
Gedung tinggi menjulang sangat indah terlihat dengan sinar mentari yang berwarna orange kemerahan kala sore kembali menyapa. Di kala semua orang yang bekerja telah pulang ke tempat peristirahatan masing-masing bertemu sapa dengan keluarga, berbeda halnya dengan Saguna.
Pemilik The Winston tampak duduk di depan jendela ruang kerjanya yang paling atas. Tatapan teduh dan hangat pria itu kini berubah menjadi tatapan nanar penuh kekecewaan. Kesedihan mendalam mengingat semua jalan hidupnya begitu penuh drama.
“Mengapa semua seperti ini? Paman orang satu-satunya yang mengganti sosok Ayah justru menjadi orang yang berniat menghilangkan nyawaku sendiri. Bunda harus berada di rumah sakit jiwa. Arumi harus hancur seperti ini tanpa bisa menerima keputusanku.” Pelan ia menunduk memijat keningnya yang berdenyut.
Jujur, dari hati yang paling dalam tentu saja Saguna sakit melihat wanita yang pernah ia jaga seutuhnya justru harus pergi dengan keadaan menyedihkan seperti itu. Sungguh kejam rasanya Saguna bahagia dengan Gita di atas penderitaan Arumi.
Rasa bersalah terus menyelimuti perasaannya selama ini tanpa ada yang tahu.
“Maafkan aku, Gita. Aku hanya tidak ingin membuatmu bertambah beban pikiran di masa kehamilan ini. Biarkan aku memikirkan semuanya sendiri.” ucap Saguna yang mengingat sang istri begitu usaha membuatnya bahagia.
Singkat waktu yang terlewatkan. Malam tepat pada pukul sepuluh baru Saguna memasuki kediaman megah miliknya. Dimana ia merasa sudah jauh lebih tenang setelah menyendiri di kantor tadi.
Perasaan lemas dan wajah tak bersemangat berubah kala melihat samar-samar wajah cantik dengan lampu ruangan yang beberapa sudah padam.
__ADS_1
Di kursi meja makan tampak wanita mungil terlelap dengan menyampingkan wajah di atas meja makan.
“Ya ampun, dia menungguku?” tuturnya sembari melangkah pelan. Senyum hangat di wajah Saguna terus ia pertahankan sembari mendaratkan satu kecupan di kening sang istri.
Yah, Gita menunggu kepulangan Saguna hingga tidak bisa menahan kantuk dan terlelap.
“Sayang, Gita, hei ayo bangun. Pindah ke kamar yuk.” ujarnya menggoyangkan bahu sang istri.
Namun, begitu nyenyak rupanya membuat Gita tidak merasakan apa pun. Sejenak Saguna menatap wajah ayu nan lembut di depannya. Perasaan bersalah tiba-tiba muncul saat ini.
“Maafkan aku, Git. Aku memikirkan semuanya dan buat kamu menunggu. Bahkan aku masih sempat memikirkan Arumi, tanpa tahu kamu menungguku. Maafkan aku…aku salah. Saat ini dan kedepannya aku tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.” Saguna berjanji pada dirinya sendiri usai menyadari jika ia berstatus suami Gita. Calon ayah dari anak di perut Gita.
Pelan ia pun menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar dan melepaskan sandal rumah sang istri kecil. Memastikan Gita aman dan nyaman, barulah ia menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya.
“Mas…” lirih Gita memanggil sang suami yang baru saja usai mandi.
__ADS_1
Saguna tersenyum. Ia mendekat dan melihat Gita yang masih berbaring dengan mata sayup-sayup.
“Ada apa, Git? Ada yang sakit?” tanyanya.
Gita sontak menggelengkan kepala pelan. “Lalu?” Tanya Saguna penasaran.
“Aku kangen banget hari ini.” jawab Gita membuat Saguna tersenyum. Ia mendekat lalu memeluk sang istri yang berbaring.
“Maafkan aku yah? Aku juga kangen. Dan sekarang…” tak ada kata yang terdengar dari keduanya lantaran Saguna sudah berhasil meraup bibir sang istri lembut.
Gita yang merasakan tubuhnya menginginkan sentuhan hanya merespon dengan lembut pula. Penyatuan penuh cinta dan kenikmatan keduanya lakukan hingga semakin jauh dan bersaksikan suara ranjang yang berbunyi kian cepat.
Beberapa kali Gita tampak mengerang menikmati permaianan sang suami bahkan suaranya tak lagi sepelan biasanya. Gita benar-benar berbeda malam ini.
Tanpa kata, wanita itu sudah mengisyaratkan tubuh Saguna berbalik menjadi di bawah. Sontak meski merasa kaget, Saguna hanya bisa menurut. Dalam hati justru ia sangat senang melihat sang istri kini mengambil alih permainan ranjang.
__ADS_1
Pelan namun begitu tepat sasaran, beberapa kali mata pria tampan itu terpejam menikmati setiap hentakan lembut. Hingga beberapa menit berlangsung dan kini mereka berpelukan saling melepaskan gejolak yang telah meledak.
“Terimakasih, Tuhan atas hadirnya wanita cantik di depanku. Sungguh aku tak pernah menyesali kehadirannya.” ucap Saguna berdoa sungguh-sungguh dalam hati sembari tersenyum menatap dua netra indah sang istri yang terbaring lemas.