
Pagi yang seharusnya menjadi pagi yang tenang dan penuh semangat justru tidak terjadi di perusahaan The Winston.
Tatapan tajam milik sang pemimpin terus bergerak satu persatu memindai wajah para pekerja yang saling bersangkutan.
“Siapa yang membuat kalian berani melakukan penggelembungan dana sebesar ini?” Pertanyaan yang Saguna ajukan tepat sasaran. Beberapa wajah yang sudah ia yakini bersalah di ruangan meeting hanya bisa menunduk berjamaah.
Tentu perasaan takut sangat menguasai diri mereka.
“Siapa!” Tangan terkepal milik Saguna sudah bersuara keras pada meja yang panjang itu.
Semua terjingkat kaget mendengar kemarahan sang presdir.
“Kami bersalah, Tuan.” Serempak mereka tak berani membela diri masing-masing. Kemarahan Saguna jelas membuat mereka sangat takut bahkan rela mengakui kesalahan demi mempertahankan pekerjaan mereka.
“Saya tidak bodoh. Saya tahu kalian bersalah. Siapa dalang di balik ini? Cepat katakan sebelum saya…”
“Maafkan kami, Tuan. Tuan Dana memaksa kami…” perkataan semuanya sungguh terasa membakar perasaan Saguna saat itu. Ia mendengar satu nama yang mendapat anggukan dari yang lainnya. Matanya terpejam menahan sakit kenyataan yang ia dengar.
Geraham Saguna bahkan ia eratkan hingga mengeluarkan suara.
__ADS_1
Matanya berusaha ia tahan demi menenangkan hati dan pikiran. “Paman? Bagaimana ini bisa terjadi?” tanyanya dalam hati.
Saguna menunduk tak bersuara. Ingin marah, namun ia tak tahu harus melakukan apa. Sang paman adalah orang yang begitu ia hormati. Bagaimana mungkin bisa melakukan hal tersebut.
“Tuan, mungkin ini bisa menjadi bukti nyata.” Angga memberikan beberapa transaksi penyimpanan uang yang Saguna baca atas nama Jeni.
Makin sesak dada Saguna membaca nama wanita yang tak lain adalah istri sari sang paman. Jelas Angga tahu sang presdir di tengah kebimbangan. Antara profesional atau kekeluargaan.
“Usut tuntas, Angga. Bersihkan dan jangan ragu.” Tanpa penolakan atau pertanyaan, Angga seketika menganggukkan kepala menyanggupi.
“Baik, Tuan. Saya permisi.” tuturnya.
Usai pintu tertutup, Saguna segera mengusap wajahnya kasar. Satu persatu wajah yang ia tatap membuatnya memikirkan keputusan yang tepat.
Pikirannya saat ini benar-benar pusing di kantor. Suasana segar di pagi itu seperti suasana siang di tengah terik matahari. Sungguh panas dan membakar perasaan rasanya.
“Ini benar-benar keterlaluan.” geramnya mengepalkan tangan sangat marah.
Pada akhirnya langkah yang ia tuju hanya satu tempat, yaitu rumah dimana sang istri dengan perut buncit berada.
__ADS_1
Selaju mungkin kali ini ia mengendarai mobil tanpa supir. Saguna sangat hancur mengetahui bagaimana sang paman berkhianat padanya.
“Apa yang Paman cari? Apa masih kurang uang dan jabatan yang ku berikan, Paman?” batinnya bertanya-tanya sepanjang perjalanan.
Tanpa ia sadari beberapa menit terlewatkan, kini Saguna tiba di rumah dengan melihat wajah sang istri tengah duduk di ruang tengah mengusap perutnya.
“Gita,” ucapnya lirih.
Gita yang menyadari kehadiran sang suami tampak menoleh dan tersenyum. Sayangnya pandangannya sangat peka melihat bagaimana tatapan sang suami.
“Mas,” tuturnya bangun dari duduk dan mendekat pada Saguna.
Keningnya mengernyit heran. Ada apa gerangan?
“Aku bingung…” pelukan erat tiba-tiba membuat tubuh Gita refleks membalas pelukan itu dengan gerakan ragu.
Sungguh, Gita tak menyangka mendapat pelukan secara tiba-tiba dari sang suami.
“Mas, tenanglah. Kita duduk dulu.” ucapnya tanpa bisa melepaskan pelukan sang suami.
__ADS_1
Saguna menahan air mata di sana. Ia hanya menyembunyikan wajah di ceruk leher sang istri berusaha menghirup aroma tubuh sang istri agar lebih tenang.
Usapan lembut dan suara lembut milik Gita meneduhkan amarah di hati Saguna. Tak ada pikiran apa pun, entah apa yang membuatnya memilih jalan pulang ke rumah dari pada harus melampiaskan amarahnya dengan sang paman atau pun para pekerja di kantor.