Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Operasi


__ADS_3

Tangisan dan rintihan terus terdengar selama dalam perjalanan. Beberapa kali Oma Rosa pun tampak meneteskan air mata lantaran Saguna sangat susah untuk di hubungi. Hingga akhirnya ia pun teringat akan satu orang.


"Angga," ucapnya langsung menelpon sesegera mungkin.


Saat sambungan terhubung, Oma Rosan langsung meminta Angga untuk menemui Saguna. "Baik, Oma. Saya akan ke ruangan Tuan saat ini juga." ujar pria itu bergerak cepat. Sayang, saat ia memasuki ruang kerja sang bos, rupanya pria itu belum tiba di kantornya.


Angga mencoba menghubungi Saguna, namun lagi-lagi ia tidak mendapatkan jawaban, "Argh lama, sebaiknya aku hubungi rumah sakit untuk mempersiapkan semuanya dan menemui Tuan di jalan."


Dengan gerakan cepat pria itu melacak keberadaan sang tuan muda. Dan memutuskan menemui pria itu di jalanan. Angga melajukan mobil tanpa memperhatikan keadaan lagi, bahkan dadanya pun ikut berdebar karena panik.


Jangan sampai sang tuan tidak melihat anaknya lahir, semua bisa kena marah tentunya.


Sedangkan di perjalanan, Gita teringat akan orang yang paling sangat menantikan kelahiran sang anak, siapa lagi jika bukan Bunda Mita.

__ADS_1


"Oma," panggil Gita lirih.


"Iya sayang, sabar yah. Kita akan segera sampai Gita." ujar Oma Rosa namun Gita yang mendengar pun tampak menggelengkan kepalanya.


"Bukan Oma. Gita mau Oma suruh Angga mengurus Bunda Mita agar datang ke rumah sakit." tuturnya membuat Oma Rosa bingung dan hanya bisa menganggukkkan kepalanya patuh.


"Baiklah Oma telpon Angga lagi yah?" ujarnya.


Sang oma yang sibuk menelpon, Gita kini hanya bisa menarik napas agar tenang lalu menghela kembali. Berulang kali ia terus melakukan hal yang sama hingga doa-doa terus ia baca. Ingatannya kembali pada masa di mana Saguna masih menjadi Bang Jupri. Dimana mereka menikmati malam pertama yang begitu syahdu setelah pernikahan selama enam bulan tak saling bersentuhan. Sungguh, Gita masih ingat betapa ia menikmati hal yang sangat tak terlupakan itu.


"Aku akan menjadi wanita yang paling bahagia dan sempurna punya kamu dan anak kita, Mas Saguna. Aku mencintaimu, Mas." ujar Gita dalam hati begitu bersyukur kembali di pertemukan oleh Saguna meski rintangan yang ia hadapai tidak mudah untuk mencari sang suami di kota besar itu.


"Git...kamu baik-baik saja?" Oma Rosa yang baru saja memutuskan sambungan telepon tampak takut melihat sang cucu menantu tersenyum-senyum sendiri saat keringat bahkan membasahi kening wanita mungil itu lantaran sakit yang menyerang tubuhnya.

__ADS_1


"Iya, Oma. Gita baik-baik saja kok. Gita kangen sama Mas Saguna." tuturnya jujur dengan apa yang ia pikirkan tanpa perduli ekspresi Oma Rosa yang syok mendengar ucapan Gita.


Bisa-bisanya masih memikirkan kangen sementara barusan ia berteriak kesakitan menahan perutnya yang harus segera di tindak.


Hingga beberapa menit berlalu, dengan suara yang tidak ribut lagi Gita di bawa ke ruang bersalin. Wanita itu hanya diam dalam doanya sembari menunggu sang suami datang. Harapan Gita saat ini adalah suami dan mertuanya sama-sama datang.


Namun ketika ia mendengar penjelasan sang dokter jika ketubannya sudah hampir mengering, rasanya tidak mungkin Gita mempertahankan semua keinginannya. Ia pun akhirnya dengan berat hati terpaksa menyetujui saran dokter untuk segera di tindak.


Memilih jalur operasi sebab terkendala di ketuban, Oma Rosa kasihan melihat sang cucu menantu membayangkan sakit yang akan di rasa seumur hidup. Yah, persalinan melalui operasi banyak orang menilai adalah hal yang mudah. Tanpa di sadari operasi merupakan hal yang juga sangat menyakitkan untuk ibu hamil. Bahkan selama usai operasi ia akan terus sering merasakan gejala-gejala yang di timbulkan dari jahitan itu.


"Oma, Gita!" Suara menggema dari luar membuat Gita menghela napasnya kasar. Ia sangat senang mendengar sang suami sudah datang. Tak lama setelah itu Saguna pun masuk dengan pakaian yang sudah steril serta alat lainnya yang melindungi tubuh pria itu.


Pelan Saguna melangkah masuk mendekati sang istri yang samar-samar melihat kedatangannya. Gita sempat tersenyum dan di detik berikutnya matanya pun tertutup. Bahkan dokter sebelumnya tak menyangka jika keadaan akan membuat mereka membius total Gita. Sebab posisi bayi yang sungsang tanpa terdeteksi sebelumnya terpaksa membuat mereka harus mengambil jalan bius total.

__ADS_1


"Sayang, kamu pasti baik-baik saja. Anak kita akan segera lahir." bisik Saguna tanpa perduli jika sang istri sudah tidak sadarkan diri lagi.


__ADS_2