
Setelah mendapatkan ijin dari sang istri, kini Saguna melangkah dengan langkah yang penuh keraguan. Ia benar tak siap melihat kekecewaan di mata wanita yang sangat ia cintai. Namun, di dalam sana ada bayi yang menunggu pengakuannya pada semua keluarga.
Tanpa Saguna tahu jika punggungnya yang melangkah tegap keluar ruangan Gita, kini membuat air mata Gita jatuh saat menatap punggung tegap suaminya itu. Sungguh ketampanan Saguna memang membuat siapa pun wanita yang melihatnya akan terpesona. Tetapi, jika Gita mengingat pernikahannya yang berada di ambang kehancuran, sungguh ia tak akan pernah memilih suaminya di takdirkan menjadi seorang presdir ternama. Ia ingin sang suami tetap seperti dulu, Bang Jupri yang selalu dingin namun menunjukkan sikap perdulinya pada wanita kecil yang di miliki desa itu.
Kini pandangan Gita pun mulai kabur lantaran genangan air yang semakin menjadi hingga ia tak lagi melihat Saguna di ruangan itu. Pintu telah tertutup kembali dengan menghilangnya Saguna.
"Bang, aku harap kamu akan kembali ke sini lagi setelah itu. Aku mohon jangan meninggalkan aku. Aku sangat takut kamu berubah pikiran, Bang." ucapnya memejamkan mata.
Saat Gita membuka mata, ia melihat sosok tante dan pamannya yang berjalan usai menutup pintu pelan.
Keduanya berjalan tergesa-gesa sembari beberapa kali menoleh ke arah pintu yang nyata sudah tertutup. Wajah mereka pun sama-sama panik.
__ADS_1
"Gita, gimana bisa kamu kenal sama Tuan muda Saguna?" tanya sang Paman yang sangat tak percaya.
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sang suami, Vita lantas menyikut lengan sang suami kasar. "Ayah ini apaan sih? Bukannya nanyain kabar Gita, kok malah nanya hal itu? Iya kan, Gita? Jadi gimana bisa kamu cerita ke Tante dan Paman mu ini?" Vita yang semula perhatian justru muncul jiwa keponya seperti sang suami.
Gita memejamkan mata sejenak berusaha kuat untuk menceritakannya.
"Tante, Paman, Bang Jupri itu dia. Pria yang menjadi suami Gita yang di tolong Ayah di desa waktu itu." ujar Gita menjelaskan sedikit singkat. Ia rasa kekuatannya tak ada lagi untukĀ menjelaskan secara panjang lebar.
"Pantas saja, Tuan muda Saguna tiba-tiba hilang tiba-tiba nongol." Pardan menambahi tanpa berani membahas lebih jauh.
Sebab ia pun tak punya wewenang untuk terlalu ikut campur. Ia tak ingin pekerjaannya terancam.
__ADS_1
Sedangkan di luar ruangan, seluruh keluarga mengikuti Saguna untuk kembali ke rumah. Tidak mungkin jika mereka membahas masalah ini di tempat umum. Terlebih di luar sana pun sudah banyak kamera yang menyorot ke arah mereka. Meski tidak mungkin bisa mendengar apa yang mereka bahas, Saguna tak mau mengambil resiko.
"Arumi, ayo kita bicara di rumah. Aku mohon berikan aku waktu menjelaskan. Jangan seperti ini." Saguna memohon pada sang kekasih yang terus lemas di pelukan sang mommy.
Sungguh Arumi sangat sakit melihat sang kekasih bahkan tak berniat memeluknya atau mengusap air matanya. Arumi tahu sekali, Saguna adalah pria yang tidak pernah bisa melihatnya mengeluarkan air mata sekali pun itu air mata bahagia.
"Sa...semua tidak akan berubah kan?" lirih Arumi bertanya seolah ingin memberikan dirinya kekuatan.
Namun, harapan tak seperti yang ia inginkan. Saguna membuang pandangan tak tega melihat Arumi menatap sendu padanya.
"Momm, aku mohon. Kita segera ke rumah. Di sini banyak wartawan." Saguna melangkah lebih dulu. Begitu dengan yang lain turut mengikuti dari arah belakang. Termasuk Oma Rosa dan juga Dana beserta sang istri.
__ADS_1