Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Masakan Sentuhan Tangan Gita


__ADS_3

Usai menghabiskan waktu sarapan, kini sudah waktunya untuk Saguna beranjak menuju ke kantor. Pakaian rapi dan wangi sungguh membuat mata Gita begitu mengagumi ciptaan Tuhan di hadapannya ini. Berpakaian usang seperti di desa saja Gita tak mampu menahan hatinya untuk tidak jatuh cinta. Apalagi saat ini, Saguna begitu sangat sempurna di mata Gita.


"Aku berangkat kerja dulu. Beristirahatlah jangan  terlalu lelah, selama ini pasti kamu kelelahan bekerja di tempat catering seperti itu." Tangan besar Saguna mengusap lembut kepala Gita.


Meski ia masih ragu untuk mempertahankan pernikahannya, bukan berarti ia tidak mencintai sang istri. Bukan berarti juga ia harus bersikap dingin pada Gita. Saguna tak akan bisa seperti itu, ia mengingat betul bagaimana Gita selalu berperan menjadi istri yang sangat baik dan patuh padanya.


Gita tersenyum mengantar kepergian sang suami. "Bang Jupri hati-hati yah? Jangan telat makan." tuturnya pelan.


Mengingat kata makan, Saguna berinisiatif meminta Gita untuk membawakan makan siang untuknya ke kantor. Masakan Gita yang lama tak ia makan ternyata membuatnya semakin menginginkan terus masakan yang tersentuh tangan wanita cantik desa itu.


"Boleh memasakkan aku makan siang lagi? Dan bawa ke kantor? Kalau boleh datanglah bersama Oma ke kantor nanti." Saguna tanpa sadar membuat senyuman di wajah Gita semakin berseri-seri. Itu artinya sang suami tak menutup hubungan mereka dari orang lain.


Dengan cepat ia pun menganggukkan kepalanya. "Boleh sekali, Bang. Gita senang malah bisa lihat Bang Jupri bekerja nanti siang. Nanti Gita sendiri saja kesana. Oma pasti mau istirahat, Bang." tutur Gita penuh semangat empat lima.


"Yasudah kalau begitu Abang pergi dulu yah? Ingat ada supir yang bisa mengantarmu nanti." tutur Saguna penuh perhatian.


"Sekalian Abang mau ijin jenguk Arumi sebentar boleh? Abang hanya ingin memastikan keadaannya sebelum ke kantor." Ucapan Saguna seketika menusuk dada Gita. Namun begitu pintar gadis cantik itu menyembunyikan nyeri di dadanya. Senyumannya masih tetap mengembang kali ini dan menganggukkan kepalanya.


"Boleh, Bang. Tapi Abang harus tetap ingat pernikahan kita yang masih berjalan." Gita seolah mengingatkan sang suami untuk tidak bersentuhan atau lainnya bersama wanita lain.


Saguna mengangguk. Akhirnya sepasang suami istri itu berpisah di halaman rumah dengan Saguna yang pergi bersama supirnya ke kantor.


"Semoga cintamu untukku akan tumbuh, Bang Jupri. Gita cinta sekali sama Abang." ucap Gita lirih sembari menatap mobil yang membawa suaminya pergi kini tak lagi terlihat.


Tiba-tiba saja pundaknya terasa ada yang menyentuh dan memberikan beban ringan di sana. Reflek Gita terjingkat kaget.

__ADS_1


"Gita," Oma Rosa rupanya yang datang dari arah dalam rumah. Gita menoleh dan mengusap dadanya kaget.


"Oma," Senyum Gita terbit begitu saja. Sungguh murah senyum sekali wanita ini, pikir Oma Rosa.


"Oma tahu kamu sangat mencintai Saguna, cucu Oma. Maka dari itu pertahankan jika kamu merasa patut di pertahankan. Saguna pria yang baik, Gita. Di perut ini ada cicit Oma. Kasihan dia kalau sampai kalian pisah." Oma Rosa tampaknya tengah menjalankan misi sebagai Oma yang bijak.


Ia telah memikirkan semuanya, dan pilihannya tetap jatuh pada Gita. Sebab mereka telah sah menikah dan sebentar lagi akan ada anak yang Gita berikan di keluarga Winston.


"Tapi, Oma. Bang Jupri itu kasihan. Bang Jupri berhak bahagia dengan pilihan hatinya. Gita sadar Gita salah telah masuk di hubungan Kak Arumi dan Bang Jupri." Wanita mungil itu di depan Oma Rosa menunduk mencurahkan kegundahan hatinya.


Oma Rosa menghela napas kasar. Tangannya mengusap rambut lembut milik cucu menantunya. "Arumi adalah wanita yang sangat baik dan tulus. Tetapi, ada ikatan sah yang di benci Tuhan jika kalian berpisah. Oma tidak ingin kalian melakukan hal yang di benci Tuhan. Terlepas cinta yang besar pada siapa. Ada ikatan sah yang lebih segalanya di bandingkan cinta dan tunangan, Gita. Pertahankanlah, rebut hati suamimu. Saguna bukan pria yang kasar dan dingin.  Sangat mudah untuk mu menyentuh hatinya." ujar Oma Rosa memberikan semangat pada Gita.


Pelan-pelan Gita menatap sang oma dan tersenyum. Ia mendapat support dari sang oma. Akhirnya mereka berdua pun masuk usai Gita menyampaikan jika siang nanti ia akan ke kantor atas permintaan sang suami dan Oma Rosa menyetujuinya.


"Kak Gita," ucapnya heboh.


"Bu, ada Kak Gita telepon!" teriak Shanika di sana.


Gita tersenyum mendengarnya sembari menggelengkan kepalanya.


"Gita, bagaimana? Apa si Jupri baik sama kamu selama di rumahnya? cucu Ibu di jaga yah, Git." sang Ibu dan lainnya memang sudah tahu keadaan Gita di kota saat Gita berada di rumah sakit.


Sang Tante yang memberikan kabar bahagia Gita yang bertemu dan akan tinggal bersama suaminya di kota. Sungguh Ibu sangat senang mendengarnya, meski ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya antar Gita dan Saguna.


Ada sedikit hati yang gelisah Gita rasakan kala sang ibu bertanya, ia takut jika usahanya ternyata masih kalah dengan rasa cinta Saguna yang besar untuk Arumi.

__ADS_1


"Gita baik-baik saja, Bu. Bang Jupri juga baik sekali nggak ada berubah sama sekali. Malah siang nanti Gita mau ke kantor Bang Jupri antar makan siang." ceritanya membuat sang ibu dan Shanika di seberang sana gemas dan senang bersamaan mendengarnya.


Hingga beberapa percakapan basa basi mereka lakukan dan Gita berakhir ijin ke dapur untuk memasak makan siang.


Panggilan pun berakhir, Gita duduk di sisi ranjang dan menatap perutnya rata lalu mengusapnya.


"Nak, kamu sehat di dalam yah? Kamu mau kan bantu Mamah berjuang buat papah kamu? Kamu dukung Mamah kan, Nak? Mamah nggak jahat kan?" Gita mengusap-usap perutanya berharap sang anak tetap tumbuh dengan baik di dalam sana.


Setidaknya dengan kehamilan itu, Gita bisa memiliki waktu sedikit banyak untuk memasuki hati sang suami lebih dalam lagi.


"Maafkan saya, Kak Arumi. Saya hanya ingin mempertahankan rumah tangga saya. Maafkan saya, saya tidak berniat merebut kekasih anda." Gita sangat prihatin dengan cerita Saguna yang mengatakan Arumi adalah wanita yang sangat baik.


Bahkan Saguna sangat mengenal sosok Arumi sudah sangat lama. Wanita yang memiliki ketidak percayaan  tersendiri untuk bergaul dengan orang lain. Hingga Saguna remaja datang di perkenalkan oleh almarhum ayahnya yang ternyata teman Tuan Fatir.


Menjadi sosok kakak sekaligus kekasih kala mereka tumbuh besar bersama, membuat Arumi jadi bergantung dengan sosok Saguna.


Sedangkan di sisi yang berbeda, tampak Saguna memasuki rumah yang sudah sejak lama sering ia kunjungi. Bahkan khusus pagi ini Saguna tidak datang menjenguk sang ibu. Lantaran ia berinisiatif membawa Gita siang nanti ke sana.


"Momm, selamat pagi." ucap Saguna memecah keheningan di meja makan kediaman Tuan Fatir.


Pria itu melangkah mendekat, matanya bisa melihat bagaimana raut wajah dua orang di depannya. Sungguh, Saguna benar tidak tega dan serba salah di sini.


"Sa, lihatlah dia." pintah Sekar yang enggan bicara apa pun.


Jika di tanya marah? tentu saja. Namun sekali lagi mereka tidak bisa marah pada Saguna yang posisinya tidak salah sama sekali. Hanya keadaanlah yang salah kala itu. Sungguh tak ada yang bisa di salahkan kali ini.

__ADS_1


__ADS_2