
“Penipu!” Leon mengambil laptop Anna, kemudian membantingnya kasar. Leon tersenyum miring melihat laptop Anna yang rusak, ada kesenangan tersendiri di hatinya melihat Anna menderita. Namun, di sisi lain ada rasa tersembunyi yang membuatnya seolah sedih melihat Anna sakit.
Anna membulatkan matanya, manik mata hijaunya memandang nanar laptopnya yang rusak. Laptop itu adalah hasil jerih payahnya dalam lomba olimpiade, banyak perjuangan untuk mendapatkan laptop tersebut, tapi dengan mudahnya Leon membantingnya tanpa memperdulikan perasaan Anna.
“Leon!” pekik Anna geram, Anna kesal dengan sikap kekanakan Leon. Leon itu selalu menuduhnya tanpa bukti, menuduhnya tanpa berpikir bahwa tuduhannya itu salah dan menyakiti hatinya.
Sekarang Anna tahu, Leon itu kejam, Leon itu berhari batu, dan Leon itu rahasia bagi Anna.
“Kenapa? Gak suka? Gue gak mau ada barang menjijikan di rumah gue, apalagi buat kesenangan sendiri. Lo boleh lakuin itu di belakang gue, tapi jangan di depan gue apalagi di rumah gue.”
“Setelah gue tolak perasaan lo, sekarang lo jadi ****** gratisan buat lampiasin rasa kecewa lo? Cih! Menjijikan!” lanjut Leon, Leon sama sekali tidak memperdulikan perasaan Anna, tidak sadarkah dirinya jika semua kata-katanya begitu menyakiti hati Anna.
Anna mengepalkan tangannya, ini sudah cukup, dia tidak ingin lagi mendengar hinaan Leon selanjutnya. “Apa sedikitpun tidak ada rasa percaya kamu kepadaku Leon?”
Leon tersenyum sinis, matanya menatap mata hijau Anna yang berair. “Gue? Gue percaya sama lo, gak akan pernah!” Leon tertawa pelan sembari menunjuk dirinya sendiri.
Anna terkekeh pelan, miris sekali hidupnya yang tidak dipercaya sedikitpun oleh Leon meskipun dia mengatakan kebenaran sekalipun. “Baiklah, jika itu tanggapan mu. Aku sadar, aku hanya istri kontrak kamu, aku juga sadar sebaik apapun aku tetap saja di mata kamu aku itu rendah.”
__ADS_1
Hati Leon seperti terkena tetesan air dingin, sangat ngilu mendengar penuturan Anna barusan. Leon seperti tidak suka mendengar Anna merendahkan dirinya, tapi dia juga gengsi untuk menyela.
“Ya, lo emang rendah! Ibaratnya lo anj*ng, dan gue majikan. Lo harus sadar diri, hubungan kita cuman sebatas kontrak, jangan berharap lebih setelah semalam. Gue nolongin hanya sebatas majikan dan bawahan!” lanjut Leon, perasaannya tidak karuan setelah mengatakan itu. Kata-kata itu seperti terdorong untuk mengatakannya, mulutnya seperti kaku setelah mengucapkan semua kata itu.
“Aku rendah, dan aku sadar. Terimakasih atas pertolonganmu Leon, suatu saat nanti aku akan membalasnya.” Anna kira setelah kejadian semalam Leon akan berubah, namun tidak.
Anna mengira Leon akan berubah menjadi pengertian padanya setelah semalam. Anna pikir semalam adalah awal yang baru untuk hubungannya dan Leon, tapi semua itu salah. Semalam adalah awal dari kesalahpahaman pagi ini.
Labirin di depannya terlalu kokoh untuk di tembus. Raganya tidak kuat untuk menembus labirin itu. Hatinya rapuh untuk mengucapkan semangat, dadanya sesak melihat perjuangan dirinya yang sia-sia. Anna hanya wanita rapuh, labirin itu terlalu rumit untuk ia pecahkan, labirin itu terlalu sulit untuk ia lewati, dan labirin itu adalah pembeda antara dirinya dan Leon.
Apakah Anna harus menjadi seperti Aurora yang setia menunggu satu ciuman? Sama halnya Anna yang menunggu segenggam cinta tulus dari Leon. Anna bukan Aurora yang memilki cinta sejati, cinta Anna sudah padam beberapa tahun lalu, saat cintanya kembali hidup saat itu pula dia memadamkannya kembali.
Anna tersenyum miris, dia hanya orang asing, tidak lebih. Anna ingin merubah kata itu, tapi sulit. Anna ingin menyangkalnya, tapi tidaklah mudah. “Ya, aku sadar kita hanya orang asing. Tenanglah Leon, 11 bulan 3 hari lagi orang asing ini akan pergi meninggalkan sesuatu yang berharga, kamu jangan khawatir aku masih mengingat isi kontrak kita.”
Anna membenarkan handuknya, kemudian mengambil seragamnya dan memakainya. Anna tidak memperdulikan Leon yang masih berada di kamarnya, buat apa iya malu lagian tubuhnya sendiri adalah milik Leon, begitu yang tertulis dalam kontraknya.
“Cih! Gue gak nafsu!” bohong jika Leon mengatakan tidak nafsu, buktinya wajahnya memerah melihat Anna telanjang di depannya meskipun membelakanginya, tapi wajah Leon panas melihat setiap lekukan tubuh Anna.
__ADS_1
Anna menyunggingkan senyumnya. Sedikit terlintas ide di pikirannya untuk membalas semua penghinaan Leon. “Yakin gak nafsu?”
“Ini buktinya,” Anna menunjuk kissmark di atas dadanya. Anna tersenyum miring melihat Leon yang nampak gelagapan melihatnya. “Dan ini.”
Anna berjalan santai mendekati Leon. Setiap langkahnya tak luput dari pandangan Leon, langkah kaki sensual itu seperti membangunkan sesuatu pada diri Leon. Tubuhnya terasa panas melihat kemeja Anna yang tak terkancing, jakunnya naik turun seiring manik matanya menatap bibir merah milik Anna.
“Kamu bilang aku ini rendah, kamu bilang aku adalah ******. Jadi, lihatlah kenakalan ****** ini, touch me honey.” Anna tidak peduli dengan harga dirinya, dirinya sudah rendah dengan mengatakan perasaannya pada Leon yang sama sekali tidak membalasnya.
“Let's play?” Anna mendorong tubuh Leon pelan hingga terjatuh di sofa. Anna duduk di atas pangkuan Leon sembari memainkan telunjuknya di jakun Leon yang naik turun. Anna akan menunjukan ****** yang sebenarnya meskipun ini menjijikan, Anna akan membuktikan ucapan Leon padanya, beginilah sosok ****** sebenarnya.
“Damn it!”
\*\*\*
“Sea, tolong antarkan pesanan ini pada pelanggan di depan.” Elina—Mamanya Eliza menyodorkan paper bag besar berisi roti di dalamnya.
Eliza yang tengah memainkan ponselnya menoleh, tangannya terulur mengambil paper bag tersebut.
__ADS_1
Eliza celingak-celinguk mencari pelanggan di depan, terlalu banyak orang di sini apalagi Mamanya tidak menyebutkan dia duduk di meja mana. Eliza menatap seorang laki-laki yang tengah berdiri di depan pintu tokonya, mungkin dia orangnya pikir Eliza.
Tapi, saat berjalan ke sana tiba-tiba Eliza terjatuh karena ada seseorang.