
Anna melihat sekelilingnya. Sebuah tanah yang hijau. Pohon-pohon menjulang tinggi. Bunga-bunga bermekaran dengan indah. Anna mendekati sekelompok bunga matahari di seberang sana, perlahan Anna mengusap kelopak bunga tersebut kemudian memetiknya. Anna menghirup aroma bunga itu. Mata Anna tak sengaja melihat sesosok wanita bercahaya di bawah pohon, meskipun tidak jelas, Anna tahu betul siapa wanita itu.
“Mama ...,” Anna menghampiri wanita bergaun putih itu. Wanita itu seperti tersenyum kepada Anna dengan tangan terulur.
Anna mengembangkan senyumnya, perlahan Anna menggapai tangan yang selama ini ia rindukan. Anna memegang erat tangan wanita itu. Rasa hangatnya masih sama seperti dulu, rasa ini adalah rasa yang amat ia rindukan. Anna bahagia.
“Anna rindu sama Mama, maafin Anna.” Wanita itu hanya tersenyum sambil mengusap rambut Anna.
“Berjuanglah Anna. Mama akan selalu ada di hati kamu, Mama akan selalu ada buat kamu, meskipun tidak nyata.” Wanita itu seolah memancarkan kesedihan yang mendalam, terlihat dari pegangannya yang mengendur.
Seolah tidak ingin genggaman hangat itu terlepas, Anna semakin erat menggenggam tangan wanita itu. Anna menggeleng pelan, Anna masih rindu dengan sosok penyayang di depannya. “Anna ingin Mama nyata. Jadi, bawalah Anna!”
Menghadapi kehidupannya yang rumit membuat Anna egois. Anna tidak ingin mengalami sakit lagi, sudah cukup dengan Leon yang terus menghantui hidupnya, sudah cukup dengan anak laki-laki yang mengingkari janjinya dan meninggalkannya. Anna ingin mengakhirinya, dimana dirinya hidup damai bersama orang-orang tersayangnya.
“Belum waktunya Mama membawa kamu sayang. Berjuanglah demi Mama, rebut kembali apa harus menjadi milikmu. Ingat! Kamu tidak sendirian, ada dia yang selalu berada di samping kamu. Pahamilah dia, mengertilah dengan semua sikapnya, jangan kamu membencinya hanya dengan sebuah tanggapan kosong.”
Perlahan tapi pasti cahaya itu mulai meredup bersamaan dengan tubuh wanita itu berubah. Lagi-lagi Anna menggeleng, waktu ini begitu singkat untuk dirinya, Anna belum siap untuk kehilangannya. Tolong beri Anna kesempatan untuk memperpanjang masa ini.
“Jangan pergi ... Jangan tinggalin Anna ....”
“Laut biru tidak akan lengkap tanpa pohon hijau.” Tubuhnya perlahan berubah menjadi butiran-butiran kristal yang tercampur cahaya. Perlahan kristal itu terapung bersamaan dengan angin yang membawanya.
Anna menatap tangannya yang kosong. Tidak ada lagi tangan hangat itu, kenapa waktu sesingkat ini untuknya? Ini sangat tidak adil untuk Anna. Tidak tahukah betapa rindunya Anna pada sosok bercahaya itu, seandainya Anna ikut bersamanya mungkin sekarang Anna bahagia bersamanya.
“Jangan pergi, Anna mau ikut sama Mama.” Anna terduduk lesu dengan lutut yang menopang tubuhnya. Dunia sangat kejam bagi manusia lemah seperti Anna. Hatinya terluka, dirinya rapuh, jiwanya kecewa, tidak cukupkah dengan semua rasa sakit itu? Dan sekarang dia harus kehilangan sosok yang selama ini ia rindukan.
“Mama ....”
“Mama!”
__ADS_1
\*\*\*
“Sshh ...,” Leon melenguh pelan sambil memegang kepalanya. Tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri seiring ingatan yang mulai berputar layaknya kaset rusak. Leon mencoba mengingat apa yang terjadi tadi, tapi tetap saja dirinya tidak bisa mengingat apapun.
“Aneh,” gumam Leon sembari memandang sekeliling kamarnya. “Perasaan tadi gue di belakang, kok bisa di kamar? Gak mungkin gue tidur sambil jalan.”
Leon mengambil ponselnya di atas nakas. Leon mengucek matanya pelan melihat angka yang tertera di sana. Mata Leon membulat saat melihat waktu yang sudah malam, kurang lebih dirinya tidur selama lima jam dari sore tadi.
“Gak biasanya gue tidur jam segitu.” Leon bangkit dari kasurnya lalu berjalan keluar kamar mencari Isha dan Vano. Saat melewati kamar Anna, Leon tak sengaja mendengar teriakan dari dalam.
“Mama!!”
“Anna?” Leon segera membuka pintu kamar Anna. Leon memandang Anna yang bergetar ketakutan dengan nafas memburu.
Leon berjalan mendekati Anna. “Lo gak papa?” tanya Leon sembari mengusap keringat di kening Anna.
Anna tidak merespon pertanyaan Leon, dirinya masih sibut mengatur nafasnya. Anna mengeratkan cengkeramannya pada selimut lalu menatap Leon di sampingnya, Anna menggeleng pelan dia tidak mau kehilangan lagi setidaknya Leon masih ada harapan untuk mencintainya.
Leon hanya diam tanpa membalas pelukan Anna. Rasa ini seperti familiar untuknya, entah kenapa hati Leon berdesir saat merasakan pelukan Anna apalagi nafas gadis itu yang membuat tubunya menegang.
“Jangan pergi, jangan pergi, jangan tinggalin aku.” Anna semakin mengeratkan pelukannya mengingat kejadian dalam mimpinya.
“Lo kenapa?” tanya Leon sambil menatap Anna dari atas. Melihat Anna ketakutan seperti ini membuat Leon aneh dengan dirinya yang merespon Anna, biasanya dia selalu menolak apalagi sentuhan Anna.
Meningat kata sentuhan membuat Leon kembali mengingat mimpi mesumnya bersama Anna. Dimana Anna bergerak liar di atasnya sambil meraba-raba tubuhnya memberikan sentuhan yang mampu membuatnya melayang. Mengingatnya saja membuat Leon menegang apalagi merasakannya.
Leon menepis pikiran itu, bisa-bisanya dia bekhayal seperti itu, jangankan untuk menyentuh Anna, perasaan Anna pun ia tolak mentah-mentah.
“Jangan pergi,” Anna menangis bersamaan dengan darah yang mengalir dari hidungnya.
__ADS_1
Sejak kecil Anna mengidap Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau yang sering disebut dengan gangguan kecemasan. Jika penyakit ini kambuh pada Anna maka efeknya besar, tubuh Anna memang lemah sedari lahir apalagi dia lahir dalam keadaan prematur. Bahkan pernah Anna merasa cemas berlebihan sampai dirinya pingsan.
Leon mengurai pelukan Anna pelan. Leon terkejut saat melihat darah di hidung Anna. Leon mengambil beberapa lembar tissue di atas nakas, kemudian dia menyeka darah yang mengalir dari hidung Anna. Jujur, melihat Anna seperti ini membuat Leon khawatir tanpa sadar. Perasaan campur aduk antara kasihan dan takut, takut Anns mempunyai riwayat penyakit serius.
“Lo kenapa Anna?” tanya Leon lagi. Dari raut wajahnya Leon terlihat khawatir. Leon menekan hidung Anna sembari menyibak rambut Anna ke belakang.
Lagi-lagi Anna tidak merespon, rasa takutnya seolah merenggut kesadarannya. Anna hanya diam sambil mencengkram ujung selimut kuat. Tidak ada yang tahu dengan perasaan Anna sekarang, di sisi lain Anna kecewa dengan dirinya sendiri, dan Anna takut mengingat dirinya ditinggalkan oleh Mamanya.
Ketakutan Anna semakin besar, rasa itu adalah kelemahan Anna. Anna takut ditinggalkan, Anna takut sendirian, Anna takut dikecewakan, Anna takut dirinya diasingkan sama seperti Ibunya. Berbagai rasa takut mulai menghantui pikirannya, Anna memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.
“Leon ... Jangan---” tubuh Anna terjatuh ke belakang seiring dia menutup matanya.
“Anna!” Leon mengguncangkan tubuh Anna berharap dia merespon perlakuannya namun nihil, semua itu hanya sia-sia. Anna tidak sadarkan diri.
“Nyusahin!” gerutu Leon sembari merogoh saku celana mengambil ponselnya.
“Halo?” panggil Leon.
“...............”
“Lo dateng ke sini cepat!” ujar Leon memaksa.
“...............” Terdengar penolakan dari seberang sana. Leon mencengkram erat ponselnya.
“Mau malem, siang, pagi, tengah hari, tengah malam, gue gak peduli. Lo harus dateng sekarang, gak ada penolakan!” Leon mematikan telponnya sepihak, Leon tidak peduli dengan orang yang menggerutu di seberang sana.
“Bangun woi!” teriak Leon sembari melempar kotak tisseu kepada Anna. Leon memang tidak mengenal situasi untuk bertingkah, dengan orang pingsan pun Leon masih saja bercanda.
Sebenarnya Leon khawatir, tapi dia menunjukkan kekhawatirannya dengan cara salah. “Lo pingsan apa cosplay jadi orang mati?”
__ADS_1
Leon duduk di samping Anna. Tangannya terulur menyentuh kening Anna, Leon menarik tangannya cepat. Kening Anna sangat panas, bisa disimpulkan Anna demam. “Panas!”
Leon itu seperti bocah lima tahun yang baru mengenal penyakit, sudah tahu panas bukannya bertindak malah bercanda.