganmu Anna, rasakan setiap aroma yang kamu cium, saat itulah kamu mengetahui keberadaan dirinya.”


Perkataan Mamanya dalam mimpinya tempo lalu membuat Anna bingung, ini seperti teka-teki kehidupan yang harus dia pecahkan. Anna tidak mahir dalam memecahkan masalah, jika dia mampu maka Anna sudah meraih finish dari misinya selama ini. Hidupnya bukan tentang si kecil Nana, tapi tentang perjuangannya menghadapi misi dalam hidupnya, selain teka-teki itu Anna harus menyelesaikan teka-teki lain yang ada di jalannya.


“Petunjukmu tidak aku mengerti Ma, tolong berilah keajaiban lain setidaknya dapat aku mengerti.” Anna mengeluh pelan, rasanya dia seperti dihadapkan dengan badai besar yang mampu menyapu seluruh hidupnya.


\*\*\*


“Mama ajak kita makan malam di Mansion, kita harus datang. Gak ada penolakan!” Anna yang hendak bicarapun kembali diam.


Di depannya sudah ada Leon yang menemaninya sarapan. Tidak biasanya Leon memakan masakannya selain masakan Lina. Anna tidak tahu jika dessert buatannya saja dimakan habis oleh Leon, Anna mengira ini sebuah kebetulan Leon mau memakan masakannya.


“Gak usah sok sibuk! Lo cuman pengangguran selain masak dan beresin rumah!” pekik Leon sembari membanting sendok cukup keras.


“Iya Leon, aku mau.” Anna hanya bisa pasrah dengan semua paksaan Leon.


Sebenarnya nanti malam Anna berjanji akan membantu Eliza di toko roti, Anna sengaja melakukannya untuk menambah penghasilannya. Jujur, Anna sangat membutuhkan uang.

__ADS_1


__ADS_2