Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Mencari Ketenangan


__ADS_3

Tanpa banyak kata Saguna memilih pergi dari sana. Ketegasan yang ia miliki kini hilang menjadi kekalutan. Pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Ada masalah yang menyerang pikiran pria itu saat ini. Namun sayang perlakuan itu membuat Arumi salah sangka.


Ia menangis melihat Saguna meninggalkannya tanpa mengatakan apa pun padanya. Sungguh Arumi begitu sakit. Saguna satu-satunya pria yang membuatnya selalu tenang, tapi di mana pria itu saat ini? Bahkan dengan mata kepala sendiri Arumi melihat Saguna yang acuh saat ia menangis dan mengemis untuk cinta Saguna.


"Kak Arumi ayo bangunlah." Gita sedih melihat keadaan Arumi yang masih berlutut tanpa mendapatkan respon dari Saguna. Meski ada perasaan lega yang Arumi rasakan saat ini. Jauh dalam lubuk hati yang paling dalam, Gita berharap jika sang suami tetap bersamanya dan meninggalkan Arumi. Namun, sisi hati lain Gita sangat tidak bisa tega melihat Arumi yang hancur karena cinta dari sang suami.


"Apa salahku pada kalian? Apa aku pernah jahat pada kalian? Aku tidak pernah melakukan apa pun pada siapa pun? Mengapa aku yang kalian buat sakit? Mengapa aku yang kalian permainkan?" Arumi menangis semakin jadi saat Gita membawanya duduk di sofa.


Tanpa aba-aba Gita memeluknya dengan tulus tanpa ada maksud apa pun. Tangannya pelan dan lembut mengusap punggung wanita rapuh di depannya. Meski Gita tahu apa yang ia alami sebelum itu jauh lebih menyakitkan, namun tetap saja ia tidak akanĀ  kuat jika memposisikan dirinya sebagai Arumi.


"Kak, dia seperti itu karena sedang ada masalah. Saya yakin pikiran Mas sedang pusing sekali. Itu sebabnya tadi ia pulang ke rumah lebih awal. Tapi saya tidak tahu masalah apa, yang jelas Kak Arumi tenang dulu. Tunggu semua membaik baru Kakak datang dan membicarakannya pada Mas." tutur kata Gita membuat dada Arumi semakin sesak.


Dalam hati ia bisa menilai wanita seperti apa yang Saguna nikahi ini. Gita wanita yang meneduhkan hati dari tutur katanya saja Arumi bisa merasakan. Ada rasa tersaingi dan takut yang Arumi rasakan saat ini.


Pelan Arumi melepaskan pelukan Gita dan menatap wajah wanita di depannya. Cantik. Kata itu yang ia ucapkan dalam hati saat melihat dari jarak yang sangat dekat. Semakin sakit saja Arumi kala mendapatkan tambahan nilai plus untuk Gita di matanya.

__ADS_1


"Apa kau menginginkan Saguna?" pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa Gita duga. Sontak saja Gita tercekat bingung hendak menjawab apa.


Jujur jika ia di katakan egois, memang benar. Gita akan mempertahankan rumah tangganya bersama sang suami. Meski ia harus berusaha keras pun tak masalah. Sebab pernikahan mereka memang terjadi dengan keadaan baik-baik terlepas saat itu Saguna lupa ingatan. Namun, pria itu sudah mengatakan akan mencoba membuat pernikahan mereka berjalan semestinya.


Jika saja Saguna tetap bersikeras menolak Gita saat di desa itu, mungkin saja kecil harapan Gita untuk mempertahankan pernikahan itu.


Ingin rasanya Gita menganggukkan kepalanya. Namun, ia tak sampai hati melihat keadaan Arumi saat ini. Terlebih Gita sadar ia bukan orang berada, jika sampai terjadi sesuatu pada Arumi tentu semua akan menyalahkan Gita.


"Kakak selesaikan bersama Mas saja. Saya tidak bisa bicara hal yang bukan keputusan saya. Semua keputusan ada pada Mas Saguna." jawab Gita pelan dan sopan.


Belum usai perbincangan keduanya, tiba-tiba suara seorang wanita terdengar dari arah pintu utama.


Segera wanita paruh baya itu bersama bodyguard berjalan memasuki rumah. Ia mendekat dan memeluk sang anak yang wajahnya sangat sedih itu.


"Sayang, ayo pulang. Mommy sangat khawatir padamu, Nak." tutur Sekar mengusap air mata sang anak.

__ADS_1


Tanpa bicara Arumi pun berdiri di bantu sang mommy meninggalkan kediaman Saguna. Tanpa pamit pada Gita, bahkan ia melihat bagaimana raut wajah datar Sekar pada Gita barusan. Meski tak menunjukkan wajah tak suka, namun Gita tahu jika sebagai ibu pasti Sekar merasa sakit melihat wanita yang sudah membatalkan pernikahan sang anak.


Seperginya mereka, Gita cepat-cepat menuju kamar di mana sang suami berada. Di buka pintu kamar dan tampaklah Saguna merenung di depan jendela dengan sofa yang ia duduki.


Pelan Gita melangkah mendekati sang suami. "Mas..." panggilnya.


Saguna menoleh, saat itu juga ia memegang tangan sang istri dan membawa Gita ke pangkuannya. Tanpa Saguna sadari debaran jantung Gita begitu laju saat itu. Bahkan kedua mata wanita cantik mungil itu sudah membola sempurna.


"Biarkan aku mencari ketenangan dulu, Git." tutur Saguna lirih. Ia melingkarkan tangan di perut yang menonjol itu dan meletakkan wajahnya di leher Gita. Sungguh hal yang paling Gita hindari, Saguna benar-benar membuat bulu tubuh wanita itu berdesir seketika.


Beberapa menit berlalu, nyatanya bukan ketenangan yang Saguna dapatkan. Justru sesuatu dalam tubuhnya mendorong naluri pria itu untuk melakukan sentuhan-sentuhan lembut di leher putih milik sang istri. Gita tetap berusaha keras diam tanpa melakukan respon.


Semakin lama Gita bisa melihat Saguna mengeluarkan indera perasa menyentuh leher yang mula yang bibir saja. Dan kini tangan pria itu sudah bermain di bagian dada yang padat milik Gita. Tak bisa menolak, Gita bahkan sampai terpejam menikmati sentuhan yang menggila itu.


Samar, Gita mendengar suara desah lolos dari bibir Saguna.

__ADS_1


"Mas," ucapnya tak kuasa menahan birahi yang turut naik.


Hening tak ada jawaban kecuali pergerakan dari Saguna yang semakin dalam.


__ADS_2