
Sejak hari itu, hingga kini berlalu sudah tiga hari. Wanita yang semula bisa bangkit dari depresinya akhirnya mengurung di kamar kembali. Sungguh hatinya benar-benar seolah seperti di remuk-remuk hingga hancur. Arumi tak menyangka jika cintanya akan mendapatkan cobaan yang menyakitkan seperti ini. Malam berganti pagi dan berganti malam lagi, terus saja menyapanya dengan sang mommy yang bolak balik ke kamar menutup tirai jendela dan membukanya lagi kala pagi kembali menyapa.
Seperti yang di lakukan wanita paruh baya itu pagi ini, ia menarik tirai jendela ke samping dan mengaitkannya pada pita yang tertempel di daun jendela. Wajahnya menoleh menatap sang anak yang ternyata sama sekali tak tidur entah sejak kapan.
Berbagai bujukan dan nasihat sudah ia berikan, namun itulah Arumi. Wanita yang selalu melakukan suatu hal dengan kesungguhan yang luar biasa, hingga saat terjatuh ia akan sangat hancur dan tak berdaya. Air mata setiap kali ia memasuki kamar anaknya terus berjatuhan.
"Ya Tuhan, kemalangan apa yang menimpa anakku ini? Aku mohon berikan kekuatan padanya. Arumi anak kami satu-satunya, Tuhan." jerit hati Sekar hingga ia tak tahan lalu membungkam bibirnya dengan kedua bahu yang bergetar menahan suara tangis.
Jelas dari arahnya berdiri Arumi hanya menatap kosong ke depan tanpa putus air mata itu terus membasahi bantal yang lembab.
"Nyonya, permisi. Ini sarapan untuk Nona Arumi." Pelan suara Bi Indah terdengar di ambang pintu.
Ia juga menatap nanar keadaan Arumi saat ini, sungguh ia tak suka melihat pemandangan yang kembali hadir di rumah ini. Kedatangan Saguna sebulan lalu sudah mampu menghidupkan kembali cahaya di rumah megah ini. Sayang, ternyata itu bersifat hanya sementara.
Bahkan kali ini, Arumi sudah tampak tak histeris seperti sebelumnya dulu. Kali ini ia hanya diam tanpa tidur tanpa berhenti menangis. Semua menjelaskan jika wanita cantik itu sudah benar-benar di titik terendahnya.
Pelan Bi Indah melangkah masuk dan meletakkan nampan sarapan milik Arumi, lalu ia mengusap punggung sang majikan yang menangis tanpa suara itu.
"Kenapa harus anak saya, Bi? Kenapa harus Arumi yang mendapat ini semua? Apa salah kami pada orang lain, Bi?" Sekar seakan meminta penerangan jika saja ia dan sang suami pernah melukai seseorang tanpa ia sadari. Namun, Bi Indah hanya menggeleng sembari ikut menangis.
"Tidak ada, Nyonya. Kalian orang yang sangat baik dan penyayang. Nona Arumi mendapatkan ujian ini semua sudah di gariskan oleh sang kuasa. Kita hanya bisa memberikan Nona Arumi kekuatan, Nyonya." Bi Indah juga serba salah dalam berucap. Ia tahu keadaan rumah sedang sangat sensitif.
__ADS_1
Ia takut sekali jika banyak bicara akan menjadikan masalah yang tak seharusnya ada menjadi ada.
Keadaan yang memilukan terus memenuhi hari-hari di kediaman Tuan Fatir Wibowo itu. Sedangkan di kediaman milik seorang Presdir tampan kini sangat berbeda.
Semua pelayan bahkan dengan antusias menjalankan pekerjaan di dapur mereka dengan satu wanita yang baru saja menginjak dapur itu.
"Aduh Nyonya muda, jangan. Biar kami saja yang melakukannya." Salah satu pelayan mencegah Gita yang hendak memasak sup pagi itu.
Gita tersenyum, ia sesekali menatap sekeliling guna mengagumi bangunan megah tempat tinggal sang suaminya. "Bi, tidak apa-apa. Saya ingin memasak untuk Bang Jupri," ucap Gita polos dengan senyum manis yang sangat membuat wajahnya semakin cantik saja.
Namun, Gita menyadari ada yang salah dengan ucapannya barusan saat melihat wajah pelayan di depannya mengernyit heran. Ia pun terkekeh dan menggelengkan kepala.
"Maksud saya, Sa-sagu...siapa, Bi? Saya lupa namanya?" Gita bertanya lantaran tak begitu hapal nama suaminya yang sebenarnya.
"Tuan Saguna, Nyonya muda." jawab bibi dengan wajah tersenyum lucu.
Gita mengangguk dan menepuk keningnya pelan. "Ah iya itu maksud saya, Bi. Jadi Bang Jupri itu nama dari bapak saat suami saya hilang ingatan." terangnya membuat para pelayan sampai menganggukkan kepala mereka. Sungguh nama yang lucu menurut mereka.
Dari Saguna Winston menjadi Jupri, tidak ada bagus-bagusnya. Tapi jika di lihat dengan nama itu sangat tidak rugi. Buktinya Saguna bisa mendapatkan wanita cantik dari desa itu.
"Selamat pagi, Saguna." Oma Rosa yang sedari tadi duduk di meja makan menatap perbincangan di dapur akhirnya melihat kehadiran sang cucu yang tampak rapi.
__ADS_1
"Pagi juga, Oma. Gita mana?" tanya Saguna mencari sosok sang istri yang sudah ia cari sejak di kamar tadi.
Yah semalam mereka setelah dari rumah sakit langsung beristirahat, saat pagi Saguna bangun Gita sudah tak ada. Perlengkapan pakaian serta persiapan mandi pun Saguna lakukan sendiri. Entah apa yang membuat Gita lalai akan tugasnya.
Satu kursi berhasil Saguna duduki hingga wajahnya menatap arah yang di tunjuk sang oma dengan dagu. "Gita." panggilnya.
Gita yang tengah sibuk mengaduk sup akhirnya menoleh. Segera wanita hamil muda itu berjalan mendekati sang suami. Tak lupa senyuman yang terus ia berikan sejak pertama kali bertemu Saguna sebagai Jupri kini masih ia perlihatkan.
"Iya, Bang. Em masksunya..." Gita sedikit bingung memanggil apa suaminya.
"Panggillah sesukamu saja." pintah Saguna yang merasa tak mempermasalahkan panggilan dari Gita. Bahkan ia tahu apa yang membuat Gita tak melanjutkan ucapannya.
"Iya, Bang Jupri. Ada apa? Saya lagi buat sup kesukaan Abang. Maaf yah tadi saya belum siapkan pakaian soalnya bingung pakaian Abang beda sama di desa. Air mandi pun beda, nanti saya akan tanya sama Bibi, yah Bang?" Gita panjang lebar menjelaskan.
Lantaran ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan namun ia tidak mengerti dengan perubahan sang suami yang biasa ia siapkan hanya kaos polos yang usang dan celana training atau kain panjang. Pagi tadi, justru ia harus melihat pakaian kemeja, tuxedo, ada yang terlipat, ada yang tergantung, bahkan ada yang masih tergantung dengan plastik.
Jupri mengerjapkan matanya kala mendengar panggilan dari sang istri.
"Sudahlah, jangan mempermasalahkan itu. Sebaiknya ayo duduk, biar bibi saja yang menyiapkan sarapannya. Kau sedang hamil." Saguna begitu baik padanya dan perhatian.
Oma Rosa tampak sedikit tersenyum memandangi cucu dan cucu menantunya itu. Baginya Gita bukanlah sesuatu yang buruk, bahkan Oma Rosa bisa melihat bagaimana Saguna pada Gita.
__ADS_1
"Gita wanita yang baik, tapi kasihan juga Arumi. Heeh kenapa harus seperti ini sih? Seandainya Saguna memiliki adik?" perandaian itu muncul di benak Oma Rosa.